MBAH MAN

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2012/10/09/mbah-man/
RSS
Follow by Email

Resep panjang umur ala Mbah Man: tak pantang makan daging kambing dan duren, yang penting makan pepaya. Dan paling penting: bahagia di mana saja kapan saja.

NAMANYA Rahman. Kami semua memanggilnya Mbah Man. Januari tahun depan ia genap 70, berdasarkan ingatan tahun lahir ketika ia mulai bisa membaca. Mungkin usianya lebih dari itu.

Di data warga yang tercatat di berkas RT ia mencantumkan pekerjaannya: buruh, dengan huruf kapital. Setiap hari ada saja warga kompleks ini, tetangganya sendiri, membetulkan ini-itu. Waktu kami membangun masjid, ia menggali tanah untuk pondasi. Daya tahannya mengalahkan kami semua, anak-anak muda 30-an. Anaknya enam, cicitnya tiga.

Badan Mbah Man kecil. Rambutnya memutih semuanya. Giginya tinggal empat. Makanan utamanya: kopi dan rokok. “Saya jarang makan,” katanya. Selain gigi, di tubuhnya hanya mata yang kalah oleh usia. Selain itu Mbah Man tak pernah mengeluh sakit. Sekali masuk rumah sakit ketika menyetir sepeda motor diseruduk mobil yang mengantuk.

Tidurnya sedikit sekali. Di kompleks ini, dialah orang terakhir yang tidur, selain satpam. Kalo tak ada musuh ngadu gaple, ia nongkrong di pos satpam mengobrol, lalu keliling-keliling kompleks mengecek sudut-sudut yang gelap. Ia baru merem selepas subuh dan bangun lagi pukul 6. Setelah itu ia bekerja. Menukang, mencangkul, membetulkan genteng bocor. Jika ada pekerjaan di Jakarta ia bisa tahan menempuh Bogor-Jakarta bolak-balik dengan sepeda motor. Dan malamnya begadang main kartu.

Kami curiga ia tidur sedikit itu karena umur. Semakin tua tubuh kita semakin tak mengantuk. Kian uzur, tubuh kita tak membutuhkan istirahat berlebih sekaligus membutuhkan gerak sedikit, kecuali Mbah Man. Katanya, ia sudah tidur sedikit sejak di pesantren di Sumenep. Remaja ia pindah ke kampung ibunya di Situbondo. Lalu kawin dan merantau ke Jakarta di usia 40. Bekerja apa saja, terutama kerja otot memanggul beban jadi kuli angkut.

Sampai hari ini ia makan apa saja. Sore makan duren malamnya tak segan menyantap gulai kambing. Dan ia tak limbung karena kolesterol mencuatkan tekanan darah setelah itu. Bergelas-gelas kopi manis setiap hari itu seolah tak menyumbat pembuluh darahnya. “Setelah makan yang enak-enak itu saya makan pepaya, itu saja penawarnya,” katanya, tadi malam, sewaktu kami mengobrol di pos satpam.

Tentu saja bukan cuma pepaya yang membuat tubuhnya liat di usia senja begitu. “Oh ya, yang bikin saya sehat itu karena saya tak pernah membebani pikiran,” katanya. Mbah Man memang selalu gembira. Ia suka becanda dengan siapa saja. Setua itu, dia bisa tiba-tiba bilang, “Terus gue harus bilang wow, gitu?” Dan, saya kira, ini yang penting: “Saya tak pernah menilai orang lain.”

Dengan menilai, pikiran akan membuat standar untuk diri sendiri dan orang lain itu, lalu akan timbul iri, kemudian menjadi dengki, arkian benci. Setelah itu pikiran kita akan terus memikirkan keburukan orang lain, membanding-bandingkan. Cara pikir seperti ini, kata Mbah Man, membuat pikiran dan hati tak lagi bebas. Hati dan pikiran akan terbebani, penyebab utama daya tahan tubuh kita melemah. Penyakit karena itu akan mudah datang.

Mbah Man tak pernah sakit hati karena disakiti orang lain. Jika ia dipecat dari pekerjaan karena dinilai tak becus, ia akan menerima karena berpikir itu bukan rezekinya. Rejeki lain akan datang dengan caranya sendiri. Dengan pola pikir begitu, Mbah Man banyak teman. Sebab itu pintu rezeki terbuka lebar di mana-mana. Enam anaknya ia sekolahkan, sudah mandiri dan punya pekerjaan tetap. Di sini ia tinggal dengan anak bungsu dan menantunya yang kerja di perusahaan Jepang.

Tapi, saya kira, selain tak mengizinkan urusan dunia membebani pikirannya, Mbah Man disokong istrinya yang sangat pengertian. Sejak kawin, Mbah Putri itu hanya sekali mencarinya, ketika ia tak pulang tiga hari karena keasyikan main gaple. Mbah Putri sangat percaya jika ke luar rumah, berapa lama pun, Mbah Man bekerja mencari uang untuk menghidupi ia dan anak-anaknya. “Kalau ada saya layani, kalau tak ada saya tak mencari,” kata Mbah Putri.

Sikap istrinya itulah, kata Mbah Man, yang membuat pikiran dia bebas. Ia tak rungsing oleh tuntutan ini-itu dari orang rumah. “Mungkin kalau dia banyak menuntut saya pusing juga,” katanya. “Saya baru kepikiran sekarang, jangan-jangan kami awet berumah tangga itu karena Mbah Putri tak pernah menuntut apa pun.”

Mata Mbah Man masih menyala ketika saya menguap berkali-kali menjelang pukul 0, lalu pamit karena besok hari Senin. Saya, yang belum sampai 40 ini, butuh tidur setidaknya 5-6 jam sehari agar besok masuk kantor untuk rapat berjam-jam tak tersiksa menahan kantuk. Saat pamit saya berdoa semoga Mbah Man panjang umur dan selalu sehat juga terus bergembira….

BAGIKAN
0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

4 thoughts on “MBAH MAN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *