EDWARD SNOWDEN: SEBUAH OKSIMORON

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2017/12/11/edward-snowden-sebuah-oksimoron/
RSS
Follow by Email

Edward Snowden menjadi oksimoron. Ia hidup di negara yang terbuka tapi ingin mengendalikan tiap orang. Ia lalu kabur dan mendapat perlindungan negara yang mengendalikan tiap orang.

SAYA baru menonton “Snowden”, film tentang Edward Snowden, mantan ahli teknologi CIA di Maryland, Amerika Serikat, yang lari dari negaranya karena diburu akibat membocorkan upaya CIA menyadap percakapan seluruh manusia di dunia. Saya baca bukunya terlebih dahulu, yang ditulis wartawan The Guardian, Luke Harding, sebagai perluasan liputan Gleen Greenwald dan Alan Rusbridger pada 2013 

Meski tak menangkap banyak detail, seperti umumnya film yang diambil dari buku, Snowden tetap penting ditonton di zaman ini. Ia oksimoron bagi dunia yang dikotak-kotakan. Snowden menerabas kotak-kotak itu, lalu terperangkap dalam kotak-kotak itu.

Snowden hidup di sebuah negara yang konstitusinya mendasarkan diri pada kebebasan, tapi kebijakan pemerintahannya membatasi kebebasan itu. Ia seorang Republikan yang dididik secara konservatif dan merasa aneh dengan pandangan-pandangan liberal pacarnya, tapi memberontak pada kewenang-wenangan konservatisme.

Snowden bekerja di lembaga intelijen tapi tak setuju telik sandi menyusup ke kamar mandi tiap orang. Snowden lari dari sebuah negara yang membebaskan para wartawannya menulis apa saja, tapi pemerintahannya ingin tahu warna celana dalam tiap warga negara.

Lalu Snowden pun lari karena tak ada lagi kebebasan di sana. Ia mendarat di Rusia, mendapat perlindungan penuh dari sebuah negara yang membunuh para wartawan yang menulis kesewenang-wenangan pemerintahannya dan tak membiarkan hak berbicara tiap orang berkembang. Snowden, yang menaruhkan nyawa untuk membela hak privasi tiap orang, mendapat suaka dari negara yang justru ingin mengendalikan hak privat setiap-tiap orang.

Maka Snowden amat penting sebagai cermin. Cerita Snowden, juga Amerika dan Rusia, menunjukkan bahwa negara, sebuah mesin raksasa itu, tak bekerja berdasarkan ideologi. Satu-satunya yang mereka lindungi dan menjadi basis utama kerja-kerja mereka hanya kepentingan (dengan K). Di mana kebebasan, konservatisme, hak-hak yang dijamin konstitusi?

Bagi negara dan aparaturnya, jangan-jangan juga kita, hal-hal besar yang selalu menjadi alasan tiap sejarah terjadi itu, yang membuat dunia berkobar itu, tak berfungsi jika tak mendukung kepentingan mereka dan kita.

Kita selalu menjadikan apa yang ada di luar kita sebagai alat. Atau, bahkan, kita menjadikan apa yang ada di dalam kita—pikiran dan perasaan—sebagai alat mencapai tujuan. Kita bekerja—melakukan sesuatu yang kemudian berurusan dengan orang lain—untuk keyakinan-keyakinan kita. Siapa kita: mereka yang mendapatkan kuasa, seperti pikiran yang berkuasa atas tubuh kita.

Maka alangkah sia-sia jika kita yang tak sedang punya kuasa ini menjadi ekor atas kerja-kerja mereka, negara dan aparatur-aparaturnya. Kita berkelahi untuk memperebutkan yang diperebutkan orang-orang yang berkuasa itu.

Dalam perang besar informasi, kepentingan menjadi landasan kerja mereka yang berkuasa. Seperti disampaikan tutor Snowden saat baru masuk CIA, terorisme itu tak mengancam Amerika, tak mencengkam dunia. Yang mengancam Amerika dan dunia, juga kita, adalah kepentingan di baliknya.

Amerika membutuhkan teroris agar ada alasan tentara mereka menyerbu sebuah negara lalu menguasainya, mengendalikan sumber daya alamnya, pemerintahannya. Teroris itu selalu ada, meski jumlahnya terlalu sedikit untuk dihancurkan, karena dengan demikian ada alasan sahih uang pajak kita dialokasikan untuk menumpasnya. Negara adalah proyek besar tiap-tiap orang yang berkuasa.

Diceritakan di film itu, Snowden mengendalikan chip yang ditaruh di pembangkit-pembangkit Jepang yang sekali klik bisa mengunci pembangkit itu sehingga Jepang bisa kiamat jika pembangkit itu dimatikan selama sedetik. Amerika akan memakai chip itu jika “Jepang bukan lagi sekutu kita”.

Ketika Snowden lari dengan data dan sistem rekaman CIA itu, lembaga ini mungkin sudah menciptakan penggantinya. Proyek pengintipan massal tetap jalan karena dengan begitu negara jadi punya kendali. Dan proyek ini sudah berjalan sejak intelijen diciptakan.

Seorang intelijen senior di Indonesia hanya terkekeh ketika Sydney Morning Herald memberitakan bahwa intelijen Australia menyadap percakapan-percakapan Presiden Susilo Bambang Yudhyohono pada 2013. Menurut dia, yang disadap bukan saja Presiden, tapi kita semua. Datanya, katanya, terkoneksi langsung ke Maryland.

Mungkin dia bohong atau membesar-besarkan sesuatu yang tak besar karena intelijen dilatih agar awas dengan segala informasi. Tapi analisisnya masuk akal. Bukankah Snowden membuktikan bahwa dunia telah terkoneksi dan negara memerlukan informasi itu untuk mengetahui apa yang ada di pikiran tiap-tiap orang. Big Brother is watching you sudah diramalkan Orwell dalam 1984.

Teknologi komunikasi yang kian pesat memungkinkan semua itu kian menjadi nyata. Seorang mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika mengkonfirmasi cerita intelijen itu. Ia berkisah ketika masuk kantor di hari pertama, yang ia lakukan adalah membersihkan ruangan kerjanya. Dari sana ia menemukan banyak sekali alat sadap: di lipatan-lipatan kursi, di sela meja, atau menyelip di rak-rak buku.

Secara berkelakar, duta besar itu mengatakan soal keanehannya karena banyak pejabat negara kita aktif di media sosial. Menurut dia, media sosial yang terbuka sangat rentan dengan penyusupan, karena alat komunikasi pribadi seperti Whatsapp saja bisa diretas atau dicegat lalu lintas percakapannya.

Masalahnya, dunia yang terbuka juga menuntut negara juga kian transparan dengan para pembayar pajak jika ingin tetap punya legitimasi dan kendali. Ketertutupan akan membunuh eksistensi raksasa ini.

Dunia pun kian seperti Snowden: penuh oksimoron, kontradiksi-kontradiksi yang tarik menarik, dan pada akhirnya mungkin akan saling meniadakan.

BAGIKAN
0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

One thought on “EDWARD SNOWDEN: SEBUAH OKSIMORON”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *