BERBISNIS ALA MAFIA PAYPAL

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Pesan mafia PayPal: jangan berniat dan berpikir mau mendisrupsi pasar jika ingin jadi disruptor.

BUKU yang bagus membetot mata sejak halaman pertama. Buku yang bagus mendorong kita kembali ke halaman pembuka meski kita sudah menghabiskannya. Dan penulis yang cerdik bisa memikat meski hanya menuliskan senja merah—kejadian yang ribuan kali kita lihat dan alami. Penulis yang bagus menyajikan sesuatu yang biasa menjadi terlihat luar biasa.


Zero to One yang ditulis Peter Thiel masuk dalam kategori di atas. Meski hanya 200 halaman, dalam buku ini tersimpan banyak informasi. Peter Thiel, yang dibantu mahasiswa hukum Stanford University, Blake Masters, ketika menulis buku tipis ini, seperti meringkaskan 20 tahun lebih berbisnis teknologi: ada terlalu banyak informasi dalam kalimat-kalimat yang to-the-point dan cara bertutur yang rendah hati.

Related image

Gaya bercerita Peter mirip Bill Gates ketika ia membahas buku-buku yang jadi favoritnya di GatesNotes.com. Atau menceritakan kunjungan-kunjungannya ke pelbagai negara sebagai Ketua Yayasan Melinda-Gates. Ia tak segan memuji apa yang dilihatnya menakjubkan, hal-hal kecil yang berdampak luas oleh orang-orang kecil di negara-negara kecil yang miskin. Narasinya sebening kristal tanpa pretensi menggurui.

Sejak kalimat pertama di halaman pertama, Peter sudah menohok dengan kalimat ini: Bill Gates berikutnya tak akan menciptakan sistem operasi komputer, Larry Page atau Sergey Brin mendatang tak akan membuat mesin pencari, dan penerus Mark Zuckerberg tak akan melahirkan media sosial. Jika Anda meniru, Anda tak belajar dari keberhasilan mereka. Seorang inovator adalah seorang yang menciptakan sesuatu yang tak ada (0) menjadi ada (1), zero to one.

0 dan 1 juga sangat filosofis bagi bisnis Peter Thiel dan bisnis disrupsi hari ini. 0 dan 1 adalah sistem bilangan biner yang ditemukan Leibniz pada abad 17 dan menjadi basis bilangan digital yang disebut bita atau bit (binary digit). Sistem komputer, mesin algoritma, dan perangkat digital lain diciptakan memakai sistem bilangan ajaib ini. Kita lalu mengenal jumlah 2 gigabita, 6 megabita, dst.

Maka, alih-alih memberi tips bagaimana berbisnis di era informasi, Peter sesungguhnya sedang memprovokasi kita bagaimana membuat landasan berbisnis dari pokok dan fondasinya: cara berpikir. Soalnya cara pikir yang keliru akan melahirkan strategi yang keliru, sebagaimana bagus pun produk yang kita buat.

Di luar soal narasinya yang rendah hati dan gaya bertuturnya seperti bercerita kepada teman dekat, buku ini menarik karena tak berangkat dari teori-teori yang ruwet, meski Peter dengan ringan mengutip Marx atau Hegel hingga Herbert Spencer. Ia menceritakan pengalaman mendirikan PayPal, platform pembayaran digital, bersama tiga temannya.

Dari buku ini kita tahu, Peter seperti pebisnis lain yang menghadapi ketidakpastian ketika membuat PayPal pada 1998, ketika bisnis dotcom sedang menggelembung dan tak lama kemudian meledak karena pertumbuhannya tak terkendali. Sarjana ekonomi dan hukum dari Stanford University ini juga gamang setelah PayPal diluncurkan.

Tak ada orang yang mau memakai platform itu karena Western Union sedang menggurita. PayPal bahkan harus membeli pelanggan dengan cara memberi bonus hingga US$ 10 dan US$ 10 lagi jika pelanggan itu menggaet pelanggan baru. Intinya PayPal jeblok di tahun pertama hingga empat. Baru pada 2002 platform ini populer setelah bergabung dengan eBay.

Model bisnis PayPal baru benar-benar jalan setelah bekerja sama dengan pihak lain. Pada mulanya PayPal bernama Confinity. Nama PayPal baru ditabalkan setelah Confinity merger dengan X.com, bank online milik Elon Musk. Merger dengan eBay membuat PayPal kian besar. Merger dengan eBay membuat PayPal menemukan “momen aha”, istilah Sean Elis dan Morgan Brown dalam buku Growing Hack.

Ada 24 orang pendiri dan karyawan PayPal ketika masa tumbuh. Majalah Fortune pada 2007 menjuluki mereka sebagai PayPal Mafia. Setelah dibeli eBay, mereka berpencar mendirikan banyak usaha rintisan yang sukses. Elon Musk mendirikan SpaceX dan Tesla, Peter memimpin Palantir. Anggota mafia lain membuat LinkedIn, YouTube, Facebook, Yelp. Gabungan kekayaan mereka lebih dari US$ 1 miliar atau Rp 13 triliun—ukuran usaha start-up disebut unicorn, hewan setengah kuda setengah kambing yang bercula satu dalam mitos Yunani.

Diaspora mafia PayPal (Sumber: Business Insider)

Buku ini menceritakan bagaimana Peter belajar dari jatuh-bangun mendirikan PayPal. Pokok pelajaran yang ia petik adalah, selain tak meniru inovasi yang sudah ada, jangan sekali-kali berniat membuat bisnis yang mendisrupsi pasar yang ada. Sebab, dengan niat seperti itu, artinya kita akan masuk ke dalam persaingan. Disruptor membutuhkan arena untuk didisrupsi. Bagi Peter, persaingan itu tak sehat, makan ongkos, dan belum tentu menang.

Ia tak hanya menganjurkan inovasi dalam produk, tapi juga inovasi menciptakan pasar baru. Ini mirip teori “blue ocean strategy” dari Kim dan Maubrogne (2015). Bisnis yang sukses umumnya menciptakan pasar baru yang spesifik, keluar dari samudra merah yang penuh hiu ganas. Ciri usaha disrupsi adalah menawarkan harga yang murah, akses mudah, sederhana, dan menjawab masalah. Dalam bahasa Peter Thiel, para disruptor adalah para monopolis.

Dalam monopoli, pasar terkendali sepenuhnya di tangan kita. Tapi monopoli akan tercipta dengan sendirinya jika produk kita menawarkan nilai yang unggul dibanding produk lain. Pasar akan terbentuk jika konsumen cukup punya alasan membeli produk dengan inovasi baru tersebut. Banyak usaha rintisan yang gagal dan hanya sekadar interuptor, kata Peter, karena pembuatnya hanya berpikir memecahkan problem tanpa menawarkan nilai unggul atas solusi itu.

Kunci lain adalah pemasaran. Sebaik-baiknya promosi adalah yang tak terlihat. Facebook menjadi sangat besar karena pemasarnya adalah para pemakainya ketika saling berbagi informasi, foto, atau status. PayPal menemukan pelanggan-pelanggan baru karena transaksi satu orang akan melibatkan orang lain. Jejaring yang mandiri adalah modal utama pemasaran dan penjualan yang efektif.

Peter juga menyinggung soal pentingnya punya tim yang tangguh. Memilih co-founder jadi krusial karena banyak usaha malah kolaps akibat pengelolanya berselisih dan tak akur dalam merumuskan visi dan misi perusahaan.  Juga hidup hemat. Beberapa nama besar pebisnis start-up digital yang ia sebut dalam buku ini mendapat gaji sangat kecil dan tinggal di flat satu kamar yang hanya berisi matras. Mereka baru hidup beranjak setelah perusahaannya go-public dan profilnya yang mentereng ditulis media.

Setelah PayPal punya 218 juta akun, platform ini pun menjadi inkumben karena pesaing baru yang menawarkan keunggulan lain berdatangan. Maka Peter Thiel dkk menempuh siklus para pendiri start-up pada umumnya: bubar dan mendirikan perusahaan lain untuk menciptakan pasar baru dengan inovasi baru untuk menemukan garis eksponensial yang baru, menciptakan angka 1 yang baru.

Image result for incumbent vs disruptor
Grafik bisnis inkumben versus disruptor (Bradley and O’Toole, 2016). Klik gambar untuk artikel dari McKinsey tentang penjelasan fase hidup inkumben agar menang melawan disruptor.
BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *