Usul Berbahaya Dahlan Iskan

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Dahlan Iskan berusul mengubah kata ganti “nya” untuk laki-laki dan “nyi” untuk perempuan. Berbahaya.

USUL Dahlan Iskan mengubah kata ganti “nyi” untuk perempuan dan “nya” untuk laki-laki bukan saja berbahaya, juga menafikan kemampuan manusia. Dalam blog Disway.id tanggal 25 September 2019, Menteri Badan Usaha Milik Negara 2011-2014 ini mengumumkan soal usul pergantian itu.

Maka sejak 1 Oktober 2019, yang disebutnya menandai “Bulan Bahasa”, Dahlan menerapkan usulannya itu. Jika ia mengutip ucapan seorang tokoh laki-laki, ia menuliskan ujarannya dengan “katanya”. Jika tokohnya perempuan menjadi “katanyi”. Apabila ia menekankan bahwa sebuah mobil milik perempuan, ia menuliskannya dengan “mobilnyi”.

Ketika pertama menerima paparan tautan blognya itu soal virus corona, yang membuka detail profil orang yang diduga terinfeksi virus flu Wuhan ini, saya menduga Dahlan “penulis jorok”. Penulis jorok adalah julukan bagi mereka yang tak peduli dengan tulisannya sendiri sehingga membiarkan karyanya itu dipenuhi dengan salah ketik, salah istilah, salah gramatika, bahkan salah logika bahasa. Rupanya Dahlan sedang mempromosikan usulannya membuat jenis kelamin pada kata.

Dahlan, wartawan veteran dan konglomerat media, menyamakan pembedaan “nya” dan “nyi” itu dengan perubahan-perubahan dalam sejarah bahasa Indonesia. Misalnya, dulu kita memakai “terlantar” yang kini berubah menjadi “telantar” karena kesepakatan kaidah pembentukan “awalan”. Dulu, Presiden Soekarno menulis “perobahan” yang kemudian berubah menjadi “perubahan”, mengingat kata dasarnya “ubah” bukan “obah”, apalagi “rubah”.

Tanpa melihat bahwa perubahan dalam bahasa Indonesia itu karena kaidah tata bahasa, Dahlan usul agar kata ganti laki-laki dan perempuan juga dibedakan. Usulan ini berbahaya karena tak sensitif dan bias gender. Dahlan hendak mengembalikan kuasa bahasa berdasarkan maskulinitas dan politik patriarki ketika di era modern ini soal tersebut sudah dikritik dan ditinggalkan karena mengandung cacat pikiran yang menafikan bahwa manusia diciptakan sama dan sederajat.

Bahkan para pendiri bangsa ini mencita-citakan persamaan ketika merumuskan dan menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu, “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”. Tak seperti bahasa-bahasa lokal lain, bahasa Melayu mereka anggap bahasa yang egaliter, tak mengenal undak-usuk dalam percakapan, bahkan tak ada pembagian rasa bahasa berdasarkan kasta.

Betapa luhur pemikiran para pemuda aktivis politik di tahun 1928 itu. Mereka paham bahwa kolonialisme membelah manusia memakai identitas yang inheren: suku, bangsa, ras, jenis kelamin. Mereka menolak kategorisasi tersebut sehingga menyerukan kita bersatu tanpa memandang itu semua dengan, pertama-tama, menyepakatinya melalui bahasa.

Kini, 92 tahun setelah sumpah para pemuda Indonesia itu, di masa ketika gender bukan lagi soal krusial dalam hubungan sosial, seorang mantan pejabat negara Republik Indonesia hendak mengembalikan semangat purba itu. Ribuan pembaca blog Dahlan yang tak paham dengan sejarah perjuangan gender dan identitas akan mengikutinya tanpa interupsi. Jika sudah seperti itu, prasangka manusia akibat gender akan makin menguat. Pengikut Dahlan akan percaya bahwa gender dan jenis kelamin adalah penentu hal ihwal dalam hubungan sosial.

Di kelas-kelas evaluasi majalah Tempo bahkan sempat ada usulan untuk tak lagi memakai predikat yang bias gender semacam “mahasiswi”, “pramugara”, “wartawati”, “aktris”. Semua tokoh dalam artikel harus sederajat. Mereka “mahasiswa” baik laki-laki atau perempuan. Mereka “aktor” tak peduli jenis kelaminnya. Sebab, seperti pemikiran para aktivis Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia adalah bahasa yang egaliter.

Para aktivis itu memahami bahwa bahasa-bahasa yang lebih tua di benua-benua lain, misalnya Eropa, itu mengandung bias gender. Setiap barang punya asosiasi laki-laki dan perempuan. Akibatnya, struktur sosial dan pola pikir masyarakatnya pun dibedakan antara dua jenis kelamin ini. Ada yang berteori bahwa kolonialisme merupakan wujud maskulinitas yang dibentuk dari kuasa bahasa beralaskan gender itu. Dahlan mungkin belum membaca, Jerman yang bahasanya berkelamin sudah mengakui gender ke-3: inter/diverse. Mereka bukan laki-laki, juga tak merasa perempuan.

Alasan Dahlan yang lain adalah bahasa Indonesia susah diserap dalam “Google Translate” karena tak membedakan predikat berdasarkan kelamin. Tidak seperti bahasa Inggris. Ujaran “katanya” akan ditulis “he said” padahal yang mengucapkannya perempuan. Maka jika ditulis “katanyi”, mesin Google akan segera mengenali pengucapnya perempuan sehingga akan menerjemahkannya dengan “she said”. Begitu juga usul Dahlan soal “dia” untuk perempuan (dari she) dan “ia” untuk laki-laki (sebangun dengan “he” yang dicopot satu huruf di depan).

Google Translate

Alasan kedua ini meremehkan inovasi manusia. Dahlan hendak mereduksi bahasa dengan mesin. Jika bahasa Indonesia tak dikenali oleh mesin penerjemah, itu karena kini belum ada orang yang membuat mesinnya di tubuh maya Google. Jika kebutuhan para pemakai Google akan bahasa Indonesia meningkat, kelak akan ada orang yang menciptakan bahasa mesin penerjemah agar bisa mengenali struktur bahasa Indonesia yang tak berkelamin itu.

Google Translate

Jadi, agaknya, Dahlan harus segera insaf bahwa usulannya itu berbahaya bagi pola pikir generasi mendatang. Toh, bahasa Inggris saja kebingungan memberi predikat kelamin untuk Tuhan.

BAGIKAN
error0

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

3 thoughts on “Usul Berbahaya Dahlan Iskan”

  1. sy mencari cari , membaca hingga tuntas tapi tak menemukan satupun alasan yg mwndukung judul diatas. Saya bertanya tanya dimana letak bahayanya?

  2. Bahaya bagi siapa? Membahayakan siapa? Dalam dunia kosakata bahasa Indonesia itu tidak ada salah dan benar, apalagi bahaya. Bisa jadi sekarang salah, tahun depan bisa jadi benar. Bahasa selalu berkembang.

  3. Setelah membaca judul, aku berpikir atas bahayanya jika ‘nya’ dan ‘nyi’ jadi pembeda perempuan atau laki-laki.

    Mengingat aku sering menggunakan
    Semoga diterima di sisiNya
    Semoga mendapat ridhoNya

    Jika akan diganti, aku gatahu lagi.
    Tuhanku tidak bisa dibedakan menjadi nya dan nyi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *