Mengenang Gerson Poyk

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Saya mewawancarainya ketika ia berusia 77 pada 2008 untuk edisi “100 Buku yang Berpengaruh”, cara Tempo memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Wawancara di rumahnya di Depok, yang jauh dan tak mudah ditemukan. Hari ini ia wafat. Selamat jalan, Pak Gerson, selamat berkeliling….

Mati Ketawa Keliling Indonesia

Tempo, 19 Mei 2008

SEBUAH tulisan Pramoedya Ananta Toer di koran Bintang Timur pada 1963 menancap di benak Gerson Poyk. Pram, pengasuh pojok kebudayaan Lentera, menganjurkan kepada mereka yang berminat menjadi penulis agar memiliki jiwa nasionalis. ”Caranya, kenali Indonesia,” kata Gerson, kini 77 tahun.

Maka Gerson pun berhenti mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Ternate, Maluku–selain karena gaji guru tidak pasti. Gerson menjajal profesi baru sebagai wartawan Sinar Harapan. Menjadi jurnalis, pikirnya, punya kesempatan mengenali dan berkeliling Indonesia. Tapi hanya tujuh tahun ia bertahan. Alumnus sekolah guru agama di Surabaya ini kemudian menjadi wartawan lepas.

Mulai 1970, tulisan perjalanan Gerson muncul di banyak media. Ia lebih bebas menyambangi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi wartawan. Gerson melaporkan pelbagai hal: dari kisah dua gadis miskin yang menjadi pelacur di Jatiluhur, turis mabuk di Bali, petani karet di sekitar Sungai Kapuas yang terimbas embargo ekonomi Malaysia, hingga upacara adat di Merauke.

Tulisannya ringan dan jenaka, seringan hatinya ketika mengunjungi tempat-tempat itu. Ia tak pernah merencanakan kepergian dengan susah. Tiba-tiba ingin pergi ke Papua, berangkatlah ia ke sana, tak peduli kantong cekak. Gerson biasa mengembara tanpa sepeser pun uang. Ia pernah menjual jaket untuk ongkos pulang dari Bojonegoro, Jawa Timur.

Menurut Gerson, ada saja orang atau lembaga yang memberikan sangu untuk jalan-jalan. Sjam, misalnya. Pemilik majalah Selekta di Jakarta itu selalu berbaik hati memberinya ongkos. Gerson menebusnya dengan beberapa tulisan. Pada 1970-an, honor satu artikel Rp 3.000, setara dengan 37 kilogram beras.

Pada 1986, Gerson memboyong Hadiah Adinegoro, penghargaan tertinggi bidang jurnalistik kala itu. ”Perjalanan dari Padang Sabana Timor dan Sumba” yang dimuat majalah Sarinah, 13 Oktober 1986, membuat pria kelahiran Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, itu menyisihkan 37 karya tulis lainnya. Hadiah uang yang dia peroleh, ditambah hadiah-hadiah sastra dan beasiswa ke Amerika, dipakai untuk membeli tanah dan rumah.

Kritikus sastra Hans Bague Jassin menilai Gerson sebagai penulis yang memelopori nilai-nilai kedaerahan. Cerita pendek atau novelnya diilhami dan menyajikan kisah yang dekat dengan hidup sehari-hari, seperti Sang Guru, Matias Akankari, atau Di Bawah Matahari Bali.

Wartawan dan penyair Eka Budianta menganggap catatan perjalanan Gerson sebagai reportase tentang Indonesia paling penting hingga sekarang. Dalam soal ini, Eka menyejajarkan Gerson dengan Pramoedya Ananta Toer. ”Gerson, lewat tulisan-tulisannya, telah membuat kita jatuh cinta kepada Indonesia dan pulau-pulaunya,” katanya.

Menurut Eka, dibanding penulis lain, dulu atau sekarang, Gerson paling menjiwai dalam menulis budaya lokal. Tulisannya tentang Maluku atau Sumbawa mampu membawa pembaca membayangkan dua provinsi yang kala itu masih minim publikasi. ”Ia membuka wawasan kita terhadap keadaan Indonesia timur,” kata Eka.

Selain dengan gaya tulis yang renyah, Gerson menyampaikan laporannya dari sudut pandang personal plus pengalaman pribadi sebagai bumbu. Ia, yang hidup di Ternate, misalnya, menulis budaya Maluku dengan menyisipkan kepedihan seorang guru miskin. Di Bali, ia mereportase aktivitas turis dan menghubungkannya dengan persilangan budaya.

Kecuali beberapa cerpen dan novel, reportase-reportase Gerson itu belum dijilid. Di ruang kerjanya yang kumuh di Depok, bapak tiga anak itu menyimpan guntingan koran dan majalah yang memuat tulisannya. Dengan biaya sendiri, hasil berkebun dan menjual obat penurun kolesterol, Gerson berencana menerbitkan tulisan-tulisan di bawah judul ”Mati Ketawa Keliling Indonesia”.

Di usia senja, ia masih bugar dan terus menulis. Ceritanya yang paling anyar soal Pulau Miangas, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Timur, yang ia kunjungi saat menghadiri undangan sebuah kelompok teater. ”Begitulah, karena Abang Pram, saya jadi pengembara seumur hidup,” katanya sambil mengguncang bahu.

BAGIKAN
error0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *