METONIMIA

 

Metonomia bisa berbentuk macam-macam. Perubahan makna kata akibat pemakaian dan kebiasaaan.

SAYA baru paham bahwa ada beda nuansa antara kata “rapat” dan “meeting” setelah seorang teman yang bekerja di perusahaan multinasional tertawa mendengar saya meminta maaf karena tak bisa memenuhi undangannya akibat jam acara bertepatan dengan “saya rapat”. Menurut dia, baru kali itu ada orang yang mengatakan kata yang terdengar jadul ini.

Lanjutkan membaca “METONIMIA”

BAGIKAN
0

MAYAT HIDUP DAN PENCURI YANG BERHASIL

 

Malapraktik bahasa jurnalistik. Mayat hidup dalam berita dan pencuri selalu bercita-cita ditangkap.

BAGI wartawan, bahasa adalah alat utama menyampaikan cerita dan fakta. Jika mereka tak menguasai peranti ini, cerita dan fakta bisa kabur bahkan meleset, alih-alih menggugah dan mendorong publik terlibat dalam berita yang mereka tulis.

Lanjutkan membaca “MAYAT HIDUP DAN PENCURI YANG BERHASIL”

BAGIKAN
0

BAHKAN NABI ADAM BUKAN PRIBUMI

Bahkan Nabi Adam sekalipun, menurut kitab suci, bukan pribumi karena ia datang dari surga setelah berbuat dosa.

NAMA-nama dibuat manusia untuk memudahkan percakapan, mengukuhkan pertalian, atau menegaskan permusuhan. Kita tidak tahu untuk tujuan yang mana Anies Baswedan menyebut “pribumi” bagi mereka yang melawan kolonialisme dalam pidato seusai dilantik jadi Gubernur Jakarta.

Lanjutkan membaca “BAHKAN NABI ADAM BUKAN PRIBUMI”

BAGIKAN
0

KATA-KATA YANG MEMUAI

 

Kata-kata yang memuai terjadi di hampir semua bahasa. Tapi pemuaian makna ini membuat bahasa menjadi susah dipelajari.

SEORANG teman dari Korea Selatan masygul ketika mendengar seorang Indonesia berseru, “Wah, mau hujan,” pada sebuah sore yang mendung. “Wow, bagaimana caranya?” ia pun bertanya. Ia menyangka, temannya yang orang Indonesia itu sedang menginginkan hujan atau berminat pada hujan seperti minatnya mengunyah es krim.

Lanjutkan membaca “KATA-KATA YANG MEMUAI”

BAGIKAN
0

SEKALI PERISTIWA DI RUMAH SAKIT

DI klinik perbaikan gigi sebuah rumah sakit di Bogor, seorang suster memanggil nama pasien. “Atas nama Tuan Zulfikar,” katanya. Tak ada yang menyahut. Di ruang tunggu hanya ada saya dan seorang laki-laki setengah baya yang menggeleng ketika “atas nama Tuan Zulfikar” disebutkan ulang.

Duduk tepekur sambil membaca “Silence”, novel bagus dari Shūsaku Endō, saya menduga-duga suster itu salah memanggil nama. Saya adalah orang pertama yang tiba di klinik ini, disusul laki-laki setengah tua itu, lalu seorang perempuan muda yang datang hanya menaruh berkas di meja dokter kemudian pergi entah ke mana. Suster itu masuk ke ruangan dokter lagi dan kembali muncul di depan pintu. “Atas nama Tuan Bagja Hidayat.”


Saya tak langsung menyahut. Itu memang nama saya, tapi penyebutan “atas nama” membuat saya ragu apakah panggilan itu untuk saya. “Atas nama” berarti ada orang lain yang mewakili saya. Jangan-jangan laki-laki setengah tua dengan kumis baplang-sangadulang itu yang mendaftar dengan “mengatasnamakan saya”. “Bapak Tuan Bagja Hidayat, bukan?” tanya suster itu. Saya mengangguk, suster itu cemberut.

Lanjutkan membaca “SEKALI PERISTIWA DI RUMAH SAKIT”

BAGIKAN
0