HP


Handphone, atau kalau di-Indonesia-kan jadi telepon genggam itu kini sudah jadi bagian dari identitas. Kalau Anda ditanya, “Lu, punya henpon? Ntar gua telpon,” kurang lebih maksudnya, “Henpon lu merek apa?” Dan merek, tentu saja, berhubungan dengan berapa besar penghasilan yang punya telgam itu. Juga seberapa kuat dia mengikuti mode. Lalu penghasilan berkait erat dengan status sosial.

Identitas memang rumit. Ketika pulang kampung, dulu-dulu, pertanyaan uwa, bibi, tetangga, dan handai taulan, pasti “sudah semester berapa?” “Lulusnya kapan?” Dua tahun berikutnya, uwa, bibi, paman, tetangga dan handai taulan itu kembali bertanya, “Sudah kerja belum?” Setahun kemudian, pertanyaan si uwa, si bibi, si tetangga, dan si handai taulan, menjadi, “Kapan nikah?” Ah, ya, sekarang saya sudah menikah. Mereka itu kini bertanya, “Kapan punya anak?” dst, dst, dst. “Ah, kenapa tidak nanya saja, ‘kapan meninggal?'” “Husssssssssshhhh!!!!!” Bapak menghardik.

Jika Anda bertukar kartu nama, yang dicari pertama adalah nomor telgam masing-masing orang. Setelah itu jenis pekerjaan. Maka, pertanyaan, “Bekerja di mana?” maksud sebenarnya adalah, “Berapa gaji Anda?” Karena saya wartawan, pertanyaan yang sering mampir adalah, “Di mana?” Ini ternyata pertanyaan yang lazim diterima sesama juru warta. Tempat bekerja, dalam satu soal ini, menjadi penentu seseorang disegani atau tidak. Padahal, bukan karena medianya, seseorang jadi bagus bekerja.

Dalam sebuah acara hiburan (orang jadi latah menyebutnya infotainment), seorang selebritas kebingungan memilihi tawaran kakaknya: umrah atau handphone. Umrah atau handphone! Di zaman yang ndableg seperti sekarang sesuatu yang profan jadi sulit dipilih ketika berdampingan dengan suatu yang transeden. Orang menyejajarkannya seolah-olah itu dua komoditas berbeda yang sama penting. Tapi, mungkin juga sama penting di sebuah zaman ndableg: ketika lu adalah apa yang lu punya.

Identitas ternyata ruwet. Seruwet Zahra merumuskan siapa dirinya. Dalam novel Tahar Ben Jelloun ini, siapa menjadi apa sudah tak jelas lagi. Zahra lahir sebagai perempuan yang tak diinginkan ayahnya. Maka ia dididik dan diperlakukan sebagai laki-laki. Pada umur dua tahun ia pun disunat. Agar terlihat berdarah, si bapak melukai paha si bayi. Dan Zahra pun tumbuh sebagai laki-laki.

Tapi dalam usia balig, Zahra kebingungan ketika dari dalam vaginanya merembes darah menstruasi. Tapi, pola pikir laki-lakinya menolak itu peristiwa alamiah yang dialami oleh seluruh perempuan ketika menginjak masa puber. Ia tak ambil pusing. Sejak kecil, karena didikan keras ayahnya, ia juga merentang dendam terhadap si bapak. Maka, ia kabur dari rumah dan ikut rombongan sirkus-sandiwara yang keliling dari satu kota ke kota lainnya. Dalam rombongan sirkus itu, Zahra berperan sebagai perempuan!

Mana yang lebih rumit: Zahra atau handphone? Minggu-minggu ini saya memilih handphone yang tertinggal di rumah di kampung. Satu sisi saya senang tak memegang handphone, tapi jadi ruwet karena berurusan dengan kantor. Huh!

BAGIKAN
0

IMAM SAMUDRA

 

Imam Samudra tidak saja piawai meledakkan bom di Bali, tapi juga seorang penulis yang impresif dengan diksi yang memukau. Sebelas bulan dalam penjara ia menghasilkan catatan harian 200 halaman yang berisi curahan hatinya tentang jihad, Islam, teroris dan bom. Dari catatannya, kita tahu, ia meledakkan Bali dan mengangkat senjata di Afganistan tidak dengan otak kosong. Kepalanya disaput ideologi, Tuhan, dan harum surga.

Suatu saat catatan itu mungkin akan dibukukan. Barangkali, harus. Ia akan menjadi saksi bagaimana kilatan pikiran Imam pada detik-detik horor 12 Oktober itu, juga keyakinan yang sampai ke sum-sum. Saya baru baca sekilas dari uraian wartawan Tempo yang mendapat catatan itu. Tapi, yang sekilas itu saja mampu menghadirkan sosok Imam yang teguh keyakinan.

Ditulis dengan huruf kecil, satu baris diisi oleh dua baris kalimat, dengan huruf-huruf kapital, Imam menorehkan memoarnya yang ia sebut Biografi (Setengah Hati). Di sana ia menceritakan bagaimana hari-hari masa kecilnya dilewatkan di “sekolah sekuler”. “Sekolah agama yang tak terlalu ketat, dengan meja-meja yang sudah dimakan rayap,” tulisnya.

Sewaktu SMP ia tak seperti anak lain yang masih gemar petak umpet. Imam kecil lebih senang duduk berlama-lama di perpustakaan. Dalam belia ia sudah menyelesaikan novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karangan Buya Hamka. Saat di SMP 4 Serang, Banten, itu pula, ia berkenalan dengan Dr. Abdullah Azzam melalui bukunya Aayaturahman Fie Jihadil Afganistan (Tanda-tanda Kekuasaan Allah dalam Perang Afganistan). Ia terpesona oleh cerita Azzam hingga bermimpi bisa bergabung dengan para mujahidin itu.

Menginjak besar ia berkenalan dengan Internet. Dia bisa betah duduk sehari-semalam untuk surfing dan menemukan aneka gambar penderitaan rakyat Palestina juga Afganistan. Ia pun membagi ilmunya tentang Hacking, Darimana Mulai?. Ia jadi peretas yang membajak dan merusak situs-situs yang dianggap “musuh-musuh” imannya. Gelora jihadnya terus berkobar hingga pada 1990 sebuah kesempatan datang dan ia pergi ke tanah sengketa itu.

Kenapa Bali? Itu pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. Maka ia pun menjawabnya sendiri. “Bali hanyalah sekeping tempat berlindungnya teroris Amerika dan sekutunya.” Kenapa tak dilakukan di Amerika, Australia, Prancis, Jerman, Belanda? “Karena aku wanted, wanted, dan wanted. Kalau tidak wanted pun bukan urusan mudah mendapatkan visa dari negara-negara itu.” “Manusia yang tak mengerti jihad pasti akan mengutuk dan memberi komentar yang mengelirukan, menyesatkan dan menyakitkan.”

Imam barangkali seorang yang mudah tergugah. Ia seorang anak kampung yang terbuka mata dan hatinya oleh bacaan-bacaan. Karena itu ada banyak pertanyaan hinggap di kepalanya tentang agama, hidup, dan Tuhan. Ia jadi terlampau cepat dewasa dan menemukan jawab dari pelbagai pertanyaan itu lewat buku Azzam. Kita tidah tahu apa jadinya jika ia tak terpesona oleh lukisan di perpustakaan itu lalu matanya tertumbuk pada buku Azzam, tapi tatapnya jatuh pada komik Gareng dan Petruk karangan Tatang S yang legendaris itu.

Bagi anak kampung yang sudah berkenalan dengan bacaan sejak mula, umur akil balig memang seperti persimpangan. Imam meyakini jalan yang diyakininya benar. Maka tidak saja niat yang tumbuh di kepalanya dari doktrin Azzam itu, tapi keyakinan dan ideologi. Ia ciptakan, mungkin juga sudah tercipta, jalan yang memudahkan tetap mengobarkan keyakinannya itu. Jalan hidupnya terus menerus membawanya ke arah sana: arah Jihad yang diyakininya.

BAGIKAN
0