Tenaga Bono U2

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Konser U2 di Singapura dihadiri lebih banyak orang Indonesia. Panggungnya terlalu kecil dan sederhana.

TIAP mendengar Bono menyanyi, entah kenapa, selalu terasa ada tenaga lain di balik suaranya. Mungkin karena parau yang khas, mungkin karena syairnya, barangkali karena tema lagu-lagunya, dan mungkin memang karena yang menyanyi Bono. Tiada lain. Apalagi jika mendengarnya secara langsung.

Di Stadion Nasional Singapura 30 November 2019 malam, suara paraunya menyanyikan 11 lagu dalam album The Joshua Tree—yang sekaligus menjadi nama tur konser U2 keliling dunia—plus 12 lagu lain dari beragam album band rock asal Irlandia itu.

“Terima kasih untuk kesabaran Anda,” kata Bono, penyanyi U2 berusia 59 tahun yang bernama asli Paul David Hewson, begitu usai menyanyikan lagu Sunday Bloody Sunday yang menjadi pembuka konser. “Terima kasih untuk kesabaran Anda menunggu kami 42 tahun di konser ini.”

Bagi para penggemar U2, konser di Singapura seperti pengalaman spiritual karena Bono dan kawan-kawan membawakan lagu-lagu dari album yang menandai ciri khas grup musik ini: menyuarakan sikap dan keberpihakan politik. Bono, misalnya, berlutut ketika bernyanyi “Mother of the Disappeared”—lagu terakhir di album Joshua yang bernada sedih—sebuah eulogi untuk para ibu di Argentina dan Chili yang kehilangan anak-anak mereka karena represi pemerintah di kedua negara tersebut.

Untuk ukuran U2, panggung di Singapura itu terlalu kecil. Selain karena stadion indoor berkapasitas 55.000 orang yang dilengkapi tudung elektrik, panggung tak semegah, misalnya, dibanding panggung konser Coldplay di tempat yang sama dua tahun lalu. Layar besar di belakang panggung bahkan baru menyala setelah lagu keempat sehingga penonton yang duduk di kursi jauh tak bisa melihat raut Bono ketika menyanyi.

Barangkali ini kekurangan tata panggung di Singapura. Layar besar yang menekuk itu dibiarkan gelap dan hanya menyajikan siluet pohon Joshua (Yucca brevifolia) yang seperti jari—pohon yang hidup di gurun Nevada, Amerika Serikat, dan mengilhami Bono menamai album yang dirilis pada 1987 itu. Juga suara yang sempat mendenging ketika suara Bono meninggi di refrain Sunday Bloody Sunday.

Ada dua panggung yang terhubung jalan. Panggung kecil di depan dan berada di tengah kerumunan penonton festival dan zona merah, juga panggung utama yang besar di dekat layar besar. Mereka memainkan empat lagu di panggung kecil. Selain Sunday Bloody Sunday, lalu New Year’s Day, Bad, dan Pride. Mereka berhenti untuk pindah ke panggung utama lalu menyanyikan seluruh album Joshua Tree secara berurutan.

Dalam pidatonya di antara lagu-lagu, Bono kelihatan antusias menyapa, menyeru, meminta menyalakan telepon seluler, dan berjingkrak kepada sekitar 30.000 penonton. “Apakah ini malam rock and roll?” Ia bertanya. Lalu menyanyikan Elevation kemudian Every Breaking Wave dari album Song of Innocence dengan hanya memakai piano oleh The Edge sebelum stadion tambah bergemuruh dengan Beautiful Day.

Lagu paling menarik adalah Ultra Violet (Light My Way), tribut untuk para perempuan dalam sejarah yang memberikan inspirasi dan pionir serta pencerah jalan bagi peradaban. Ada 60 perempuan yang ditampilkan dalam layar besar itu. Dari penulis Maya Angelou hingga komedian Hannah Dagsby, dari Alice Wroe hingga Melinda Gates. Bono memang sedang mempromosikan “herstory”, bukan lagi “history”, dan “poverty is sexiest”. “Tiap kali kamu melihat roh feminin bergerak, ada lompatan kesadaran di dalamnya,” kata dia yang dikutip situs U2.com.

The Edge dengan latar pohon Joshua–sejenis palem yang tumbuh di gurun Amerika.

Wajah 60 perempuan itu ditampilkan dalam gambar besar yang terbagi tiga bagian, seperti beberapa lagu lain yang disertai dengan klip yang naratif sesuai tema lagu. Ketika mereka mengentak dengan lagu “Where the Streets Have No Name” layar besar menampilkan jalan tak bertepi di gurun Amerika, dengan kamera yang bergerak terengah menggapai ujung jalan. Sepi. Terasing. Tanpa nama.

Lagu ini menjadi pembuka album Joshua Tree karena mewakili semangat awal U2 melahirkan lagu-lagu setelah periode itu, setelah Bono bergaul dengan banyak penyanyi rock dan balada Amerika semacam Bob Dylan. Syair Streets Have No Name didapatkan Bono setelah berkunjung ke Ethiopia bersama istrinya. Di sana, status dan agama tiap orang tergambar dari jalan-jalan tempat tinggal mereka. Meskipun cerita lagu itu tentang Belfast, Irlandia Utara, makna lagunya telah jadi umum, ketika agama dan status sosial memecah manusia ke dalam jurang perbedaan.

Barangkali itulah tenaga yang terkandung tiap kali Bono bernyanyi: ia menyuarakan sikap yang teguh, anjuran terhadap perdamaian, penghargaan terhadap persamaan hak, seruan untuk persatuan dunia. Meskipun agak aneh juga pidato-pidato itu karena Bono berbicara di Singapura, sebuah negeri tertib yang tak mencerminkan dunia yang diinginkan Bono. Di sini tak ada demokrasi dan hak-hak sipil tak bebas disuarakan karena jiran ini mementingkan ketertiban dalam segala hal.

Maka lagu penutup dalam konser Singapura adalah One, lagu yang pas, pamitan yang mengesankan:

One life

But we’re not the same

We get to carry each other

Carry each other

Bendera Singapura membentang di layar lebar. Panitia konser agaknya lupa atau tak mencatat asal dan jumlah penonton. Dalam dua hari ini, pada Sabtu dan Minggu, Singapura seperti Lebaran. Di tiap sudut, di pasar atau di jalan raya, di Bugis atau Arab Street, saat mengantre di kopi Arabica yang sedang hits, semua percakapan berlogat Jakarta. Orang Indonesia tumplek di Stadion Nasional Singapura. Bono tak menyapa asal mayoritas penontonnya malam itu…

BAGIKAN
error0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *