MAYAT HIDUP DAN PENCURI YANG BERHASIL

Spread the love

 

Malapraktik bahasa jurnalistik. Mayat hidup dalam berita dan pencuri selalu bercita-cita ditangkap.

BAGI wartawan, bahasa adalah alat utama menyampaikan cerita dan fakta. Jika mereka tak menguasai peranti ini, cerita dan fakta bisa kabur bahkan meleset, alih-alih menggugah dan mendorong publik terlibat dalam berita yang mereka tulis.


Celakanya, tak banyak wartawan yang fasih menulis dalam bahasa Indonesia. Di dunia wartawan tulis ada anekdot dan sebutan “wartawan radio”. Para “wartawan radio” asyik ketika bercerita, mengisahkan bahan dan kejadian-kejadian lucu dalam cerita yang akan ditulisnya, namun kisah-kisah seru dan cerita lucu itu hilang entah ke mana saat cerita itu menjelma teks.

Tentu saja anekdot itu tak untuk merendahkan wartawan radio. Mereka jago bertutur karena itu memang bidang dan keahliannya. Apa jadinya jika wartawan radio tak pandai menyusun kronologi dan menggambarkan sebuah peristiwa saat melaporkan sebuah kejadian? Elokuensi mutlak diperlukan bagi wartawan radio agar pendengarnya betah menyimak cerita yang mereka laporkan lewat audio. Juga wartawan televisi. Apalagi, wartawan televisi dilengkapi dengan video sehingga mereka harus pandai menyampaikan cerita di balik kamera yang tersembunyi dan tak terjangkau mata lensa.

Jika wartawan radio dan wartawan televisi saja harus menguasai bahasa, apatah lagi wartawan tulis. Bahasa betul-betul modal utama mereka. Dan, sesungguhnya, baik wartawan tulis, televisi, radio juga memakai bahasa sebagai perangkat menyampaikan berita. Artinya, bertutur maupun menulis sama derajatnya bagi mereka. Jika para wartawan tak paham bagaimana fungsi kata dan bahasa, makna yang akan terserap oleh pendengar/pembaca/pemirsa bisa berbeda dari yang ingin mereka sampaikan.

Tulisan ini hanya menyoroti kesalahan-kesalahan bahasa dalam media tulis, yang mungkin menggelikan karena salah makna. Apalagi di zaman Internet, wartawan punya sedikit waktu merenungkan berita yang mereka tulis karena bersaing dalam kecepatan menyajikan peristiwa. Jika keahlian berbahasa Indonesia tak otomatis ada dalam pikiran mereka, peristiwa-peristiwa akan dilaporkan dengan bahasa yang berantakan, apalagi kedalaman penyajian tak lagi menjadi prioritas dalam berita di Internet.

Celakanya, bahasa Indonesia adalah bahasa asing bagi kita, kecuali bagi orang Melayu-Riau yang menjadi tanah air bahasa Indonesia. Sebagai orang Sunda, yang baru terbiasa memakai bahasa Indonesia setelah SMA, di kepala saya terjadi tarik-menarik antara bahasa-ibu dan bahasa Indonesia ketika menulis. Bahasa Sunda memiliki struktur pasif sehingga, pada awalnya, saya merumuskan pikiran dalam bahasa itu lalu menerjemahkannya secara cepat sebelum menuangkannya dalam kalimat aktif. Acapkali, struktur pasif itu terbawa saat menulis dan luput dari koreksi.

Struktur kalimat orang Sunda seperti ini: “gebug sia ku aing”. Jika diterjemahkan menjadi “pukul kamu oleh saya”. Agak aneh jika struktur itu diubah menjadi kalimat aktif “aing gebug sia”. Rasa bahasanya hilang. Saya kurang paham mengapa struktur bahasa Sunda pasif. Mungkin karena pengaruh undak-usuk dan feodalisme di Jawa Barat. Kalimat pasif memang terasa lebih sopan ketika dipakai berbicara karena subjeknya dihilangkan.

Masalahnya, keberadaan subjek itu penting dalam kalimat. Karena itu bahasa Indonesia, atau bahasa apa pun, cenderung lebih bertenaga jika memakai kalimat aktif. Contoh di bawah ini membuktikan bahwa memakai kalimat pasif itu terlihat mudah, tapi menjebak penulisnya pada kesalahan makna.

Secara sepintas kalimat dalam judul itu seolah-olah benar. Kita juga sering mendengar orang lain mengucapkannya, bahkan acap membaca kalimat seperti ini di media. Kita juga pasti paham maksudnya. Namun, ketika kalimat itu dituliskan, ada arti yang menguap sehingga makna kalimatnya jadi salah. Kesalahannya terletak pada kata “berhasil”. Dan berita di Batam Pos  dan Merdeka mengukuhkan kekacauan itu, yang mungkin saja penulisnya bukan orang Sunda.

Dalam kamus, “berhasil” terbentuk dari kata “hasil” yang berarti “sesuatu yang diadakan oleh usaha”. Berhasil berarti mendatangkan hasil, dekat dengan upaya mewujudkan cita-cita. Maka jika kata ini dipakai dalam judul seperti itu, makna kalimat tersebut menjadi “pencuri sepeda motor itu berusaha keras atau bercita-cita ditangkap dan ditembak”. Saya kira tak ada di dunia ini ada penjahat yang punya cita-cita sekonyol itu.

Kalimat dalam judul itu akan benar jika diubah menjadi kalimat aktif. “Entah Siapa Berhasil Menembak Residivis Pencuri Motor”. Seperti disebutkan di atas, kalimat pasif menyembunyikan subjek, sehingga kita tidak tahu siapa yang menembak dan menangkap pencuri itu. Jika menilik foto dan beritanya, penembak dan penangkap residivis itu adalah polisi. Maka kalimatnya menjadi “Polisi Berhasil Tembak dan Tangkap Pencuri Sepeda Motor”. Lebih jelas, lebih pas. Karena tugas polisi memburu dan menangkap penjahat, kata “berhasil” bisa dicoret karena pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan tak perlu mendapat pujian. Judul yang sesuai fakta tanpa bumbu-bumbu adalah “Polisi Tembak dan Tangkap Pencuri Sepeda”.

Tragedi kalimat pasif berlanjut dalam varian lain, seperti contoh berita di bawah ini.

 

Sekali lagi, kita pasti paham artinya. Jika merujuk an sich pada kalimat judul itu, seharusnya kejadian ini masuk dalam rekor dunia: ada dua mayat di Gang Asem yang sudah tak berdaya ditembak oleh entah siapa lalu mereka kabur dan dikejar oleh penembaknya. Rasanya, tak ada yang menggegerkan di sekitar penayangan berita ini. Tak ada pula cerita orang hidup lagi setelah ditembak lalu tewas, apalagi di Gang Asem.

Seandainya wartawannya paham makna kalimat yang dibuatnya dan editornya juga mengerti bagaimana kalimat pasif bekerja, mereka akan mengubah judulnya menjadi kalimat aktif. Katakanlah benar pula penembak dua mayat penjahat itu adalah polisi, judulnya akan diubah menjadi seperti ini: “Polisi Tembak Dua Penjahat Hingga Tewas di Gang Asem”. Rupanya, berita itu sudah diedit dan judulnya menjadi: Dua Tersangka Ditembak Mati di Gang Asem.

Mayat hidup tak hanya terjadi dalam berita itu, tapi juga dalam banyak berita lain. Pada berita Pos Kota edisi 16 April 2014 berjudul “Mayat dalam Karung di Garut Dikenali”, juga muncul mayat hidup. Dalam paragraf yang diberi tanda itu, ada “keterangan” yang bisa mencatat sendiri, juga kepala mayat yang muncul dari dalam karung. Ini cerita dahsyat seandainya wartawan menceritakan ketakutan “warga yang melintas” ketika dihadang mayat hidup di kolong jembatan itu, yang kepalanya menyembul dari dalam karung. Berita ini ditulis dengan sangat biasa, seolah kemunculan mayat dari dalam karung sebagai kejadian yang wajar belaka.

Dalam berita Tribun News itu kepala mayat juga muncul setelah karungnya dirobek. Apakah ia menerkam polisi yang merobeknya? Tak ada penjelasan lebih lanjut.

Dalam varian lain, kalimat pasif bisa mencelakakan penulisnya, seperti berita di Radar Sulteng Online ini. Siapa yang melindungi pengedar? Menurut judul berita ini BNNP.

Jika membaca beritanya, rupanya yang diduga melindungi pengedar narkoba itu Kasat Narkoba Touna. Karena ketahuan atas ulah jahat dan memalukan itu, BNN sempat menahannya. Jadi bukan BNN yang melindungi pengedar lalu membabi-buta menjadikan Kasat itu sebagai tersangka. Jika orang Indonesia serius dalam banyak hal, Kepala BNN bisa saja menggugat judul berita itu karena penulisnya telah menuduh mereka dengan keji.

Judul salah subjek ini tak hanya di Radar Sulteng, ada juga di Tempo.co. Menurut berita di atas, polisi bermain kejar-kejaran di jalan raya (mungkin) setelah mencuri kendati tak ada yang mengejarnya karena tak tersurat dalam kalimat itu. Apakah benar polisi “bermain” di jalan raya? Betapa tak seriusnya mereka. Meskipun kita paham maksud judul itu pastilah “Polisi Mengejar Pencuri di Jalan Raya”, struktur kalimat tersebut telah memelencengkan makna yang ingin disampaikan penulisnya.

Mayat hidup muncul lagi di Detik.com sedang menyeberang jalan tol Tomang di Jakarta Barat. Jenazah yang sedang menyeberang itu lalu dibawa ke RSCM oleh entah siapa.

Entah kenapa wartawan media online senang sekali memakai judul-judul seperti ini. Saya menduga penulisnya ingin bergaya saja. Menganggap judul seperti itu menarik pembaca (istilah bahasa Inggrisnya “click-baiting”) karena mengandung unsur misteri. Padahal, gaya tanpa pengetahuan akan menjerumuskannya ke dalam kubangan yang memalukan sebagai penulis. Orang-orang tua acap mengingatkan, dalam menulis, pertama-tama, adalah menulis lurus terlebih dahulu, gaya akan mengikuti dengan sendirinya.

Gaya dalam menulis itu seperti jurus dalam pencak silat. Seorang pesilat pemula akan belajar mengokohkan kuda-kuda terlebih dahulu sebelum belajar jurus. Guru Ip saja, dalam film Ip-Man yang dibintangi Donny Yen, melatih anak buahnya mengukuhkan kuda-kuda bertahun-tahun, sebelum belajar jurus. Begitu juga dalam menulis: memahami tata bahasa, mengetahui cara kerja kata, pengkalimatan, etika bahasa, dst, adalah pelajaran-pelajaran dasar sebelum mendapat predikat penulis.

Dari contoh-contoh di atas, untuk menghindari kemunculan mayat hidup dalam berita dan pencuri yang bercita-cita ditangkap, sebetulnya rumus menulis sederhana saja. Ada kebajikan lama dari Bapak Keraff dalam pelajaran bahasa Indonesia sejak SD:

  1. Memakai kalimat aktif
  2. Setia pada rumus S + P + O + K
  3. Tampilkan segera pokok pikiran dalam kalimat agar tak bertele-tele. Kuncinya jangan memulai kalimat dengan keterangan.
  4. Less is more, kata Ernest Hemingway. Menulis singkat itu lebih baik dibanding berlarat-larat. Kredo para penulis adalah menyampaikan sesuatu hanya dalam satu kata.

Pertanyaan atas judul berita di Koran Tempo di atas:

  1. Siapa yang risau?
    a. Everton
    b. Arsenal
  2. Jenis kalimat apakah ini?
    a. Aktif
    b. Pasif

Gambar: @OnlyInRusia

BAGIKAN
0

2 thoughts on “MAYAT HIDUP DAN PENCURI YANG BERHASIL”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *