ORANG TUA DAN ANAK

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANAK-anak muda muncul ketika para orang tua tak bisa menyelesaikan hal ihwal. Dalam novel Orang Tua dan Anak, Ivan Turgenev menghadirkan sosok Yevgeny Vasilevich Bazarov yang mencemaskan para orang tua karena jalan pikirannya. Anak muda ini tipikal seorang yang pulang dengan marah setelah bertahun-tahun menyerap ilmu di universitas.

Bazarov merasa tak ada gunanya belajar jauh-jauh sementara Rusia, negerinya di abad 19, tetap saja tertinggal. Masyarakat hidup bodoh, sementara orang kaya foya-foya dengan pesta. Tsar duduk angkuh di istana, para padri tak henti-henti berkotbah seraya tutup mata pada kebatilan di sekeliling. Bagi Bazarov, segala kekusutan itu bersumber pada nilai-nilai lama yang nyaman dianut generasi tua.

“Wahai paman, bisakah paham yang kalian anut ini membuat kita menjadi berarti?” kata Bazarov kepada Pak Kirsanov, ayah temannya.

Setelah lulus, Bazarov tak langsung pulang ke kampungnya. Ia mampir ke rumah temannya, Arkady Kirsanov, lalu tertarik mempraktekan ilmu dokternya. Di sinilah ia menyaksikan kekolotan dan paham kuno para orang tua yang ia benci.

Arkady dan Bazarov sering terlibat diskusi tentang zaman yang terbelakang. Cita-cita, harapan, dan solusi yang mungkin bisa diterapkan. Dan Pak Kirsanov adalah keterbelakangan yang nyata di depan mata mereka. Petuah dan kebajikannya sudah usang.Orang-orang tua, yang tak mengerti dunia sudah berubah di luar sana, hanya berpikir bagaimana membuat tanah pertanian agar subur dan panen berlimpah untuk hidup sehari-hari. Pak Kirsanov hanya perlu ke kebun mencari rumput untuk meredam demam seorang adiknya. Sedangkan Bazarov ingin penyakit itu dideteksi dan si bibi minum obat. Mereka pun kerap bertengkar untuk hal-hal sepele.Pak Kirsanov tak mengerti apa yang selalu diobrolkan kedua orang muda itu. Ia bahkan berpikir Bazarov adalah “orang berbahaya yang bisa meracuni pikiran anakku karena mengajarkan hal-hal yang dilarang tradisi”.

Bazarov makin frustrasi ketika tahu keterbelakangan itu hinggap di seluruh negeri. “Kita harus berubah,” katanya. Tapi dengan cara apa? Bazarov mewakili kaum intelektual Rusia beberapa puluh tahun sebelum Revolusi Oktober 1917: mereka yang tak berdaya menghadapi carut marut keadaan.Bazarov kian meradang ketika tahu Pak Kirsanov berselingkuh dengan pelayannnya, sebuah simbol nilai-nilai lama di mana laki-laki mengendalikan seks. Sementara di mata orang tua, Bazarov adalah orang yang tak tahu adat. Dua-duanya memakai mata yang berbeda dalam memandang situasi. Maka kedua generasi pun berbenturan.

Tapi di kampung itulah, Bazarov bertemu Anna Odinstova, seorang janda kaya yang cantik lagi baik hati. Odinstova terpesona kepada pikiran-pikiran Bazarov. Keduanya terlibat cinta yang aneh. Odinstova menyukai Bazarov tapi takut menunjukkannya karena ngeri menerima paham-paham yang dibawa anak muda itu. Arkady juga ternyata menaruh hati. Turgenev meramu kisah cinta segitiga ini dengan memikat.

Ini memang keahliannya. Novel-novel sebelum Orang tua dan Anak bercerita tentang hubungan asmara, dengan lanskap sungai-sungai berarus tenang di dusun-dusun Rusia. Konflik psikologis ini menarik karena memberi warna ke dalam kisah yang penuh dengan dialog-dialog padat jargon. Perkenalan dengan Odinstova meluluhkan kekerasan hati Bazarov. Ia menjadi lebih lembut dan toleran menerima kritik dan pandangan orang lain.

Tokoh lain juga sibuk dengan urusannya sendiri. Arkady kemudian jatuh cinta kepada sepupu Odinstova, setelah tahu tak mungkin bersaing dengan sahabatnya sendiri. Mereka menikah secara tradisional dan hidup bahagia. Pak Kirsanov, atas desakan anak-anaknya, kemudian juga menikahi pelayannya itu.

Adapun Bazarov, ia pulang sebagai seorang orang kalah. Odinstova menolak cintanya, Rusia tak kunjung berubah. Bazarov berubah menjadi seorang nihilis tulen. Sementara Arkady juga sejenis manusia yang memilih berdamai, mencoba bahagia, dengan tetap kritis.

Novel ini disebut-sebut novel Turgenev yang paling indah. Bazarov dianggap personifikasi dirinya, yang juga bertahun-tahun hidup dan belajar di luar negeri, lalu menjadi pelopor sastra realis Rusia. Tapi, setelah novel ini terbit, Turgenev berhenti menulis selama satu dekade karena kritik yang bertubi-tubi kepada novelnya ini. Satu kritik, misalnya, menganggap Bazarov terlalu lembek sebagai seorang nihilis.

Tapi, kritik itu kian menegaskan bahwa Turgenev seorang penulis besar. Fyodor Dostoyevsky sampai menulis Kejahatan dan Hukuman sebagai tanggapan sekaligus mengekplorasi gagasan novel ini. Ketika Turgenev meninggal di usia 63 pada musim gugur 1883, seluruh Rusia menyambut jenazahnya dari Paris. Tentara siaga di jalan-jalan St. Petersburg karena khawatir iring-irangan berakhir menjadi rusuh politik.

Toh, kerusuhan itu tetap terjadi, pada Oktober 1917, ketika Bazarov-Bazarov yang menolak menjadi nihilis seperti Lenin dan Stalin menumpahkan segala kritik dan marahnya dengan menyerbu Istana dan menumbangkan Tsar. Rusia pun memasuki abad baru di bawah panji-panji komunisme.

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *