Sejarah sepak bola modern dimulai di Inggris, tapi cikal bakalnya ada di Cina, dan di mana saja.

SETELAH Eric Dier melesakkan bola ke gawang David Ospina, media sosial hiruk pikuk oleh tanda pagar #ItsComingHome. Orang Inggris merayakan kemenangan tim nasional mereka dalam pertandingan dan adu penalti yang dramatis melawan Kolombia dengan membuat tagar itu dan tumpah ke jalan-jalan di seluruh kota.

Inggris hanya mampu membuat skor lewat tendangan penalti oleh Harry Kane seusai ia dijatuhkan bek Kolombia. Pertandingan setelah itu saling serang tanpa berbuah gol sampai Yerry Mina menyundul bola ke gawang yang tak bisa dihalau Eric Dier pada menit 90 + 2 menit. Pertandingan ditentukan lewat tos-tosan.

Pahlawan Inggris sesungguhnya adalah Jordan Pickford, penjaga gawang ini bisa menahan bola penalti sehingga Inggris berpeluang lagi setelah satu tendangan mereka dihalau kiper Kolombia. Eric Dier menjadi penentu kemenangan Inggris 4-3. Para pemain dan pendukungnya merayakan kemenangan di perdelapan final itu seolah Inggris telah jadi juara dunia.

Orang Inggris layak bergembira. Selain selalu tersisih dalam adu penalti di tiga piala dunia sebelumnya, kesebelasan ini diragukan sejak awal karena periode emas permainan mereka telah lewat. Gol Eric, pemain tengah klub Tottenham Hospur, mengembalikan kepercayaan diri Inggris di piala dunia kali ini. Apalagi, kapten Harry Kane telah membukukan tujuh gol, perolehan gol terbanyak yang bakal menyabet sepatu emas.

Stasiun televisi BBC membuat sebuah video Inggris yang berpesta jika tim mereka pulang membawa trofi tertinggi sepak bola yang lepas sejak 1966. Masuk perempat final melawan Swedia nanti malam adalah pencapaian tertinggi tim negara ini sejak itu.

Slogan “ItsComingHome” tak benar-benar baru. Pada Piala Eropa 1996 di Inggris, orang Inggris juga mengibarkan slogan “football is coming home”. Adalah band The Lightning Seeds yang menuliskan kalimat itu dalam lagu mereka, “Three Lions”, untuk turnamen empat tahunan itu. Waktu itu Jerman menjadi kampiun Eropa.

Benarkah sepak bola kembali ke kampung halaman jika Inggris juara? Klaim “kampung halaman” merujuk pada kelahiran Asosiasi Sepak Bola Inggris atau Football Association pada 26 Oktober 1863 oleh mahasiswa-mahasiswa di sana untuk sebuah turnamen yang diikuti sebelas klub. Sejak FA berdiri, sepak bola memang jadi beradab: ada peraturan luas lapangan, jumlah pemain, wasit, dan dua gawang untuk menandai skor.

Betapa pentingnya FA bagi orang Inggris, hingga nama lain sepak bola disebut “soccer”—yang merujuk pada “association”. Kelahiran FA juga menghentikan sepak bola yang brutal.

Inggris punya sejarah gelap permainan ini. Philip Stubes (1853) merekamnya dalam The Anatomie of Abusses yang menggambarkan ratusan orang mati dan cedera tiap kali memainkan sepak bola di sebuah lapangan besar. Gereja lalu melarangnya, para raja menghukum siapa pun yang nekat memainkannya. Raja Edward II menyebut sepak bola sebagai “permainan setan yang dibenci Tuhan”.

Sesungguhnya Eropa meniru apa yang dilakukan orang-orang Asia Tengah dalam memainkan sepak bola. Jika merujuk pada Guy Oliver dalam World Soccer, tsu chu dari Cina adalah ilham pertama olah raga ini. Pada era Dinasti Tsin (255-206 sebelum Masehi) terdapat manuskrip yang mencatat tsu chu sebagai permainan resmi tentara berlatih fisik.

Tsu chu mirip sepak takraw dengan dua tim dipisahkan jaring berlubang. Para pemain berusaha memainkan bola dari sabut kelapa itu agar tak menyentuh tanah dan memasukkannya ke lubang jaring di tiang tinggi itu. Pemenang adalah tim yang lebih banyak memasukkan bola. Orang Jepang mengadopsinya dengan lebih kreatif lewat kemari.

Image result for tsu chu
Tsu-chu (The Origin of Soccer)

Related image

Dua tim berjumlah 2-12 orang berebut bola untuk memasukkannya melewati garis di antara dua tiang. Permainan ini populer pada abad 10-16, waktu kunjungan Marco Polo ke sana. Setelah itu Italia mengenal calcio—permainan yang diadopsi dari halpastron di Yunani yang mirip seperti rugbi—dengan lebih modern.

Related image
Kemari

Agaknya sepak bola dimainkan oleh semua orang di seluruh dunia. Orang-orang Indian sampai Gahuku-gama di Papua juga punya tradisi permainan ini. Tak heran jika sepak bola menjadi olah raga paling terkenal di muka bumi, karena kampung halamannya seluruh tempat yang dihuni manusia, tak hanya Inggris.

Kolom Piala Dunia 2018 di Koran Tempo edisi Sabtu, 7 Juli 2018.

BAGIKAN
0
Tanah Air Sepak Bola

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *