THE NAME OF THE ROSE

 

THE Name of The Rose bercerita tentang sebuah pertanyaan yang menggema di sebuah biara di pinggiran Italia pada sebuah musim salju akhir November 1327: pernahkah Kristus tertawa? Aslinya, novel ini terbit dalam bahasa Italia dengan judul Il nome della rosa pada 1983.

Para rahib muda di biara itu, yang setiap hari bergulat dengan ribuan kitab di perpustakaan di antara kegiatan rutin biara, memunculkan pertanyaan itu dalam diskusi sembunyi-sembunyi.


Adalah Jorge yang menentangnya. Bagi rahib tua yang buta ini—nama dan sosoknya mengingatkan pada penulis fantasi Amerika Latin Jorge Luis Borges—Kristus  tak pernah tertawa. “Kebenaran dan kebajikan bukan untuk ditertawakan. Inilah mengapa Kristus tak pernah tertawa, tertawa menyebabkan keragu-raguan,” katanya (hal. 203).

Pertanyaan para rahib muda itu tentu saja segera memantik vonis mereka sedang melakukan kegiatan bidah. Maka Paus mengutus William dari Baskerville, seorang bruder Franciskan asal Inggris.

William datang ditemani seorang calon rahib dari Jerman, Adso, si “aku” dalam novel tebal ini. William, seorang intelek yang telah merambah pelbagai ranah ilmu pengetahuan, hidup di zaman ketika gereja dan kepausan sedang kehilangan pamor.

Ordo Franciskan berperan sebagai penentang utama Paus Yohannes XXII (1316-1334) yang menyerukan agar gereja yang bergelimang kemewahan kembali hidup miskin seperti ajaran Kristus. Sementara penentangnya berdiri para raja dan kaisar yang menginginkan kerajaan lepas dari kekuasaan Paus. Perselisihan tiga kubu itu memuncak ketika diberlakukan hukum bakar bagi para pengikut Santo Fransiskus dan siapa pun mereka yang mengecam gemerlap hidup Paus.

Di antara saling-silang sengketa itu, ada juga upaya untuk menyatukan perbedaan pendapat. Dalam novel ini, pada hari ketiga, Eco mengisahkan, kubu-kubu itu saling bertemu dan berdebat di biara megah itu meski tak mencapai kata sepakat.

William, selain bertugas mengusut bidah, adalah salah satu utusan dari kubu penentang Paus. Namun, belum juga pertemuan itu digelar, William dan Adso sudah dikejutkan oleh kematian seorang rahib yang jatuh ke dasar jurang pada hari pertama kedatangan.

Kematian Adelmo, si rahib itu, tak berdiri sendiri. Kematiannya diikuti oleh serentetan kematian rahib-rahib lainnya. William tergerak untuk menyelidiki kematian yang misterius itu.

Eco, agaknya, telah dengan cermat mempersiapkan tokoh William. Karena asal William mengingatkan kita pada sebuah cerita detektif Sherlock Holmes yang terkenal: Anjing Setan dari Baskerville.

Begitulah. William dan Adso menjelma dua orang detektif yang tangkas. Keduanya bahu-membahu menguak misteri tujuh kematian selama tujuh hari, seluruh waktu dalam novel ini. Dalam investigasinya itu, William masuk ke dalam lorong-lorong perpustakaan biara yang dihuni ribuan naskah dan kitab pada malam hari, waktu di mana peristiwa penting selalu terjadi. Ia mengumpulkan bukti, menanyai saksi, menguraikan simbol-simbol rahasia dan kode manuskrip serta menghubung-hubungkan pelbagai peristiwa di seputar kematian itu. Ia mengurai sengkarut misteri itu dengan analisis logika a la Francis Bacon, tokoh yang amat dikaguminya, atau teologia Thomas Aquinas.

 

Dalam penelusurannya itu mereka menemukan pelbagai peristiwa haram yang dilakukan oleh para rahib di balik tembok biara. Cerita hubungan seksual sesama jenis dan rasa cemburu antar rahib.

Rahib yang lain memasukkan perempuan dari kampung sekitar biara untuk melampiaskan syahwat dan menukarnya dengan makanan. Di antara kisah-kisah manusiawi para rahib itu, Eco menguraikan sejarah Abad Tengah Eropa yang kelam oleh perselisihan gereja, politik yang ruwet, filosofi, mitologi, sihir hingga makanan dan tata cara peracikan racun dan obat dengan latar arsitektur zaman Gothik yang eksotik.

 

Bambang Sugiharto, pengajar filsafat di Universitas Parahiyangan, dalam pengantar edisi Indonesia menulis bahwa novel ini merupakan roman yang kompleks, enigmatik, berlapis-lapis dan menawarkan kemungkinan tafsir terbuka. “Ia bisa dibaca sebagai cerita detektif, cerita sejarah, eksperimentasi teks, parodi petualangan filosofis yang mencari kebenaran, atau apa saja,” tulisnya (hal. 15).

 

Di akhir kisah, William akhirnya mengetahui kematian para rahib itu disebabkan oleh racun yang tersebar di halaman buku dan termakan para rahib yang diterkam rasa ingin tahu saat membolak-balik naskah-naskah kuno itu.

Cemburu dan iri hati hanyalah penyebab kecil lain pada tiap kasus kematian. Pelumur racun tak lain adalah Jorge yang tak ingin seorang pun mengetahui kebenaran dalam kitab-kitab yang terhimpun dalam buku Akhir Afrika. Jorge menyimpan kitab itu dalam ruang perpustakaan terra incognita dan siapapun yang menyentuhnya akan mati.

Buku itu berisi fabel-fabel dalam bahasa Arab yang menjungkirbalikan realitas hingga mengundang gelak tawa. “Misi mereka yang mencintai kemanusiaan adalah untuk membuat manusia tertawa atas kebenaran,” kata William pada hari ketujuh saat ia berdebat dengan Jorge tentang makna tawa dan kebenaran. Perdebatan itu kemudian menyulut keributan dan Jorge melemparkan api untuk membakar seluruh naskah itu.

Api merembet dan seluruh harta biara hancur tak bersisa, termasuk Jorge. Maka dengan terbakarnya seluruh kitab di perpustakaan itu, William dan Adso gagal mempertahankan kebenaran yang tersimpan dalam buku dan kebenaran itu hanya menjadi milik mereka berdua.

Mereka pulang ke Roma dengan sehimpun kenangan menegangkan di biara itu. Zaman belum berubah, penentang gereja makin bertambah, dan Kaisar Roma telah memilih Paus tandingan: Nicholas V.

Dalam perjalanan kembali itu, William mengatakan bahwa petualangan mereka adalah mencari kebenaran. Dan inilah hakikat dari novel yang mengasyikan ini, meski agak membosankan karena dialog-dialognya yang panjang. Kebenaran bagi William harus terus menerus diragukan, dipertanyakan, untuk mencapai kebenaran yang hakiki. William tak segan membuang pelbagai hipotesisnya yang tak terbukti dan menajamkan hipotesis lain yang mendekati kebenaran sebagai ramuan kemungkinan penyebab kematian para rahib.

Eco telah dengan tepat memilih cerita detektif untuk mengantarkan pokok-pokok pikirannya. Karena seorang detektif adalah seorang yang mencari. William akan terus menerus bertanya, meramu data, meragukannya, sebelum akhirnya menemukan kebenaran yang diyakininya.

Pernahkan Kristus tertawa? William sendiri menjawab tidak. Tapi ia seorang pembawa pikiran bebas Abad Tengah yang kukuh mempertahankan bahwa humor, satir dan permainan adalah upaya sah hidup manusia. Ia seorang yang yakin manusia perlu untuk ragu pada kebenaran. Dengan terang-terangan ia menyebut Jorge sebagai Sang Iblis. “Iblis adalah arogansi rohani, iman tanpa senyum, kebenaran yang tak pernah dicengkram keraguan,” katanya (hal. 631).

Penerjemah novel ini mengakui butuh nafas panjang untuk mentransfer kalimat Eco yang berbelit dan menyimpan tanda yang tak gampang diurai. Agaknya, ia bukan orang Kristen sehingga ada terjemahan yang tak konsisten ketika Injil disebut Bibel, kali lain disebut Al Kitab.

Bagaimana pun, buku ini patut disambut karena sebelumnya novel ini sampai ke Indonesia hanya dijumpai sebatas kutipan para esais kendati dalam bahasa aslinya novel ini sudah terbit lebih dari 20 tahun lalu.

BAGIKAN
0

HP


Handphone, atau kalau di-Indonesia-kan jadi telepon genggam itu kini sudah jadi bagian dari identitas. Kalau Anda ditanya, “Lu, punya henpon? Ntar gua telpon,” kurang lebih maksudnya, “Henpon lu merek apa?” Dan merek, tentu saja, berhubungan dengan berapa besar penghasilan yang punya telgam itu. Juga seberapa kuat dia mengikuti mode. Lalu penghasilan berkait erat dengan status sosial.

Identitas memang rumit. Ketika pulang kampung, dulu-dulu, pertanyaan uwa, bibi, tetangga, dan handai taulan, pasti “sudah semester berapa?” “Lulusnya kapan?” Dua tahun berikutnya, uwa, bibi, paman, tetangga dan handai taulan itu kembali bertanya, “Sudah kerja belum?” Setahun kemudian, pertanyaan si uwa, si bibi, si tetangga, dan si handai taulan, menjadi, “Kapan nikah?” Ah, ya, sekarang saya sudah menikah. Mereka itu kini bertanya, “Kapan punya anak?” dst, dst, dst. “Ah, kenapa tidak nanya saja, ‘kapan meninggal?'” “Husssssssssshhhh!!!!!” Bapak menghardik.

Jika Anda bertukar kartu nama, yang dicari pertama adalah nomor telgam masing-masing orang. Setelah itu jenis pekerjaan. Maka, pertanyaan, “Bekerja di mana?” maksud sebenarnya adalah, “Berapa gaji Anda?” Karena saya wartawan, pertanyaan yang sering mampir adalah, “Di mana?” Ini ternyata pertanyaan yang lazim diterima sesama juru warta. Tempat bekerja, dalam satu soal ini, menjadi penentu seseorang disegani atau tidak. Padahal, bukan karena medianya, seseorang jadi bagus bekerja.

Dalam sebuah acara hiburan (orang jadi latah menyebutnya infotainment), seorang selebritas kebingungan memilihi tawaran kakaknya: umrah atau handphone. Umrah atau handphone! Di zaman yang ndableg seperti sekarang sesuatu yang profan jadi sulit dipilih ketika berdampingan dengan suatu yang transeden. Orang menyejajarkannya seolah-olah itu dua komoditas berbeda yang sama penting. Tapi, mungkin juga sama penting di sebuah zaman ndableg: ketika lu adalah apa yang lu punya.

Identitas ternyata ruwet. Seruwet Zahra merumuskan siapa dirinya. Dalam novel Tahar Ben Jelloun ini, siapa menjadi apa sudah tak jelas lagi. Zahra lahir sebagai perempuan yang tak diinginkan ayahnya. Maka ia dididik dan diperlakukan sebagai laki-laki. Pada umur dua tahun ia pun disunat. Agar terlihat berdarah, si bapak melukai paha si bayi. Dan Zahra pun tumbuh sebagai laki-laki.

Tapi dalam usia balig, Zahra kebingungan ketika dari dalam vaginanya merembes darah menstruasi. Tapi, pola pikir laki-lakinya menolak itu peristiwa alamiah yang dialami oleh seluruh perempuan ketika menginjak masa puber. Ia tak ambil pusing. Sejak kecil, karena didikan keras ayahnya, ia juga merentang dendam terhadap si bapak. Maka, ia kabur dari rumah dan ikut rombongan sirkus-sandiwara yang keliling dari satu kota ke kota lainnya. Dalam rombongan sirkus itu, Zahra berperan sebagai perempuan!

Mana yang lebih rumit: Zahra atau handphone? Minggu-minggu ini saya memilih handphone yang tertinggal di rumah di kampung. Satu sisi saya senang tak memegang handphone, tapi jadi ruwet karena berurusan dengan kantor. Huh!

BAGIKAN
0

IMAM SAMUDRA

 

Imam Samudra tidak saja piawai meledakkan bom di Bali, tapi juga seorang penulis yang impresif dengan diksi yang memukau. Sebelas bulan dalam penjara ia menghasilkan catatan harian 200 halaman yang berisi curahan hatinya tentang jihad, Islam, teroris dan bom. Dari catatannya, kita tahu, ia meledakkan Bali dan mengangkat senjata di Afganistan tidak dengan otak kosong. Kepalanya disaput ideologi, Tuhan, dan harum surga.

Suatu saat catatan itu mungkin akan dibukukan. Barangkali, harus. Ia akan menjadi saksi bagaimana kilatan pikiran Imam pada detik-detik horor 12 Oktober itu, juga keyakinan yang sampai ke sum-sum. Saya baru baca sekilas dari uraian wartawan Tempo yang mendapat catatan itu. Tapi, yang sekilas itu saja mampu menghadirkan sosok Imam yang teguh keyakinan.

Ditulis dengan huruf kecil, satu baris diisi oleh dua baris kalimat, dengan huruf-huruf kapital, Imam menorehkan memoarnya yang ia sebut Biografi (Setengah Hati). Di sana ia menceritakan bagaimana hari-hari masa kecilnya dilewatkan di “sekolah sekuler”. “Sekolah agama yang tak terlalu ketat, dengan meja-meja yang sudah dimakan rayap,” tulisnya.

Sewaktu SMP ia tak seperti anak lain yang masih gemar petak umpet. Imam kecil lebih senang duduk berlama-lama di perpustakaan. Dalam belia ia sudah menyelesaikan novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karangan Buya Hamka. Saat di SMP 4 Serang, Banten, itu pula, ia berkenalan dengan Dr. Abdullah Azzam melalui bukunya Aayaturahman Fie Jihadil Afganistan (Tanda-tanda Kekuasaan Allah dalam Perang Afganistan). Ia terpesona oleh cerita Azzam hingga bermimpi bisa bergabung dengan para mujahidin itu.

Menginjak besar ia berkenalan dengan Internet. Dia bisa betah duduk sehari-semalam untuk surfing dan menemukan aneka gambar penderitaan rakyat Palestina juga Afganistan. Ia pun membagi ilmunya tentang Hacking, Darimana Mulai?. Ia jadi peretas yang membajak dan merusak situs-situs yang dianggap “musuh-musuh” imannya. Gelora jihadnya terus berkobar hingga pada 1990 sebuah kesempatan datang dan ia pergi ke tanah sengketa itu.

Kenapa Bali? Itu pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. Maka ia pun menjawabnya sendiri. “Bali hanyalah sekeping tempat berlindungnya teroris Amerika dan sekutunya.” Kenapa tak dilakukan di Amerika, Australia, Prancis, Jerman, Belanda? “Karena aku wanted, wanted, dan wanted. Kalau tidak wanted pun bukan urusan mudah mendapatkan visa dari negara-negara itu.” “Manusia yang tak mengerti jihad pasti akan mengutuk dan memberi komentar yang mengelirukan, menyesatkan dan menyakitkan.”

Imam barangkali seorang yang mudah tergugah. Ia seorang anak kampung yang terbuka mata dan hatinya oleh bacaan-bacaan. Karena itu ada banyak pertanyaan hinggap di kepalanya tentang agama, hidup, dan Tuhan. Ia jadi terlampau cepat dewasa dan menemukan jawab dari pelbagai pertanyaan itu lewat buku Azzam. Kita tidah tahu apa jadinya jika ia tak terpesona oleh lukisan di perpustakaan itu lalu matanya tertumbuk pada buku Azzam, tapi tatapnya jatuh pada komik Gareng dan Petruk karangan Tatang S yang legendaris itu.

Bagi anak kampung yang sudah berkenalan dengan bacaan sejak mula, umur akil balig memang seperti persimpangan. Imam meyakini jalan yang diyakininya benar. Maka tidak saja niat yang tumbuh di kepalanya dari doktrin Azzam itu, tapi keyakinan dan ideologi. Ia ciptakan, mungkin juga sudah tercipta, jalan yang memudahkan tetap mengobarkan keyakinannya itu. Jalan hidupnya terus menerus membawanya ke arah sana: arah Jihad yang diyakininya.

BAGIKAN
0