PARA PENCURI ANGGREK

 

Sebuah buku yang menceritakan kegilaan orang pada tanaman. Tentang para pencuri anggrek

PENDIRI Japan Airlines menyerahkan seluruh saham perusahaan kepada istrinya, menanggalkan segala urusan bisnis yang ia sebut sebagai “dunia semu”. Ia pensiun dan terbang ke Malaysia dengan memboyong 200 ribu batang anggrek.

Continue reading “PARA PENCURI ANGGREK”

BAGIKAN
0

SIDDHARTHA

Siddhartha berjalan jauh, menembus hutan, mengarungi sungai, mengembara ke desa dan kota-kota. Tapi ia tetap gelisah. Hatinya tak kunjung tenang. Ia telah menanggalkan istana dan kebrahmanaannya.

Ia bersalin rupa menjadi samana, yang cuma bercawat, bercambang dan gondrong, terus berjalan, berpuasa, meninggalkan segala nafsu dunia, dan menyerahkan sepenuh raga kepada apa yang ia namakan cinta. Tapi tak ada tuhan. Sang Maha itu selalu luput. Tuhan, pada Siddhartha, selalu bertukar tangkap dengan lepas.

Ia pernah bertemu Kamala, pelacur cantik di kota yang dikunjunginya. Kepadanya Siddhartha belajar segala hal. Main cinta, berniaga, hingga bagaimana menghibur diri ketika patah hati. Tetap sia-sia. Harta, wanita, dan tahta tetap tak bisa menyembuhkan kehausan Siddhartha akan cinta dan ketenteraman jiwa.

Padahal, sudah banyak ia berkorban. Ia meninggalkan orang tua yang sangat menyayanginya, meninggalkan Govinda, teman yang mengasihinya lebih dari siapapun, yang menemukan kedamaian setelah bertemu Gautama. Bagi Siddhartha, Tuhan tetap luput, dunia tak juga terkaut. Selalu ada lubang besar yang menganga, membentangkan jarak antara dirinya dengan yang di-Sana. Siddhartha berusaha merumuskan sesuatu apa yang di-Sana itu. Tapi kian jauh mendefinisikan, kian buyar rumusan dan kesimpulannya.

Siddhartha pun menanggalkan kembali segala kenikmatan dunia, Kemala yang telah memberinya janin, Kamaswami yang mengajarinya ilmu-ilmu dagang. Ia menemui Vasudeva, yang dulu menyeberangkannya ketika ia meninggalkan dunia samana di hutan. Sebab, setelah sekian lama pengembaraan, hanya tukang perahu itulah yang paling unggul menawarkan ketenangan. Kepadanya Siddhartha belajar bagaimana mengerti bahasa sungai, arus yang jernih, angin, kecipak burung, ketenangan batu-batu. Kepada alam itulah Siddhartha membuka segala indranya untuk menyerap dan mendekatkan diri kepada yang di-Sana.

Kita tidak tahu apakah Siddhartha berhasil dengan segala upayanya itu. Novel pendek Hermann Hesse, yang memberat dan terasa berusaha mengharukan, ini berhenti ketika Siddhartha belajar kepada sungai. Tapi barangkali tidak penting benar apakah Siddhartha berhasil atau gagal. Sebab, baik Shidarta maupun novel ini atau Hesse sendiri, barangkali tidak mementingkan hasil akhir. Siddhartha terus mencari sepanjang hayatnya.

Hesse sendiri “menemukan” Siddhartha setelah ia melawat ke Timur, antara lain ke India, Sri Lanka, dan Indonesia. Novel ini ia tulis–lalu terbit pada 1922–ketika ia sendiri sedang haus mencari akar religiusitasnya. Pada masanya, novel pemenang Nobel Sastra 1946 ini memang terasa menghentak dan aktual. Eropa, Jerman terutama, sedang dilanda gelisah oleh pelbagai ide ketika itu. Nihilisme merajalela, Holocaust, sosialisme, manusia bertempur dengan manusia, dan seterusnya.

Dan pencarian itu agaknya kekal. Gemanya sampai ke zaman Internet ini. Ada banyak novel sejenis dengan alur dan cerita yang berbeda ditulis banyak orang.

Seperti Han Nolan ketika menulis Send Me Down a Miracle. Pada akhirnya, novel-novel sejenis ini sering berakhir dengan kesimpulan seperti dikatakan Charrity Pittman, tokoh utama novel Nolan, “Tuhan ada bersama kita. Tidak dalam kitab suci, tidak dalam puisi, masjid atau gereja atau sinagog, atau banyak tempat ibadah lain. Ia menyatu bersama kita. Selamanya.”

Kesimpulan yang umum dari segala pencarian spiritual dalam banyak agama-agama.

Lalu kita pun percaya kepada doa. Dan agama dan iman bertaut dengan nalar yang tak berkesudahan. Sampai sekarang. Kita sendiri kadang tak habis pikir…

BAGIKAN
0

PENERJEMAH BUKU ADALAH PENGKHIANAT?

SUATU sore, saya membuang sebuah buku Salman Rusdhie ke selokan. Buku terjemahan itu hanyut lalu hinggap entah di mana. Saya puas telah membuangnya. Buku itu masih hangat: baru saya beli dari sebuah toko buku.

Saya membelinya karena kepincut oleh nama besar Rusdhie. Saya teledor tak memeriksanya barang 2-3 halaman saat di toko itu. Dalam angkutan kota menuju rumah, saya membayangkan diri sendiri sore itu akan membaca sebuah buku yang asyik di beranda sambil menikmati angin dari hujan yang sebentar. Sekali lagi saya kecele: sampai lima halaman pertama buku tipis itu, saya bersikeras menangkap apa yang ingin ditulis Rusdhie. Dan saya tak mendapatkannya.

Setiap kali membaca buku terjemahan yang buruk, saya selalu ingat Umberto Eco. Seorang penerjemah, kata dia mengutip pemeo Italia, adalah seorang pengkhianat. Eco mengutip pepatah ini untuk menutup sebuah esainya yang jernih tentang terjemahan sejumlah novelnya. Il nome della rosa dan Pendolo di Foucault dijadikan contoh bagaimana ia merisaukan karya terjemahan.

Eco tentu saja risau: bisakah gagasanku tersampaikan oleh bahasa lain? Karena setiap kata dalam suatu bahasa tak tergantikan oleh kata dalam bahasa yang lain. Eco merasa “terhina” setiap kali bukunya selesai diterjemahkan. Penerjemahan, katanya, merupakan “proses politik yang menyakitkan”. Karena sebuah karya terjemahan berarti telah menumpulkan kejeniusan gagasan setiap penulis yang ternyata bisa ditiru dengan wadah yang lain, dengan bahasa yang lain.

Saat penerjemahan sedang berlangsung, Eco kerap kali bersepakat dengan William Weaver, penerjemahnya, jika ada kata atau bentukan yang sulit dicari padanannya. Sebab itu ia menganalogikan penerjemahan dengan jual beli telur di pasar. “Jika pedagang minta harga 100 dan kau menawar 10 maka kalian akan bersepakat pada harga 50,” katanya. Negosiasi seperti ini sering terjadi karena bahasa lain ternyata tak cukup menampung gagasan yang tertuang dalam bahasa asli.

Saat berdiskusi, ketika ada penerjemah yang tak mengerti gagasannya pada sebuah paragraf, kerisauan Eco makin bertambah-tambah. “Itu menunjukkan pikiranku suram saat menulis paragraf itu,” katanya, “aku sering kali tergoda menulis ulang.”

Milan Kundera, novelis Ceko yang mukim di Paris, bersikap lebih sengit pada seni terjemahan. Ia yakin sebuah karya sastra tak akan tergantikan oleh karya yang lain, sekalipun terjemahan. Baginya, “Sihir seni terletak pada keindahan bentuknya.” Jika jiwa sebuah novel masih ada saat diterjemahkan atau ditulis ulang, dalam pengantar bukunya ia pernah menulis begini, maka novel itu bernilai rendah.

Komunikasi yang terjalin dalam sebuah karya terjemahan tidak lagi teks dengan pembaca, tidak saja penulis dengan pembaca, tapi penulis, penerjemah, teks, dan pembaca sekaligus. Distorsi makin terbuka karena prosesnya makin panjang. Maka alangkah tepatnya pemeo orang Italia itu. Dan saya puas telah membuang Salman Rusdhie.

*) beberapa bagian pernah dimuat di Lampung Post.

BAGIKAN
0