Orwell, 1984, Kita

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2019/07/16/orwell-1984-kita/
RSS
Follow by Email

Novel 1984 berusia 70 tahun. Isinya makin relevan.

HARI ini 70 tahun satu bulan lalu novel 1984 terbit, enam bulan sebelum penulisnya, George Orwell yang berusia 47 tahun, wafat di rumah sakit University College Inggris setelah dua tahun menderita TBC. Novel 1984 agaknya novel paling terkenal abad 20 dan mungkin 21. Setelah terbit, sampai 1980, buku ini dicetak berulang kali hingga terjual 4 juta kopi.

Judulnya seperti ramalan meskipun isinya menceritakan tentang distopia di Rusia era Stalin yang mengibarkan panji komunisme dengan menerapkan ajaran Lenin tentang kekerasan dan pemaksaan kehendak kekuasaan. Novel 1984 merupakan novel perang karena Orwell melanglang hingga ke Burma dan ikut perang saudara di Spanyol. Pengalaman-pengalaman dalam hidupnya yang pendek itu yang mewarnai keseluruhan novel ini.

Agaknya, di luar soal distopia kekuasaan yang absurd, 1984 sesungguhnya memang novel yang meramal. Tidak saja mengacu ke tahun 1984, tapi merujuk pada keadaan ketika dunia tak lagi menerapkan demokrasi liberal. Tak ada kebebasan Winston bahkan ketika ia hendak bersanggama dengan pacarnya. Laki-laki yang dipaksa menerima bahwa 2 + 2 = 5 ini harus berpikir ulang tiap hendak melakukan sesuatu karena khawatir mengkhianati negaranya.

Tanpa menimbang ulang ia akan kena sanksi sebab “Bung Besar” mengawasi gerak-gerik bahkan pikiran-pikiran tiap orang. Lalu kita ingat Jerman di era Nazi dengan Kementerian Propaganda yang menterinya meyakini bahwa “kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran”. Winston adalah bukti bahwa ia menerima 2 + 2 = 5 sebagai sebuah fakta karena demikianlah kebohongan itu dibenarkan dan dibenamkan ke dalam pikirannya setiap waktu.

Untuk mendukungnya, penguasa mengubah makna tiap kata menjadi punya dua arti. Arti yang mendukung kekuasaan gelap itulah terus disebarkan. Orwell menyebutnya “bahasa ganda”. Dan kita pernah mengalaminya. Penjahat akan disiarkan telah “diamankan” ketika ditangkap seolah-olah di luar kantor polisi dan Koramil, tempat masyarakat bermukim, adalah tempat yang tak aman. Faktanya, justru di kantor-kantor itulah acap tersiar kabar penjahat disiksa dan dipaksa mengaku atas tindakan kejahatannya untuk memudahkan pencarian bukti.

Penyiksaan adalah cara yang khas kekuasaan absurd seperti di negara Winston. Dengan menyebarkan ketakut, indoktrinasi, dan “pengawasan melekat” itulah hidup sehari-hari berjalan. Individu tak diberikan kebebasan karena kebebasan sangat membahayakan.

Apa yang digambarkan Orwell tak terjadi tahun 1984. Atau sedikit terjadi pada tahun-tahun itu di Indonesia. Justru di era modern sekarang ini ramalan 1984 terwujud kian jelas. Demokrasi liberal pelan-pelan runtuh dengan munculnya Trump yang menyebut hoax dan fake news sebagai alternative facts.

Cina memakai sistem kredit sosial dengan memakai kamera pengawas di tiap sudut untuk mengawasi gerak-gerik warga negaranya. Mereka yang tak setia kepada Tiongkok atau melakukan hal yang mengganggu stabilitas nasional akan kena hukum berupa pemotongan angka kredit yang sanksinya pemotongan subsidi kebutuhan sehari-hari: tiket kereta, asuransi kesehatan, subsidi pendidikan.

Teknologi kecerdasan buatan akan menggantikan manusia dalam hal memproduksi barang dan jasa. Manusia tak ada harganya lagi. Atau manusia didorong untuk hanya diam dan berpikir hal-hal lain menikmati hasil kerja robot sebagai hasil olah ilmu pengetahuan. Tentang kecemasan-kecemasan zaman modern dan dampaknya pada sejarah serta masa depan manusia kita bisa membaca lewat ulasan tajam Yuval Noah Harari di buku 21 Lessons for the 21st Century.

BAGIKAN
0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *