DISRUPSI STARTUP DI MATA ORANG TUA

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Sisi gelap disrupsi startup. Bisnis yang menggelembung dengan kecepatan yang terlalu pesat.

SEORANG teman baik, Poernomo G. Ridho, memberikan buku ini dengan alasan yang menggiurkan: “Ini buku tentang start-up yang ditulis wartawan old school,” katanya. Judul buku ini juga menarik, “Disrupted: My Misadventure in the Start-Up Bubble.” Ada disrupsi, ada salah jalan, ada gelembung, ada start-up dan old school… Buku yang menarik biasanya punya banyak kontradiksi.

Pertanyaan yang meletik begitu melihat sampulnya adalah siapa mendisrupsi siapa? Penulisnya yang terdisrupsi oleh perubahan sangat cepat di dunia digital atau dia yang mendisrupsi dunia digital itu? Mengapa ia salah jalan? Salah jalan atau dia yang ada pada jalan yang salah karena tak bisa menyesuaikan diri dengan zaman? Mengapa pula ia menyebut bisnis start-up sebagai bubble yang akan meledak pada waktunya ketika anasir-anasir ekonomi tak kuat menanggungnya?

Related image

Maka setelah dua jam buku itu saya kuasai, saya mulai membacanya di kereta malam dalam perjalanan pulang, akhir pekan lalu. Selama satu jam di kereta itu saya menghabiskan tiga bab pertama. Dan Lyions memang pencerita yang memikat. Ia mengenalkan diri sebagai penulis satir bidang teknologi sejak 1980-an. Kariernya di dunia jurnalistik lebih dari 25 tahun. Media terakhir tempat ia bekerja adalah Newsweek, yang seperti banyak media lain di dunia, kehilangan banyak penghasilan karena terdisrupsi oleh Internet.

Sewaktu menulis buku ini pada 2015, Dan Lyions berusia 53. Seperti umumnya wartawan, ia menulis dengan skeptis bisnis start-up dan kini ia bekerja di dalamnya, di HubSpot, sebuah perusahaan yang menjual peranti lunak pemasaran yang berpusat di Cambridge, Massachusetts.

Ketika melamar ke perusahaan ini, Dan sudah terkenal karena menulis blog tentang disrupsi sebagai Steve Jobs palsu. Ia menduga di HubSpot akan menulis blog serupa untuk memasarkan produk perusahaan ini. Tapi selama 20 bulan ia bekerja di sana, pekerjaan terjelas yang pernah ia lakukan adalah membuat email sampah promosi peranti lunak HubSpot ke ratusan alamat.

Disrupted adalah memoar Dan bekerja di perusahaan ini sebagai orang tertua kedua. Karyawan tertua berusia 65 tahun. Selebihnya adalah anak-anak muda 20-30 tahun yang memakai kaos dan jins ke kantor, membawa boneka Teddy Bear dalam rapat, baru lulus kuliah dan belum punya pengalaman, serta pola pikir yang 180 derajat berbeda dengannya. Agak panjang ia mendeskripsikan soal perbedaan usia ini, karena agaknya ini pangkal soal ia menyebut 20 bulan itu sebagai “misadventure”.

Kelak soal usia ini jadi masalah ketika buku ini terbit. Dan dianggap membongkar praktik manajemen perusahaan start-up yang lebih senang mempekerjakan anak muda karena mereka tak terlalu menuntut gaji dan pelbagai fasilitas kerja asal dibius oleh misi perusahaan yang menawarkan mimpi milenial: bebas, egaliter, tak mendikte…

Dan berkali-kali menekankan bahwa ia ayah dua anak kembar yang butuh jaminan kesehatan saat kerja. Ia seorang laki-laki dengan rambut beruban yang punya tanggungan keluarga sehingga perlu aman secara keuangan sebelum memutuskan menerima pekerjaan ini. Teman-teman sekerjanya, menurut dia, tak terlalu peduli soal itu. Loyalitas bukan nomor satu karena bekerja hanya sebagai “tour of duty”. Pendeknya, banyak benturan pola pikir antara ia yang lahir sebagai generasi “baby boomer” dan nilai-nilai perusahaan yang dibangun anak-anak muda yang tak mementingkan engagement dengan karyawan.

Ia, misalnya, masygul dengan cara karyawan lain berkirim email dengan kalimat-kalimat bombastis dan tanda seru di akhir kalimat hingga 10 biji. Dan juga tak habis pikir ketika mengajak teman sebelah mejanya untuk minum kopi tapi ditolak karena tak membuat janji di kalender online. Dengan banyak rapat seharian, anak-anak HubSpot dibiasakan menuliskan janji dan jadwal tiap hari dengan kalender online yang bisa memberikan notifikasi di gadget.

Percakapan memakai singkatan yang tak dipahami Dan Lyons. Ia menulis satu bab tentang HubSpeaks, yang mirip “doublespeaks” dalam 1984. Juga budaya perusahaan yang menekankan setiap karyawan adalah “anggota tim, bukan sanak keluarga” yang diadopsi dari pendiri LinkedIn Reid Hoffman. Di HubSpot bekerja bisa jadi 24 jam dengan waktu liburan tak terbatas. Slogannya HEART, akronim humble, efffective, adaptable, remarkable, dan transparent. Tapi Dan hampir dipecat karena menulis komentar di Facebook memakai lelucon yang menyindir slogan itu.

Di luar soal budaya perusahaan start-up, Dan juga masygul dengan bagaimana bisnis ini bekerja. Anak-anak muda mungkin memimpikan bekerja di perusahaan semacam HubSpot di Silicon Valey, tapi perhitungan bisnisnya tak masuk dalam konsep ekonomi orang seperti Dan Lyons. Perusahaan-perusahaan rintisan dibangun dengan modal besar, lalu tumbuh menganggit konsumen, tapi terus menerus bakar duit untuk mengembangkan sistem dan teknologinya, lalu dijual ke publik dan uang investornya terbayar dengan patungan atas nama saham itu. Apakah perusahaan itu untung? Tidak.

Perusahaan start-up tak perlu untung ketika dijual melalui IPO. Start-up lebih menekankan pada pertumbuhan konsumen. Jumlah besar berarti valuasi mentereng sebagai jaminan mutu bisnis ini akan laku ketika sahamnya masuk bursa. Maka ada ribuan start-up berlomba mencapai apa yang disebut perusahaan unicorn—perusahaan rintisan yang nilainya melebihi US$ 1 miliar. Ini adalah valuasi yang perhitungannya didasarkan pada jumlah pemakai itu tadi. Model bisnis perusahaan start-up sederhana: tumbuh pesat > bakar duit > masuk bursa > lalu kaya.

Sewaktu HubSpot berdiri pada 2006, ada 600 ribu perusahaan rintisan yang berdiri di Amerika Serikat. Hanya 1.500 perusahaan yang mendapat modal dari investor. Dari jumlah itu, hanya 1 persen yang masuk kategori unicorn. Maka tanpa untung yang riil, kata Dan, sesungguhnya membeli saham start-up bukan investasi, melainkan spekulasi. Yang dijual adalah cerita sukses.

Sebuah start-up akan membesar dan terus membesar jika ia diluncurkan pada waktu yang tepat dengan keinginan konsumen. Sebaliknya, ia akan jeblok ketika tak bisa menyentuh dan membuat konsumen berpaling memakai produknya. Ada istilah “go public or go broke”.

Semua start-up menawarkan sistem atau cara baru dalam bisnis dan bertranskasi atau kehidupan sosial. Ketika konsumen menganggap produk start-up itu tak berguna karena mereka tak butuh solusi yang ditawarkan produk itu, atau belum berguna karena terlalu dini diperkenalkan, mereka tak akan meliriknya. Pertumbuhan pemakai kecil sehingga lama-lama akan bangkrut sendiri. Usia sebuah start-up ditentukan tiga ruas buku jempol atau tiga kuartal. Jika pada masa kritis itu start-up tak tumbuh, para pendirinya sebaiknya mencari ide lain yang lebih masuk akal.

Maka IPO adalah salah satu eksit strategi perusahaan rintisan. Seperti diceritakan Anis Uzzaman dalam buku Startuppedia, pemodal (angel investor) akan melihat kapan sebuah start-up masuk bursa ketika mendengarkan presentasi pemiliknya. Sebab investor akan tertarik menanamkan uangnya jika ada kepastian uang mereka kembali. Uang publik adalah harapan mereka modal tersebut balik utuh bahkan lebih besar. Anis adalah angel investor yang telah berinvestasi di 50 perusahaan start-up yang berhasil di Silicon Valey dan Jepang.

Dengan cara bercerita yang cerkas, perpaduan antara humor yang tangkas dan cara pandang yang kritis, Dan Lyons membawa kita memahami dunia start-up yang sedang tren dan sisi gelap dari mimpi indah di baliknya. Ia memakai kacamata seorang orang tua yang telah mengalami gejolak bisnis dotcom tahun 1990-an yang menggelembung lalu meledak.

Disrupted seperti novel karena kita tak mengenal nama-nama dalam buku ini yang hanya disebut nama depan bahkan anonim. Plotnya terlalu memikat dengan epilog yang mengejutkan. Dan membuka identitas bosnya di HubSpot, yang ditulis dengan nama palsu sejak bab pertama, setelah ia keluar dari perusahaan dengan nilai pasar US$ 2 miliar itu. Ia mengumumkan di blognya akan menulis apa yang terjadi selama ia bekerja di sana. Bos-bos HubSpot cemas akan sisi buruk perusahan mereka dan mencoba membajak manuskrip buku ini dengan cara meretas komputer Dan. Skandal ini bahkan melibatkan FBI segala.

Bos HubSpot kemudian menanggapi buku ini setelah terbit, yang mengkonfirmasi separuh cerita Dan tapi tak menyinggung upaya meretas laptop wartawan gaek ini dan teror agar buku ini tak diterbitkan. Disrupted adalah reportase mimpi Amerika dalam bisnis start-up dari sisi gelap jantung Silicon Valey–metafora untuk menyebut bisnis digital. Atau, mungkin juga, ia terlalu tua dan realistis dalam memahami bisnis start-up yang sedang mendisrupsi dunia.

Sumber gambar: CEO magazine dan New York Times.

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *