COTHO

Cotho adalah istilah untuk menyebut “keadaan yang terasa kurang tapi tak bisa dirumuskan”.

Tak bisa ngulet rasanya seperti Minggu pagi tak ada koran. Berasa ada yang kurang. Hidup jadi tak lengkap. Padahal ngulet adalah sejenis warming up yang paling sederhana, mudah, menyenangkan. Tulang dan otot dan sendi jadi nyaman karena diregangkan begitu. Dan ngulet adalah aktivitas pertama memulai hari, bahkan hidup pertama. Bayi-bayi ngulet lewat jeritannya. Jadi, hari dan hidup tak bisa mulai tanpa ngulet. Juga, ngulet itu sehat. Seorang teman menyebut perasaan Minggu pagi tak ada koran itu dengan Cotho.

BAGIKAN
0

RUMAH SAKIT

Saya jadi tahu sekarang, begitu pintarnya orang yang dulu bikin kata rumah sakit. Kata majemuk ini benar-benar menunjukan arti sekaligus fungsinya yaitu rumah orang sakit sekaligus rumah yang bikin sakit. Begitulah. Saya terbaring seminggu di kamarnya, dan hampir saja bertambah sakit seandainya tak cepat pulang.

Di kamar 5×5 meter itu, serba krem bukan putih seperti yang diilustrasikan para pencerita dalam kisah-kisahnya, saya tergolek bersama tiga orang pesakitan lainnya. Yang satu merintih sepanjang malam dan terbatuk karena jantungnya hampir copot ditambah paru-parunya yang hampir jebol. Dia bapak tua sekira 70 tahun. Renta dan keriput. Matanya hijau-tajam jika memandang orang pada tengah malam. Sepertinya ia belum rela jika Izrail datang tiba-tiba. Ia tertatih menuju toilet dengan selang infus yang menancap di pangkal lengan kanan jika malam telah larut. Dia terbatuk di sana, dengan darah dan ringis, lalu keributan anak-anaknya memanggil suster.

“Saya tak pernah merokok, tapi kenapa paru-paru ini jebol,” katanya setengah mengutuk pada pagi sehabis sarapan. Orang-orang sakit itu bercengkrama tentang kesakitan-kesakitannya. Pada setiap pagi itu, ketika para suster yang tak ramah datang dengan lap dan obat, yang boleh tinggal dalam kamar hanya orang-orang sakit. Para penunggu diminta meninggalkan kamar. Obrolan kadang-kadang juga diselingi nasihat agar tabah. “Ini cobaan,” kata si sakit yang lain, bapak setengah baya yang tergolek di samping saya.

Dia dibopong ke rumah sakit ketika pada suatu sore jantungnya akan berhenti berdetak. Dokter di rumah sakit itu tak sanggup menangani bilik kiri jantungnya yang tak bisa memompa darah. Bilik itu harus “dibalon” dan ia bingung mendapat biaya untuk pengobatan itu. Ia pulang dengan kebingungannya.

Seseorang yang lain, di seberang saya, anak muda 23 tahun. Renta dan gondrong. Paru-parunya tak terdeteksi oleh sinar X karena terhalang air yang menggenangi. Dadanya harus dibor dan ditancapkan selang untuk menyedot air-air itu. Ia suka begadang. Para penjenguknya anak-anak muda, teman-teman tongkrongannya yang datang dengan mulut mengepulkan asap rokok. Suster menghardik para penjenguk tak tahu tempat itu.

Sementara saya berbaring menahan demam yang datang malam-malam. Virus dengue ini telah menghajar ketahanan tubuh. Seumur-umur baru kali itulah tangan saya ditusuk jarum infus hingga dua kali karena selalu lepas plus setiap pagi jarum pengetes darah bolak-balik menusuk lengan kanan dan kiri.

Orang-orang itu merintih dalam diam pada malam yang jadi sunyi dan panjang. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang selalu terjaga, membayangkan yang mungkin dan tak mungkin, tentang kesakitan, umur dan kadang-kadang Tuhan. Maka saya memutuskan pulang sebelum dokter mengizinkan. Kamar itu sudah menambah beban kesakitan.

BAGIKAN
0

BAHASA DI KALANGAN SISWA

SEORANG guru, Syaiful Pandu namanya, menuliskan keresahannya di kolom surat pembaca majalah Tempo edisi terbaru. Dia bukan seorang epistoholic. Ia mungkin baru kali ini menulis surat pembaca dan mengirimkannya ke majalah terbitan Jakarta.

Pak Syaiful hanya seorang guru yang cemas dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran yang telah digelutinya selama dua puluh tahun lebih.

Ia cemas, karena itu ia menulis, “pelajaran ini dibenci sekaligus dipuji.” Pak Guru Syaiful mengaku selama 20 tahun itu pula ia tak pernah objektif dalam memberi nilai pelajarannya pada siswa. Ia ingin memberi nilai 6 pada siswa yang tak becus membedakan “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai awalan. Tapi rapat guru, dengan kompromi dan kekhawatiran pamor sekolah merosot, akhirnya memberi nilai minimum pada si murid itu sehingga bisa naik ke tingkat berikutnya.

Pak Syaiful protes. Ia kecam kebijakan pemerintah yang “semena-mena” menetapkan tiga pelajaran inti yang harus dikejar setiap siswa agar bisa lulus: Bahasa Indonesia, Inggris, dan Matematika. Pengotakan ini, tulisnya, tak menjadikan siswa menguasai mata pelajaran yang disukainya. Mereka terpaksa belajar hanya agar nilai ujian tidak jeblok. Ia ingin kebijakan itu dicabut dan “jangan pilih kasih memberi nilai pelajaran.”

Baginya tak jadi soal jika seorang siswa harus mendapat nilai 0 jika memang si murid tak mengusai sama sekali sebuah pelajaran. Siswa itu bisa lulus dengan sebuah nilai dari mata pelajaran yang ia sukai dan kuasai. Dengan begitu, katanya, setiap siswa akan terarah minat dan keahliannya. Pak Guru tahu bahwa sekolah bukan pabrik atau penjara (seperti yang dicemaskan di jauh hari oleh Tagore dan Ivan Illich). Sekolah adalah tempat pertemuan para siswa, tempat berbagi cerita, dan melakukan hal-hal yang mereka suka. “Kita hanya mengarahkan saja,” tulisnya.

Pak Guru itu cemas regulasi tak mendukung sekolah sebagai tempat untuk memahami. Ia tinggal di Riau dan ia mencemaskan pelajaran Bahasa Indonesia. Agak mengkhawatirkan juga karena Riau adalah tempat bahasa Indonesia berasal. Dari sini banyak lahir para penulis yang punya minat dan jadi “perajin” yang tekun. Jika dari Riau saja seorang gurunya mencemaskan pelajaran ini, bagaimana dengan daerah lain yang baru mengenal bahasa Indonesia setelah Sumpah Pemuda?

Anak-anak Sunda atau Jawa yang setiap hari mendengar bahasa ibu mereka dan berpikir dengan bahasa daerah itu lalu diminta menuliskan pengalamannya dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Anak-anak Sunda agak kebingungan jika mereka harus menuliskan “Saya memukul dia” karena dalam bahasa Sunda struktur kalimat itu jadi rancu. Di Sunda yang ada adalah “gebug sia ku aing“. Mereka harus memutar “lidah” agar kalimat pasif di kepala mereka jadi kalimat aktif dalam tulisan bahasa Indonesia.

Pak Guru Syaiful pasti tahu bahasa Indonesia tidak cukup yang baik dan benar saja, tapi juga bahasa yang hidup: bahasa yang mampu menunjukkan emosi dan nama-nama dengan tepat. Ia mungkin cemas tentang gejala ini ketika para siswa banyak terpengaruh tayangan sinetron yang penulis skripnya tak bisa membedakan “di” itu, ketimbang pengajaran yang diberikannya. Karena itu ia perlu menulis kecemasannya di kolom surat pembaca.

BAGIKAN
0

DIRGAHAYU

SLOGAN selalu saja salah kaprah. Maka, peringatan ulang tahun Proklamasi kemerdekaan yang  ke-58 saja masih juga salah tulis, atau paling tidak bertentangan, dan kisruh satu sama lain. Di jalan-jalan utama Jakarta, hanya spanduk dirgahayu yang dipasang kantor Prudential di Jalan M.H Thamrin yang benar penulisannya. Selebihnya salah kaprah.

Kesalahan itu tidak saja monopoli Jakarta. Di Makassar juga begitu. Keliling empat hari di sana, saya menemukan hampir semua spanduk dari kantor gubernur hingga gang kampung tertulis “Dirgahayu RI ke-58”. Yang membuatnya mungkin berpikir bahwa ada Republik Indonesia ke-58. Atau mungkin, karena sudah 58 tahun dan 58 kali, saat membuatnya sudah tak berpikir lagi. Pokoknya, ulang tahun kemerdekaan harus dirayakan semeriah mungkin: dengan panjat pinang dan balap karung.

“Yang membuatnya mungkin berpikir bahwa ada Republik Indonesia ke-58.”

Saya tidak tahu di negara lain, yang struktur bahasannya ajek, karena itu bahasanya juga berpeluang lebih hidup. Di sini, orang tak peduli slogan tertulis benar atau salah, meskipun slogan memang tak mementingkan benar, karena yang pokok adalah menggugah. Padahal yang menggugah akan diingat dan salah pun menganak cucu.

Sama halnya dengan spanduk polisi yang dipasang di setiap jalan: Damai Itu Nyata Indah. Rupanya dalam struktur kalimat yang aneh ini terselip pesan sponsor. Spanduk-spanduk itu konon disponsori Factory Outlet Nyata. Lepas dari itu, apa yang bisa kita tangkap dari isi spanduk itu? Damai, ya, damai. Kalimat itu sama dengan pernyataan, “Langit itu luas.” Siapa yang tak tahu, bukan?

Gerimis di Jakarta merobek spanduk-spanduk di dekat Monas. Orang-orang berteduh di bawahnya. Salah satunya di bawah spanduk lain bertuliskan “Disiplin Lalu Lintas Cermin Disiplin Bangsa” hingga memenuhi jalan yang mengakibatkan macet. Siapa yang peduli bangsa, coba? Karena tak jauh dari situ adalah baliho lain bertuliskan “Basmi jerawat Anda dengan….” Iklan ini menyapa lebih personal, menyentuh persoalan sehari-hari yang bisa dihadapi siapa saja, kapan saja.

Sewaktu SMA, saat ulang tahun emas republik ini, guru kesenian kami memberi tugas menggambar sekolah dengan tema kemerdekaan. Dan guru saya kemudian menilai gambar paling bagus adalah gambar yang penulisan dirgahayunya keliru.

Apa yang teringat ketika ulang tahun kemerdekaan dirayakan? Sebuah semangat? Rasa nasionalisme? Mungkin sesuatu yang sulit dirumuskan. Di bundaran Hotel Indonesia orang-orang berteriak bahwa kita belum sepenuhnya merdeka. Mungkin benar karena setelah 58 tahun merdeka, kita pun masih keliru dan bingung menuliskan dirgahayu republik ini.

BAGIKAN
0

KONSEP CANTIK

Konsep cantik terbatasi oleh bahasa. Kita tak bisa mendefiniskan kecantikan karena penilaiannya sangat subjektif.

Kenapa cantik selalu identik dengan perempuan? Tidak adakah laki-laki yang cantik? Saya, dan kita, harus tunduk pada bahasa dalam merumuskan nama-nama.

Seperti tak mudah merumuskan cantik itu sendiri. Lihat saja lukisan Ratu Mesir Cleopatra. Ratu perkasa itu digambarkan sebagai perempuan berbadan subur dengan payudara yang menonjol. Maka, sebuah penelitian arkeologi menyebutkan, ratu ini tak cantik-cantik amat. Lagi-lagi, si arkeolog mungkin lupa, cantik yang disebutkannya berdasarkan ukuran zaman sekarang.

Atau Dewi Venus. Dewi ini juga dideskripsikan sebagai dewi yang bertubuh gempal. Di Eropa pada abad pertengahan, perempuan berlemak melambangkan kesuburan. Tapi, lihat ke etalase. Manekin-manekin dibentuk dengan postur tiang listrik. Pun begitu dengan model yang berjalan di catwalk: mereka nyaris tak punya tubuh yang berlekuk-lekuk. Suatu ketika lagi, perempuan yang cantik digambarkan punya tubuh seperti gitar Spanyol.

Apa boleh buat, cantik memang ditentukan oleh zaman yang menginginkannya. Maksudnya keinginan arus utama yang sampai ke khalayak. Di jalan, di mal-mal, tubuh-tubuh nyaris tak ada bedanya. Pakaian, model rambut, rona pipi, hingga jempol kaki. Apa yang cantik pun kini menemui keseragaman. Jadinya, di acara-acara kawinan semua orang nyaris mirip.

Di Nigeria, ketika Agbani Darego dinobatkan sebagai Ratu Sejagat 2001, gadis-gadis di sana ramai-ramai menurunkan berat badan. Padahal, sebelum Darego yang langsing itu tampil di panggung dengan bikini, sebelum layar teve menyiarkannya ke seluruh dunia, perempuan yang cantik adalah mereka yang punya lemak dan selulit di pahanya.

Atau lihatlah film Indonesia tahun 80-an. Ketika film horor yang tak cerdas diminati orang, perempuan cantik itu seperti Suzzana. Karena dia selalu berperan sebagai Nyi Roro Kidul yang dalam legenda orang-orang pesisir Selatan Jawa, penguasa pantai itu selalu digambarkan sebagai perempuan yang sangat cantik.

Di televisi, terutama sinetron kita, perempuan berhidung mancung, berkulit putih, langsing, dan berambut panjang selalu dikelompokan sebagai perempuan cantik. Ini mungkin pengaruh terlalu lamanya negeri ini dijajah. Mental terjajah seperti ini pas benar digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam tokoh Minke di novel Bumi Manusia. Pokoknya yang bertampang blasteran itu cantik.

Tapi ada orang yang tidak melulu menilai cantik hanya dari postur. Saya pernah cerita seorang teman SMP tergila-gila pada cewek yang punya jempol buntet. Dia pikir cewek yang punya jempol buntetlah yang paling seksi. Meski terdengar tak masuk akal, dia berbusa-busa menjelaskan di mana letak keseksiannya. Saya mendengarkan, tapi akhirnya berpendapat itu absurd! Masak, dia punya fantasi bagaimana jika jemari-jemari buntet itu memegang penisnya. Uh, menjijikan, meski saya senang dengan kejut-kejutan pikirannya, karena dia punya perspektif lain tentang cantik.

Lalu, waktu kuliah ada teman yang menyukai perempuan dari keteknya. Maksudnya, jika ia akan menyebut seorang perempuan cantik atau tidak, menarik atau tidak, harus tahu dulu apakah keteknya berbulu atau tidak. Jika gundul, bagaimanapun bentuk si cewek yang dilihatnya, tak akan masuk hitungan sebagai manusia cantik.

Di kelas kami ada teman yang, kata orang-orang, tercantik di antara perempuan lainnya (kenapa dalam setiap komunitas selalu ada orang yang punya kelebihan?). Selain enak dilihat dia selalu jadi juara kelas; paling tidak IP-nya selalu menyundul angka 3,5 ke atas (uh, stereotip banget!). Teman saya itu bela-belain tidak mengerjakan praktikum hanya karena selama praktek itu ia sibuk mengintip dan menunggu si cewek ini mengacungkan tangan. “Wah, jabrik, euy. Seksi banget,” si teman itu bercerita sesampainya di kos-kosan. Ketek yang jabrik itu, ia memberi alasan, akan merebakan aroma tubuh yang sebenarnya. Dan aroma tubuh, katanya pula, menunjukkan siapa perempuan itu. Baginya kejujuran bisa dicium dari bau ketek. Dirimu adalah bau apa yang kau sebarkan dari ketekmu!

Maafkan saya, jika menuliskan cerita ini dari kepala seorang laki-laki. Karena itu tadi, apa boleh buat, kita tunduk pada bahasa yang merumuskan nama cantik untuk perempuan. Mungkin benar apa kata Naomi Wolf bahwa cantik itu dibentuk oleh kekuasaan laki-laki. Saya tak ingin menujukkan kekuasaan di sini. Saya hanya senang punya teman yang mengandalkan penilaian cantik pada subjektivitas yang dimilikinya. Sebab, dalam pemilihan Ratu Sejagat atau Putri Indonesia yang hari-hari ini marak di televisi, yang cantik itu sudah ditentukan kriteria-kriterianya. Pemilihan orang semacam itu telah memvonis dan melecehkan saya, juga setiap orang atas kriteria cantik dalam kriteria mereka.

BAGIKAN
0