KONSEP CANTIK

Konsep cantik terbatasi oleh bahasa. Kita tak bisa mendefiniskan kecantikan karena penilaiannya sangat subjektif.

Kenapa cantik selalu identik dengan perempuan? Tidak adakah laki-laki yang cantik? Saya, dan kita, harus tunduk pada bahasa dalam merumuskan nama-nama.

Seperti tak mudah merumuskan cantik itu sendiri. Lihat saja lukisan Ratu Mesir Cleopatra. Ratu perkasa itu digambarkan sebagai perempuan berbadan subur dengan payudara yang menonjol. Maka, sebuah penelitian arkeologi menyebutkan, ratu ini tak cantik-cantik amat. Lagi-lagi, si arkeolog mungkin lupa, cantik yang disebutkannya berdasarkan ukuran zaman sekarang.

Atau Dewi Venus. Dewi ini juga dideskripsikan sebagai dewi yang bertubuh gempal. Di Eropa pada abad pertengahan, perempuan berlemak melambangkan kesuburan. Tapi, lihat ke etalase. Manekin-manekin dibentuk dengan postur tiang listrik. Pun begitu dengan model yang berjalan di catwalk: mereka nyaris tak punya tubuh yang berlekuk-lekuk. Suatu ketika lagi, perempuan yang cantik digambarkan punya tubuh seperti gitar Spanyol.

Apa boleh buat, cantik memang ditentukan oleh zaman yang menginginkannya. Maksudnya keinginan arus utama yang sampai ke khalayak. Di jalan, di mal-mal, tubuh-tubuh nyaris tak ada bedanya. Pakaian, model rambut, rona pipi, hingga jempol kaki. Apa yang cantik pun kini menemui keseragaman. Jadinya, di acara-acara kawinan semua orang nyaris mirip.

Di Nigeria, ketika Agbani Darego dinobatkan sebagai Ratu Sejagat 2001, gadis-gadis di sana ramai-ramai menurunkan berat badan. Padahal, sebelum Darego yang langsing itu tampil di panggung dengan bikini, sebelum layar teve menyiarkannya ke seluruh dunia, perempuan yang cantik adalah mereka yang punya lemak dan selulit di pahanya.

Atau lihatlah film Indonesia tahun 80-an. Ketika film horor yang tak cerdas diminati orang, perempuan cantik itu seperti Suzzana. Karena dia selalu berperan sebagai Nyi Roro Kidul yang dalam legenda orang-orang pesisir Selatan Jawa, penguasa pantai itu selalu digambarkan sebagai perempuan yang sangat cantik.

Di televisi, terutama sinetron kita, perempuan berhidung mancung, berkulit putih, langsing, dan berambut panjang selalu dikelompokan sebagai perempuan cantik. Ini mungkin pengaruh terlalu lamanya negeri ini dijajah. Mental terjajah seperti ini pas benar digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam tokoh Minke di novel Bumi Manusia. Pokoknya yang bertampang blasteran itu cantik.

Tapi ada orang yang tidak melulu menilai cantik hanya dari postur. Saya pernah cerita seorang teman SMP tergila-gila pada cewek yang punya jempol buntet. Dia pikir cewek yang punya jempol buntetlah yang paling seksi. Meski terdengar tak masuk akal, dia berbusa-busa menjelaskan di mana letak keseksiannya. Saya mendengarkan, tapi akhirnya berpendapat itu absurd! Masak, dia punya fantasi bagaimana jika jemari-jemari buntet itu memegang penisnya. Uh, menjijikan, meski saya senang dengan kejut-kejutan pikirannya, karena dia punya perspektif lain tentang cantik.

Lalu, waktu kuliah ada teman yang menyukai perempuan dari keteknya. Maksudnya, jika ia akan menyebut seorang perempuan cantik atau tidak, menarik atau tidak, harus tahu dulu apakah keteknya berbulu atau tidak. Jika gundul, bagaimanapun bentuk si cewek yang dilihatnya, tak akan masuk hitungan sebagai manusia cantik.

Di kelas kami ada teman yang, kata orang-orang, tercantik di antara perempuan lainnya (kenapa dalam setiap komunitas selalu ada orang yang punya kelebihan?). Selain enak dilihat dia selalu jadi juara kelas; paling tidak IP-nya selalu menyundul angka 3,5 ke atas (uh, stereotip banget!). Teman saya itu bela-belain tidak mengerjakan praktikum hanya karena selama praktek itu ia sibuk mengintip dan menunggu si cewek ini mengacungkan tangan. “Wah, jabrik, euy. Seksi banget,” si teman itu bercerita sesampainya di kos-kosan. Ketek yang jabrik itu, ia memberi alasan, akan merebakan aroma tubuh yang sebenarnya. Dan aroma tubuh, katanya pula, menunjukkan siapa perempuan itu. Baginya kejujuran bisa dicium dari bau ketek. Dirimu adalah bau apa yang kau sebarkan dari ketekmu!

Maafkan saya, jika menuliskan cerita ini dari kepala seorang laki-laki. Karena itu tadi, apa boleh buat, kita tunduk pada bahasa yang merumuskan nama cantik untuk perempuan. Mungkin benar apa kata Naomi Wolf bahwa cantik itu dibentuk oleh kekuasaan laki-laki. Saya tak ingin menujukkan kekuasaan di sini. Saya hanya senang punya teman yang mengandalkan penilaian cantik pada subjektivitas yang dimilikinya. Sebab, dalam pemilihan Ratu Sejagat atau Putri Indonesia yang hari-hari ini marak di televisi, yang cantik itu sudah ditentukan kriteria-kriterianya. Pemilihan orang semacam itu telah memvonis dan melecehkan saya, juga setiap orang atas kriteria cantik dalam kriteria mereka.

BAGIKAN

KORBAN ATAU QURBAN

I

Mimpi apa yang mampir ke suatu bilik pada suatu malam yang basah, ketika rasa mual itu datang? Mungkin bimbang, mungkin juga sesal. Si calon ibu itu berteriak, meregang dalam kesakitan. Dari tubuhnya keluar tubuh lain, bayi mungil yang mendekam di dalam rahimnya selama sembilan bulan. Ia berkelojot, bersimbah darah, tapi kepada siapa ia minta tolong? Itu bayi haram, bayi pembawa aib, manusia yang tak diinginkan.

Maka dengan susah payah, bayi merah yang belum putus juga ari-arinya itu, ia masukan ke dalam plastik hitam. Dengan mengendap-endap si ibu berjalan ke tepi sungai dan membuang bungkusan itu seperti ketika ia membuang hajatnya di pagi hari. Kelak, seorang pedagang menemukannya di Kali Angke, di antara rongsokan sampah yang bau.

Orang-orang ribut. “Siapa ibu yang bejat ini,” kutuk seorang warga. “Tak berperikemanusiaan!” kutuk yang lain. “Paling-paling hasil hubungan gelap,” polisi menarik kesimpulan. Seolah-olah, bayi yang dibuang hingga jadi mayat kini sudah jadi rumus umum: pasti hasil hubungan di luar nikah. Ceritanya berkisar di ruang itu-itu saja. Dua orang pacaran, bercinta penuh gelora, yang perempuan hamil, takut jadi aib tapi belum berani menggugurkan, melahirkan, dan membuang bayinya. Kisah yang klise. Tapi yang mencengangkan, realitas itu hadir di depan saya; bayi yang sudah kaku itu meringkuk dalam kardus bekas mi untuk dibawa ke rumah sakit.

Bayi yang sudah membengkak-biru pucat itu dikuburkan tanpa nama. Tanpa sejarah yang mencatatnya. Ia kembali tanpa tahu ia dilahirkan. Manusia memang punya sisi bejat yang tak terjangkau oleh daya pikirnya sendiri. Kita hanya bisa terpukau oleh sisi bejat yang muncul mengalahkan akal sehat itu. “Kok, bisa ya?”

Lalu suara riuh itu pun sirna. Polisi dan orang-orang hanya menduga si ibu yang tega mengeksekusi anaknya sendiri, meski, mungkin, mereka ada di sekitar kita. Setiap hari bercengkrama dengan kita, berpapasan dan melempar senyum tanpa rasa bersalah. Rasa bersalah tak akan muncul selama itu tak diketahui orang lain. Koran-koran memuatnya dan menambah daftar kasus penemuan mayat bayi. Lalu sunyi.

II

Mimpi apa yang datang pada suatu malam, dan dua malam berikutnya, pada suatu bilik yang tersenyum? Ibrahim, sang bapak itu, tercenung. Inikah perintah Tuhan? Maka dengan keyakinan penuh ia memanggil Ismail, anak semata wayangnya yang belum juga genap berusia 14. Ia ceritakan mimpi yang paling mengguncang seumur hidupnya yang sampai 100 itu. “Aku diperintahkan untuk menyembelihmu,” kata Ibrahim, bergetar. “Lakukan, Ayah. Kita akan tergolong orang yang sabar,” sebaliknya, Ismail mantap menjawab.

Kedua bapak-anak ini berjalan beriringan menuju Bukit Sofa. Iblis datang menggoda Ibrahim untuk membatalkan niat itu. Tapi iblis gagal, dan lintang pukang menghindari jumrah yang dilempar bapak dan anak ini. Sebetulnya iblis hampir sukses menggoda Ibrahim lewat Siti Hajar yang meraung melihat suaminya menuntun Ismail ke bukit itu. Kini, Ibrahim sudah siap dengan pedang yang berkilat ditimpa cahaya pagi. Di atas sebuah lempengan batu padas, leher Ismail telah siap menjelang maut.

Adegan ini terus mempesona. Kisahnya mengharukan tentang kehanifan seorang hamba, tentang totalitas berkeyakinan. Tentang kerelaan berserah diri. Tentang keiklasan menjalankan perintah. Di sana, apa yang terjadi dengan gejolak pikiran Ibrahim? Tuhan lalu mengganti Ismail dengan seekor domba. Apa yang termaktub dalam surat Ash-Syafa’at ayat 103-107 itu meninggalkan sebuah tanda: syukur yang jadi momen hidup terus menerus.

Syukur itu pula yang datang tiap kali jutaan orang dari pelbagai pelosok datang berduyun ke negeri yang kering, ke kiblat jutaan umat. Mereka menanggalkan apa yang berbau dunia, bertemu dengan pelbagai orang dengan pelbagai tanda. Konon, kata Pak Haji yang baru pulang dari Makkah, berhaji seperti bertandang ke sebuah mini akhirat di dunia.

Dua kisah itu terbentang dalam jarak waktu yang berjauhan. Kisah kedua datang dari kitab suci, ribuan tahun yang lalu. Kisah pertama datang dari abad 21. Dua-duanya menceritakan tentang korban, tentang anak, tentang harapan hidup. Jarak kisah dua jaman ini terlampau jauh. Tapi manusia masih menyimpan pesona. Yang satu menyentuh, bercerita tentang keyakinan dan kesabaran. Yang satu tentang harga diri, menjengkelkan dan menjijikkan.

BAGIKAN