Panduan Menulis Kolom di Media

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Cara Mahbub Djunaidi menulis kolom di media layak dipelajari. Agar opini tak sekadar menambah pengetahuan tapi juga menghibur.

BAGI mereka yang coba-coba menulis kolom untuk media, sebaiknya membaca buku ini. Bagi pemula yang artikelnya selalu ditolak penjaga kolom di media, ada baiknya mempelajari kolom-kolom di buku ini. Bagi mereka yang artikelnya bolak-balik dimuat media, tak ada salahnya membaca kembali buku ini agar artikel opini lebih lentur dan menghibur.

Humor Jurnalistik (Mahbub Djunaidi, 2018)

Menghibur adalah unsur pokok dalam artikel-artikel di media massa. Maka slogan majalah Tempo adalah “enak dibaca dan perlu”. Tiap artikel pertama-tama harus enak dibaca. Bahwa informasinya perlu, tergantung kebutuhan dan tingkat pengetahuan pembaca. Mereka akan merasa mendapat manfaat ketika membaca sebuah tulisan yang enak dibaca kendati tak memerlukan informasinya.

Sebuah artikel bisa jadi banyak menyimpan informasi, tapi informasi itu sulit dicerna karena penulis menyajikannya secara mendakik-dakik, tak enak dibaca. Sebagai pengasuh kolom di majalah Tempo, saya membaca kiriman artikel semacam ini setiap hari. Informasi dalam artikel itu penting tapi penyampainnya amburadul.

Mahbub Djunaidi, wartawan dan politikus sejak Orde Lama, layak jadi contoh bagaimana menulis kolom yang menghibur untuk media. Meski kolom-kolom yang dikumpulkan dalam “Humor Jurnalistik” ini berasal dari masa 1960-1980, yang diterbitkan ulang dari edisi 1986, ia tetap segar dibaca karena unsur hiburan tak lekang oleh waktu. Judul sampulnya memang kurang pas karena kolom-kolom di sini tak berisi usaha-usaha Mahbub melucu dalam tulisan.

Humor itu adalah cara Mahbub melihat segala problem yang menjadi tema artikelnya. Aktivis Nahdlatul Ulama dari Betawi yang meninggal pada 1995 ini selalu melihat hal-hal rumit dengan kacamata yang tak biasa. Karena itu menjadi nyeleneh. Karena itu mungkin jadi terasa lucu. Dan karena itu pula, kritik-kritik Mahbub tak terasa menohok kendati ia tak segan-segan menuding nama-nama tertentu.

Setidaknya ada empat hal yang bisa kita pelajari dari cara Mahbub menulis kolom:

Tokoh dan Masalah. Mahbub memakai tokoh sebagai simbol dari problem yang ia bahas. Dengan mewakilkan masalah pada tokoh, problem itu menjadi berwajah. Dengan problem yang berwajah itu, masalah menjadi dekat dengan kita—para pembaca—sehingga saran-saran penyelesaiannya pun mudah kita pahami. Kita bisa setuju atau menolak pendapatnya, tapi Mahbub menopang saran-saran itu dengan argumen yang masuk akal. Tokohnya bermacam-macam. Ada Ketua DPR, menteri, penulis, presiden, Direktur BUMN.

Argumen. Artikel opini digerakkan oleh pendapat penulisnya atas problem-problem yang ia bahas itu. Roda atas pendapat tersebut adalah argumen. Kita mengikuti jalan pikiran dan menyerap pengetahuan serta pengalaman Mahbub yang luas dari argumen-argumen yang ia bangun dalam seluruh tulisan. Saya tertarik membaca Mahbub, tidak saja ingin menikmati tulisannya, tapi juga ingin mengetahui argumennya yang unik terhadap sebuah masalah. Keunikan itu menjadi nilai jual sebuah artikel opini. Pondasinya bisa komparasi penyelesaian masalah yang sama di tempat lain atau referensi orang lain menghadapi masalah yang mirip dan serupa. Komparasi yang dibangun penulis itu lahir dari pengetahuan dan pengalaman, yang unik karena keduanya bisa berbeda kadarnya pada tiap-tiap orang.

Cerita. Ini adalah pokok utama sebuah artikel. Sebuah penelitian University of Pennsylvania pada 2006 menemukan bahwa orang yang membaca pengumuman Yayasan Save The Children melalui cerita ternyata menyumbangkan uang lebih banyak dari mereka yang mendapat iklan melalui gambar dan infografik. Cerita rupanya lebih menggugah ketimbang data-data meski disajikan dalam gambar maupun grafis yang menarik.

Penelitian University of Pennsylvania (2006) terhadap dorongan orang dalam menyumbang. Mereka yang terpapar iklan melalui cerita menyumbangkan uangnya dua kali lebih banyak dibanding mereka yang melihat iklan melalui gambar atau grafik

Mahbub Djunaidi memakai unsur-unsur cerita (tokoh, alur, konflik, penyelesaian) dalam kolom-kolomnya untuk menggugah pembaca terhadap masalah yang ia bahas. Cara ini juga dipakai Steve Jobs dalam ceramah-ceramahnya yang memikat ketika mengenalkan produk baru Apple. Ia memulainya dengan problem yang dihadapi para konsumen. Problem itu ia jadikan musuh bersama sebagai tokoh antagonis. Di akhir presentasi, masalah dan “kejahatan” itu terjawab oleh produk Apple yang ia luncurkan. Audiens pun menjadi senang atas solusi itu sehingga, tak heran, jika produk baru Apple selalu diserbu oleh pembeli di hari pertama peluncuran ke pasar. Orang menjadi penasaran dengan apa yang disampaikan Jobs dalam presentasinya itu.

Bahasa dan Metafora. Mahbub punya pengucapan yang khas dan lentur dalam artikel-artikelnya. Ia, misalnya, menyebut orang yang bengong dengan “terlongo-longo” atau keributan dengan “bercerecet”. Diksi-diksi tak biasa itu menjadi unik dan tetap sublim dalam cerita, apalagi Mahbub mengemasnya dengan metafora yang tererak dari situasi sehari-hari. “Keringat menyembul seperti embun di dahinya.” Khiasan seperti ini memperkuat deskripsi ketimbang hanya menyajikannya secara denotatif. Perbandingan membuat pembaca bisa membayangkan deskripsi yang dibangun penulis.

Bahasa juga menjadi penting, jika bukan yang paling utama. Artikel yang bagus pertama-tama sampai melalui bahasa yang tertib. Dalam arti, ia sudah beres dalam urusan gramatikanya. Dari banyak kolom yang saya baca, bahkan dari banyak penulis terkenal, masih acap tersaji kalimat-kalimat yang kacau. Subjek dan objek tertukar, tak bisa membedakan kalimat pasif dan aktif, hingga urusan ejaan yang salah: seperti “merubah”, “di tekan”, atau pemakaian konjungsi yang keliru sehingga memudarkan opini yang kuat atas sebuah masalah. Tulisan-tulisan Mahbub Djunaidi bisa menghibur karena sudah lewat urusan-urusan kebahasaan semacam ini.

DALAM teknik menulis dikenal istilah feature. Ini sebetulnya strategi penulis mengawetkan informasi dengan membungkusnya dalam cerita. Gaya feature dipakai para penulis untuk menghindarkan pembaca dari kebosanan bahkan menggugahnya untuk merasa terlibat dalam cerita yang dibacanya itu.


Sebab, pada dasarnya, menulis itu untuk memberitahu yang belum tahu, tak menggurui bagi yang sudah tahu.
Kolom adalah feature yang diberi bobot opini dan perspektif penulisnya.

Kartun oleh Yuyun Nurachman

BAGIKAN
error0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

3 thoughts on “Panduan Menulis Kolom di Media”

    1. Op-ed atau opinion-editorial. Penulisnya bukan anggota redaksi karena kalo yang nulis redaksi disebut editorial saja. Tapi bisa juga redaksi menulis kolom di luar halaman editorial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *