Begadang Memang Tiada Artinya

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2018/12/08/begadang-memang-tiada-artinya/
RSS
Follow by Email

Begadang bisa menjadi bencana umat manusia. Sebuah studi komprehensif tentang kerja otak, tubuh, ingatan, juga peran mimpi dalam memori kita.

SETELAH membaca buku ini saya jadi takut membawa buku ke kamar tidur. Melalui Why We Sleep, Matthew Walker menunjukkan bahwa kurang tidur bisa membuatmu mati lebih cepat.

Kemajuan peradaban, kata Walker, juga telah merampas waktu tidur manusia modern akibat teknologi lampu dan listrik membuat malam tetap terang. Kehadiran lampu itu menjadi salah satu penyebab manusia berubah memandang waktu. Lampu itu pula yang membuat jam kerja manusia modern, terutama di perkotaan, menjadi lebih panjang. Dampaknya adalah tidur mereka berkurang satu-setengah jam dibanding manusia purba yang terlelap 7,6 jam.

Dosen ilmu syaraf dan psikolog di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, ini mengatakan bahwa membaca buku bisa menginterupsi memori dan membuat tidur tak sempurna. Membaca dengan lampu terang adalah distraksi tidur karena mata dan pikiran terdorong untuk terus berjaga.

Walker, 46 tahun, meneliti urusan tidur ini selama lebih dari 20 tahun. Ia mengamati keadaan otak manusia yang tidur di bawah 4 jam, 4-6 jam, dan mereka yang tidur rata-rata 8 jam semalam. Data-data penelitiannya itu ia hubungkan dengan banyak hal: tingkat kecerdasan, kecelakaan, penurunan ingatan, kerusakan otak, kepikunan, serangan jantung, hingga kanker.

Di luar soal cara penyajiannya yang menyenangkan, dengan kalimat sederhana yang terang dan jelas, temuan Walker agak mengerikan. Orang yang tidur 4 jam memiliki peluang kecelakaan lalu lintas sebesar 60 persen dibanding mereka yang tidur 8 jam. Kerusakan otak pada mereka yang tidur 4 jam sama dengan kerusakan otak pecandu alkohol.

Mereka yang tidur 4 jam juga punya ingatan yang lebih buruk dibanding mereka yang tidur 8 jam. Ini kesimpulan Walker dari serangkaian penelitian terhadap mahasiswanya. Walker meminta para responden belajar main piano. Mereka diminta menuliskan nada dengan dua tangan sesuai irama, seperti mereka sedang memencet tuts.

Esoknya, setelah para mahasiswa itu tidur, Walker mengamati tingkat kefasihan mereka main piano dan menghafal nada. Mahasiswa yang tidur delapan jam ternyata punya memori yang lebih kuat terhadap nada dan lebih fasih main piano ketimbang mereka yang tidur kurang dari 6 jam.

Rupanya, Walker menyimpulkan, tidur 8 jam adalah durasi terbaik bagi otak dalam menyimpan dan mentransfer ingatan dari memori jangka pendek ke panjang , atau melupakannya. Memori yang tersimpan di otak dan di otot jari para mahasiswa tersimpan dengan sempurna bagi mereka yang tidur delapan jam pada malam sebelumnya.

Selain di otak, otot manusia juga ternyata punya memori. Itulah kenapa ada manusia seperti Lionel Messi yang kakinya seolah punya mata. Ketika menggiring bola, kaki itu giras menghindari hadangan kaki lawan, hingga menendangnya dengan akurat ke pojok gawang yang tak bisa dijangkau kiper. Kemampuan Messi itu adalah hasil dari latihan yang keras dan tekun hingga prosesnya tersimpan di otak dan otot kaki serta keseluruhan tubuhnya ketika bermain dalam sebuah pertandingan sepak bola.

Pada dasarnya otak manusia terbagi dalam dua peran: otak tidur dan otak tak tidur. Pada bayi, rasio keduanya 50:50. Peran otak tidur terus menurun seiring usia hingga stabil pada angka 80:20. Otak yang tak tidur itulah yang berperan mengolah mimpi dan memori ketika kita tidur.

Tak seperti Sigmund Freud yang percaya mimpi punya makna, Walker menganggap mimpi hanya residu memori. Karena itu tidur yang nyenyak membuat kita tak mengingat mimpi karena otak tak tidur kita sibuk mentransfer dan menyimpan ingatan ke dalam memori. Sebaliknya, durasi tidur yang kurang membuat sistem kerja otak terganggu sehingga kemampuannya mencerna dan mengolah informasi menurun lebih cepat.

Karena tidur begitu penting dalam siklus hidup manusia, pada bagian akhir, Walker menyarankan pemerintah di negara mana pun memperhatikan kebutuhan tidur warga negaranya. Kemajuan ekonomi, yang membuat penduduk kota lebih banyak melek akibat kesibukan dan kemacetan, adalah malapetaka bagi umat manusia.

Dampaknya tak hanya pengeluaran negara lebih besar akibat biaya pengobatan naik, produktivitas dan kualitas penduduk juga menurun yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Pemerintah Inggris kehilangan 30 miliar Euro setahun atau setara 2 persen PDB akibat penduduknya suka begadang.

Walker menyebut diri seorang “penidur yang serius”. Buku yang ia tulis selama empat tahun ini banyak memutarbalikkan fakta dan anggapan umum, seperti tidur menandakan kemalasan dan tak produktif. Faktanya, kurang tidur justru membuat hidup boros dan tak produktif. Dengan temuan-temuan soal dampak buruk kurang tidur itu, buku ini jelas tak baik dibawa ke kamar tidur.

BAGIKAN
0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

2 thoughts on “Begadang Memang Tiada Artinya”

  1. Saya rasa ini benar untuk general population, kecuali pada outliers, krn spec tubuh manusia juga sepertinya ada yg berbeda2. Spt kondisi otak saya yg kamu tau, ini membuat saya bisa berfungsi “normal” (whatever normal is defined by society) dengan tidur sgt sedikit sejak umur 15 thn. Tapi changing in behaviour/sleeping pattern memang akan memberi efek buruk misalnya gampang lupa tadi. Yg perlu diperjelas adalah sample yang digunakan oleh bapak ini saat bilang mahasiswa yg tidur 8 jam versus 6 jam, ini apakah mrk yg memang habits and needs prior to the research butuh 8 jam dan butuh 6 jam, ataukah semua biasa dan perlu tidur 8 jam tapi lalu dikondisikan ada grup yg disuruh tidur 6jam saja sebagai sample pembanding (meaning they were operating on a induced sleep-deprivation).

    1. Benar. Tentu saja kesimpulan2 itu terbatas pada sampel dalam penelitian. Bapak ini banyak meneliti soal tidur dg batas pada 3 durasi waktu itu. Kesimpulan umumnya adalah tidur 8 jam lebih cocok dengan siklus kerja otak mamalia. Jadi kesimpulan dia adalah kecenderungan pada cara kerja otak, dengan standar otak mamalia itu. Budaya, teknologi, dll membuat durasi tidur juga berubah. Dia percaya tubuh berevolusi. Kecuali mimpi. Dia bilang hanya mimpi yang tak mengalami evolusi pada manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *