SIDDHARTHA

Siddhartha berjalan jauh, menembus hutan, mengarungi sungai, mengembara ke desa dan kota-kota. Tapi ia tetap gelisah. Hatinya tak kunjung tenang. Ia telah menanggalkan istana dan kebrahmanaannya.

Ia bersalin rupa menjadi samana, yang cuma bercawat, bercambang dan gondrong, terus berjalan, berpuasa, meninggalkan segala nafsu dunia, dan menyerahkan sepenuh raga kepada apa yang ia namakan cinta. Tapi tak ada tuhan. Sang Maha itu selalu luput. Tuhan, pada Siddhartha, selalu bertukar tangkap dengan lepas.

Ia pernah bertemu Kamala, pelacur cantik di kota yang dikunjunginya. Kepadanya Siddhartha belajar segala hal. Main cinta, berniaga, hingga bagaimana menghibur diri ketika patah hati. Tetap sia-sia. Harta, wanita, dan tahta tetap tak bisa menyembuhkan kehausan Siddhartha akan cinta dan ketenteraman jiwa.

Padahal, sudah banyak ia berkorban. Ia meninggalkan orang tua yang sangat menyayanginya, meninggalkan Govinda, teman yang mengasihinya lebih dari siapapun, yang menemukan kedamaian setelah bertemu Gautama. Bagi Siddhartha, Tuhan tetap luput, dunia tak juga terkaut. Selalu ada lubang besar yang menganga, membentangkan jarak antara dirinya dengan yang di-Sana. Siddhartha berusaha merumuskan sesuatu apa yang di-Sana itu. Tapi kian jauh mendefinisikan, kian buyar rumusan dan kesimpulannya.

Siddhartha pun menanggalkan kembali segala kenikmatan dunia, Kemala yang telah memberinya janin, Kamaswami yang mengajarinya ilmu-ilmu dagang. Ia menemui Vasudeva, yang dulu menyeberangkannya ketika ia meninggalkan dunia samana di hutan. Sebab, setelah sekian lama pengembaraan, hanya tukang perahu itulah yang paling unggul menawarkan ketenangan. Kepadanya Siddhartha belajar bagaimana mengerti bahasa sungai, arus yang jernih, angin, kecipak burung, ketenangan batu-batu. Kepada alam itulah Siddhartha membuka segala indranya untuk menyerap dan mendekatkan diri kepada yang di-Sana.

Kita tidak tahu apakah Siddhartha berhasil dengan segala upayanya itu. Novel pendek Hermann Hesse, yang memberat dan terasa berusaha mengharukan, ini berhenti ketika Siddhartha belajar kepada sungai. Tapi barangkali tidak penting benar apakah Siddhartha berhasil atau gagal. Sebab, baik Shidarta maupun novel ini atau Hesse sendiri, barangkali tidak mementingkan hasil akhir. Siddhartha terus mencari sepanjang hayatnya.

Hesse sendiri “menemukan” Siddhartha setelah ia melawat ke Timur, antara lain ke India, Sri Lanka, dan Indonesia. Novel ini ia tulis–lalu terbit pada 1922–ketika ia sendiri sedang haus mencari akar religiusitasnya. Pada masanya, novel pemenang Nobel Sastra 1946 ini memang terasa menghentak dan aktual. Eropa, Jerman terutama, sedang dilanda gelisah oleh pelbagai ide ketika itu. Nihilisme merajalela, Holocaust, sosialisme, manusia bertempur dengan manusia, dan seterusnya.

Dan pencarian itu agaknya kekal. Gemanya sampai ke zaman Internet ini. Ada banyak novel sejenis dengan alur dan cerita yang berbeda ditulis banyak orang.

Seperti Han Nolan ketika menulis Send Me Down a Miracle. Pada akhirnya, novel-novel sejenis ini sering berakhir dengan kesimpulan seperti dikatakan Charrity Pittman, tokoh utama novel Nolan, “Tuhan ada bersama kita. Tidak dalam kitab suci, tidak dalam puisi, masjid atau gereja atau sinagog, atau banyak tempat ibadah lain. Ia menyatu bersama kita. Selamanya.”

Kesimpulan yang umum dari segala pencarian spiritual dalam banyak agama-agama.

Lalu kita pun percaya kepada doa. Dan agama dan iman bertaut dengan nalar yang tak berkesudahan. Sampai sekarang. Kita sendiri kadang tak habis pikir…

BAGIKAN
error0

PENERJEMAH BUKU ADALAH PENGKHIANAT?

SUATU sore, saya membuang sebuah buku Salman Rusdhie ke selokan. Buku terjemahan itu hanyut lalu hinggap entah di mana. Saya puas telah membuangnya. Buku itu masih hangat: baru saya beli dari sebuah toko buku.

Saya membelinya karena kepincut oleh nama besar Rusdhie. Saya teledor tak memeriksanya barang 2-3 halaman saat di toko itu. Dalam angkutan kota menuju rumah, saya membayangkan diri sendiri sore itu akan membaca sebuah buku yang asyik di beranda sambil menikmati angin dari hujan yang sebentar. Sekali lagi saya kecele: sampai lima halaman pertama buku tipis itu, saya bersikeras menangkap apa yang ingin ditulis Rusdhie. Dan saya tak mendapatkannya.

Setiap kali membaca buku terjemahan yang buruk, saya selalu ingat Umberto Eco. Seorang penerjemah, kata dia mengutip pemeo Italia, adalah seorang pengkhianat. Eco mengutip pepatah ini untuk menutup sebuah esainya yang jernih tentang terjemahan sejumlah novelnya. Il nome della rosa dan Pendolo di Foucault dijadikan contoh bagaimana ia merisaukan karya terjemahan.

Eco tentu saja risau: bisakah gagasanku tersampaikan oleh bahasa lain? Karena setiap kata dalam suatu bahasa tak tergantikan oleh kata dalam bahasa yang lain. Eco merasa “terhina” setiap kali bukunya selesai diterjemahkan. Penerjemahan, katanya, merupakan “proses politik yang menyakitkan”. Karena sebuah karya terjemahan berarti telah menumpulkan kejeniusan gagasan setiap penulis yang ternyata bisa ditiru dengan wadah yang lain, dengan bahasa yang lain.

Saat penerjemahan sedang berlangsung, Eco kerap kali bersepakat dengan William Weaver, penerjemahnya, jika ada kata atau bentukan yang sulit dicari padanannya. Sebab itu ia menganalogikan penerjemahan dengan jual beli telur di pasar. “Jika pedagang minta harga 100 dan kau menawar 10 maka kalian akan bersepakat pada harga 50,” katanya. Negosiasi seperti ini sering terjadi karena bahasa lain ternyata tak cukup menampung gagasan yang tertuang dalam bahasa asli.

Saat berdiskusi, ketika ada penerjemah yang tak mengerti gagasannya pada sebuah paragraf, kerisauan Eco makin bertambah-tambah. “Itu menunjukkan pikiranku suram saat menulis paragraf itu,” katanya, “aku sering kali tergoda menulis ulang.”

Milan Kundera, novelis Ceko yang mukim di Paris, bersikap lebih sengit pada seni terjemahan. Ia yakin sebuah karya sastra tak akan tergantikan oleh karya yang lain, sekalipun terjemahan. Baginya, “Sihir seni terletak pada keindahan bentuknya.” Jika jiwa sebuah novel masih ada saat diterjemahkan atau ditulis ulang, dalam pengantar bukunya ia pernah menulis begini, maka novel itu bernilai rendah.

Komunikasi yang terjalin dalam sebuah karya terjemahan tidak lagi teks dengan pembaca, tidak saja penulis dengan pembaca, tapi penulis, penerjemah, teks, dan pembaca sekaligus. Distorsi makin terbuka karena prosesnya makin panjang. Maka alangkah tepatnya pemeo orang Italia itu. Dan saya puas telah membuang Salman Rusdhie.

*) beberapa bagian pernah dimuat di Lampung Post.

BAGIKAN
error0

JAKARTA KAFE

 

 

Jakarta, dalam cerita-cerita ini, adalah ceruk yang tenang tapi gersang, berisik tapi sunyi, gemerlap tapi muram. Jakarta seperti musik jazz: serba ada dan menawarkan segala macam kemungkinan.

Paradoks-paradoks itu bisa hadir sendiri-sendiri, tumpang tindih, atau rombongan sekaligus sehingga sulit menyebut apa warna Jakarta sesungguhnya. Sebutlah sesuatu, itulah Jakarta.

Tatyana–ini debut bukunya–menghadirkan Jakarta tak hanya sekadar lanskap. Jakarta hadir lewat perbincangan, keluh kesah, monolog atau lamunan. Karena itu buku ini tak bisa dijadikan panduan untuk jalan-jalan di Sudirman atau menyusuri macetnya jalan-jalan alternatif. Jakarta hanya “terlihat dari depan pintu kafe”.

Ada banyak soal yang pasti mendekam di ini kota: salah urus, terlalu besar, dan seterusnya. Tapi percayalah, masuk Jakarta lewat pintu ini akan menjadikan cerita berhenti sebatas sketsa. Bukan kisah yang bisa menghadirkan tokoh yang punya seribu-satu soal namun tak kunjung bisa mereka pahami. Ini seperti menabalkan adagium “kota sebuah lanskap yang asing” dari Raymond Williams.

Asing bahkan dengan diri sendiri. Orang-orang bisa disebut dengan nama apa saja atau bahkan tak bernama. Tapi mereka adalah kita, ada di sekitar kita: perempuan yang sendiri, cinta tak sampai yang membingungkan, jengkel karena macet, cemburu pada istri teman, jatuh cinta pada bapak beranak tiga yang punya istri setia, main mata dengan tetangga.

Kejadian bisa pula terjadi di luar Jakarta, atau mana pun. Kerisauan Joshua Karabish atau kesumpekan Ny Elberhart, dalam Orang-orang Blooomington, juga bisa menimpa kita meski mereka tinggal di jauh benua. Geografis tak membuat persoalan dasar manusia jadi berbeda.

Dan kisah yang berkesan, ternyata, tak perlu datang dari gagasan besar, imajinasi aneh-aneh. Kisah-kisah datang lewat email, sandek, sebuah janji, taman yang kotor, metromini yang sumpek. Sepele. Tapi perajin yang baik akan memulas bonggol tak berguna menjadi patung yang dahsyat. Tergantung bagaimana keunikan dibentuk dengan jalinan yang bernas. Jakarta Kafe telah melakukannya.

BAGIKAN
error0

ANAK KRISTUS

 

 

Sudah tentu ini akan diprotes. Di Libanon, pusat Katolik di sana menyerukan mencabut peredaran novel ini. Tapi ditentang serikat penerbit: “Salman Rushdie diburu, tapi Islam tetap ada. Dan jika Dan Brown juga diburu, Kristen tak akan punah.” Itu kalimat Ahmed Fadlalla Assi. Dan Brown sudah menikmati 7,5 juta eksemplar novelnya di seluruh dunia.

Tapi memang mengejutkan. Melalui Da Vinci Code, Brown mengubrak-abrik kepercayaan Kristen dalam Perjanjian Baru. Menurut Brown, Yesus telah menikah dengan Maria Magdalena dan melahirkan anak perempuan bernama Sarah ketika Ia menahan sakit di bukit Golgota. Si anak ini kemudian juga beranak dan bercucu hingga melahirkan kelompok Priory of Sion. Sejak sepuluh abad lalu, kelompok ini bertahan dengan sembunyi karena menghindari amuk gereja.

Anggotanya para pangeran Inggris dan pesohor dunia: Leonardo da Vinci, Sir Isaac Newton, Victor Hugo…dan terakhir Jacques Sauniere, kurator di Museum Louvre, Paris. Kelompok ini terus menyiarkan keyakinan bahwa Maria Magdalena bukan pelacur seperti yang diwartakan Gereja. Kampanye negatif karena Maria diberi hak oleh Yesus untuk mendirikan Gereja. Maria adalah keturunan Keluarga Benjamin, seorang bangsawan. Brown lalu mengutip Kitab Matthew, Yesus adalah anak keturunan Raja Daud-Sulaiman. Jika dua orang ini bergabung akan membentuk sebuah kekuatan politis yang dahsyat dan berpotensi menggeser tahta raja-raja sesudah Sulaiman. Bukti lain lagi,Yesus orang Yahudi. Pada jaman itu, seorang yang tak menikah akan dikutuk.

Novel ini semakin menarik karena selapis-demi-selapis mulai menyingkap kode-kode rahasia yang disebar Sauinere yang dibunuh oleh rahib alibino, Silas–anggota kelompok Katolik koservatif: Ovus Dei. Robert Langdon, ahli simbol dari Harvard, dan Sophie Neveu, kriptolog di kepolisian Paris, adalah dua orang yang berkutat memecahkan kode itu sambil was-was karena dikejar oleh polisi pengadilan Paris. Polisi menuding Langdon adalah pembunuh Sauinerre, karena namanya ada dalam kode di samping mayat Sauinerre.

Perburuan kode itu dimulai dari menyingkap rahasia lukisan Da Vinci, Madonna of the Rocks, tempat menyembunyikan batu pengunci yang akan membimbing mereka ke Holy Grail, rahasia besar tentang keturunan Yesus yang berabad-abad disembunyikan. Selama petualangan dua hari-semalam itu, keduanya menemukan kaitan, teka-teki, anagram, dan kode-kode yang disebar Da Vinci dalam lukisan-lukisannya yang terkenal ke dalam sejarah Kristus. Dalam Mona Lisa, misalnya, tak hanya sifat androgini yang ditemukan melalui wajah misterius itu, tapi garis-garis dan cat blur itu menyimpan kode yang menghubungkan pada komunitas Sion yang pernah ada. Da Vinci adalah Grand Master kelompok itu.

Juga lukisan The Last Supper. Jika lukisan itu diperbesar maka orang ke-13 yang tampak bukan seorang murid Yesus yang sedang memegang cawan, tapi Maria Magdalena sendiri: sang Cawan Suci yang menadahi benih Yesus, Sang Real, chalice yang misterius itu. Da Vinci melukiskan dua orang itu tampak serasi: Yesus memakai jubah hijau, warna baju Maria. Santo Peter yang dibakar cemburu berbisik sambil menyodorkan bilah tangan ke Maria. Lalu penyaliban itu tiba, Maria harus lari untuk menyelamatkan keturunannya.

Sejak itu keluarga keturunan Maria membentuk kelompok sembunyi-sembunyi. Dalam novel ini, Sophie adalah keturunan terakhir yang masih ada. Seluruh keluarganya terbunuh dalam kedok sebuah kecelakaan mobil. Ia kemudian bertemu dengan neneknya, yang sudah dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu, di Kapel Rosslyn, Skotlandia, tempat terkuburnya dokumen Holy Grail. Brown mencurigai Disney, karena dalam kartun-kartunnya kerap menyuguhkan cerita tentang Holy Grail secara terselubung. Dan dari semua teka-teki itu pelaku utama yang berada di belakangnya adalah …ah, baca aja sendiri.

BAGIKAN
error0