CERITA DARI TIMUR

  • 23
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares

 

MENULIS pengalaman personal acap gagal karena satu hal: abai pada detail. Kekuatan Tristes Tropiques yang ditulis Claude Lévi-Strauss, antropolog Prancis tentang “jalan-jalannya” ke hutan Amazon di Brasil pada 1955, adalah reportase pada detail yang dipadukan dengan kesan, analisis, dan menyandarkannya pada keluasan literatur.

Maka buku babon sosiologi dan antropologi itu menjadi semacam memoar ilmiah yang bisa membantu menjelaskan hubungan lingkungan dan manusia serta perubahan-perubahannya. Dari Strauss kita bisa paham mengapa rum Puerto Rico lebih sengak dibanding rum Martinique, yakni dari cara membuatnya. Rum Puerto Rico diolah di pabrik, sementara rum Martinique disuling dari peralatan yang belum diganti sejak abad 18. Bagi Strauss, kontras itu menunjukkan bagaimana peradaban tropis bekerja, dengan pengaruh alam dan kebudayaan.

Tentu saja buku Cerita dari Timur yang ditulis mahasiswa-mahasiswa Universitas Gadjah Mada ini tak akan sampai pada analisis semacam itu. Tapi, agaknya bahannya cukup untuk membuat reportase sejenis untuk menggambarkan bagaimana hidup orang-orang Indonesia di lima taman nasional, yang jauh, yang tradisional, yang memelihara kepercayaan nenek moyang untuk memelihara alam.

Sayangnya bahan yang bagus itu tak diolah menjadi buku yang enak dibaca. Banyak informasi yang disajikan dengan tanggung, tak detail, padahal penting sebagai informasi dan pengetahuan. Bahasa dan cara menuliskannya seperti skripsi yang belum diperiksa dosen pembimbing: kutipan literatur jadi mengganggu alih-alih menambah kokoh reportase. Ada banyak kutipan buku tapi hanya berhenti sebagai nama pengarang dalam tanda kurung. Temuan-temuan mereka tentang burung dan fauna tak dibandingkan dengan temuan Wallace untuk mengetahui perubahannya selama tiga abad.

Selain tak ada informasi bagaimana cara mencapai Desa Rawa Biru di pedalaman Merauke, yang masih hidup 52 buaya muara, buku ini absen menyampaikan pikiran-pikiran penduduk lokal. Apa yang mereka pikirkan saat memburu Walabi atau Kasuari, apa yang mereka harapkan ketika desa mereka jadi Taman Nasional? Penduduk lokal dan narasumber buku ini hanya disebut nama depan, alih-alih profil dari masing-masing orang.

Agaknya itu terjadi karena sejak awal para penulis dan editornya gagal merumuskan fokus buku ini: hendak napak tilas ekspedisi Alfred Wallace atau sekedar jalan-jalan melihat aneka burung dan mencoba memanjat dinding karst? Fokus ini kian hilang karena anak-anak muda ini lebih senang berceramah tentang pentingnya perlindungan alam ketika membahas adat berburu suku Malind-Anim di Papua dan pamer kemampuan menuruni gua vertikal sedalam 300 meter.

Yang lumayan menghibur adalah foto-foto dan ilustrasinya, di luar caption yang perlu kaca pembesar untuk bisa membacanya. Dengan foto berwarna dan kertas yang bagus, informasi dari foto-foto itu jauh lebih banyak dibanding deskripsi kata-kata. Burung warna-warni dan gambar taman nasional dari udara jauh lebih hidup ketimbang cerita-cerita para penulisnya.

Buku ini perlu ditulis ulang dengan mewawancarai puluhan anggota ekspedisi. Mereka kelihatannya menyembunyikan informasi selama berhari-hari berada di hutan-hutan alam Indonesia yang megah dan kaya akan informasi flora dan fauna. Benar kata Puthut E.A, penulis cerita pendek dari UGM, yang namanya tercetak di sampul sebagai endorser: melakukan ekspedisi dan menuliskan laporannya dalam sebuah buku adalah dua hal berbeda.

Sumber gambar: amagazine.com

BAGIKAN
0
  •  
    23
    Shares
  • 23
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *