Guru: Atau Mereka yang Berjasa Mengenalkan Kita kepada Dunia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tak hanya mengajar, guru juga mendidik kita memahami fungsi a-b-c-d tak sekadar menghapal dan bisa menuliskannya.

ILMU dan cinta harus selalu dalam satu liga agar makna dunia terpelihara. Maka dalam setiap orasi ilmiah guru besar di Institut Pertanian Bogor, para profesor yang berdiri di mimbar diberi kesempatan berterima kasih kepada mereka yang berjasa, sejak lahir. Bagaimana pun mimbar itu adalah pencapaian akademik tertinggi, tak main-main, yang dicapai dengan susah sungguh. Maka cinta harus mendapat tempat yang sama di sana.

Saya diundang menghadiri ceramah Profesor Nurheni Wijayanto pada 6 Agustus 2016. Ia guru pembimbing skripsi saya. Dan baru kali itu saya menyaksikan sebuah orasi ilmiah setelah lulus dari Fakultas Kehutanan 16 tahun lalu. Tidak hanya karena ingin menghormati orang yang berjasa dalam hidup saya, hadir di sana juga sekaligus untuk menyesap kembali suasana akademik yang selalu membuat kangen.

Bersama Profesor Nurheni ada dua guru besar lagi yang membacakan karya ilmiah mereka: Profesor Bambang dari Agronomi dan Profesor Siswadi dari Fakultas Matematika. Saya melihat, ketika para guru besar itu membaca karya ilmiah, mereka menjelaskannya dengan gagah, dengan humor dan kutipan-kutipan mumpuni dan filosofis, tapi ketika sampai pada testimoni untuk orang-orang yang berjasa, semua terisak.

Dan agaknya panitia menekankan pentingnya sesi testimoni ini. Para guru besar itu diberi kesempatan menampilkan foto-foto kenangan mereka bersekolah: sejak SD hingga meraih doktor di universitas-universitas keren di dunia, sebelum menyebut guru-guru dan sejawat yang berjasa mengantarkannya pada pencapaian itu. Profesor Siswadi, dengan humor yang cerdas, melacak para pembimbingnya di Cornel University, Amerika Serikat, hingga ke Galileo Galilei.

Para guru adalah liga ilmu dan cinta itu. Karena itu jejaknya panjang. Ia tak hanya digugu dan ditiru, seorang guru mengenalkan kita pada dunia. Saya tak akan bisa menulis kolom ini tanpa peran guru yang mengenalkan huruf A ketika mulai belajar membaca. Para guru besar di mimbar IPB itu tak akan bisa berpikir secara kompleks merumuskan pelbagai temuan ilmiah jika ia tak paham fungsi a-b-c-d yang diajarkan sewaktu kecil.

Saya unggah catatan lama ini karena teringat seorang guru Fisika di SMP, ketika melihat kembali foto-foto masa lalu. Setelah Lebaran kemarin kami bertemu dalam sebuah reuni besar. Dia masih seperti yang dulu. Masih ingat saya, masih ingat kejadian-kejadian kecil yang membuat kami akrab. Dia seorang guru yang tak hanya mengajar, tapi juga memberi pemahaman.

Pak Carsadi, guru Fisika itu, mengenalkan bagaimana menata pikiran dalam menyelesaikan soal-soal. Ia menuntun kami memetakan persoalan terlebih dahulu dari soal-soal yang ia buat sebelum kami menjawab memakai rumus tertentu. Susunannya seperti ini:

Diketahui: (Di sini para siswa harus menuliskan apa saja yang termaktub dalam soal, kode rumus dan angkanya).

Ditanyakan: (Fase ini mesti jelas apa yang ditanyakan dalam soal agar kita tak keliru memberikan jawab dari pertanyaannya. Sebab, pernah ada soal tentang kecepatan sebuah benda. Soalnya agak ruwet tentang sebuah kereta listrik yang melaju dengan kecepatan 70 km/jam. Setelah menempuh jarak 50 km kereta ini mendapatkan percepatan 30 km/jam2. Dengan bobot mati kereta 200 ton, berapa kecepatan asapnya?)

Jawab:
– Rumus:
– Penyelesaian:

Tanpa bisa memetakan dua langkah pertama, jawaban dipastikan akan keliru. Seperti pertanyaan soal asap kereta itu. Kami berusaha keras menjawabnya dengan pelbagai rumus, padahal soal cerita Fisika itu tentang kereta listrik, yang tak berasap, sehingga jangankan bisa menghitung kecepatannya, kita tak akan bisa melihat kepulannya, seperti kereta uap atau berbahan bakar batu bara. Dengan rumus apa pun orang paling jenius pun tak akan bisa menjawab soal itu dengan benar.

Demikianlah, Pak Carsadi. Fisika, yang penuh rumus dan hitungan itu, pada akhirnya mengajarkan soal logika. Dan logika adalah bekal kita dalam menempuh hidup, kelak, setelah mentas dari sekolah. Seingat saya, Pak Carsadi tak terlalu mementingkan angka jawaban di akhir. Ia lebih menekankan cara kita mencapai jawaban itu. Jika logis dan sesuai dengan contoh-contoh soal itu, ia akan memberikan nilai yang baik. Sebab, dalam proses menemukan jawaban itu, kita akan mencoba-coba banyak hal, dengan rumus baku, dengan perhitungan. Karena dengan coba-coba itulah pengetahuan berkembang dan manusia menemukan solusi-solusi atas masalah-masalah yang mereka hadapi.

Pada akhirnya kompleksitivitas pikiran manusia, yang membedakan kita dari mamalia lain, dan membuat dunia dan manusia seperti ini, tak lain adalah peran para guru itu. Seperti kata Fuad Hassan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, guru tak hanya mengajar, ia juga mendidik. Mengajar bisa dilakukan siapa saja dengan pengetahuan teknis mengenalkan huruf a-b-c itu. Dalam pendidikan, guru mengenalkan fungsi a-b-c itu sebagai bekal hidup para murid kelak. Dan itu adalah cinta.

Maka Fuad menempatkan posisi guru sesudah nabi. Para guru adalah mualim yang menjadikan ilmu sebagai sikap hidupnya. Maka saya merinding ketika pembawa acara memanggil para guru besar yang duduk berderet di dekat mimbar itu dengan sebutan “yang amat terpelajar”. Saya kira ini julukan yang dibuat dengan keinginan menempatkan guru sebagai manusia paling tinggi derajatnya, di pusat ilmu semacam kampus IPB.

Kita ingat kutipan terkenal Pramoedya Ananta Toer dalam novel klasik tetralogi Pulau Buru: “Seorang terpelajar  harus adil sudah sejak dalam pikiran”. Dalam segala firmannya, Tuhan memerintahkan kita berbuat adil. Pada apa saja. Karena adil adalah sebenar-benarnya takwa. Sebab itu ia tak mudah.

Menurut Pramoedya, hanya orang terpelajar yang bisa berbuat adil, bahkan jauh sejak dalam pikiran, yang tersembunyi dan tak diketahui manusia lain. Hanya ilmu dan pengetahuan yang membuat kita bisa adil bahkan sejak sebelum jadi tindakan. Dan itu adalah jasa besar para guru.

Maka tak heran jika para guru besar itu terisak mengenang jasa guru-guru mereka. Tanpa guru, cinta dan ilmu tak akan menyatu dalam satu liga, dalam pikiran dan hati kita. Sebab cinta tanpa ilmu membuat kita buta, ilmu tanpa cinta menyebabkan ia semena-mena.

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *