BUKU JEPANG

Selain mobil dan rumah yang mini, buku Jepang juga juga berukuran kecil. Sehingga orang bisa memegangnya dengan satu tangan di bus, di kereta, di halte. Simpel dan mudah dibaca, dengan kertas kuning yang bagus. Buku itu bisa disimpan di saku jas atau jaket, sehingga gampang ditarik ketika akan dibaca.
Dan tak ada orang yang tak baca buku di kereta, subway, trem, atau bus. Mereka membaca sambil berdiri: satu tangan memegang buku, tangan lain berpegangan. Mereka membaca kendati perjalanan hanya dua atau tiga stasiun. Yang tidak membaca biasanya tidur atau menonton televisi lewat ponsel, atau main gim, atau membaca dan mengirim sms. Tak ada gaduh atau brisik. Yang mengobrol memelankan suara.
Dan membaca, agaknya, bukan sebuah kegiatan yang istimewa. Ini sebuah kebiasaan membunuh waktu percuma. Membaca sama dengan duduk, berdiri, menguap. Para pembaca tak diselidik-selidik sedang membaca buku apa. Atau mereka yang baca juga tak merasa diri “orang terdidik” yang memanfaatkan waktu luang dengan pegang buku, sementara sudut mata lirik kiri-kanan mencari adakah orang yang memperhatikannya.
Ah, saya sedang menempuh Kyoto-Osaka, bukan Jakarta-Bogor di kereta Pakuan.
BAGIKAN
0

PARA PENCURI ANGGREK

 

Sebuah buku yang menceritakan kegilaan orang pada tanaman. Tentang para pencuri anggrek

PENDIRI Japan Airlines menyerahkan seluruh saham perusahaan kepada istrinya, menanggalkan segala urusan bisnis yang ia sebut sebagai “dunia semu”. Ia pensiun dan terbang ke Malaysia dengan memboyong 200 ribu batang anggrek.

Continue reading “PARA PENCURI ANGGREK”

BAGIKAN
0

SIDDHARTHA

Siddhartha berjalan jauh, menembus hutan, mengarungi sungai, mengembara ke desa dan kota-kota. Tapi ia tetap gelisah. Hatinya tak kunjung tenang. Ia telah menanggalkan istana dan kebrahmanaannya.

Ia bersalin rupa menjadi samana, yang cuma bercawat, bercambang dan gondrong, terus berjalan, berpuasa, meninggalkan segala nafsu dunia, dan menyerahkan sepenuh raga kepada apa yang ia namakan cinta. Tapi tak ada tuhan. Sang Maha itu selalu luput. Tuhan, pada Siddhartha, selalu bertukar tangkap dengan lepas.

Ia pernah bertemu Kamala, pelacur cantik di kota yang dikunjunginya. Kepadanya Siddhartha belajar segala hal. Main cinta, berniaga, hingga bagaimana menghibur diri ketika patah hati. Tetap sia-sia. Harta, wanita, dan tahta tetap tak bisa menyembuhkan kehausan Siddhartha akan cinta dan ketenteraman jiwa.

Padahal, sudah banyak ia berkorban. Ia meninggalkan orang tua yang sangat menyayanginya, meninggalkan Govinda, teman yang mengasihinya lebih dari siapapun, yang menemukan kedamaian setelah bertemu Gautama. Bagi Siddhartha, Tuhan tetap luput, dunia tak juga terkaut. Selalu ada lubang besar yang menganga, membentangkan jarak antara dirinya dengan yang di-Sana. Siddhartha berusaha merumuskan sesuatu apa yang di-Sana itu. Tapi kian jauh mendefinisikan, kian buyar rumusan dan kesimpulannya.

Siddhartha pun menanggalkan kembali segala kenikmatan dunia, Kemala yang telah memberinya janin, Kamaswami yang mengajarinya ilmu-ilmu dagang. Ia menemui Vasudeva, yang dulu menyeberangkannya ketika ia meninggalkan dunia samana di hutan. Sebab, setelah sekian lama pengembaraan, hanya tukang perahu itulah yang paling unggul menawarkan ketenangan. Kepadanya Siddhartha belajar bagaimana mengerti bahasa sungai, arus yang jernih, angin, kecipak burung, ketenangan batu-batu. Kepada alam itulah Siddhartha membuka segala indranya untuk menyerap dan mendekatkan diri kepada yang di-Sana.

Kita tidak tahu apakah Siddhartha berhasil dengan segala upayanya itu. Novel pendek Hermann Hesse, yang memberat dan terasa berusaha mengharukan, ini berhenti ketika Siddhartha belajar kepada sungai. Tapi barangkali tidak penting benar apakah Siddhartha berhasil atau gagal. Sebab, baik Shidarta maupun novel ini atau Hesse sendiri, barangkali tidak mementingkan hasil akhir. Siddhartha terus mencari sepanjang hayatnya.

Hesse sendiri “menemukan” Siddhartha setelah ia melawat ke Timur, antara lain ke India, Sri Lanka, dan Indonesia. Novel ini ia tulis–lalu terbit pada 1922–ketika ia sendiri sedang haus mencari akar religiusitasnya. Pada masanya, novel pemenang Nobel Sastra 1946 ini memang terasa menghentak dan aktual. Eropa, Jerman terutama, sedang dilanda gelisah oleh pelbagai ide ketika itu. Nihilisme merajalela, Holocaust, sosialisme, manusia bertempur dengan manusia, dan seterusnya.

Dan pencarian itu agaknya kekal. Gemanya sampai ke zaman Internet ini. Ada banyak novel sejenis dengan alur dan cerita yang berbeda ditulis banyak orang.

Seperti Han Nolan ketika menulis Send Me Down a Miracle. Pada akhirnya, novel-novel sejenis ini sering berakhir dengan kesimpulan seperti dikatakan Charrity Pittman, tokoh utama novel Nolan, “Tuhan ada bersama kita. Tidak dalam kitab suci, tidak dalam puisi, masjid atau gereja atau sinagog, atau banyak tempat ibadah lain. Ia menyatu bersama kita. Selamanya.”

Kesimpulan yang umum dari segala pencarian spiritual dalam banyak agama-agama.

Lalu kita pun percaya kepada doa. Dan agama dan iman bertaut dengan nalar yang tak berkesudahan. Sampai sekarang. Kita sendiri kadang tak habis pikir…

BAGIKAN
0