LAKI-LAKI TUA DAN UUD

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2005/09/20/laki-laki-tua-dan-uud/
RSS
Follow by Email

Cerita seorang lelaki tua yang rutin menghadiri sidang-sidang DPR. Sebagai penonton yang tekun.

Umurnya 77. Setahun lebih tua dari umur meninggal kakek saya. Punggungnya sudah bungkuk, gigi serinya tinggal satu. Sehingga kalau ngomong terdengar pelo. Tapi kulitnya bersih. Dan ini yang penting: dia bisa mengurai teori ekonomi sambil tertawa.

Saya ketemu dengan dia di balkon ruang rapat Komisi Keuangan DPR. Dia yang menghampiri, dan kami begitu saja ngobrol. Dia mengaku baru menyerahkan sebuah surat seruan ke DPR. Surat yang meminta “DPR dan pemerintah kembali ke ekonomi Undang-Undang Dasar 1945.” Bagi dia, praktik ekonomi sekarang sudah tak beda dengan paham liberalisme dan kapitalisme. Aduh…

Dan, astaga, ia mengutip John Maynard Keynes. Karena Keynes-lah, kata bapak tua ini, kita jadi sengsara. Sebab teori Keynes soal uang, bunga dan tenaga kerja itu yang telah melahirkan kapitalisme dan liberalisme. Pemerintah ogah campur tangan mengurus hidup rakyatnya, malah menyembah-nyembah mencari utang. Orang dibiarkan berusaha mencari penghidupan sendiri. Sehingga sedikit ada orang kaya dan lebih banyak orang miskin karena mereka tak punya uang.

Karena Keynes pula, harga minyak akan disesuaikan dengan harga di pasar. Subsidi akan dicabut. Dengan kata lain, pemerintah ogah menyediakan kebutuhan rakyatnya dengan harga murah. “Ini menyimpang dari UUD 1945,” ia berseru. UUD, menurut dia, sudah menyuruh pemerintah “memanfaatkan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Menurut bapak tua yang mengaku cuma tamat SMA ini, Indonesia jadi terlihat sebagai negeri yang aneh. Dasar negaranya memanjakan rakyat tapi praktiknya malah ingin menjauhi rakyat.

“Wah, bapak pendukung sosialisme, ya?” kata saya.

“Bukan!” ia menoleh ke arah saya. “Saya katakan, ini ekonomi UUD 1945.” Saya diam.

Ia terus saja ngomong, tak memberi kesempatan saya menimpali. Terus dan terus, hingga rapat selesai. Saya berdiri hendak pamit. Ia merogoh saku celananya dan menyodorkan kartu nama. “Siapa tahu perlu.” Saya mengangguk. Tapi, baiknya, namanya tak usah ditulis di sini. Karena di DPR, orang seperti bapak tua ini banyak sekali, entah datang dari mana.

Gambar: Lukisan Basoeki Abdoellah

BAGIKAN
0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *