SELAMAT ULANG TAHUN, TEMPO

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Tempo berusia 47. Tentang bagaimana saya belajar banyak darinya.

INI artikel lumayan panjang dan membosankan, karena temanya soal diri sendiri, narsisisme yang agak berlebihan. Tulisan ini tentang “saya dan Tempo”, yang hari ini ulang tahun ke-47, lumayan tua, menjelang setengah abad.

Saya masuk ke sini ketika Tempo berusia 30, cukup umur punya anak. Tapi karena itu pula Tempo seperti bapak angkat yang sudah punya karakter ketika saya bergabung bersama keluarga ini. Saya tetap saja seorang orang luar yang tak terlibat dalam arus utama sejarahnya, cerita hebat yang mengiringinya. Saya bahkan bergabung dengannya dua tahun setelah ia terbit kembali pada 1998 akibat dibredel oleh pemerintah Orde Baru empat tahun sebelumnya.

Image result for minarni tempo cover
Edisi pertama Tempo, nomor perkenalan, yang terbit 6 Maret 1971.

Bagi saya, mungkin juga bagi banyak orang, Tempo seperti keluarga. Saya menghabiskan waktu lebih banyak berada di kantornya, menghabiskan waktu lebih sering untuk memikirkannya. Mungkin terlalu berlebihan, tapi saya baru menyadarinya ketika kemarin istri saya memberi kuis kepada anak bungsu kami tentang hobi. Setelah pertanyaan “apa hobiku”, “apa hobi kakak”, di pertanyaan ketiga tertulis: Apa hobi ayah? Anak delapan tahun itu mengabaikan pilihan “minum kopi” dan “membaca”, ia memilih jawaban “bekerja”.

Jadi, rasanya, cukup adil jika saya tuliskan ini di sini karena saya agak mengabaikan anak-anak itu, walaupun mereka tak protes tiap kali saya pulang terlalu larut dan hanya bertemu dengan pelupuk mereka yang terpejam setiap malam.

Mereka berdua tak punya cita-cita menjadi wartawan. Kakaknya ingin jadi astronaut, adiknya bermimpi jadi pemadam kebakaran dan YouTuber. Mengapa tak ingin jadi wartawan? Kakaknya menjawab: jam kerjanya terlalu panjang.

Sewaktu usianya empat tahun, tiap Jumat anak yang bungsu bertanya di telepon dengan pertanyaan yang sama pada pukul 20.00, ketika ia akan berangkat tidur: “Ayah menginap?” Tentu saja saya menjawab berbeda-beda untuk pertanyaan berulang-ulang ini pada hari tenggat itu, karena saya tahu, ketika jawaban itu terlontar dia sudah tak mendengarkan karena mengantuk.

Ayah saya juga tak pernah paham mengapa anaknya yang ia sekolahkan di jurusan perhutanan malah menjadi wartawan. Hingga kini ia tak habis pikir mengapa ada perusahaan mau menerima orang yang tak mempelajari ilmu tulis-menulis di sekolahnya untuk pekerjaan yang berurusan dengan tulis-menulis. Ia juga acap bertanya mengapa menjadi wartawan kerjanya 24 jam. Apakah kepala perusahaan tak ditegur Kementerian Tenaga Kerja?

Untuk pertanyaan ini, saya juga tentu coba menjelaskan. Tapi, setelah 18 tahun, jika menilik pertanyaan-pertanyaannya, rasanya ia masih belum paham, atau pura-pura tidak paham untuk semacam kritik kepada anaknya. Sebab, ia masih saja mengingat peristiwa 15-20 tahun lalu ketika ia diperas wartawan lokal setelah sekolahnya mendapat bantuan presiden untuk renovasi. Ia kepala sekolah yang mewarisi ruang-ruang kelas lapuk karena lama tak diperbaiki.

Ia menulis surat agak panjang soal itu, dan terasa sekali ada amarah yang tertahan. Tapi setelah 17 tahun, sudah agak jarang ia bertanya soal-soal pekerjaan. Ia lebih sering bertanya kejadian-kejadian penting setelah ia baca informasinya di majalah Tempo, yang saya kirimkan ke kampung, atau ketika ia main ke rumah. Ia mengaku pikirannya jadi terbuka tiap kali saya jelaskan latar belakang sebuah peristiwa, hubung-hubungan antar tokoh, maksud di balik pernyataan-pernyataan banyak pemain politik.

Saya kira ia menikmatinya karena pertanyaannya kian detail sampai ia berkata, “Oh, ternyata begitu, ya.” Jika saya pulang kampung ia suka memberi tahu tetangga jika saya datang dan mengundang mereka ke rumah hanya untuk “nanggap” saya bercerita soal-soal hangat tentang politik. Saya senang dengan antusiasmenya. Rupanya ada juga guna menjadi wartawan, paling tidak bisa memberi pengetahuan kepada orang-orang

Dan sesungguhnya begitulah kegembiraan menjadi penulis. Ada rasa senang tiap kali ada orang lain yang jadi pintar, atau lebih berhati-hati, atau lebih berwawasan, setelah membaca tulisan kita.

Saya tak pernah membayangkan menjadi wartawan. Sewaktu kecil, rasanya, tak membayangkan menjadi ini menjadi itu. Ingatan terjauh ketika ditanya apa cita-citamu, saya menjawab sekenanya “menjadi insinyur pertanian”. Waktu itu tak tahu juga apa itu insinyur dan pekerjaannya. Saya hanya mendengarnya dari dongeng enteng di radio kabupaten.

Tokoh dongeng itu adalah seorang sarjana yang baru lulus. Ia datang ke sebuah desa yang petaninya acap gagal panen karena kesulitan mendapat air untuk tanaman di sawah tadah hujan. Sarjana ini mengubahnya dengan membuat irigasi dan mengajari petani menanam tanaman yang cocok untuk tiap musim. Dongeng enteng itu berakhir happy ending karena sarjana ini kemudian menikah dengan anak kepala desa yang jadi kembang kampung.

Ketika mendengarkan dongeng Mang Jaya di radio Linggarjati itu, saya membayangkan menjadi insinyur pertanian itu bisa berguna bagi banyak orang dan, terutama, bisa menaklukkan anak kepala desa yang baik dan cantik, mengalahkan para pemuda yang antre ingin menjadi suaminya. Maka, jadi insinyur pertanian pasti menyenangkan. Soal bagaimana caranya saya belum tahu, hingga datang ke desa saya seorang peserta tenaga kerja sukarela (TKS) yang dikirim Departemen Tenaga Kerja untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kepala desa.

Ia sarjana dari Universitas Sebelas Maret Solo. Namanya Pak Agus Halawa (jika pembaca ada yang kenal dan mengetahui kontaknya, silakan bubuhkan di panel komentar). Dialah yang menunjukkan jalan bagaimana mencapai cita-cita saya. Dari dia kami tahu sekolah banyak macamnya: ada jurusan pertanian, jurusan teknik, jurusan dokter, jurusan minyak. Dari Pak Agus pula saya tahu ada IPB di Bogor yang bisa masuk tanpa tes. Caranya belajar yang rajin sejak SMP, terutama pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi.

Demikianlah saya terdampar di Fakultas Kehutanan, belajar mengelola hutan agar berguna bagi banyak orang. Tapi Orde Baru merusak tujuan itu. Sewaktu praktik kerja lapang ke Kalimantan, bayangan saya tentang hutan rusak karena di sana tak ada lagi pohon-pohon besar. Orang menebangnya sembarangan dan tak mengindahkan segala teori tentang mengelola blok tebangan. Saya kecele dan sejak itu memupus cita-cita bekerja di HPH atau administratur Perhutani. Saya ingin jadi wartawan agar bisa mengabarkan ketidakberesan itu dan orang lain tergerak memperbaikinya.

Saya tahu ini cerita klise, tapi saya ingin menuliskannya agar punya alasan berterima kasih kepada seorang teman baik yang menempuh perjalanan jauh mencari saya untuk memberitahu bahwa ada orang Tempo menelepon untuk wawancara kerja esok pagi. Teman ini, Erdi Nurcahyadi, yang menerima telepon pemberitahuan itu menempuh delapan jam untuk menyampaikan kabar tersebut, dengan bus ke Pelabuhan Ratu, bersambung dengan ojek ke balik gunung karena saya sedang tinggal di sana meneliti konflik lahan antara masyarakat sekitar hutan dengan Perhutani.

Berkat Erdi, saya bisa menuliskan cerita ini di sini hari ini, mengarungi hidup yang menyenangkan karena selalu bertemu dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Di Tempo, setiap hari adalah belajar karena menulis adalah pekerjaan yang tak pernah selesai. Setiap kali para penulis menyelesaikan artikelnya ia tahu itu bukan tulisan terbaiknya, karena tulisan terbaik akan ia buat esok pagi. Dengan dorongan ingin menghasilkan tulisan paling bagus itu, mereka akan belajar terus menerus: mencari bahan, menelisik, meragukan, menguji, menyusun, hingga menuliskannya. Itu pun ketika selesai, selalu bukan artikel terbaik.

Sebab menulis adalah sebuah proses, yang elemen-elemennya sering kali tak terlihat. Ada kerja sama dengan teman, ada riset untuk menopangnya, ada koordinasi antar bagian, juga diskusi untuk menguji prasangka-prasangka. Bagaimana pun wartawan tak bisa lepas dari praduga akibat informasi yang mereka peroleh. Begitu informasi itu mereka dapatkan, mereka harus meragukannya kembali apakah informasi itu fakta yang sebenarnya. Keraguan ini penting agar selalu ada sikap rendah hati untuk menerima informasi lain yang mungkin lebih akurat.

Akurasi adalah mahkota jurnalisme, kata orang-orang tua. Celakanya ilmu dan teknik jurnalistik hanya bisa mendekatinya, dengan verifikasi dan konfirmasi, tak bisa menentukan kebenaran di baliknya. Kebenaran jurnalistik adalah kebenaran yang terikat waktu. Jika hari ini kebenaran itu bernilai A, esok mungkin B karena ada fakta lain yang meruntuhkan kebenaran A itu.

Karena itu para wartawan dituntut keras kepala sekaligus hati-hati mendekatinya seraya terbuka pada kemungkinan kesalahan-kesalahan mendapatkannya. Tanpa kerendahhatian, para wartawan akan terjerumus pada asumsi dan bias yang akan merusak segala prosedur mencari informasi yang sudah mereka tempuh.

Maka senjata para wartawan adalah “penasaran” dan “ragu” akan informasi yang mereka dapatkan. Wartawan akan berhenti menjadi wartawan jika ia sudah merasa cukup dengan informasi sehingga tak punya keinginan tahu lebih banyak. Tanpa dua senjata ini para wartawan akan menjadi hakim bagi fakta yang mereka dapatkan.

Keraguan itu juga tak hanya atas fakta, tapi juga tafsir terhadapnya yang datang dari asumsi-asumsi. Apakah informasi itu cukup akurat? Apakah saya mendapatkannya sesuai prosedur? Apakah ada kebenaran lain yang masih tersembunyi? Apakah sudut pandang menuliskannya cukup adil terhadap peristiwa yang sebenarnya?

Para wartawan meyakini kredo ini: kebenaran ada di mana-mana, termasuk di tempat-tempat yang tak kita suka. Konon, Goenawan Mohamad mengucapkannya untuk terus mengingatkan para wartawan selalu membuka kemungkinan pada kebenaran lain yang belum mereka dapatkan. Wartawan harus mendatangi tempat-tempat yang tak mereka suka, misalnya, gedung DPR, karena di sana ada informasi dan mungkin ada kebenaran yang harus dikabarkan kepada khalayak, dari politikus yang punya informasi tentang korupsi koleganya. Juga karena tak ada manusia yang 100% jahat sekaligus 100% buruk. Jurnalisme harus membuka peluang sama besar terhadapnya.

Dengan bertolak dari posisi seperti ini, wartawan dituntut berbuat adil. Maka moral bukan ukuran yang pas dalam kerja jurnalistik karena ia hanya memisahkan yang buruk dan baik. Bagaimana jurnalistik menilai Nenek Minah yang mencuri buah bersalah tanpa melihat latar belakang perbuatan itu. Hakim mungkin menghukumnya karena mencuri adalah mencuri, perbuatan kriminal yang diatur undang-undang. Tapi jurnalistik harus membelanya setelah wartawannya membuktikan bahwa pencurian itu karena kebutuhan mendesak untuk hidup Nenek Minah dan cucu-cucunya.

Keberpihakan kepada yang lemah, meragukan keyakinan dan temuan-temuan sendiri atas pelbagai fakta, kebebasan mengkritik dan berpendapat, adalah praktik sehari-hari di Tempo yang coba terus dihidupkan. Tak selalu berhasil, memang. Hampir setiap bulan ada saja orang menggugat dan protes atas sebuah tulisan. Ada juga yang kecewa atas pilihan-pilihan sikap Tempo. Tapi protes dan kekecewaan adalah doping paling manjur untuk perbaikan-perbaikan.

Selamat berusia 47. Semoga tak gagap dan kikuk menghadapi disrupsi di zaman Internet ini.

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

9 thoughts on “SELAMAT ULANG TAHUN, TEMPO”

  1. Mas Bagja….seneng banget ngebacanya… serasa ikut di dalamnya… catatan iseng yang isinya keren abis he he he

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *