IRONI BON JOVI

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Konser Bon Jovi di Jakarta. Penontonnya datang untuk membangkitkan kenangan, tapi Jon lebih senang membawakan lagu-lagu baru.

 

BON Jovi datang ke Jakarta bukan untuk membangkitkan kenangan. Mereka ingin mengenalkan lagu-lagu baru di album Burning Bridges yang baru dirilis dalam rangkaian tur 8 kota—Shanghai dan Beijing batal karena mereka ditolak Tiongkok. Karena itu dari 20 lagu selama 2 jam, penonton hanya bersorak tanpa ikut bernyanyi di empat lagu pertama.

Untung Jon menyelipkan lagu-lagu hit di antara lagu baru itu, setelah jeda pertama.

Penonton mereka adalah generasi 80-90 yang kini berusia rata-rata 30-40 tahun. Dan, agaknya, selera penonton bercampur aduk setelah tak ada lagi lagu hit Bon Jovi pasca 2000, di tengah zaman yang berubah sangat cepat ini, dan penyanyi baru bisa muncul tanpa lewat “dapur rekaman” (betapa jadulnya frase ini!). Lagu-lagu Bon Jovi yang ada di kepala mereka semacam Bad Medicine, Always, Keep The Faith, It’s My Life, Never Say Goodbye.

Jon menyapa ‘apa kabar’ setelah tiga lagu dalam bahasa Indonesia. “It been a long time since the last time…” Jon terakhir ke Jakarta di konser Ancol tahun 1995.

Pada lagu-lagu hit itu semua ikut bernyanyi. Barangkali untuk lagu-lagu itu pula penonton mengeluarkan Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta dan antre masuk sejak jam 15 di Gelora Bung Karno, padahal Jon baru muncul pukul 20.34, Jumat malam kemarin.

Promotor juga agaknya kurang jeli. Selain tak ada lagu cinta yang menjadi alasan Bon Jovi digemari, promotor menghadirkan band pembuka seorang penyanyi muda, Sam Tsui, yang konon terkenal di You Tube. Dia jadi asyik nyanyi sendiri. Ketika ia bilang masih dua lagu ia nyanyikan, penonton memintanya turun kendati Sam berkali-kali bilang “I love you”.

Penonton tak datang untuknya, anak muda yang 20 tahun lebih muda. Mereka ingin Jon. Jon Bon Jovi. Dan mereka tak datang untuk menyanyikan lagu baru Bon Jovi, semacam We don’t Run. Suara Jon baru diputar sekarang untuk membangkitkan kenangan masa SMA dan kuliah atau mengingat suasana hari pertama kerja.

Jon, di usianya yang ke-53, juga sudah terengah di nada tinggi. Someday I’ll be Saturday Night diaransemen ulang dengan akustik sehingga nada tinggi dirombak menjadi rendah. Di tribun penonton memaksa menyanyikan lagi versi asli yang tinggi. Walhasil Jon geleng-geleng tiap kali nada rendahnya tak diikuti karena penonton asyik mencapai oktaf paling membumbung.

Dan agaknya ketiadaan Richard Sambora tak jadi soal. Mereka, kami, generasi yang beranjak tua ini, ingin menyanyikan It’s My Life, Bad of Roses, Keep The Faith tanpa perlu benar lengkingan gitarnya. Aksi duo Phil X dan Matt O’Ree tetap diberi applaus ketika melodi Keep The Faith meraung-raung.

Opa Tico tampil paling prima. Dengan otot bisep yang menggelambir dia stabil menggebuk drum sampai konser ditutup Bad Medicine. Semua penonton berdiri dan bernyanyi.

Jon bilang “thank you” berkali-lali lalu menyelinap ke balik panggung yang jadi gelap. Dan penonton berseru “we want more”, sebagai ritual konser menjelang akhir. Tiga menit panggung masih gelap. Lima menit Jon tak muncul lagi. Hari makin malam.

Lalu mereka mengentak dengan She’s a Little Run Away. Jon main gitar dan memakai jaket, tak lagi teng top yang basah karena udara lembap. Ya, Jon, malam kian malam, Bon Jovi adalah kenangan….

BAGIKAN
error0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *