LEGENDA ANGGUR MASAM

Legenda Anggur Masam
Spread the love

Legenda anggur masam (sour grapes) kembali relevan di zaman media sosial yang penghuninya punya jari lebih panjang ketimbang pikiran.

DALAM sebuah fabel Aesop yang terkenal, tersebutlah serigala yang ingin mengambil anggur. Betapa menggiurkan kumpulan anggur itu di mata serigala yang lapar. Maka ia pun berusaha menggapainya. Tapi apa daya moncongnya tak cukup menjangkau pokok anggur kendati ia telah berusaha memanjat.

Ia melompat, coba melompat lagi, anggur itu tetap di sana. Ia berputar mengelilingi pohon, tetap saja ia tak bisa menggapainya. Ia duduk, berdiri, lalu mengeliling pohon lagi sambil mencari cara memetik anggur-anggur itu. Alih-alih muncul ide brilian, tenaganya terkuras. Hingga lidahnya menjeleh, matanya nanar, anggur-anggur itu tak kunjung jatuh agar ia bisa memungutnya. Tak ada keajaiban ketika ia membutuhkan.

Akhirnya, serigala itu duduk sambil memandangi anggur-anggur itu. Segala daya sudah ia kerahkan agar bisa menjangkaunya. Ia mengutuki diri sendiri yang tak punya tubuh setinggi jerapah atau punya sayap seperti burung. Coba, pikirnya, seandainya ia punya leher panjang pasti tak akan susah mengendus anggur lalu memakannya.

Serigala malang itu pun kemudian pergi dengan penasaran yang menggantung. Ia pun sampai pada asumsi bahwa mungkin saja anggur-anggur itu kecut. Sehingga jika pun ia bisa menjangkaunya, kalau saja ia punya leher yang bisa memanjang seperti jerapah, apabila ia punya sayap sehingga bisa meloncat menggapainya, perjuangannya mubazir karena setelah capek-capek memetik anggur itu, toh ia tak akan memakannya juga.

Serigala itu pun percaya kepada pikirannya sendiri. Ia terhibur oleh kesimpulan dari asumsi yang belum ia buktikan. Maka, selama hidupnya itu ia berpikir bahwa anggur di semua pohon di seluruh dunia berasa masam. Apa yang dilihatnya begitu menggiurkan, tak sesuai dengan apa yang akan ia rasakan jika berhasil meraihnya. Kepada anak-anaknya ia mewariskan sebuah pepatah “tak semua yang membuatmu terlihat menyenangkan akan menggembirakan.” Kebajikan bagus yang lahir dari asumsi yang keliru.

Masalahnya, asumsi tak selalu menerbitkan kebajikan. Kita sering seperti serigala dalam melihat banyak hal. Kita acapkali menduga apa yang ada di depan mata tak sanggup kita hadapi atau bahkan menganggapnya enteng tanpa kita mencobanya terlebih dulu. Kita acap salah sangka dengan apa yang sedang kita hadapi karena asumsi-asumsi yang belum tentu benar. Bahkan paling sering dan konyol kita menyalahkan takdir yang tak bisa dikonfirmasi.

Seperti serigala itu. Ia mengutuk tubuhnya, ia menyalahkan takdir tak diberi leher sepanjang jerapah atau tak diberi sayap seperti burung. Barangkali ia juga menyalahkan Tuhan karena menciptakan buah yang menggiurkan tapi tak bisa dijangkau oleh binatang seperti dirinya. Jadi, buat apa Tuhan menciptakan semua ini?

Serigala itu tak berpikir sebaliknya bahwa rezeki dan makanannya tak di sana. Pendeknya ia tak bersyukur. Ia tak bersyukur bahwa makanannya bukan di atas pohon. Ia tak mensyukuri taring kuat, empat kaki yang perkasa untuk memburu dan merobek daging, agar ia bisa makan. Tragedi anggur itu pun telah melumpuhkan pikirannya sehingga ia berkesimpulan semua anggur berasa masam di seluruh dunia.

Cerita Aesop, filsuf Yunani kuno yang hidup antara 620-560 Sebelum Masehi, ini mengingatkan kita agar senantiasa menguji pikiran kita sendiri terhadap sesuatu. Serigala itu telah mengajarkan bahwa pikiran yang sempit akan menghasilkan kesimpulan yang sempit dan salah. Pikiran yang kurang pertimbangan akan mengelabui kita sendiri dalam memandang sesuatu.

aesop
Filsuf Yunani kuno yang hidup antara 620-560 Sebelum Masehi

Jika saja serigala itu mau menimbang kembali upaya, takdir, dan kenapa Tuhan menciptakan pohon anggur yang tinggi sehingga tak bisa dijangkaunya, mungkin ia akan menemukan cara menemukan anggur lain, alih-alih menyimpulkan semua anggur berasa masam di seluruh dunia. Ia akan berhenti pada keraguan anggur-anggur itu punya kemungkinan masam dan manis hingga ia mendapat bukti, katakanlah, ia menemukan anggur yang merambat ke sebuah gawir sehingga ia bisa memetik dan memakannya.

Menemukan dan memakan itu adalah sebuah proses sampai pada kesimpulan anggur yang ia temukan masam atau manis, meski kesimpulan itu pun tetap belum jadi kebenaran sepenuhnya, karena ia belum menguji anggur lain di tempat lain.

Maka dalam fabel lain, Aesop mengingatkan bahwa makhluk berakal sekalipun tak akan sepenuhnya bisa menggapai kebenaran. Kebenaran akan terus ada seiring perkembangan pikiran. Sebab itu, kebenaran adalah proses yang terikat waktu. Kebenaran hari ini mungkin tak akan menjadi kebenaran esok dan seterusnya. Alangkah merugi mereka yang mengklaim merasa paling benar, karena dalam pikiran yang merasa benar, keragu-raguan sebagai bahan bakar berpikir, telah mati.

Einstein pernah berkata bahwa cara manusia memecahkan setiap problem yang sama akan berbeda di setiap zaman. Cara mengatasi macet pada hari ini tak akan terpakai untuk solusi 30 tahun lagi. Dulu orang begitu saja makan daun dan hewan yang diburunya, kini daun itu diolah dan daging dipanggang sehingga kita bebas dari virus dan bakteri.

Berpikir dan menimbang ulang adalah sumber inovasi manusia menemukan sejarah dan peradaban. Bersedia membuka pikiran pada perubahan akan menyelamatkan kita bernasib sama dengan serigala malang yang menganggap semua anggur berasa masam di seluruh dunia, hingga ia tak pernah mencoba kembali menggapai anggur di lain waktu dengan cara yang berbeda.

Sumber Gambar: Weasyl.com

BAGIKAN
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *