Revolusi Belanja di Era Big Data

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2018/07/20/revolusi-belanja-di-era-big-data/
RSS
Follow by Email

Strategi berbisnis di zaman Internet. Mengenalkan grafik baru berkompetisi di era disrupsi.

CHRISTOPER Chabris dan Daniel Simons membuat perumpamaan tentang kolapsnya bisnis konvensional di zaman Internet. Dalam buku The Invisible Gorilla: How Our Intuition Deceives Us yang terbit pada 2011, keduanya membuat percobaan yang kemudian terkenal dengan sebutan “sindrom gorila.”

Image result for khan matrix shopping revolution
The Shopping Revolution

Chabris dan Simons meminta enam orang sukarelawan bermain basket: tiga memakai kaos putih dan tiga kaos hitam. Keduanya meminta penonton menghitung jumlah lemparan bola orang yang memakai kaos putih. Ketika saling lempar bola itu terjadi, tiba-tiba masuk orang lain yang memakai kostum gorila. Sebanyak 80 persen penonton menjawab dengan tepat jumlah lemparan bola pemain kaos putih tapi tak sadar dengan kehadiran gorila.

Demikianlah disrupsi. Ia diam-diam mengokupasi permainan dalam bisnis lalu merebut pangsa pasar kita tanpa ampun. Kita bisa tak melihat sesuatu yang sangat jelas karena terlalu fokus pada apa yang kita punya. Dan kita tak merasa sesungguhnya kita tengah buta di tempat terang. Nokia contoh untuk itu ketika mereka menolak proposal Google yang menawarkan operasi sistem Android sebagai basis teknologi telepon seluler hingga pasar mereka direbut Apple dan Samsung.

Internet tak hanya membuat perusahaan besar macam Nokia berpikir ulang tentang strategi bisnis. Barbara E. Kahn mengulas lebih detail penyebab bangkrutnya toko-toko di Amerika Serikat di zaman Internet dalam buku yang terbit awal Juni lalu. Menurut profesor pemasaran di Wharton Business School ini ada beberapa faktor mengapa 8.000 toko tutup selama 2017: gagap menghadapi perubahan, keliru membaca keinginan pasar, dan ketiadaan strategi menganalisis data polah konsumen.

Namun, Kahn tak melulu membahas kegagalan. Faktor-faktor itu ia pakai untuk menganalisis perusahaan-perusahaan baru yang sukses merebut pasar, atau menelaah strategi perusahaan lama yang bertahan dan kian berkibar. Analisis Kahn bertolak dari matriks baru yang ia buat: The Kahn Retailing Success Matrix.

Image result for The Kahn Retailing Success Matrix

The Kahn Retailing Success Matrix.

Matriks ini merupakan kesimpulan dari penelitiannya mengamati strategi perusahaan-perusahaan tersebut bertahan dan membesar. Jika di Internet secara generik ada julukan “zaman Google”, di toko ritel ia menyebutnya “zaman Amazon.” Toko daring serba ada yang didirikan Jeff Bezos ini menjelma gergasi yang menghubungkan konsumen dan produsen secara lebih efektif, murah, cepat, melalui jejaring Internet.

Matriks Kahn terdiri dari empat kotak: penguatan merek, pengalaman konsumen, harga murah, dan nirfriksi. Matriks ini khas strategi bisnis di zaman Internet, semacam pengembangan dari strategi generik Michael Porter yang fokus kepada biaya dan diferensiasi produk.

Menurut Kahn, strategi sukses Amazon karena memadukan dua area sekaligus: nirfriksi dan harga murah. Dengan strategi ini Amazon membukukan pendapatan US$ 44 miliar atau Rp 572 triliun tahun lalu, dan telah tiga tahun melampaui pendapatan Walmart, toko serba ada paling besar di Amerika sejak 1990.

Ada banyak perusahaan yang menjadi kajian Profesor Kahn di buku ini. Bahasannya ringan dengan narasi yang mudah dicerna. Membaca buku ini seperti bertualang dalam kumpulan studi kasus pelbagai perusahaan, yang bertransformasi dengan strategi menghadapi perubahan zaman yang serba cepat dan tak terduga-duga. Setelah mengurai faktor-faktor kesuksesan, Kahn menganalisisnya dari perspektif akademis berbasis data yang ia kumpulkan dan alami langsung. Sebelum jadi dosen, ia eksekutif di beberapa perusahaan besar.

Kahn menyimpulkan untuk sukses bertahan dan mengarungi bisnis di zaman ini tak hanya harus mahir memanfaatkan teknologi namun cerkas membaca perubahan polah konsumen berdasarkan data tingkah laku mereka di Internet. Konsumen hari ini adalah 45 persen generasi Z dan milenial yang lahir di tengah arus deras teknologi. Pemikiran Generasi X menjadi konvensional dan ketinggalan untuk diterapkan dalam bisnis hari ini.

Big data adalah panglima menjadi sukses dan awas pada kehadiran “gorila” yang datang mengokupasi.

___________________
Judul: The Shopping Revolution: How Successful Retailers Win Customers in an Era Endless Disruption
Penerbit: Wharton Digital Press
Tebal: 272 halaman
Terbit: 2018

BAGIKAN
0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *