Rahasia Presentasi Steve Jobs

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Steve Jobs mengenalkan cara baru dalam presentasi dan public speaking yang menghibur dan menggugah: story telling.



KETIKA Steve Jobs meluncurkan iPod pada 23 Oktober 2001, ia sekaligus membuat standar baru dalam presentasi. Jobs tak hanya mengenalkan produk Apple, ia juga menghibur dan menggugah audiens. Presentasi yang berhasil, dalam standar baru itu, adalah menyamai cara Jobs berbicara di depan orang banyak itu.

Kuncinya adalah cara dia bercerita. Jobs tahu
betul peluncuran produk adalah pintu utama dalam pemasaran. Ia juga paham apa
yang disukai manusia ketika mendengar orang lain berbicara: cerita.

Sebuah cerita terbangun oleh tokoh, plot, dan
informasi. Tokoh dalam cerita selalu terbagi ke dalam baik, jahat, dan para
pendukung keduanya. Para tokoh itu berbicara dan bertindak menciptakan alur
cerita. Puncak dalam plot adalah klimaks. Di antara itu semua, mengalir pelbagai
macam informasi.

Jobs memanfaatkan unsur-unsur itu dalam
presentasinya. Sehingga tiap kali meluncurkan produk baru Apple, Jobs seperti
menghadirkan drama di panggung teater. Drama di panggung teater yang berhasil
selalu menghadirkan satu unsur paling penting: hiburan. Sebab hanya dengan
menghibur kita bisa mempengaruhi orang lain dengan lebih mudah.

Ada banyak buku yang mengulas bagaimana Jobs
ketika presentasi. Salah satunya buku ini, The
Presentation Secrets of Steve Jobs
, yang cukup lengkap mengulas dan
menganalisis anasir-anasir dalam presentasi pendiri Apple yang meninggal pada
2011 di usia 56 karena komplikasi kanker pankreas dan organ pernapasan itu.

Carmine Gallo, kolumnis di Bussinessweek.com, menemukan rahasia-rahasia presentasi Steve Jobs dan mengulasnya dalam buku yang terbit pada 2010 ini. Karena seperti pertunjukan Broadway, Gallo membagi bab-bab penjelasan dalam presentasi Jobs ke dalam 18 bagian dan tiga babak besar.

Jobs memang menyukai angka 3. Ia mengadopsi cara para tokoh berpengaruh dunia saat berbicara dan merumuskan pikiran. Thomas Jefferson, misalnya, menulis tiga hal yang menjadi cita-cita rakyat Amerika Serikat dalam Proklamasi Kemerdekaan pada 1776: hak hidup, hak mendapat kebebasan, dan hak mendapatkan kebahagiaan.

Slogan Revolusi Prancis juga menggaungkan tiga
hal: kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Bahkan Julius Caesar, kaisar Roma
yang hidup di abad 40 Sebelum Masehi, punya slogan veni, vidi, vici (aku datang, aku lihat, aku menang). Penelitian-penelitian
ilmiah sudah membuktikan, otak manusia lebih gampang mengingat sebuah perkara dalam
tiga poin.

Sebab dua terlalu sedikit, lima terlalu banyak. Maka Trio Kwek-kwek mungkin lebih menancap di ingatan kita ketimbang nama-nama Pandawa Lima dan sejarahnya. Jobs selalu berpatokan pada rules of three ini, ketika membuat pembabakan dalam presentasi, membuat kalimat, bahkan menjabarkan unsur dalam sebuah definisi.

Image result for the most powerful person jobs
Bahkan dalam membuat satu kalimat, Jobs menyusunnya dalam tiga bagian. The most powerful person (1) in the world (2) is the story teller (3). Juga ketika menjabarkan sebuah definisi: vision, values, agenda.

Sebelum mengenalkan produk terbaru Apple, Jobs
mengantarkan problem yang diselesaikan oleh produk itu, lalu membuat klimaks
pada cerita dia menemukan dan membangun inovasi dalam produk tersebut. Berikut ini
sembilan kunci rahasia presentasi Steve Jobs yang dicatat Gallo, dari sekian
banyak kunci yang ia bedah dalam buku setebal 245 halaman ini:

Masalah. Jobs selalu memulai presentasinya dari masalah. Masalah itu ia jadikan musuh bersama dengan audiensnya. Ia menempatkan audiens (publik) sebagai korban dalam masalah yang akan ia selesaikan melalui produknya itu. Ketika mengenalkan iPod, ia membawa hadirin ke dalam masalah bahwa mendengarkan lagu sebagai hiburan tak bisa dinikmati sambil lalu. MP3 player hanya bisa diunduh di komputer, kapasitasnya terbatas, dan file peranti ini memakan kapasitas komputer kita. Jobs membuat tiga hal itu sebagai problem yang dihadapi para audiens ketika mendengarkan lagu. Maka ketika ia mengenalkan iPod sebagai “penyimpan 1.000 lagu di sakumu”, audiens terkejut dan bersorak karena menemukan solusi dari masalah tersebut. Jobs tampil sebagai pahlawan.

Headline. Jobs paham belaka apa yang dibutuhkan wartawan ketika menulis berita. Mereka butuh judul yang menohok. Ia meniru cara wartawan membuat headline dengan menciptakan slogan bagi setiap produk itu dalam presentasinya. Macbook Air adalah “a thinnest laptop in the world”, iPhone adalah “Apple reinvent the phone”, iPod adalah “penyimpan seribu lagu di sakumu.” Kata-kata kunci itu ia ulang terus selama presentasi. Maka selesai acara, semua media mengutip slogan itu sebagai judul berita!

Tiga
pokok
. Rules of
Three
dipakai Jobs untuk merumuskan banyak hal. Ketika meluncurkan iPhone
ia mengatakan bahwa, “Hari ini kita akan berkenalan dengan produk yang
revolusioner: iPod dengan layar lebar, telepon yang canggih, dan yang bisa
terkoneksi Internet.” Tiga hal itu menjawab sekaligus problem pemakai Macbook,
iPod, dan Nokia atau Blackberry yang sedang merajai pasar waktu iPhone
diluncurkan.

Analogi dan metafora. Analogi adalah perbandingan dua hal yang beririsan. Metafora mengefektifkan analogi agar cepat dipahami pembaca. Mikroprosesor seperti otak dalam komputer, contoh yang sederhana. Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journals sebelum manggung di sebuah acara bersama Bill Gates, setelah meluncurkan iTunes, Jobs berkelakar soal begitu banyak pemakai Windows mengunduh iTunes untuk mendengarkan musik. “Itu seperti memberi segelas air es kepada penghuni neraka.” Keseluruhan kalimat ini adalah analogi. Air es dan neraka adalah metafora untuk iTunes dan Microsoft. Gates tiba beberapa menit kemudian dan mendengar percakapan itu. “So, saya datang sebagai perwakilan dari neraka.” Selera humor dua orang jenius.

Sederhana. Steve Jobs sangat irit kata-kata di slide presentasinya. Ketika meluncurkan iPhone 3G hanya ada satu slide dengan satu kata dalam 11 slide presentasi, yakni “iPhone 3G” itu. Lainnya adalah foto, gambar, dan video klip. Alih-alih memakai poin-poin dalam tiap slide, ia hanya menghadirkan gambar. Dalam buku ini Gallo menganalisis pemakaian kata dalam slide presentasi antara Jobs dan Bill Gates. Jobs jauh lebih simpel, bahkan hingga pilihan-pilihan kata dalam ucapannya–padahal The Gates Notes menjadi blog yang menyenangkan justru karena kesederhanaan pilihan diksinya. Jobs menghindari kata-kata dan istilah yang sulit dicerna orang umum. Para analisis presentasi Jobs mengenalkan apa yang disebut “slidument”, yaitu slide yang penuh dokumen dan kata-kata, yang sangat dihindari Jobs. Dengan slide yang sederhana, audiens akan tetap fokus pada Jobs dan ceritanya, bukan teralih pada slide yang rumit. Jobs, sementara itu, juga tak sering menengok layar untuk membacakan slide. Bagi Jobs, slide hanya alat bantu nomor sekian. Bintang utama di panggung tetap ia dan ceritanya.

Berbagi
panggung
. Jobs acap mengundang orang lain naik ke
panggungnya dan meminta dia membuat testimoni. Dalam komunikasi, ini hal
penting. Tingkat kepercayaan seseorang acap rendah jika kita mempromosikan diri
sendiri. Tapi promosi yang sama akan menaikkan tingkat kepercayaan itu jika
disampaikan orang lain. Testimoni selalu lebih kuat ketimbang promosi diri sendiri.

Storry
Telling
. Ini kekuatan utama Steve Jobs. Ia memakai cerita
untuk keseluruhan produknya. Cerita tak hanya ia pakai ketika presentasi dalam
peluncuran, tapi kekuatan utama dalam sejarah Apple. Maka ada iPhone 1, iPad 2,
iPhone X. Angka-angka itu membuat kita menunggu inovasi baru yang akan dibuat
Jobs dalam produk berikutnya. Ia membuat publik terlibat sebagai pahlawan,
korban, dan pemeran pendukung dalam semua produk yang sedang ia ciptakan. Tak
heran jika orang antre tiap kali Apple meluncurkan produk mereka. Pembeli ingin
merasakan sensasi dan pengalaman yang diceritakan Jobs.

Humor. Di antara cerita, Jobs menyelipkan humor-humor kecil untuk menggaet
perhatian pendengar. Humor membuat cerita mengendur dan menghibur, semacam
spasi pada otak manusia yang tengah berjuang mencari informasi dari presentasi
Jobs.

Jeda. Ciri lain presentasi Steve Jobs adalah memberi jeda di antara cerita
dan presentasinya. Ini membuat pendengar tak terus menerus dibombardir dengan
informasi. Ia memberikan jeda agar otak penonton beristirahat untuk terkoneksi
kembali ketika Jobs melanjutkan ceritanya.

Di luar semua itu, Jobs tahu persis apa yang ia presentasikan. Menurut Gallo, Jobs berlatih selama dua hari dengan timnya sebelum acara peluncuran produk itu. Mereka menghabiskan berpuluh-puluh jam untuk latihan dan membuat slide. Jobs yang perfeksionis mencoba dan mencoba lagi produk baru itu lalu mengintegrasikannya dalam slide presentasi.

Saya ingat buku Outliers tentang observasi Malcom Gladwell yang menganalisis orang-orang sukses dalam banyak bidang. Menurut dia, mereka yang sukses dengan keahliannya adalah mereka yang telah menempuh latihan 10.000 jam. The Beatles, band pop Inggris yang termasyhur itu, menghabiskan 12 ribu jam latihan bersama sebelum sukses di konser pertama mereka pada 1964. Pemain piano, para atlet, ilmuwan, sukses setelah menempuh gagal dan coba-coba selama 10.000 jam. Rupanya, latihan dan kerja keras, bukan bakat, yang menentukan kesuksesan tiap-tiap orang.

Jobs juga tahu apa yang dia jual. Ia menghindari kesan sedang menjual barang ketika presentasi. Ia memang acap memakai kata-kata bombastis: luar biasa, hebat, dahsyat–tapi ia lebih menekankan pada pengalaman. Dalam semua wawancaranya, Jobs selalu menghindari menjawab pertanyaan teknis seperti apa pentingnya iPhone bagi Apple. Alih-alih menjawab bahwa iPhone adalah penopang keuntungan perusahaan dan meningkatkan kepercayaan pemegang saham, ia menjawab bahwa “iPhone adalah inovasi Apple membuat dunia lebih baik dengan teknologi.” Ia selalu menjual visi.

Steve Jobs adalah penampil terbesar dalam sejarah
presentasi, marketing, dan teknologi.
Standar baru yang dibuatnya telah mengubah dunia dan umat manusia setelah ia
tiada.

Sketsa pensil Steve Jobs dari Pinterest.

BAGIKAN
0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *