Jika Big Data Bertemu Big Brother

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Yuval Noah Harari mengupas hal-hal penting masa kini, terutama diktator baru yang sulit dilawan: big data dan mesin algoritma yang dipakai negara.



SETELAH menginvestigasi masa lalu manusia
lewat Sapiens (2011), memprediksi
masa depan dunia melalui Homo Deus (2015), Yuval Noah Harari,
sejarawan paling fenomenal saat ini, menerbitkan 21 Lessons for 21st Century. Buku yang terbit dua pekan
lalu ini mengulas kejadian-kejadian genting dan penting hari ini, abad ini.

Dari terorisme dan imigran akibat dunia Barat
dan Timur yang tak kunjung saling memahami, hingga ketimpangan dan merosotnya
demokrasi liberal; dari hoaks sampai
menguatnya konservatisme agama dan kebanggaan ras; soal nasionalisme hingga
fiksi-ilmiah. Semua tema itu, yang terbagi ke dalam 21 bab, diikat oleh satu
hal: kemajuan teknologi dalam memproduksi mesin algoritma.

21 Lessons for The 21st Century
Yuval Noah Harari
Penguin Random House UK, 2018
 352 halaman

Mesin ini terbentuk dari perkawinan yang sudah
lama direncanakan antara revolusi teknologi dalam bidang biologi dan revolusi
teknologi dalam mengolah informasi. Persilangan keduanya menghasilkan big data
yang bisa dipakai untuk mengontrol manusia. “Ia bisa paham perasaan saya lebih
baik dari saya sendiri,” tulis Harari (halaman 48). “Kelak otoritas dunia akan
berpindah dari manusia ke mesin.”

Maka, pada akhirnya, dunia akan sampai juga ke
sana: persaingan manusia dan mesin untuk saling mengendalikan. Teknologi
peranti lunak yang berkembang sangat pesat telah memudahkan hidup manusia,
sekaligus mengerangkeng kita dalam cengkeramannya. Telepon seluler dan aplikasi
membuat kita seperti hidup dalam rumah kaca.

Segalanya terpantau dan terawasi. Jejak
digital kita terekam, terbaca, lalu dianalisis oleh peranti lunak yang cerdas dan
mekanis itu. Manusia yang menjadi pengendalinya akan tahu siapa kita, kebiasaan
dan tabiat, bahkan cara pikir hingga kecenderungan politik.

Harari menyebut situasi itu sebagai
kediktatoran digital (digital
dictatorship
). Manusia memakai mesin peranti lunak hasil kemajuan
matematika dan fisika itu untuk menguasai manusia lain hingga mesin tersebut mencengkeram
sepenuhnya hidup kita.

Di Cina, algoritma dan kecerdasan buatan tengah diuji coba. Seperti terbaca dalam liputan ABC.net.au pada Kamis pekan lalu, Partai Komunis Tiongkok memantau tindak-tanduk miliaran penduduk negeri itu melalui 200 juta kamera pengawas, yang terhubung dengan semua perangkat digital yang dipakai rakyat Cina.

Wartawan ABC
mewawancarai dan mengikuti keseharian Dandan Fan, seorang profesional pemasaran,
ibu satu anak, istri yang suaminya bekerja sebagai pegawai negeri dan kader
partai. Selama 24 jam hidup Dandan dan keluarganya terpantau komputer PKT. Ia
bekerja, mengasuh anak, berbelanja, semuanya direkam mesin tersebut.

Pemantauan itu berbuah skor. Dandan Fan dan
suaminya punya skor bagus karena dinilai sebagai warga negara yang patuh.
Skornya berkurang ketika mereka keliru membeli sayuran yang tak sesuai dengan
anjuran pemerintah dan tak cocok dengan program diet dan pola makan sesuai
golongan darah mereka.

Dandan dan suaminya senang dipantau seperti
itu karena, katanya, negara peduli dengan keluarganya. Kelak jika skor mereka
dianggap baik, pemerintah Cina akan menjamin masa depan yang baik buat anak
mereka: sekolah, beasiswa, tempat tinggal, bahkan jadwal berlibur. “Saya merasa
aman ketika tahu setiap sudut kota terpasang kamera,” katanya.

Berbeda dengan Dandan, Lu Hu punya skor sosial
yang rendah. Ia wartawan investigasi yang acap membongkar praktik korupsi
petinggi PKT dan mengungkap pembunuhan-pembunuhan misterius di Cina. Karena
“ulahnya” itu, pemerintah mencabut fasilitas dan kemudahan untuknya. Hu, 43
tahun, tiba-tiba tak bisa memakai aplikasi ketika hendak memesan tiket kereta
api.

Uji coba penerapan skor sosial ini akan
berlangsung selama dua tahun. Pada 2020 PKT akan menerapkannya secara permanen
dengan lebih canggih. Mereka akan sepenuhnya mengawasi, mengendalikan, dan
menghukum rakyatnya memakai mesin yang tak terlihat dan melekat pada tiap-tiap
orang.

Harari merujuk situasi seperti ini pada distopia
yang digambarkan George Orwell dalam dunia totaliter di novel 1984. Novel yang terbit pada 1949 ini
menceritakan sebuah dunia yang penguasanya mengontrol tindak tanduk hingga
pikiran warga negara. “Bung Besar mengawasimu” adalah diksi terkenal dalam
novel yang merujuk pada rezim totaliter Uni Soviet waktu itu.

Ilham dalam novel 1984 itu benar-benar diterapkan pemerintah Cina. Amerika sebetulnya
sudah melakukannya lebih dulu. Seperti terbaca dalam biografi Edward Snowden, The Snowden Files, di bawah Presiden
Barrack Obama, badan intelijen Amerika hendak menyadap lalu lintas percakapan
tiap-tiap orang untuk mendeteksi pelaku teror. Sebagai kontraktor digital National
Security Agency, Snowden bisa mengakses aset-aset penting mitra dan “musuh”
pemerintah Amerika.

Snowden, misalnya, melalui satelit dan peranti
lunak bisa mengakses mesin-mesin pembangkit listrik milik pemerintah Jepang di
laut Pasifik. Jika Jepang berkeras dalam negosiasi dagang, bersekutu dengan negara
yang tak disukai Amerika, pemerintah akan memakai akses itu untuk menekannya agar
kembali menjadi sekondan abadi mereka. Jika Jepang melawan, Snowden tinggal
mengeklik tombol di laptopnya, detik itu juga seluruh Jepang mati lampu.

Apa yang disajikan Harari dalam buku ini lebih
mencemaskan dari itu. Teknologi peranti lunak tersebut tak hanya dipakai untuk
memata-matai tiap orang tapi juga mempengaruhi cara pikir manusia. Media sosial
telah mengubah cara kita membaca berita hingga orang banyak termakan
disinformasi. Demokrasi tergerus seiring merosotnya kebebasan individu, karena
kecenderungan politik dan ideologi diarahkan oleh mesin seperti yang terungkap
dalam skandal Cambridge Analytica.

Dengan narasi yang cerkas—perpaduan humor yang
sinis tapi segar dan kritik yang menohok—Harari membahas 21 tema itu dengan
metode seorang ilmuwan yang telaten: penasaran dan curiga pada segala hal. Profesor
sejarah dari Oxford University yang kini mengajar di Hebrew University di
Yerusalem itu, yang gay dan ateis, membahas agama dan orientasi seksual tetap
dengan gaya pengamat yang berjarak, meskipun di sana-sini terasa ada
simplikasi.

Harari, misalnya, menyimpulkan bahwa
monoteisme menjadi biang kerusakan moral dan kemanusiaan. Ia melacak sejarah
agama-agama politeis yang pemeluknya lebih toleran, sementara pemeluk agama
satu Tuhan cenderung merasa benar dengan iman dan kepercayaannya. Harari keliru
karena sejarah kekerasan tak mengenal Tuhan satu atau Tuhan banyak. Sejarah
mencatat penindasan terjadi karena prasangka penganut agama yang mayoritas.

Bagaimana pun kritik dan kecemasan Harari
layak didengar dan direnungkan. Ia tak seperti ahli lain, seperti Steven Pinker
atau Hans Rosling, yang optimistik dengan pencapaian-pencapaian manusia dalam
teknologi, Harari membahas dari sisi sebaliknya. Semua pembahasannya bertolak
dan berpihak kepada manusia, seraya mengkritiknya.

Karena itu, dengan jarak
yang cukup terhadap bahan yang ia bahas, acap kali kritik dan analisisnya punya
cabang ke segala arah. Saat membahas era pasca-kebenaran, misalnya, ia menulis:
“Jika berita yang dibuat-buat itu berusia sebulan, kita menyebutnya hoax,” halaman 234. “Ketika berita itu
dipercaya miliaran orang dan berusia ratusan tahun, kita menyebutnya agama.”

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *