CATATAN MUDIK: KAMPUNG YANG BERUBAH

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Kampung berubah tiap kali mudik. Semakin menjadi kota.

 

Setiap mudik Lebaran selalu saja ada yang berubah dari kampung ini. Kebiasaan orang-orangnya, suasananya.

YANG mengejutkan saat mudik Lebaran tahun ini adalah ada warung nasi di depan rumah orang tua saya di kampung, di dekat Gunung Ciremai yang permai. Baru kali ini ada tetangga yang menjual nasi kepada tetangga yang lain. Penjual nasi terdekat ada di ruas jalan kabupaten, itu pun nasi yang diolah, seperti lengko.

Meski tak ada papan nama “warung nasi” di teras rumahnya, menjual nasi adalah sesuatu yang rada absurd. Sebab, di kampung ini tak ada yang tak punya nasi. Seumur-umur saya tak pernah mendengar ada yang kelaparan karena tak bisa makan. Selain setiap orang adalah saudara, mereka yang tak punya sawah juga pasti punya beras.

Hanya sedikit pendatang di kampung ini. Mereka yang tak lahir di sini, umumnya guru dan bidan sehingga mereka punya jatah beras dari pemerintah, meski sekarang sudah diganti uang. Lainnya laki-laki atau perempuan yang kawin dengan orang sini. Itu pun tak menetap di kampung karena umumnya mereka bekerja di kota.

Setiap musim tandur, pemilik sawah tak perlu bekerja keras sendirian menanam benih padi. Orang sekampung akan berebut menanam karena kelak ketika panen mereka punya jatah padi dari yang mereka tandur. Dari setiap 1 kwintal gabah, penandur berhak mendapat 10 kilogram. Dengan cara seperti ini, buruh tani yang tak punya sawah pun bisa punya beras. Malah beras mereka beraneka rupa karena para buruh ini tak tandur di satu sawah saja.

Sayuran dan lauk-pauk juga ada di sekitar sawah: ikan di balong atau lalapan di pematang atau halaman rumah. Jika untuk makan, siapapun boleh memetik asal meminta izin. Praktis siklus makan orang kampung ini dari sawah kembali ke sawah.

Jika satu memasak, tetangga lain akan menikmatinya karena masakan itu dibagi-bagi kepada rumah terdekat, mereka yang mencium aromanya. Saya tak ingat apakah ini amalan Nabi Muhammad. Orang kampung mempraktikkannya tanpa menyebut-nyebut hadis dari riwayat ini atau itu. Alasan paling logis adalah jangan biarkan tetangga hanya menghidu asapnya saja. Rezeki harus dibagi karena tetangga adalah saudara terdekat kita juga.

Maka ketika ada yang berjualan nasi dan lauk-pauknya, saya terkejut bahwa masa itu akhirnya datang juga. Menurut ibu saya, warung nasi itu muncul karena ada tetangga yang meminta disediakan nasi karena tak bisa masak. Artinya ada permintaan dari konsumen. Dan ini penjelasan ibu saya yang terdengar logis atas pertanyaan saya: apakah tak aneh ada warung nasi di kampung ini?

Orang-orang tua seusia ibu-bapak saya ditinggalkan anak-anak mereka merantau sehingga tak ada lagi yang memasak. Masak sendiri untuk dimakan berdua jadi terasa terlalu banyak. Istri wak Haji Gani sakit, sehingga wak Gani tak bisa masak sendiri untuk sahur dan berbuka. Sementara keluarga-keluarga muda tak lagi ke sawah, tak menandur sehingga harus membeli beras. Suami mereka bekerja ke kota, berdagang atau jadi buruh bangunan dengan menitip uang tiap bulan kepada yang pulang lebih dulu.

Para istri yang tinggal di rumah orang tua atau mertua punya waktu untuk memasak tapi mereka tak terlatih menyalakan api di hawu. Memasak jadi butuh keahlian dan perjuangan. Dan dengan kiriman dari kota itu, mereka kini punya uang tunai. Tak seperti orang-orang tua mereka yang jarang punya dompet.

Uang kakek dan nenek saya adalah ternak dan tanaman di sawah dan huma. Dengan sawah di pelbagai blok, siklus uang berputar mengikuti musim panen. Satu blok panen cabe bulan ini, blok lain panen kacang bulan depan, bulan kemarin panen padi, bulan sekarang panen tomat di hutan. Setiap kali habis menjual hasil kebun itu mereka kumpulkan uangnya untuk membeli ternak, setelah dibagi membayar utang pupuk atau disisihkan untuk modal bercocok tanam musim berikutnya. Praktis mereka tak pernah belanja. Paling baju koko atau sarung atau batik, itu pun setahun sekali saat Lebaran.

Kini sawah dan tegalan jadi angker karena sepi dan rimbun. Tak ada lagi yang menjamah ke sana. Mereka yang terlihat di huma dan sawah adalah orang-orang usia 60 tahun ke atas. Anak-anak mereka tak ke sana. Bapak saya kerap mengeluhkan tak ada anak muda yang mau diupah untuk mencangkul.

Setelah sekolah (SD atau SMP), anak-anak muda pergi ke kota: ke Jakarta atau Depok, ke Bekasi atau Bogor dan Tengerang, menjadi buruh pabrik atau berjualan asongan. Pemilik warung nasi atau bos es cincau setiap pulang Lebaran selalu menyetir mobil yang beda-beda, menyewa atau milik sendiri.

“Keberhasilan” merantau itulah yang menjadi daya tarik di kampung. Anak-anak muda yang belajar Matematika di sekolah akan berhitung lebih efektif: jika bertani kacang mendapat Rp 2 juta dalam tiga bulan, mereka bisa menghasilkan uang setara dalam waktu satu bulan di kota!

Untung menanam jagung itu sekitar Rp 1,5 juta dalam tiga bulan dengan setiap hari mengurusnya, dengan peluh dan cemas akan hama. Coba ke Depok, untung berjualan asongan saja sehari Rp 50 ribu. Dengan hitung-hitungan semacam itu anak-anak remaja bermigrasi ke kota. Satu hingga tiga bulan mereka berdagang atau menjadi buruh bangunan, bonusnya update gaya rambut terbaru, lalu pulang, dan kembali ke kota jika uang itu telah habis.

Dulu teman SD saya selepas lulus, tak peduli mendapat ijazah atau nilai bagus, pasti menggembala kerbau atau sapi, milik sendiri atau orang lain. Dalam dua tahun mereka akan mendapat anak kerbau atau anak sapi, sebagai upah. Ia akan besarkan anak-anak kerbau itu hingga besar, seraya terus mengurus kerbau dewasa. Pada usia 20 ia akan punya dua kerbau atau sapi dewasa. Kerbau dan sapi itu akan jadi modalnya menikah dan membuat rumah. Penghidupannya ia dapatkan dari mengolah sawah milik mertua atau orang tua sendiri, yang kelak mereka miliki setelah diwariskan.

Demikianlah siklus hidup orang-orang kampung saya, sampai sepuluh-dua puluh tahun lalu. Sekolah bukan pilihan karena toh akan kembali ke sawah. Jika mereka ngotot sekolah, sawah dan ternak miliknya akan dijual untuk biaya dan tak ada yang mengurusnya. Orang kampung akan mencibir mereka yang sekolah tapi kembali ke sawah. Lagipula sekolah sudah cukup jika sudah bisa mengenal a-b-c dan berhitung.

Hidup Darwin atau Rewot, teman-teman saya itu, akan berlaku seperti ditulis Chairil Anwar: pada akhirnya kita kawin, tua, dan mati. Bedanya, Darwin dan Rewot menjalaninya tanpa gelombang. Hidup yang rutin dan mereka bahagia. Anak-anak mereka kini mengubah siklus itu: dengan pakaian necis, sepeda motor, dan handphone model terbaru, juga akun Facebook.

Dan segala kebutuhan itu, orang kampung memerlukan uang tunai. Maka bertani bukan pilihan yang enak. Sepeda motor perlu bensin dan telepon butuh pulsa, setiap hari, setiap waktu. Sementara jika menanam cabe atau kacang, seperti orang-orang tua, mereka harus menunggu tiga bulan untuk mendapat uang. Itu pun jika musim dan alam meridoi: cuaca tak membangkitkan hama, Gusti Allah tak mendatangkan bala.

Dengan uang tunai selalu ada di dompet, mereka terdorong untuk konsumtif. Maka mereka perlu warung nasi agar bisa makan sekali beli, tanpa harus repot menyalakan api di hawu. Lagipula, karena tak ke hutan, kayu untuk hawu juga tak ada. Kompor perlu gas atau minyak. Segela urusan itu terlalu ribet karena waktu terlalu penting dihabiskan untuk kegiatan lain, seperti memperbarui status Facebook dan bercengkerama di grup WhatsApp.

Pada hari raya kedua Lebaran, semua orang seperti kompak: berdandan dengan pakaian terbagus lalu berombongan menyewa mobil bak yang ditudungi terpal. Mereka menuju tempat wisata, ke air terjun, ke pantai, atau sekadar berenang rame-rame di kolam renang di ibu kota kabupaten. Anak-anak mafhum belaka, jika silaturahmi ke tetangga dan salim ke orang tua mereka pulang dengan menggenggam salam tempel. Uang itu mereka pakai untuk bersenang-senang di tempat hiburan lalu mampir makan bakso terenak di pasar kecamatan.

Barangkali yang aneh adalah pertanyaan saya: perantau yang mengingat dan menginginginkan kampung kelahiran, beserta adat dan orang-orangnya, juga suasananya, tetap seperti 20-30 tahun lalu: hasrat yang menginginkan kampung dengan romantisme orang kota…

BAGIKAN
error0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *