FRAGMEN

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dimuat di Lampung Post, edisi 3 Mei 2009

Raut Tursi

RAUTNYA tursi. Mungkin karena warna bajunya, mungkin karena rambutnya, mungkin karena lampu-lampu di atasnya, mungkin bukan karena itu semua. Rautnya tursi, saya tak berani menatapnya. “Bukankah aku sudah jadi puisi?” Apa yang puisi apa yang bukan.

Kata-kata bahkan tak lagi akrab. Dan malam lunglai sehabis percintaan yang masai. Kita tak pernah punya jeda untuk menafsirkan yang mungkin dan tak mungkin. Kita berlari mengejar puisi dan selesai dengan sebuah prosa. Metafora lepas, yang ada hanya tanda-tanda yang jelas. Kita tak menciptakan enigma, hanya sebuah keruwetan yang tak mudah kita urai kembali.

Saya tak berani menatapnya karena mungkin ia memang sudah jadi puisi, untuk saya, orang di depannya, yang dalam sela-sela sisa-sisa keberanian mencuri-curi menatapnya. Saya tahu itu sia-sia. Rautnya yang tursi mengingatkan saya pada dongeng tentang topeng yang pasi.

Bapak mengisahkannya entah kapan entah sedang apa. Saya lupa pada peristiwanya. Yang menyangkut di ingatan hanya wajah topeng itu saja. Barangkali kurang tepat membandingkan raut perempuan di depan saya dengan topeng itu. Hanya dampaknya sama: saya tak berani memandangnya.

Topeng itu konon pernah hilang dari kamar Aki. Semua orang ribut. Semua orang mencari tapi bingung ke mana harus pergi. Tak ada yang pergi sampai topeng itu kembali. Aki tak lagi sering menyendiri. Temannya telah kembali. Keduanya merayapi hari-hari tua yang sepi dan sakit: tak ada anak-anak, tak ada orang-orang tua.

Saya pernah mengintipnya, sayup-sayup di umur entah berapa. Topeng itu dipasang di atas cermin tua yang gagah dengan ukiran-ukiran yang ruwet. Menatap cermin itu sudah terasa beratnya. Galuh jati. Dan topeng itu, topeng kayu yang aneh, topeng dengan kerut-kerut dahi yang gering, akan menatap Aki jika berbaring di ranjangnya. Topeng ini yang telah membikin saya ada: bikin Aki panjang umur lalu membuat bapak lahir, menyelamatkan ulu hati dari hujaman bayonet Jepang. “Saya hanya seorang pembuat topeng.”

Saya bilang ini dongeng. Kisahnya mungkin nyata, dekat sekali karena nama-nama begitu akrab. Tapi kejadian-kejadiannya, keanehan-keanehannya teramat fiksi. Atau karena bapak tak bisa menjelaskannya dengan masuk akal? Saya memilih percaya dugaan ini. Sampai topeng itu dikubur dan rumah tua dibagikan ke bibi-bibi lalu dibangun yang baru. Dikubur karena semua anak, semua cucu, tak ada yang betah menatap atau menyimpannya.

Begitulah. Ada kerut gering dalam raut yang tursi itu. Kerut pasi topeng itu. “Bukankah aku sudah jadi puisi?” Ya, ya, kamu mungkin sebuah puisi.

Jeda

BARANGKALI kita memang perlu jeda, terutama pada gairah yang menggebu, pada hidup yang menderu, pada sengkarut soal yang tak akan bisa kita pecahkan. Pada jeda itu kita bisa berharap–atau tidak berharap, sekadar membuka peluang stop pada sesuatu yang belum usai–kita bisa kembali kepada sesuatu yang sudah lama kita lupakan: harum pagi, bening embun, atau bau tanah basah sehabis hujan yang sebentar. Hanya pada jeda kita bisa meresapi, mungkin malah bisa memasuki keheningan—barangkali kesunyatan: sebuah sumber energi untuk kita bisa mengambil jarak pada yang ada dan tiada.

Pada dunia yang hiruk pikuk ini jarak itu senantiasa nol. Kita nyaris tak bisa membedakan mana yang profan dan mana yang imanen. Kita melewatkan usia, tak sempat mencium dan menyesap uap kopi pagi, mendengar dengus napas, bahkan bau liur di bantal kita sendiri. Kita tak sadar liur itu menandakan sebuah kenikmatan: kenikmatan bahwa manusia memang terbatas, kita butuh istirah dan berbuat adil pada otot dan sendi kita sendiri. Tanpa jeda, rutinitas itu senantiasa akan jadi jadwal yang tetap: seperti para sipir yang membangunkan para tahanan karena senam pagi adalah bagian dari hukuman.

Barangkali kita memang perlu berhenti, singgah sebentar, menghela napas, mengatur energi, untuk berlari lagi esok hari….

Sore yang Genting

TAMAN yang bisu, bangku-bangku kosong, tak ada deru klakson atau anak yang meniup harmonika. Burung-burung menjauh ke langit jenuh. Cuaca pun kesumba ketika udara menggetarkan bulu-bulu mata. Bahkan bunga-bunga ini, cintaku, tak lagi menghadang gerimis yang jadi kuning.

Kita pernah duduk di sini, menaja duka yang datang tiba-tiba. Barangkali memang tak ada yang kekal, kecuali sehimpun doa–seperti kau percaya bahwa lupa kelak membebaskan kita.

Arung

AKU tak bisa melihat dunia di depanku. Segalanya pekat. Dunia yang terlalu besar. Mataku tersungkup. Frekuensi retinaku tak sanggup menangkap bayangan apa gerangan yang melintas tiba-tiba.

Situasi ini mirip dengan apa yang dialami Sika Bhayandara ketika dia hampir saja mati dan merasa berada di persimpangan surga dan neraka. Tapi Sika tak ingat lagi ketika persimpangan itu tiba-tiba hilang dan dia kembali ke bumi. Barangkali itu hanya mimpi, atau semacam alusi yang merangsek ke wilayah sadarnya.

Yang kualami ini jelas bukan mimpi. Aku sadar. Aku bisa merasakan bumi yang bergetar, harum pagi, dan dengus napasku sendiri. Tapi, ini gelap tak juga lindap.

Dan bayangan yang melintas tiba-tiba itu mungkin tuhan. Seperti yang pernah dicurigai guru sekolahku ketika kecil.

Dia mengajarkan bagaimana melihat tuhan dengan mata terbuka. “Tutupkan telapak tanganmu ke matamu, kau akan melihat tuhan di sana.” Di sanalah tuhan akan kautemui. Dalam kegelapan, dalam ketakterjangkauan, kau akan ketemu tuhan. Tuhan tak terjangkau maka kau harus menemuinya dengan ketakterjangkauan pula. Tapi tuhan begitu dekat. Sedekat napas atau sedekat retina matamu sendiri.

Tapi aku tak melihat tuhan. “Tapi-kau-tak-akan-tahu-tuhan.” Begitulah. Suara itu datang dari masa lalu. Terngiang kembali seperti gema yang datang pelan-pelan.

“Tapi kau tak akan sampai tuhan.”

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *