Catatan Mudik 2019

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2019/06/10/catatan-mudik-2019/
RSS
Follow by Email

Spring bed yang kita pakai tidur itu, berakibat pada kekeringan di kampung. Perubahan iklim nyata adanya.

DI kampung, perubahan iklim dan pemanasan global ditandai oleh serangan babi ke kebun dan sawah. Mudik pekan ini, saya mendengar lebih banyak cerita bagaimana para petani rungsing oleh serangan hama itu. Mereka melek di sawah berjaga hingga subuh untuk mempertahankan sepetak palawija dengan untung tak seberapa.

Para babi turun gunung ke ladang karena tak ada lagi makanan di hutan-hutan, sejak anak-anak muda lebih senang dagang asongan di kota, atau menjadi buruh bangunan dengan upah harian. Mereka tak meneruskan jejak dan warisan para orang tua. Sementara para orang tua sudah jompo dan tak bisa lagi mengayun cangkul.

Maka tak ada lagi yang berkeliaran di hutan-hutan, di gunung-gunung yang singkur. Menaiki dua bukit itu, tempat dulu menggembalakan kambing atau kerbau dengan suka cita, bulu kuduk saya meremang. Agaknya hutan-hutan ini telah kembali ditunggu genderuwo, kelong wewe, dan hantu-hantu purba yang bercokol dalam ingatan anak-anak yang nakal. Sunyi. Sepi. Sendiri.

Agaknya lebih dari itu. Saya merasakan kesuwungan yang sempurna, di lembah-lembah yang rimbun tak beraturan. Dulu, di sana itu 30 tahun lalu itu, Pak Rakim terdengar menyanyi di balik-balik pohon yang ranum. Dulu, di sana itu, Mang Rukanda berteriak memanggil nama siapa saja yang lewat hanya untuk memainkan gema suara yang memantul-mantul dinding lamping.

Kini gawir dan rungkun telah menjadi rumah babi yang kelaparan. Mereka turun ke kebun penduduk di dekat desa pada malam ketika seharusnya petani beristirahat setelah seharian memeriksa tanaman. Kini petani harus bisa mengatur waktu agar bisa istirahat dan bekerja.

Agaknya, babi-babi itu tak lagi punya makanan karena kini serasah tak lagi membusuk menumbuhkan cacing. Serasah di hutan-hutan hanya kering di musim kemarau tanpa menjadi kompos karena tak ada lagi tai burung yang membusukkannya. Burung-burung telah menghilang dari pohon-pohon itu karena diburu orang desa untuk dijual ke kota. “Di Jakarta, mungkin sekarang lebih banyak burung ketimbang di sini,” kata seorang teman SD yang bertahan menjadi petani.

Para pemburu menangkap induk burung apa saja sehingga kini mereka musnah. Bahkan tekukur yang biasanya hinggap di pohon-pohon tepi hutan.

Akibatnya, karena pohon jadi merana setelah ditinggal burung-burung, sawah menjadi kering karena mata air juga tumpas akibat tanah gersang. Dengan sawah yang mengering sudah lima tahun para petani tak lagi menemukan belut bahkan ketika musim tandur padi. Belum lagi hama invasif yang berubah gen akibat pemakaian pupuk dan pestisida.

Sejak petani berkurang, jarang ada yang memelihara kambing. Akibatnya rumput bukan lagi barang mewah. Para petani menyemprot rumput yang menjadi gulma di sekitar tanaman dengan pestisida. Memang efektif dan rumput mati tanpa membunuh tanaman utama. Tapi, agaknya, kimia itu membuat kebal hewan di sekitarnya. Mereka jadi tahan terhadap proteksi alami pupuk kandang dan tetap menyerang tanaman bahkan setelah disemprot endrin.

Dari gunung itu saya turun ke sawah becek. Masih berair tapi tak lagi berlumpur. Dasarnya kini pasir dan airnya sedikit berminyak. Ke mana lumpur-lumpur itu? “Hilang,” kata Samsudin, teman SD yang lain. “Sejak tak ada kapuk, sawah sudah tak berlumpur.” Bagaimana menghubungkannya?

Dulu, sepanjang jalan kampung yang membatasi desa dengan persawahan, berjejer pohon-pohon randu sebesar perut kerbau. Jika musim gugur, kapuknya beterbangan hingga masuk ruang-ruang kelas di sekolah dekat sawah. Anak-anak kampung tahu belaka, kapuk yang terbang sedang dipanen oleh para petani.

Mereka menjual kapuk kepada siapa saja yang membutuhkannya untuk membuat kasur baru, terutama kepada para pengantin baru. Dari 12 bulan, hanya dua bulan—Puasa dan Hapit—yang tak ada hajatan. Musim kawin atau sunatan berlangsung selama 10 bulan sepanjang tahun. Kapuk menjadi komoditas yang diandalkan petani sebagai penghasilan tambahan. Akar-akarnya yang menjuntai menjadi rumah air sehingga lapisan tanah di bawahnya menjadi gembur.

Kini para pengantin baru tak lagi memakai kasur kapuk yang lembek jika sudah lama ditiduri. Mereka lebih senang membeli spring bed, kasur busa dengan per yang tebal, empuk, dan memang nyaman itu. Para petani yang merasa kapuk tak lagi berfaedah menebangnya untuk dijadikan kayu bakar. “Kami umumnya tak tahu pohon randu punya fungsi lain menahan air,” kata Sudin.

Para petani pun terdesak atas-bawah. Dari bawah tak ada lagi air sehingga mereka harus memompakan air ke atasnya. Itu pun sumur-sumur sudah mulai mengering karena mata airnya terganggu akibat tak ada lagi pohon basah di atas gunung. Dari atas mereka harus begadang untuk menghalau babi. Apalagi musim juga tak lagi menentu.

Di bulan puasa kemarin, kampung saya nyaris tak terpapar hujan sama sekali. Padahal dulu tiap Ramadan selalu berhujan. Tiap Ramadan musala penuh jamaah karena, konon, malam yang berhujan adalah waktu turun lailatul qodar—malam yang pahala ibadahnya setara seribu bulan.

Dengan situasi seperti itu, menjadi petani kian tak menarik. Anak-anak muda pun kian banyak yang ke kota, lalu pulang membawa uang tunai karena cocok dengan kebutuhan telepon seluler untuk update status WhatsApp dan Facebook atau swafoto di Instagram. Telepon seluler membutuhkan uang tunai karena membutuhkan pulsa. Jadi petani sangat tidak cocok dengan kebutuhan yang kini jadi primer itu.

Sudin berhitung, menanam kacang tanah butuh waktu tiga bulan. Untuk lahan 200 bata ia butuh modal Rp 1,4 juta—menanam, menyiangi, beli kopi untuk menunggu agar tak diserang babi, beli bensin untuk pompa. Hasilnya: 4 kuintal yang jika dijual hanya laku Rp 1,7 juta. Hanya Rp 100 ribu per bulan! “Siapa yang mau punya penghasilan sekecil itu?” tanyanya. Entah kepada siapa.

Bandingkan dengan menjadi buruh bangunan. Sehari bisa mendapar Rp 150.000. Potong makan bisa sisa Rp 100 ribu x 3 bulan kurangi ongkos pulang-pergi, seorang buruh masih bisa membawa pulang Rp 6-8 juta. Mereka kumpulkan uang itu untuk modal menikah lalu membuat rumah, di lahan yang ketika ia lahir adalah sawah orang tuanya. Permukiman mendesak, sawah menipis, diserbu babi pula.

Saya tidak tahu apakah ini catatan yang pesimistis. Sebab di jalan kampung yang beraspal itu anak-anak muda mengebut dengan sepeda motor terbaru. Para penjual makanan hilir mudik dan dikerumuni orang yang jajan. Pasar malam pada Jumat pekan lalu bertambah luas dibanding Lebaran tahun lalu dengan jumlah pembeli kian berjubel saja.

Orang punya uang, dan agaknya tak terlalu risau dengan jumlah sawah dan ladang, juga burung dan kumbang, yang berkurang.

BAGIKAN
0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

2 thoughts on “Catatan Mudik 2019”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *