WASIT

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2004/06/15/wasit-2/
RSS
Follow by Email

Ia tidak ikut bertanding tapi menentukan pertandingan. Ia tak berhak menyentuh bola tapi menentukan jalannya permainan.

Saya selalu kagum pada wasit, dalam setiap pertandingan sepak bola di Eropa, Amerika Latin, atau Asia–selain Indonesia.

Di sana, wasit selalu berwibawa. Ia benar-benar menegakkan hukum sepak bola di lapangan hijau. Setiap detail pelanggaran ia pantau, seolah ia tak ingin kecolongan oleh kepura-puraan pemain. Yang melanggar disemprit, yang berbuat curang diperingatkan, yang melanggar dengan sengaja dikeluarkan.

Wajahnya pun tampil sangar, meski kadang juga melempar senyum jika memang ada yang harus dilempari senyum. Dia berlari ke mana bola menggelinding. Meski tak punya hak menyentuh bola, wasit adalah orang yang menentukan sebuah pertandingan. Dan kita menyaksikan sebuah seni di lapangan besar itu. Sebuah nasionalisme 90 menit, kata sosiolog Skotlandia, Grant Jarvie, meski tesis ini runtuh karena sepak bola ternyata menghilangkan batas negara ketika setiap klub boleh menyewa pemain asing.

Di televisi itu kita menyaksikan ketangguhan pemain Denmark dan wajah Vieri dan Totti yang frustrasi. Ada amarah dan cemooh. Tapi semuanya tak berakhir dengan rusuh. Jika emosi meletup, para pemain paling banter saling memaki, atau menyumpah wasit karena keputusan yang dianggap merugikan. Penonton pun riuh rendah di tempatnya. Bersedih jika tim dukungannya kalah, bersorak bagi yang menang. Wasit pun menunaikan tugasnya tanpa beban dan kekhawatiran akan digebuki jika satu tim kalah. Tak seperti kecemasan wasit-wasit yang memimpin pertandingan Persib-Persebaya.

Namanya juga pertandingan. Kata ini telah memiliki segalanya. Sepak bola, kata Antonio Gramsci, menuntut inisiatif, kompetisi dan konflik, tapi dia dikendalikan oleh peraturan tak tertulis tentang fair play. Barangkali bisa pula ditambahkan kini dengan kata “industri”. Bisnis dan duit mengocor ke lapangan hijau beserta isinya.

Barangkali sepak bola juga kini sudah jadi indikator sebuah negara disebut maju. Hukum yang tegak di lapangan hijau itu adalah miniatur tegaknya hukum sebuah negara. Sepak bola bisa menjadi indikator ekonomi selain pertumbuhan, inflasi, dan nilai tukar. Negara yang bisa mengelola sepak bolanya dengan benar akan memenuhi kategori itu. Negara sepak bola adalah negara yang beradab.

BAGIKAN
0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *