Cara Berpikir Saintifik

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Buku Carl Sagan yang memprovokasi setiap orang agar berpikir secara saintifik: ragu, curiga, dan penasaran pada segala hal. Buku yang berbahaya.

BISNIS skeptisisme adalah bisnis yang membahayakan, tulis Carl Sagan dalam The Demon- Haunted World. Kepustakaan Populer Gramedia mengindonesiakan judul buku yang terbit 1996 pada akhir tahun lalu ini menjadi Sains Penerang Kegelapan. Maka seperti ungkapannya sendiri, buku Carl Sagan ini menjadi buku berbahaya karena sepenuhnya memprovokasi tiap orang agar selalu berpikir skeptis pada segala hal.

Carl Sagan—nama samaran David Duncan, profesor astronomi dan ilmu luar angkasa di Cornell University, Amerika Serikat—menunjukkan dengan telak skeptisisme telah menyelamatkan dan mengantarkan peradaban manusia hingga dunia modern hari ini. Tanpa mereka yang meragukan banyak hal, kita tak akan sampai pada zaman pencerahan. Kita berutang pada mereka yang mempertanyakan hal-ihwal lalu mencari jawaban yang lebih empiris untuk mendekati kebenaran.

Merekalah para ilmuwan. Mereka yang mempertaruhkan hidup untuk mempertanyakan tatanan- tatanan yang sudah mapan di masyarakat. Mereka yang bersedia mempertahankan pendapat kendati nyawa menjadi taruhan karena meyakini pendapat itu ditopang oleh bukti-bukti, bukan asumsi apalagi kepercayaan yang tak punya dasar. Carl Sagan salah satu ilmuwan yang meneruskan tradisi itu.

The Demon-Haunted World (Carl Sagan, 1996)

Dengan bersemangat dan argumen yang solid, Sagan menyerang kepercayaan banyak orang terhadap takhayul dan sihir yang kadung berkembang diyakini orang banyak. Ia meragukan UFO atau benda aneh yang melayang di udara. Ia tak percaya cerita umum turunnya alien meski kisah dan kesaksian banyak orang dikutip jurnal yang pura-pura ilmiah padahal tak ditopang bukti- bukti kuat.

Sebagai profesor astronomi, Sagan tak memungkiri kemungkinan ada alien, mahluk cerdas selain manusia yang hidup di planet lain, di antara triliunan bintang di semesta yang maha luas ini. Namun, ia tak percaya alien singgah di bumi, menculik perempuan atau laki-laki untuk diambil spermanya atau memperkosa mereka dengan tujuan melanggengkan keturunan.

Carl Sagan langsung menyerang cerita itu dengan argumen dan logika sederhana: bagaimana mungkin alien yang cerdas dalam ilmu fisika begitu bodoh dalam ilmu biologi? Secara keilmuwan tak mungkin sperma dan ovum alien dan manusia bisa menyatu karena kromosomnya berbeda. Apakah persilangan genetis mahluk dimensi empat dengan manusia dimensi tiga bisa menghasilkan mahluk berdimensi 3,5? (halaman 206).

UFO hanya salah satu pokok bahasan Carl Sagan untuk mengurai logika sesat dan kesalahan berpikir umumnya banyak orang terhadap fakta yang bukan fakta, yaitu fakta yang dianggap realitas hanya karena dipercaya orang banyak. Ia mengajak kita mempercayai sesuatu jika
terdapat informasi yang cukup dan teruji secara empiris. Cara untuk mencapainya adalah, itu tadi, selalu skeptis pada banyak hal.

Sikap skeptis menuntut kita untuk penasaran, ragu-ragu, bahkan curiga pada informasi yang kita terima. Dengan senjata ini kita akan selamat dari tipuan hoaks yang hari ini mewarnai wacana publik. Hanya mereka yang gampang percaya yang mudah termanipulasi oleh sebuah berita yang belum jelas duduk soalnya. Demikianlah cara para ilmuwan bekerja mendekati kebenaran, mengoreksinya, menemukannya kembali, mengoreksinya lagi.

Maka kebenaran hari ini adalah kebenaran yang telah terkoreksi oleh kebenaran-kebenaran sebelumnya yang terus diuji landasan logika dan perspektifnya.

Dengan kata lain, Carl Sagan sesungguhnya tengah mempromosikan cara berpikir yang adil. Sebab klaim yang tak bisa diuji, pernyataan yang kebal terhadap bantahan, tidak ada harganya dari segi kenyataan, apa pun nilai yang mungkin dimilikinya dalam mengilhami atau memicu rasa takjub kita.

Pertanyaannya, sejauh mana kita harus skeptis pada sesuatu? Carl Sagan mengutip Descartes, dalam bab Seni Mendeteksi Omong Kosong, yang mengatakan, “Saya tak meniru orang-rang skeptis yang meragukan hanya untuk meragukan. Seluruh niat saya adalah tiba pada kepastian, menyingkirkan debu dan pasir sampai saya mencapai batu atau tanah liat di bawahnya.”

Ironisnya, atau mujurnya, meski sains selalu memakai skeptisisme sebagai senjata utamanya, ia harus membuka diri pada gagasan-gagasan baru, betapa pun idenya ngawur. Menurut Sagan, mudah takjub pada sebuah informasi tapi saat bersamaan skeptis dengan menuntut bukti yang ketat terhadapnya adalah modal kita menuju peradaban.

Gambar: The Scientist


BAGIKAN
error0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

4 thoughts on “Cara Berpikir Saintifik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *