Terlambat Itu Baik, Kadang-kadang

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Di saat semua hal-ihwal berlangsung serba cepat, pelan-pelan menjadi anomali yang baik.

TERLAMBAT itu baik, terutama ketika hal-ihwal di sekeliling kita bergerak sangat cepat. Revolusi teknologi, terutama peranti lunak, membuat hidup manusia jadi ringkas, efektif, dan efisien. Problem sampah dan kemacetan, juga mungkin kelak kemiskinan dan kebahagiaan, bisa diselesaikan dengan sebuah aplikasi.

Buku ini, Thank You for Being Late, merangkum sejarah kompleks dalam waktu singkat pencapaian manusia dan teknologi yang berlangsung dalam sepuluh tahun terakhir, juga perubahan-perubahan yang ditimbulkannya. Thomas L. Friedman, penulis kolom teknologi di The New York Times, sejak kalimat pertama di bab pertama sudah menulis, “Saya lebih senang menjadi wartawan yang menjadi penerjemah hal-hal rumit dalam bahasa Inggris ke bahasa Inggris.”

Thank You for Being Late

Demikianlah buku ini: membahas hal-hal rumit yang luas secara populer.  Menurut Thomas, jika kita ingin memahami abad 21, dengan segala centang-perenang dan perubahan-perubahannya, kita harus paham tentang perkembangan teknologi, perubahan alam semesta, dan perkembangan pasar dan globalisasi—dalam arti kecenderungan manusia berinteraksi satu sama lain.

Ia menulis satu bab besar tentang Akselerasi hidup manusia akibat teknologi yang berkembang sangat pesat, dimulai dari penemuan chip mikro yang mendasari lahirnya super-komputer. Friedman menyebutnya mesin “supernova” yang mengacu pada perkembangan teknologi yang dipengaruhi Hukum Moore (dari Gordon Moore pendiri Intel). Pada 1965, Moore meramal bahwa kecepatan kinerja chip akan bertambah dua kali lipat tiap 18 bulan.

Ramalan itu terbukti kini, dengan kehadiran peranti lunak, komputer yang mengecil, teknologi sensor, penyimpanan digital, hingga interaksi manusia lewat jejaring Internet. Sejak itu hidup manusia tak lagi sama. Alam semesta berubah, juga interaksi manusia dalam “pasar” karena teknologi algoritma dan big data. Apa-apa serba cepat dan presisi karena mesin mengetahui apa yang dipikirkan manusia lewat kecenderungan-kecenderungan perilakunya. Tapi, dari yang serba cepat itu, Friedman justru tertolong oleh hal yang tak dikendalikan mesin.

Syahdan, ia membuat janji bertemu dengan temannya di New York. Tapi si teman itu terlambat karena macet. Dalam masa menunggu itu, Friedman memikirkan apa yang terjadi seandainya mesin memprogram janji mereka. Apakah teman itu akan terlambat juga? Apakah lalu lintas bisa dirapikan dengan bantuan teknologi yang canggih?

Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong Friedman meriset sejarah perkembangan teknologi yang sudah ia akrabi, mewawancarai ratusan konsultan, penemu teknologi, hingga CEO perusahaan-perusahaan besar yang menginvasi pasar. Hasilnya, buku setebal 640 halaman tentang itu.

Thomas L. Friedman (Sumber: The New York Times)

Maka ia berterima kasih kepada teman yang terlambat tersebut. Seandainya si teman ini tepat waktu, karena mesin dan robot memudahkan perjalanannya, Friedman tak akan punya waktu memikirkan tentang kedigdayaan superkomputer. Jika teman itu tepat waktu, tentu ia tak akan bisa menulis buku ini. Maka ia berterima kasih kepadanya.

Terlambat itu jadi baik, dalam hal Thomas Friedman. Ia jadi punya waktu merenungkan hal ihwal yang terjadi sekelilingnya. Ia menganjurkan agar kita berani terlambat, eksit dari pertarungan, agar kita bisa menata kembali ladang-ladang yang terpengaruh oleh percepatan teknologi itu: politik, komunitas, cara kerja manusia, hingga urusan geopolitik. Biasanya, dengan sejenak menjadi penonton, kita bisa lebih arif karena kita punya jarak dengan pertandingan.

Soal terlambat ini saya ingin mengaitkannya ke dalam jurnalisme, ketika setiap media bersaing dalam gegas dan ketergesaan menyajikan informasi. Friedman mengutip teknokrat Google yang menyebut bahwa informasi kredibel dan palsu bergerak sama cepatnya menemukan pembaca, dengan bantuan algoritma, mesin pencari, dan media sosial yang kini menjadi santapan utama pemakai Internet.

Mesin algoritma yang membaca informasi yang kita suka, akan mengarahkan berita-berita tersebut ke dalam halaman media sosial kita. Maka apa yang kita konsumsi, apa yang kita cerna dan percaya, sangat tergantung pada apa yang kita suka belaka. Facebook bahkan menyaring jenis-jenis berita karena kita pernah memberikan “like” pada sebuah tautan yang dilempar oleh teman kita di lini masanya. Interaksi kita dengan orang lain menjadi modal robot algoritma itu membaca pikiran tiap-tiap orang di dunia maya, hingga mengarahkan kecenderungan pilihan politiknya—sebagaimana terjadi dalam pemilihan Presiden Amerika dua tahun lalu.

Dari judul di buku ini, Thomas ingin mengingatkan kepada para wartawan dan pembaca bahwa pelan-pelan akan melawan ketergesaan kita menyimpulkan apa yang kita cerna. Fitrah manusia yang menjadi tempat salah dan dosa justru jadi jawaban pencegah efek buruk perilaku mesin.

Dalam hal jurnalisme, ketika media massa berlomba menjadi yang pertama tahu dan buru-buru menyajikannya kepada kita, informasi acap tersaji secara sepotong. Sebab media-media daring akan memperbarui informasi tergantung perolehan kabar oleh para wartawannya. Jika kita hanya percaya kepada berita pertama yang kita cerna, sungguh celaka karena informasi itu belum tentu benar adanya.

Para wartawan perlu merenungkan perkembangan ini dengan saksama. Tergesa-gesa menyajikan informasi awal tak akan membuat manusia jadi lebih berharga. Kita harus kembali ke mantra klasik jurnalisme, yakni verifikasi. Wartawan memang punya waktu dan kemampuan yang terbatas untuk mendekati kebenaran sebuah kabar. Tapi pisau verifikasi akan mendekatkan dan menguji informasi itu sebelum dicerna oleh pembacanya.

Maka terlambat itu baik, jika pelan-pelan mengumpulkan informasi itu bertujuan untuk mendekati kebenaran tersebut. Ada banyak peristiwa yang menjadi bukti ketergesaan hanya membuat kita semua celaka. Tapi tak segera memverifikasi sebuah kabar yang bergerak cepat, informasi juga akan menjadi liar.

Di India ada seorang pemuda yang mati sia-sia dikeroyok oleh masyarakat yang cemas oleh maraknya penculikan. Mereka termakan sebuah video yang diedit dari sebuah iklan yang mengampanyekan agar masyarakat waspada tentang maraknya penculikan itu! Jurnalisme gagal mendudukkan soal-soal yang berkembang di masyarakat.

Di media sosial Indonesia juga sudah banyak peristiwa-peristiwa yang memakan korban akibat ulah jahat manusia memotong dan mengedit sebuah berita agar orang lain celaka. Mereka memanfaatkan persaingan media, yang wartawannya tergesa-gesa menyajikan informasi yang belum terverifikasi, untuk mengarahkan kepercayaan terhadap sebuah fakta.

Dilematis memang. Tapi dilema adalah ciri abad modern. Jurnalisme harus bisa memenangkan kekacauan ini. Ia harus cepat tanpa melupakan cek dan cek. Friedman mengajak kita melihat kampung halamannya di Minnesota, pada bab-bab akhir di buku ini, yang masyarakatnya bisa menumbuhkan literasi digital untuk menyaring efek buruk teknologi.

Ia tetap pada tesisnya: terlambat dan pelan-pelan itu baik di tengah arus deras informasi dari segala arah. Pada jurnalisme, ia harus kembali kepada tujuannya, yakni sebagai clearing house of information—lembaga yang membersihkan fakta dari asumsi-asumsi yang menyertainya—apalagi dari kabar bohong yang usianya setua umat manusia.

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *