Buku 2019

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Buku-buku 2019 yang saya baca. Tiap akhir tahun selalu menyesal mengapa tak banyak membacanya.

TERLALU banyak buku, terlalu sedikit waktu—kata Frank Zappa. Apologia ini jadi terasa keren karena ditunjang kutipan musikus terkenal. Padahal, tak sempat membaca karena, ya, tak sempat saja. Sebab, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu ada banyak buku bagus di tahun ini yang tak sempat terbaca. Berikut ini beberapa yang sudah dan sedang saya baca:

No One is Too Small to Make a Difference. Greta Thunberg benar. Tak ada yang terlalu kecil atau muda untuk membuat perubahan. Remaja 16 tahun asal Swedia itu membuktikannya. Hanya dalam waktu setahun, mogok sekolahnya menuntut para pembuat keputusan agar peduli pada bumi yang tengah memanas ini, menyebar ke seluruh dunia. Ia kini menjadi remaja paling berpengaruh karena anjuran-anjuran dan aksi-aksinya menggugah anak muda, menohok para orang tua. Greta mengingatkan kita sedang kehilangan masa depan jika tak berhenti mengkonsumsi energi yang mengotori udara, terus membabat hutan untuk nafsu ekonomi kita, dan tak segera melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dalam mencegah suhu bumi yang terus naik akibat polusi aktivitas manusia. Judulnya menarik karena sekaligus mengingatkan bahwa dunia masih terkena sindrom tua-muda, kaya-raya, kecil-besar. Padahal bumi yang tengah sekarat ini akan menyerang siapa saja tak peduli predikatnya.

The Demon-Haunted World. Buku lawas Carl Sagan (1934-1996) yang diterbitkan ulang Gramedia. Ahli astronomi ini memprovokasi kita agar tak menyerah pada takhayul, kabar kabur, atau informasi yang belum terbukti secara ilmiah. Ia mengajak kita untuk berpikir sejak mula seperti para ilmuwan: ragu dan skeptik pada segala hal. Ilmuwan bekerja mencari kebenaran, meragukannya ketika mereka hampir menemukannya, mencarinya lagi hingga sampai pada kebenaran yang tak lagi bisa dibantah metodologi menemukannya, pada saat itu. Dalam hal Sagan, kebenaran terikat waktu: kelak kebenaran yang kini ajek bisa runtuh karena ada metode lain menemukannya. Skeptisisme memang bisnis yang berbahaya. Dalam buku ini ia menuliskan kisah Frederick Bailey.

The Library Book. Seperti “Para Pencuri Anggrek”, Susan Orlean membuat kisah nyata sehidup novel. Wartawan The New Yorker ini menginvestigasi kebakaran hebat di perpustakaan publik Los Angeles pada 1986 karena tak terlalu jelas motif di balik kebakaran itu. Polisi memang berhasil meringkus tersangka pelakunya, tapi soal motif tak terang benar, terutama mengapa tersangka ini menyasar buku untuk dihancurkan. Buku ini adalah penelusuran Orlean terhadap mereka yang ada di sekitar kebakaran itu. Di tengahnya, ia menyelipkan sejarah perpustakaan, sejarah buku, sejarah gairah orang pada pengetahuan.

Permanent Record. Buku yang ditunggu-tunggu dari orang paling menggemparkan di abad 21. Berbeda dengan buku-buku tentang Edward Snowden yang ditulis orang lain, otobiografi ini lebih menghibur. Snowden tak menggambarkan NSA atau CIA sebagai lembaga tertutup dengan orang-orang cerdas seperti tergambar dalam biografi maupun film-film Hollywood tentang telik-sandi. Ia mematahkan gambaran itu: kantor NSA tak setegang di fiksi, para intel tak seperti imajinasi Jason Bourne. Ia menulis dengan nada lebih santai. Toh, apa yang dia tulis dari pengalaman itu tetap saja bikin bergidik dan menegangkan. Buku ini merekam gejolak Snowden sebagai orang yang lebih banyak tahu dibanding manusia di seluruh Amerika, orang yang bisa mengakses percakapan orang di seluruh dunia, segala rahasia manusia di alam raya, lalu membagi pengetahuannya ke seluruh dunia. Snowden adalah fenomena dunia modern yang serba terkoneksi.

Rockonomics. Tidak saja tentang ekonomi industri musik, Alan Krueger—penasihat ekonomi Presiden Barrack Obama—mengurai dan coba membuktikan bahwa industri musik menggambarkan keadaan ekonomi sesungguhnya. Sebab musik menyangkut fan, menyangkut manusia, menyangkut psikologi, yang mendorong hasrat purba akan kesenangan kita lalu menghasilkan aktivitas ekonomi. Konser lesu jika ekonomi lesu. Jadi jika ingin melihat bagaimana daya beli masyarakat turun atau naik, lihat ke konserkonser musik. Di situ akan tergambar bagaimana ekonomi sebuah negara. Juga cerita dan analisis bagaimana para musisi mendapatkan penghasilan dari konser ketimbang dari menjual kaset atau rekaman. Zaman digital telah mengubah cara industri musik memasarkan pemantik kesenangan itu, dengan lebih masif.

Socrates in Love. Biografi filsuf Yunani yang pikiran-pikiran dan konsep filosofinya mendasari pemikiran dunia hingga hari ini. Tentang dosa, tentang hukuman, tentang logika-logika pikiran manusia. Armand d’Angour menjungkirbalikkan gambaran Socrates yang selama ini telanjur bercokol dalam bayangan banyak orang dari catatan dua muridnya, Plato dan Xenophon: filsuf gendut dengan kepala botak, bertindak sembarangan, suka ceramah di pasar tentang filsafat, berdebat kapan saja tentang penciptaan dunia dan asal-usul manusia. Atau tentang ucapannya yang terkenal: “Yang saya tahu adalah saya tak tahu apa-apa”. Tak ada bukti apa pun ucapan ini benar-benar kalimat Socrates. Kita menemukannya dari Cicero, filsuf Romawi, yang menulis tentang Socrates 300 tahun setelah kematiannya.

Dalam buku ini, kita melihat Socrates dalam profil lain yang sebaliknya: gagah dengan otot yang mengkal, ganteng, dan pecinta yang ulung. Cinta sejatinya bukan Xanthippe, istrinya yang galak itu, melainkan Alcibiades—perempuan yang masih 15 tahun saat Socrates menemuinya di usia 34. Socrates juga menemukan konsep cinta dari seorang “perempuan bijak” yang selalu ia kutip sebagai Diotima. Ketika ia ditanya “Apa itu cinta?”, Socrates menjawab, “Dari perempuan ini saya belajar tentang cinta.” Socrates bahkan mengartikan “fiolosfi” sebagai “kebajikan cinta”. Agaknya, dari Diotima dan setelah bertemu dengannya, Socrates mulai merumuskan seks tak semata hubungan badan, tapi falsafah keinginan manusia yang lebih luhur. Hubungannya dengan Alcibiades kemudian diabadikan oleh Plato, hingga melahirkan istilah “cinta platonik”

Lainnya buku-buku lama tentang pendakian ke Everest. Tapi, lain kali saja ulasannya. So, buku berkesan apa yang Anda baca di 2019? Selamat menempuh tahun baru!

BAGIKAN
error0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *