KARTUN TEMPO ITU

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kartun di media menjadi semacam jeda di tengah berita-berita ruwet dan pelik. Senjata efektif melawan kekuasaan yang otoriter.

MEDIA massa memerlukan kartun untuk melemaskan ketegangan-ketegangan dalam berita di halaman utama. Karena itu lembar kartun biasanya menyapa pembaca sebelum mereka memasuki pagina-pagina berita yang mungkin saja tegang karena berisi pengungkapan skandal korupsi yang pelik, analisis ekonomi yang ruwet, atau reportase atas realita yang memualkan.


Di Tempo, lembar Kartun biasanya ada di halaman 10, dari sekitar 100 halaman per edisi. Mengambil separuh halaman, Kartun persis berada setelah pagina Daftar Isi dan Surat Pembaca. Ia berbagi ruang dengan rubrik Indikator, yang mengabarkan statistika hasil survei tentang sebuah isu di web Tempo.co.

Sejak 1977 hingga 2014, penggambar kartun di rubrik ini adalah Prijanto Sunarto atau Pri S, seorang doktor seni rupa pengajar di Institut Teknologi Bandung. Pak Pri meninggal pada 17 September 2014 di Rumah Sakit Boromeous Bandung. Sejak itu kartun beralih ke tangan Yuyun Nurrachman, kartunis yang sebelumnya lebih banyak menggambar untuk Koran Tempo.

Edisi 27 November – 3 Desember 2017

Sama seperti Pak Pri, kartun Yuyun juga lucu dan usil, parodi atas kejadian sehari-hari yang aktual atau komentar atas peristiwa-peristiwa yang menyita perhatian orang banyak.

Karena kartun bagian dari halaman-halaman berita di Tempo, seperti semua produk yang tayang di majalah Tempo yang harus melewati penyuntingan, mula-mula Yuyun menggambar oret-oretan sketsa. Laki-laki gondrong yang suka minum kopi sore-sore sambil melamun ini biasanya menyodorkan dua-tiga gambar konsep untuk dipilih redaksi. Umumnya lucu dan nyeleneh. Jika ia kehabisan ide, Yuyun tak sungkan minta gagasan untuk dibuatkan gambarnya.

Tak jarang, dua-tiga sketsa Yuyun ditolak anggota majelis redaksi, karena ide dan informasinya terasa basi. Lalu ia menggambar lagi, disodorkan lagi, ditolak lagi, digambar lagi. Begitu seterusnya sampai anggota sidang itu sepakat pada sebuah gambar untuk tayang di edisi berikutnya.

Jika ide setiap orang mentok dan tak ada suara mayoritas terhadap sebuah gambar, biasanya pemimpin redaksi yang memilihkan sebuah sketsa gambar untuk ditayangkan karena jam tenggat sudah tiba. Tapi Arif Zulkifli rasanya jarang, atau tak pernah, memakai hak veto ini. Jika pun Yuyun menggambar ide Arif, itu semata karena idenya bagus, bukan karena ia pemimpin redaksi.

Edisi 4-10 Desember 2017

Apakah Yuyun bisa menolak ide dari orang redaksi? Bisa. Ia juga punya hak sama seperti anggota majelis yang lain. Tentu saja harus dengan alasan agar orang lain tahu mengapa ia menolak ide atau gagasan itu. Demikianlah, kartun di majalah Tempo diproduksi. Ia lahir dari rembukan, ide banyak orang, gagasan semua orang yang punya hak sama untuk  mengajukannya, yang kemudian ditafsirkan Yuyun dalam bahasa gambar. Termasuk kartun “jahat tak jadi pulang” pada edisi 26 Februari 2018 itu.

Maka ketika Arif berpidato di mobil komando di depan massa Front Pembela Islam yang berdemo pada 16 Maret 2018 karena mengaku tersinggung atas kartun tersebut, ia mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap gambar tersebut. Karena ia bagian dari halaman-halaman di majalah Tempo, kartun Yuyun dan semua gambar karya para perupa di Tempo adalah produk jurnalistik.

Rubriknya saja khusus, yakni “Kartun”. Tempo memilih nama ini ketimbang “Karikatur” karena ketepatan maknanya. Ini dua kata yang diserap dari bahasa Italia yang punya pengertian berbeda. Gambar kartun lebih pada satir yang berisi informasi, sementara karikatur adalah satir dengan melebih-lebihkan. Karikatur memiliki distorsi atas realitas. Misalnya, rambut Presiden Donald Trump digambar awut-awutan sampai tak proporsional dengan kepala dan tubuhnya. Maka semua karikatur adalah kartun tapi tak semua kartun disebut karikatur.

Karena ia satir, kartun di media massa termasuk dalam rubrik Opini atau halaman Editorial yang memuat sikap redaksi atau komentar atas sebuah masalah. Kecuali jika faktanya keliru, halaman Opini ini tak bisa dilaporkan ke Dewan Pers meskipun hak mengadukannya tetap dijamin undang-undang. Jika Anda, pembaca, tak setuju dengan pendapat dan ide di halaman itu, patahkan ia dengan argumen yang mantap. Kirimkan ke redaksi untuk dimuat di halaman Kolom atau Surat Pembaca.

Sebab, demikianlah peradaban terbentuk. Sejelek-jeleknya, perdebatan yang memakai argumentasi akan bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya karena akan memberikan khazanah dan wawasan, ketimbang bertanya diiringi ratusan orang yang membentak dan memaksakan kehendak. Setiap peradaban dibentuk oleh perdebatan-perdebatan ide yang dituliskan, salah satu misi mengapa dua abad lalu orang menerbitkan koran dan majalah.

Di media, kartun berfungsi mencairkan kesuntukan di antara haru-biru berita-berita keras yang diproduksi para wartawan. Maka, di majalah berita seperti Tempo, ia berada di halaman “stoper”, halaman-halaman pengantar yang menghibur sebelum masuk ke berita-berita utama. Di majalah atau koran, surat pembaca yang mengekspresikan pendapat dan informasi sering tak terduga-duga isinya, meski jadi terasa ketinggalan ketika kini ada Twitter dan Facebook. Di banyak negara masih ada orang yang berhimpun dalam organisasi-organisasi epistoholic, mereka yang keranjingan menulis di kolom surat pembaca.

Karena bagian dari “stoper”, kartun adalah gambar satir yang mengangkat sebuah fenomena yang umum diketahui masyarakat. Humor dalam kartun harus dikenali segera karena ia, biasanya, minim kata tapi bertenaga karena angle-nya kuat dan pesannya menohok. Kartun yang berhasil berisi humor yang tak mudah dijelaskan ulang dengan narasi. Kata Milan Kundera, dalam variasi lain, humor gagal jika ia bisa dijelaskan maksudnya.

Maka jika ada perbuatan sia-sia yang lebih mubazir dari Sisipus yang mengangkut batu ke gunung kemudian menggulingkannya lagi seumur hidupnya, ialah bertanya maksud di balik sebuah kartun. Hanya ada dua kemungkinan jika kita tak paham maksud sebuah gambar: kita atau penggambarnya yang tak terlalu cerdas.

Edisi 18-24 September 2017

Di luar soal fungsi melemaskan ketegangan, humor selalu diperlukan dalam hidup kita yang rudin ini. Seperti kata Charlie Chaplin, hari-hari tanpa tertawa adalah hidup yang sia-sia. Menurut sebuah tulisan di Jurnal Psikologi Eropa, orang yang berbahagia adalah mereka yang punya rasa humor yang positif. Sebab humor adalah anugerah yang harus kita syukuri terus-menerus.

Menurut sebuah analisis di Foreign Policy, ciri-ciri pemerintahan yang diktatorial adalah para penguasanya kehilangan humor. Dan lelucon adalah cara melawan mereka yang paling efektif. Maka Milan Kundera melawan kekuasaan komunisme yang otoriter di Chekoslovakia melalui lelucon di novel-novelnya yang antinovel. Agar yang otoriter dan kurang humor kembali tersenyum, supaya yang bersumpah-serapah tak jadi marah.

Tertawa adalah piknik kecil tanpa plesir.

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *