SENJA DI PANTAI KRUI

KAMI adalah orang-orang asing. Ia datang sebagai turis yang baru datang dari Bugis. Sedang aku setengah-turis-setengah-peneliti. Ia mungkin datang dengan sebuah harapan: akan ada lagi pantai yang nyaman untuk berselancar. Sedangkan aku datang ke pantai ini dengan sebuah hipotesis dan sehimpun pertanyaan. Kami adalah orang asing yang dipertemukan senja Pantai Krui.

Jika pantai tempat mempertemukan orang-orang asing maka losmen mengukuhkannya.

Di pantai itu, di senja itu, aku melihatnya tertegun, di sebuah pelabuhan lama yang bacin karena bersebelahan dengan pasar ikan. Ia membiarkan kakinya yang putih tertampar sisa ombak yang mulai pasang. Rambutnya digerai; pakai tank-top yang tak ketat. Dan celana pendek setengah paha. Ia menjinjing sandal jepitnya. Kutebak usianya tak lebih dari 30.

Lalu ia menyusuri panjang pantai ini. Seolah ingin melihat di mana matahari bersembunyi, usai memancarkan cahaya keemasannya yang anggun. Setiap pantai selalu merangsang pendatang dengan cahaya senja. Apalagi di sebuah pelabuhan kecil yang menyisakan jangkar abad lalu. Di antara gudang, rumah tua, pada cerita, tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut, menghembuskan diri dalam mempercaya mau berpaut. Aku merasakan, Chairil Anwar sedang tertegun di sini ketika menuliskan larik-larik itu.

Senja sudah meredup ketika kulihat lagi ia di beranda losmen yang kutempati: sebuah losmen paling mewah sekaligus paling murah. Hanya 25 ribu perak semalam. Kami ternyata tetangga kamar. Maka ini bukan hanya sebuah kebetulan, atau sekadar pertemuan, ini sebuah peristiwa yang mungkin akan menyusun sebuah cerita.

Dan cerita itu tersusun tanpa kehendakku sendiri. Kami jadi manusia asing yang asyik hidup di sebuah pelabuhan kecil di ujung pulau ini. Senja selalu saja kami nanti selain waktu-waktu yang lain. Sebenarnya matahari terbit bagus juga. Hanya saja, kemunculan matahari sebuah tanda pantai ini memulai hari dan sambutan para nelayan juga pasar yang bacin. Tidak seperti senja yang menutup hari lalu melepas para nelayan dan gerimis yang mempercepat kelam. Di sebuah pelabuhan, gerimis menyimpan pesonanya sendiri. Karena laut akan berpaut, karena pasir menghentikan langkah para pasasir.

Begitulah. Cerita ini kutulis untuk mengenang seseorang. Karena sebuah cerita yang terlampau lama mengendap akan menguap. Maka kutuliskan cerita ini untuk mengenang senja yang berkesan dalam sebuah ingatan yang cepat lekang. Tapi cerita yang kutulis ini hanya dua episode saja dari banyak episode yang tak bisa kutolak. Aku dan ia pelakon utamanya.

***

IA duduk di beranda losmen memandangi jalanan yang mulai lengang karena terik yang amat menyengat. Keberadaannya mengundang mata beberapa orang yang lewat meliriknya. Dari penjaga losmen ini kutahu ia baru tiba. Orang Kanada, katanya. Tapi kulitnya sudah gelap, merah di pipinya hampir lenyap. Mungkin ia terlalu lama berdiang di bawah matahari. Setiap turis yang datang ke tanah tropis selalu punya tujuan yang sama: memburu matahari. Aneh juga. Kami di sini amat menghindari matahari, meski terik itu sudah jadi akrab. Kami tak ingin matahari karena khawatir kulit menjadi bersisik dan gelap, meski para nelayan amat membanggakan kulit semacam itu. Kulit legam menunjukan bahwa laut sudah menyatu dengan darah mereka: satu zat satu urat. Tapi legam kulitnya menunjukkan sebuah kasta, bahwa ia pernah berkunjung ke sebuah negeri yang pantainya tersimbah panas matahari.

Kusapa, dari mana, sepertinya kau sedang berduka. Ia tersenyum. Lalu ia bercerita–kami begitu saja langsung akrab, mungkin karena ia juga menangkap isyarat bahwa aku juga orang asing di sini–ia baru datang dari tanah K. Bisa juga. Di peta, pulau Sulawesi memang mirip huruf “K” yang berkepala (guru sekolahku dulu mengajarkan menulis huruf itu dengan kepala yang terlihat seperti ekor). Kamu datang sendiri? Tidak, katanya. Kupikir memang begitu. Ia tersenyum. Temannya, ya, peta itu. Boleh juga. Kamu punya selera humor juga rupanya.

Dan selera itu yang mendekatkan kami. Ia jadi sering bertanya tentang pantai dan pelabuhan ini yang menghidupi para nelayan di sebuah kota yang seperti bangkit dari masa lalu. Harus kuakui, aku sendiri menyimpan pertanyaan itu. Kota kecil ini terasa mistis. Bangunannya terbuat dari kayu-kayu pohon yang jenisnya sudah punah dan tak ditemukan lagi. Jangkarnya seperti terpancang dengan jarak yang amat panjang. Pasir menguburnya seperti sejak sebelum masehi. Kamu berlebihan, katanya.

Ia seperti menemukan sebuah dunia baru. Setiap pagi, ia akan bangun dan berjalan menyusuri jalan yang tembus ke bibir pantai yang bacin. Ia terus berjalan hingga menemukan sebuah oplak dengan ombak yang menjulang. Di sebuah ceruk yang tak terlalu dalam, ia meluncur di sana. Sendirian. Dia mengajakku juga. Tapi, maaf, aku tak kenal papan seluncur sejak kecil. Maka aku hanya bisa memandanginya bermain air dari bibir pantai sini. Kupandangi ia yang kuyup ditelan ombak ditingkahi suara camar sayup-sayup.

Setelah itu aku yang pergi, ke gunung, menemui para petani yang menuai getah-getah damar. Getah-getah itu telah menghidupi orang-orang sini sejak entah turunan ke berapa. Pohon-pohon itu seolah tumbuh dan ditakdirkan untuk orang-orang sini. Sebab pohon damar tak ditemukan di daerah lain, kecuali di Gunung Gede. Itu pun bukan karena proses alam. Seorang peneliti membawa bibit damar itu ke sana dan menanamnya. Tapi tak sehebat getah di sini, kata seorang petani dengan bangga. Getah itu telah menyelamatkan penduduk di lereng Bukit Barisan Selatan bertahan dari membumbungnya nilai tukar dolar yang menyengsarakan hidup orang-orang di pusat kota. Krisis ekonomi, kata para petani yang tak mengerti arti sebenarnya frase itu, telah memberi berkah karena mereka bisa membeli parabola, sepeda mesin, dan mobil. Sebab, getah damar setimpal dengan harga dolar. Jika dulu, di zaman ayem, sekilo getah damar sama dengan sekilo beras, kini sekilo damar bisa menghasilkan puluhan kilo beras. Para petani mendapat rezeki nomplok.

Aku mendatangi mereka di saung-saung bertiang tinggi di kebun. Musuh para petani bukan pencuri bukan pula babi. Tapi gajah. Jika sedang lapar, gajah-gajah dari Bukit Barisan Selatan sering turun ke kebun dan merusak tanaman. Para petani tak bisa berbuat apa-apa jika gajah telah datang. Berbuat apa berarti mati. Banyak sudah petani yang gugur diamuk gajah karena berusaha menghalau hewan besar yang lapar. Yang bisa dilakukan para petani adalah membuat penakut agar gajah tak semakin merangsek masuk ke permukiman. Agar para gajah kembali ke hutan.

Ia juga terpesona oleh temuanku. Kadang-kadang, setelah berselancar, ia sering ikut naik gunung karena di sana para petani dengan gratis memberi durian atau dukuh. Setelah itu, kami akan menyusuri lembah-lembah yang cantik sepanjang Pesisir Krui. Dari ketinggian, kami bisa melihat Samudera Hindia membentang hijau tak bertepi. Di antara bukit dan laut itulah Pesisir Krui terhampar. Sebuah perpaduan yang sungguh sempurna. Jalan raya yang menghubungkan Krui ke Bengkulu berkelok-kelok di bibir tebing pantai, melingkar seperti ular. Seekor ular besar yang hanya hidup dalam fabel.

Atau menyeberang ke pulau Pisang, sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni, sambil berusaha melafalkan huruf “grha”, huruf “R” yang dikumur. Sehingga pelafalan Krui yang benar bukan mengikuti kata yang tercetak dalam Latin, tapi “Ke-grh-ui”–sangat susah untuk lidah seperti kami yang mengenal huruf R dalam alfabet. Anehnya, jika bicara dalam bahasa Indonesia biasa, orang Krui melafalkan “R” sama dengan kebanyakan orang Indonesia lainnya. Ia sempat berniat meneliti dengan serius pelafalan huruf itu dari sejarahnya, susunan huruf dalam aflabet cikal bakal orang Lampung, hingga pengaruhnya ke budaya baca tulis. Tapi niat itu selalu terhalang oleh keanggunan senja yang lebih memikat hatinya.

“Seandainya pulau ini terpencil, maukah kamu hidup di sini?” tanyanya tiba-tiba, setelah memotret sebuah mercusuar dan ranggon yang rimbun.

“Tidak.”

“Tidak? Ah, betapa menyenangkannya hidup di sini. Sunyi. Kita bisa melakukan apa saja.”

“Maksudku, aku tidak mau tinggal sendiri,” kataku. Agak terkejut dengan kalimatnya yang menyelipkan kata “kita”. “Jadi kamu mau tinggal di sini?”

“Sayangnya, pulau ini tidak terpencil, masih bisa dijangkau orang-orang. Padahal aku sudah lama ingin tinggal terpencil.”

“Untuk apa?”

“Untuk menghindari dunia”

Lalu ia bercerita, itulah kenapa ia meninggalkan negerinya. Ia ingin mencari sebuah negeri yang tak terjangkau oleh masa lalunya. Sayang sekali, ia tak menyebut apa masa lalunya itu. “Kadang-kadang aku ingin menjadi Robinson Crusoe atau Ada Blackjack*), pergi jauh, jauh sekali dan mati atau bertahan di alam,” katanya.

Itulah akhir cerita episode pertama. Hanya sampai di situ aku bisa mengingat. Selebihnya biarlah menjadi catatan diriku sendiri saja. Bisa juga menguap tanpa sempat kucatat atau tersimpan dalam bawah sadar, yang akan muncul suatu saat entah kapan, terpancing oleh senja dan aroma hutan. Kini aku ingin menulis episode kedua, episode terakhir dalam cerita ini.

***

EPISODE kedua masih diawali oleh sebuah senja, pelabuhan lama, pasar ikan yang bacin, jangkar dan gudang-gudang tua, juga kenangan yang berkesan dalam ingatan yang cepat lekang.

Ia duduk di bibir pantai itu seperti memendam sebuah duka. Aku tidak tahu apakah itu duka atau raut gembira. Ia baru saja menerima surat entah dari mana. Orang Kanada mungkin selalu tahu alamat sanak keluarganya. Karena mereka selalu berkirim kabar, melalui surat atau telepon. Aneh juga, pikirku. Bukankah ia ingin menghilang dari negerinya? Tapi, kenapa masih mengabarkan jejak? Ah, ini bukan wilayah pengetahuanku. Yang ingin kutahu adalah surat apakah yang bisa menyebabkan ia berduka atau bergembira. Maka kuhampiri ia. Kukecup punggungnya yang terbuka dan kepalanya yang menunduk. Tanpa menoleh, ia pegang tanganku, mengecupnya, lalu menyandarkan kepalanya. Kupeluk ia dari belakang. Hening. Hanya ombak itu saja yang terdengar, mengisi setiap relung-relung hati kami: orang-orang asing yang dipertemukan oleh senja.

Kemudian aku tahu, surat itu dikirim oleh ibunya, melalui perantara entah siapa. “Sebuah surat duka,” katanya. Ayahnya meninggal sebulan lalu oleh kanker yang menggerogoti paru-parunya. Ibunya hanya mengabarkan itu, dan sebuah wasiat terakhir dari ayahnya, “Maafkan aku.” Hanya itu. Dan kalimat itu yang membikinnya berduka. Jika saja tak ada kalimat itu, katanya, hatinya tak akan terusik oleh kabar yang dikirim ibunya. Toh, dalam surat itu, ibunya tak menyuruhnya pulang. Kalimat terakhir ayahnya itu pula yang meluruhkan seluruh pertahanan niatnya untuk tak pulang. Ia sudah bersumpah tak akan pulang sebelum ayahnya minta maaf atas semua dosa yang kini membekas dalam ingatannya.

Akhirnya ia bercerita juga tentang masa lalu itu.

Ayahnya adalah seorang agen pemerintah. Ayahnya pula, oleh sebuah keteledoran yang sepele, membocorkan pengetahuan yang serba sedikit tentang aktivitas anak perempuan satu-satunya itu. Ayahnya membocorkan bahwa ia terlibat dalam satu gerakan radikal yang akan merongrong kekuasaan. Tapi, ayahnya pulalah yang kemudian memberitahu bahwa nama anaknya masuk dalam daftar hitam pencarian orang. Polisi dan intel sudah memasang mata dan telinga di setiap sudut dan celah yang memungkinkan orang ke luar dari negerinya. Dengan memalsukan identitas dan pertolongan seorang teman, ia bisa keluar melalui sebuah biro jasa yang menawarkan tur gratis ke Asia lewat internet dengan sejumlah kuisioner yang harus tepat dijawab. Aku juga terperanjat, bahwa sebenarnya, ia bukan dari Kanada. Ia mengaku dari Irlandia. Dan ia terbang ke Thailand sebelum singgah di Singapura, yang akhirnya mendarat di Bali lalu ke pulau-pulau lain di Indonesia.

“Aku harus pulang,” katanya.

“Kenapa harus?”

“Ibuku pasti ingin aku di sampingnya saat ini.” Ia mengendurkan pelukannya. Kuseka sisa air matanya. Kami jadi duduk bersisian, memandang ke arah senja laut. Camar beterbangan di sana.

Sesaat hening. Debur ombak makin keras terdengar. Angin laut makin terasa kencang. “Pulanglah, meski aku tak rela,” kataku, mencoba memecah sunyi. Dia masih diam dalam duduknya. Tatapnya kosong memandang ke arah laut yang mulai menyemburat keemasan. Angin pantai menebas-nebas rambut kami.

“Tapi…” ia menghela napas. Sebentar matanya melirik ke arahku, lalu berpaling lagi ke arah semula.

“Tapi? Tapi apa?”

“Bisakah kita berpisah?”

“Ha-ha-ha. Bisa. Toh untuk satu-dua minggu kan?”

Ia menggeleng. “Aku kira bisa lebih. Mungkin tidak tentu.”

“Kenapa?”

Ia menarik napas. “Kautahu bagaimana nasib seorang buron. Aku sendiri tidak tahu apakah bisa bertemu ibuku. Keadaan politik di sana sudah berubah memang, tapi aku sendiri tidak bisa menjamin apakah aku bisa bebas masuk ke sana, dan keluar lagi”.

“Hmm”. Aku menerka-nerka situasi politik apakah yang sedang terjadi di sebuah negeri. Aku sudah lama tak terhubung dengan berita. Aku tidak yakin apakah benar ia dari Irlandia, seperti diakuinya. Mungkin dari sebuah negeri entah di mana. Bukankah seorang buron bisa rapat menutupi identitasnya? Aku telah teperdaya oleh pikiranku sendiri. Ia tak pernah cerita asul-usulnya sebelum ini. Aku sendiri yang menebak-nebak dan telanjur percaya cerita penjaga losmen itu bahwa ia orang Kanada. Dan bagaimana pula seorang aktivis bisa menitikkan air mata? Tapi bertanya soal air mata dalam situasi seperti ini bisa-bisa merontokkan romantisme yang sudah terbangun senja itu.

“Di sana juga ada anak laki-lakiku.”

“Apa?”

“Kamu kaget?”

“Hmm, ya ya. Tapi kukira pulang memang jalan paling baik.” Aku mencoba bersikap tenang.

Dia menarik napas panjang, sebelum wajahnya menghadap ke arah wajahku.

“Tapi…tapi bagaimana dengan bayi ini?” ia mengusap perutnya.

“Bayi? Bayi siapa?” Aku makin terkejut dengan setiap pernyataannya.

“Bayi kita. Benihmu sudah jadi bayi.”

“Apa?” Setengah tak percaya kutatap matanya. Tapi ia menghindar tatapanku.

“Bagaimana aku meninggalkan kamu, meninggalkan Indonesia, sementara ada manusia dalam rahimku,” suaranya lirih, frekuensinya hampir tak mencapai gendang telingaku karena lindap oleh debur-debur ombak.

Aku masih diam. Tak sanggup berkata apa pun. Aku senang mendengar kabar ia hamil. Itu berarti keturunanku tak punah. Riwayat hidupku akan abadi. Tapi, saat itu juga dadaku sesak, bagaimana memutuskan status bayi itu.

Senja makin tua. Matahari yang bulat emas sudah separo tenggelam ditelan ufuk barat. Kami masih saling diam. Angin senja mempermainkan rambut kami, mempermainkan kecamuk pikiran dan hati kami: orang-orang asing yang dipertemukan senja di Pantai Krui.

Pesisir Krui, 2000-Jakarta, 2004

Catatan:

*) Ada Blackjack dijuluki “Robinson Crusoe perempuan” karena kemampuannya bertahan dalam dingin dan asing Pulau Wrangel, Samudera Artik, Kutub Utara. Blackjack terdampar di pulau itu dalam suatu ekspedisi untuk menetapkan klaim Artik yang diperebutkan Amerika Serikat dan Inggris pada 1921. Dia satu-satunya anggota yang selamat dari lima anggota tim yang semuanya laki-laki. Adapun Crusoe adalah tokoh dalam karya fiksi Daniel Defoe yang bertahan hidup di sebuah pulau terpencil.

**) Dimuat di Lampung Post edisi 26 Maret 2006.

BAGIKAN
0

FRAGMEN

Dimuat di Lampung Post, edisi 3 Mei 2009

Raut Tursi

RAUTNYA tursi. Mungkin karena warna bajunya, mungkin karena rambutnya, mungkin karena lampu-lampu di atasnya, mungkin bukan karena itu semua. Rautnya tursi, saya tak berani menatapnya. “Bukankah aku sudah jadi puisi?” Apa yang puisi apa yang bukan.

Kata-kata bahkan tak lagi akrab. Dan malam lunglai sehabis percintaan yang masai. Kita tak pernah punya jeda untuk menafsirkan yang mungkin dan tak mungkin. Kita berlari mengejar puisi dan selesai dengan sebuah prosa. Metafora lepas, yang ada hanya tanda-tanda yang jelas. Kita tak menciptakan enigma, hanya sebuah keruwetan yang tak mudah kita urai kembali.

Saya tak berani menatapnya karena mungkin ia memang sudah jadi puisi, untuk saya, orang di depannya, yang dalam sela-sela sisa-sisa keberanian mencuri-curi menatapnya. Saya tahu itu sia-sia. Rautnya yang tursi mengingatkan saya pada dongeng tentang topeng yang pasi.

Bapak mengisahkannya entah kapan entah sedang apa. Saya lupa pada peristiwanya. Yang menyangkut di ingatan hanya wajah topeng itu saja. Barangkali kurang tepat membandingkan raut perempuan di depan saya dengan topeng itu. Hanya dampaknya sama: saya tak berani memandangnya.

Topeng itu konon pernah hilang dari kamar Aki. Semua orang ribut. Semua orang mencari tapi bingung ke mana harus pergi. Tak ada yang pergi sampai topeng itu kembali. Aki tak lagi sering menyendiri. Temannya telah kembali. Keduanya merayapi hari-hari tua yang sepi dan sakit: tak ada anak-anak, tak ada orang-orang tua.

Saya pernah mengintipnya, sayup-sayup di umur entah berapa. Topeng itu dipasang di atas cermin tua yang gagah dengan ukiran-ukiran yang ruwet. Menatap cermin itu sudah terasa beratnya. Galuh jati. Dan topeng itu, topeng kayu yang aneh, topeng dengan kerut-kerut dahi yang gering, akan menatap Aki jika berbaring di ranjangnya. Topeng ini yang telah membikin saya ada: bikin Aki panjang umur lalu membuat bapak lahir, menyelamatkan ulu hati dari hujaman bayonet Jepang. “Saya hanya seorang pembuat topeng.”

Saya bilang ini dongeng. Kisahnya mungkin nyata, dekat sekali karena nama-nama begitu akrab. Tapi kejadian-kejadiannya, keanehan-keanehannya teramat fiksi. Atau karena bapak tak bisa menjelaskannya dengan masuk akal? Saya memilih percaya dugaan ini. Sampai topeng itu dikubur dan rumah tua dibagikan ke bibi-bibi lalu dibangun yang baru. Dikubur karena semua anak, semua cucu, tak ada yang betah menatap atau menyimpannya.

Begitulah. Ada kerut gering dalam raut yang tursi itu. Kerut pasi topeng itu. “Bukankah aku sudah jadi puisi?” Ya, ya, kamu mungkin sebuah puisi.

Jeda

BARANGKALI kita memang perlu jeda, terutama pada gairah yang menggebu, pada hidup yang menderu, pada sengkarut soal yang tak akan bisa kita pecahkan. Pada jeda itu kita bisa berharap–atau tidak berharap, sekadar membuka peluang stop pada sesuatu yang belum usai–kita bisa kembali kepada sesuatu yang sudah lama kita lupakan: harum pagi, bening embun, atau bau tanah basah sehabis hujan yang sebentar. Hanya pada jeda kita bisa meresapi, mungkin malah bisa memasuki keheningan—barangkali kesunyatan: sebuah sumber energi untuk kita bisa mengambil jarak pada yang ada dan tiada.

Pada dunia yang hiruk pikuk ini jarak itu senantiasa nol. Kita nyaris tak bisa membedakan mana yang profan dan mana yang imanen. Kita melewatkan usia, tak sempat mencium dan menyesap uap kopi pagi, mendengar dengus napas, bahkan bau liur di bantal kita sendiri. Kita tak sadar liur itu menandakan sebuah kenikmatan: kenikmatan bahwa manusia memang terbatas, kita butuh istirah dan berbuat adil pada otot dan sendi kita sendiri. Tanpa jeda, rutinitas itu senantiasa akan jadi jadwal yang tetap: seperti para sipir yang membangunkan para tahanan karena senam pagi adalah bagian dari hukuman.

Barangkali kita memang perlu berhenti, singgah sebentar, menghela napas, mengatur energi, untuk berlari lagi esok hari….

Sore yang Genting

TAMAN yang bisu, bangku-bangku kosong, tak ada deru klakson atau anak yang meniup harmonika. Burung-burung menjauh ke langit jenuh. Cuaca pun kesumba ketika udara menggetarkan bulu-bulu mata. Bahkan bunga-bunga ini, cintaku, tak lagi menghadang gerimis yang jadi kuning.

Kita pernah duduk di sini, menaja duka yang datang tiba-tiba. Barangkali memang tak ada yang kekal, kecuali sehimpun doa–seperti kau percaya bahwa lupa kelak membebaskan kita.

Arung

AKU tak bisa melihat dunia di depanku. Segalanya pekat. Dunia yang terlalu besar. Mataku tersungkup. Frekuensi retinaku tak sanggup menangkap bayangan apa gerangan yang melintas tiba-tiba.

Situasi ini mirip dengan apa yang dialami Sika Bhayandara ketika dia hampir saja mati dan merasa berada di persimpangan surga dan neraka. Tapi Sika tak ingat lagi ketika persimpangan itu tiba-tiba hilang dan dia kembali ke bumi. Barangkali itu hanya mimpi, atau semacam alusi yang merangsek ke wilayah sadarnya.

Yang kualami ini jelas bukan mimpi. Aku sadar. Aku bisa merasakan bumi yang bergetar, harum pagi, dan dengus napasku sendiri. Tapi, ini gelap tak juga lindap.

Dan bayangan yang melintas tiba-tiba itu mungkin tuhan. Seperti yang pernah dicurigai guru sekolahku ketika kecil.

Dia mengajarkan bagaimana melihat tuhan dengan mata terbuka. “Tutupkan telapak tanganmu ke matamu, kau akan melihat tuhan di sana.” Di sanalah tuhan akan kautemui. Dalam kegelapan, dalam ketakterjangkauan, kau akan ketemu tuhan. Tuhan tak terjangkau maka kau harus menemuinya dengan ketakterjangkauan pula. Tapi tuhan begitu dekat. Sedekat napas atau sedekat retina matamu sendiri.

Tapi aku tak melihat tuhan. “Tapi-kau-tak-akan-tahu-tuhan.” Begitulah. Suara itu datang dari masa lalu. Terngiang kembali seperti gema yang datang pelan-pelan.

“Tapi kau tak akan sampai tuhan.”

BAGIKAN
0

ORANG-ORANG SAKIT

IA duduk agak ke sudut: perempuan yang berteman dengan bayangannya sendiri. Perempuan yang selalu mengajak bayangannya sendiri bercakap-cakap. Ia selalu duduk di kursi itu mulai pukul 17.30, setiap Jumat. Ini pemandangan biasa sejak setahun terakhir. Pramusaji juga sudah paham, pada jam itu, secangkir kopi harus dihidangkan sebelum perempuan itu menjentikkan jarinya ke udara. Kopi yang tak terlalu manis. Gula jangan lebih dari seujung sendok.

Aku pengunjung baru di sini. Cerita tentang perempuan yang bercakap dengan bayangannya sendiri hanya kudengar dari mulut orang-ke-orang. Tentu saja cerita yang sudah dibumbui gosip dan rekayasa agar terdengar lebih dramatis dan meyakinkan. Kata orang, kopi di kedai ini akan meninggalkan magnet di lidahmu. Lidahmu akan tertarik kembali ke sana jika sekali saja kau mencicipi adonan kopinya yang khas dan pas. Aku akan menjajal magnet itu sore ini. Maka aku memesan kopi paling spesial.

Aku harus sepakat dengan pengunjung lain agar jangan berisik dan sekali-kali mengganggu perempuan itu. Juga jangan sampai ia tersenyum. Kau akan menyesal telah melihatnya tersenyum. Kau menyesal kapan lagi akan bisa melihat senyum yang ramah dan teduh.

Dulu, pasti sebelum satu tahun belakangan, ia seorang penyanyi. Ini cerita yang kudapat fragmen-fragmennya dari setiap pengunjung. Seorang penyanyi yang tak cukup terkenal di kota ini tapi memberi kesan bagi sesiapa yang pernah menonton dan mendengarkan lagu-lagunya. Ia tidak menyanyikan lagu-lagu yang umum, nyanyian yang dibawakan atau diciptakan penyanyi-penyanyi lain. Ia menyanyikan puisi-puisi. Ia memainkan sendiri gitar—kadang-kadang piano—dan bernyanyi melagukan syair-syair yang ia ciptakan sendiri atau memungut sajak penyair lain.

Ia selektif memilih puisi. Ia tak pernah menyanyikan puisi yang berisi marah dan teriak. Puisi-puisi demonstrasi tak masuk dalam daftar sajak yang ia nyanyikan. Bukan pula sajak cinta yang cengeng, platonis atau melankolis. Ia melagukan puisi-puisi cinta yang bersahaja. Puisi-puisi cinta yang tenang. Kata-kata yang tak garang. Bait-bait yang meninabobokan.

Selalu ada puisi baru yang ia nyanyikan. Para pengunjung pun belum pernah membaca puisi itu sebelumnya. Sebelum bernyanyi, perempuan itu akan menerangkan sedikit tentang puisi-puisi itu: diciptakannya sendiri atau dari seorang penyair yang hidup di negara yang jauh. Ia juga menerangkan bagaimana sebuah puisi berhasil ia temukan nada-nadanya. Para penonton jadi tahu bagaimana sebuah nada tercipta sehingga setiap ruh kata tetap tersimpan. Asosiasi bunyi tetap mendekam di setiap frasa dan kalimat. Ia mampu menghadirkan lirisnya puisi-puisi itu lewat nada-nada dan irama. Penonton juga bertambah paham bagaimana kesusahan yang ia temui dalam menemukan rangkaian nada-nada itu, membunyikan musik di belakang puisi-puisi itu.

Para pengunjung bercerita, mereka bisa betah duduk berlama-lama mendengarkan nyanyian puisi perempuan itu. Padahal mereka tak pernah menyukai acara pembacaan puisi, oleh para penyairnya sekalipun. Mereka tak menikmati puisi yang dibacakan. Pembacaan puisi justru memperkosa pengalaman mereka menyesap kata-kata dalam sebuah sajak. Puisi yang dibacakan kebanyakan gagal menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.

Membaca puisi adalah pengalaman pribadi. Ekstase yang dinikmati sendiri. Ketika aku berkunjung ke sebuah pantai yang menyimpan jangkar abad lalu, aku merasakan Chairil Anwar sedang menuliskan larik-larik Senja di Pelabuhan Kecil di tempat aku duduk memandang ke lautan. Tapi ketika puisi itu dibacakan di sebuah panggung dalam sebuah acara yang kuhadiri, kata-kata yang dibacakan tak meruapkan bau pantai, tiang serta temali.

Barangkali itulah yang mengesankan bagi sesiapa yang pernah menontonnya bernyanyi. Perempuan itu mampu menghadirkan nyawa kata-kata dalam puisi lewat lagu-lagu. Para pengunjung mendengarkan dan menikmati. Mereka menikmati tafsir puisi lewat nada. Lagu-lagu perempuan itu telah berdiri sendiri bukan lagi sebagai sajak yang ditulis oleh pengalaman para penyairnya. Tapi sebagai lagu, sebagai musik.

Perempuan itu menolak mengalbumkan lagu-lagunya itu ketika seseorang menawari merekam suaranya dalam kaset atau cakram padat. Lalu dijual dengan kewajiban harus pentas ke beberapa kota. Ia memilih tetap bernyanyi di kedai itu dengan satu alasan agar orang mau datang menonton, tak perlu keluar duit ganda karena harus menonton dan membeli kaset lagu-lagunya.

Meski begitu, ia jadi cepat tenar. Berita seputar kemahirannya menyanyikan puisi cepat menyebar. Sesuatu yang tak ia harapkan, sebenarnya. Ketenaran, begitu ia pernah beralasan, candu dalam setiap penciptaan. Tapi, aku menerka, itu satu akibat yang tak bisa ditolak karena ia menyanyi begitu cakap. Bagi pemilik kedai ini, ia telah jadi iklan yang efektif. Orang-orang datang ke kedai, semula, untuk menonton perempuan itu menyanyi. Kemudian banyak yang jadi pelanggan tetap dan menghabiskan malam-malamnya di sini. Lidah mereka telah tersangkut magnet.

Orang-orang sepakat, musik-puisi telah menjadi obat bagi segala macam penyakit. Ada seorang insomnia bisa sembuh ketika mulai membiasakan mendengarkan lagu-lagu perempuan itu. Para tualang malam rela tidur di kedai sampai pagi. Mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bisa tidur tanpa dipaksa, tanpa obat, tanpa terapi.

Sebagian yang lain merasa tenang hati ketika mendengar perempuan itu menyanyi. Tak perlu melihatnya memainkan gitar di panggung kecil yang dibuat seadanya. Mereka hanya perlu mendengar nada-nada yang bisa mengusir kegundahan. Maka di kedai ini, yang muncul adalah suasana ayem dan damai. Seperti ada sebuah tenaga yang mengalir-menjalar ke setiap kepala dan jiwa para penonton ketika lagu-lagu mulai terdengar. Tenaga yang mampu menyingkirkan segala kegundahan dan keluh-resah. Para pengunjung tak perlu mengerti puisi-puisi itu. Mereka hanya perlu mendengar lalu menikmati setiap lagu tanpa harus tahu arti kata-kata sajak yang dinyanyikan perempuan itu.

Seorang pemarah berubah jadi pendiam dan ramah setelah agak lama jadi pengunjung kedai ini. Para pemarah telah menghentikan terapi mengendalikan emosi ke klinik-klinik langganan mereka. Seseorang lain bercerita, para pemuda yang patah hati tak perlu berlama-lama mengutuki diri dan bisa menepiskan cinta-cinta fana.

Tapi itu sudah berlalu. Kini para pengunjung datang ke kedai bukan untuk melihat perempuan itu bernyanyi. Panggung kecil yang dibuat seadanya itu juga sudah dirombak jadi tempat lain: diisi bangku dan meja baru. Tudung piano dibiarkan menutup dan berdebu. Perempuan itu sendiri memilih duduk di sudut yang tak terlalu terang, tapi cukup cahaya sehingga bayangannya jatuh persis di mejanya. Para pengunjung datang ke sini untuk melihatnya duduk dan bercakap dengan bayangannya sendiri. Seperti aku.

Ia bercakap tanpa suara. Kadang-kadang menggeleng-gelengkan kepala. Kami tak pernah tahu apa yang sedang mereka (ia dan bayangannya) cakapkan. Seorang pengunjung membisikkan (percakapan antar pengunjung selalu dilakukan berbisik-bisik karena takut mengganggu perempuan itu) sebuah puisi yang menceritakan sesuatu yang sedang dilakukannya yang pernah ia nyanyikan :

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di

antara kami yang harus berjalan di depan*)

Benar juga. Apakah ia sedang bertengkar dengan bayangannya sendiri tentang, misalnya, apakah bayangannya mengklaim tubuh perempuan itu bayangannya juga. Mereka tak tahu harus bersyukur atau bersedih dengan perilakunya itu. Mereka sedih karena bayangan selamanya tak bisa bercakap. Mereka bersyukur karena perempuan itu sudah menemukan teman setianya. Maka yang bisa mereka lakukan hanya menonton percakapan perempuan dengan bayangannya sendiri.

Setelah agak lama mengamati, muncul penilaianku: sesungguhnya ia perempuan yang cantik. Meski parasnya tanpa teriakan-teriakan rias, tapi di mataku memancarkan keteduhan dan ketenangan. Mungkin bukan keduanya yang terpancar dari wajahnya. Sesuatu yang entah apa, tapi aku bisa menikmatinya. Mungkin wajah yang menarik. Mungkin. Aku kini setuju, jangan pernah membuatnya tersenyum.

Karena itu selain menonton percakapan perempuan dengan bayangannya, jika nanti aku datang lagi ke sini alasannya sudah bertambah : aku datang untuk menikmati wajahnya juga. Aku telah tertarik oleh keberadaannya: wajahnya, postur tubuhnya, gerak-geriknya. Dan, tentu saja, menebak-nebak apa gerangan yang bersarang dalam kepalanya? Apa yang dipikirkannya?

Selain bercakap ia juga menuliskan sesuatu di secarik kertas lalu menunjukkan pada bayangan di depannya. Seorang pramusaji pernah mengintip apa yang tertulis di atas kertas tisu itu.

Sebuah puisi, bisiknya ke setiap pengunjung. Sebuah puisi, bisik pengunjung itu ke pengunjung yang lain.

Sebuah petisi, samar-samar aku mendengar.

Seseorang yang lain pernah meminta sobekan tisu yang telah ditulisinya, namun, seperti biasa, cuma sekulum senyum yang lembut dan teduh yang ia berikan. Setelah itu tak pernah ada lagi yang berani mendekatinya. Seseorang yang berdekatan dengan perempuan itu, ya, pramusaji kedai ini saja. Pengunjung lain hanya bisa melihat perempuan itu dari kursinya masing-masing.

Tak jarang juga ia hanya duduk termangu di sana. Ia biarkan bayangannya sendiri jatuh diam di meja. Ia duduk melamun di sana. Sesekali tangannya menopang dagu lalu memegang kepala dengan dua tangannya. Atau menempelkan kening ke sisi meja. Tapi, apapun yang dilakukannya, ia tetap saja tak beranjak dari sekitar tempat duduknya.

Sebuah cerita hinggap di telingaku bahwa tabiatnya bercakap dengan bayangannya sendiri mulai dilakukannya setelah seseorang yang tak dikenal mencuri suaranya, setahun lalu. Seseorang pengunjung kedai ini. Pencuri itu menyamar sebagai penonton lalu mengambil suara perempuan itu diam-diam ketika perempuan itu lengah karena lelah sehabis menyanyi.

Berhari-hari kemudian polisi menyergap si pencuri suara itu. Tapi para polisi tak menemukan pita suara perempuan itu. Dari interogasi yang lama, polisi memberitahu pita itu telah diberikan si pencuri kepada kekasihnya sebagai kado ulang tahun. Pencuri itu mengaku nekat mencuri pita suara perempuan itu karena kecintaan pada kekasihnya yang menginginkan suara perempuan itu setelah si pencuri bercerita telah terpesona oleh suara perempuan di sebuah kedai setiap akhir pekan.

Si pencuri mengaku tak tahu keberadaan kekasihnya. Setelah ia menyerahkan pita suara dalam kado yang dibungkus dan diikat pita merah, kekasihnya tak pernah muncul kembali. Para pengunjung kedai hanya bisa geram mendengar laporan para polisi.

Mereka pernah berinisiatif membuat iklan yang dimuat koran atau ditempel di setiap sudut jalan. Iklan tentang pencarian pita suara milik perempuan yang menyanyikan puisi-puisi cinta bersahaja. Iklan itu memuat ciri-ciri dan foto kekasih pencuri itu.

Hadiahnya adalah minum kopi gratis seminggu di kedai ini. Tapi tak satupun orang yang berhasil menemukan kekasih pencuri itu dan membawa kembali pita suara perempuan itu ke sini. Para pengunjung kedai sudah habis asa bisa kembali mendengar suara merdu milik perempuan yang menyanyikan puisi-puisi syahdu.

Para pengunjung akhirnya tahu kebenaran penolakan perempuan itu ketika ditawari rekaman. Ketenaran bisa mengancam sesuatu yang dikagumi orang. Para penggemar ingin memiliki dan bersatu dengan sesuatu yang digemarinya. Para pengunjung menyesal telah menyebarkan kecakapan perempuan itu menyanyi. Padahal, perempuan itu sendiri tak pernah meminta kemahirannya disebarkan.

Maka para insomnia kumat lagi. Banyak orang kembali jadi pemarah. Para pemuda tak punya obat ketika patah hati. Orang-orang kembali sakit.

Sebuah cerita yang absurd!

Aku bangkit. Kandung kemihku sudah penuh. Toilet ada di sudut sana. Siapapun yang akan kencing harus melewati meja perempuan itu.

Aku berjalan pelan, setengah mengendap. Mataku tak lepas menatapnya hingga tiba persis di sampingnya. Tanpa kuduga ia menoleh. Aku terkesiap. Rautnya setenang telaga.

Hallo, ia tersenyum.

Aku tertegun, lupa hendak ke toilet.

[2005]

*) dari puisi Sapardi Djoko Damono, Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari.

**) Dimua Lampung Post, 16 Juli 2006

BAGIKAN
0

IBU

 

Aku dan ibu duduk berhadapan di ruang tengah. Aku bertanya bagaimana hajatan di rumah kemenakan Pak Lurah di kota itu. Bapak dan Ibu telat pulang sehari dari janji yang cuma sehari di Bandung. Bapak sedang keluar rumah entah ke mana sementara adik-adik sedang main ke rumah temannya. Ibu, seperti biasa, selalu menjadi pencerita yang menyenangkan tentang pengalaman-pengalamannya.

“Ibu dan bapak sempat jalan-jalan?” tanyaku. Aku mengupas kulit mangga pelan-pelan.

“Itulah kenapa kami sampai harus menginap,” kata Ibu. Tangannya meraih majalah di kolong meja lalu membuka halamannya satu-satu.

“Ke mana saja? Bandung, kata orang, tempat yang bagus untuk jalan-jalan.”

“Begitulah. Sampai ibu harus menanggung malu.” Mata ibu tertuju pada majalah di pangkuannya.

“Menanggung malu?”

“Ibu jadi tontonan banyak orang karena nongkrong di rumah bordil.”

“Bordil? Untuk apa ke tempat seperti itu?” aku jadi tak habis pikir.

“Untuk apalagi kalau bukan melacur.”

“Apa?” Aku berhenti mengupas mangga. “Siapa yang melacur?”

“Bapakmu.” Suara Ibu tetap datar.

“Apa?”

Aku terperanjat dari tempat dudukku. Mangga terjatuh ke ubin. Aku menatap ibu lekat-lekat. Ibu terdiam melihat reaksiku yang tiba-tiba itu. Diam ibu adalah diam seperti patung. Tak ada reaksi kendati suaraku meninggi.

“Maksud ibu apa?”

“Bapakmu pergi ke pelacur.”

“Ibu tidak sedang memakai bahasa kiasan, kan?”

“Ya, tidak. Bapakmu pergi ke rumah bordil, ibu dan Bu Lurah menunggu di luar.”

“Ibu biasa saja?”

“Ah, masak kamu tidak mengerti, sih.”

“Bu. Bapak melacur, dan ibu diam saja, biasa saja?”

“Apa yang ibu bisa lakukan?”

“Apa yang ibu bisa lakukan? Astagfirullah. Ibu tidak apa-apa?”

“Ya, tidak. Sudah jadi kebiasaan bapakmu.”

“Astagfirullah!”

“Ibu menurut saja.”

“Gusti. Bu, ini serius! Kenapa ibu membiarkannya? Ibu memilih menanggung malu?”

Air mukanya berubah. Kini matanya sembab. Tapi tak sampai menangis. Ibu hanya diam. Air mata itu seolah enggan keluar dari kelopak matanya yang mulai keriput. Ibu sudah seperti terbiasa bagaimana menahan air mata agar tak sampai menetes. Air mukanya sekejap saja murung. Setelah itu kembali seperti sedia kala. Seolah-olah beberapa waktu sebelumnya tak ada kejadian atau obrolan yang mengejutkan dan menyedihkan.

Bapak pergi melacur! Ini sebuah tamparan keras bagiku. Selama ini, aku pikir, bapak dan ibu akur-akur saja. Mereka terlihat rukun dan harmonis. Tak pernah kudengar bapak marah karena ibu berbuat salah atau sebaliknya. Ibu tak pernah mengomel. Bapak selalu mendengar apa kata ibu. Tapi, ternyata, hidup mereka penuh sandiwara. Penuh kebohongan di depan anak-anaknya. Aku tahu ibu sedang menangis dalam senyumnya. Aku tahu hatinya remuk. Aku tahu hidupnya hancur.

“Astagfirullah, Bu.” Aku memeluknya. Aku menangis di pundaknya. Aku sesenggukan dalam pelukannya. Ibu tak bereaksi. Ia diam membatu. Tangannya masih memegang majalah yang terbuka. Tubuh cekungnya juga tak memberikan reaksi apapun ketika kupeluk. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Mengutuk ke-diam-an ibu. Menujah ketakberdayaan ibu. Aku ingin menjerit dan marah pada ibu. Tapi yang keluar hanya bunyi sesenggukan dari dalam tenggorokanku. Aku tercekat. Betapa selama ini kami, semua anaknya, dibohongi dengan keharmonisan hubungan mereka.

Aku lepaskan pelukan setelah bisa sedikit menguasai diri. Ibu masih mematung di tempat duduknya. Tatapannya kosong. Raut mukanya tak berubah. Matanya tertuju ke arahku tapi tidak menatapku.

“Kenapa, Bu?” aku mencoba bertanya di sela sisa-sisa isak. Agak lama aku menunggu jawaban ibu. Matanya berkedip. Ia menarik napas pendek. Kini tatapannya benar terarah padaku. Ibu menatapku penuh iba.

“Ibumu frigid,” ia menjawab datar. Tak ada tambahan ekspresi setelah menyelesaikan ucapannya. “Tak bisa lagi melayani ayahmu.” Aku kembali menghela napas. Aku tak menyangka jawaban itu yang akan kuterima dari serentetan kemarahan, kekecewaan, dan pertanyaanku atas peristiwa itu.

“Sejak kapan?”

“Sejak adikmu lahir.”

“Selama itu, Bu? Astagfirullah.” Aku kembali terisak. Hatiku makin remuk. Pikiranku langsung tertuju pada bapak yang bolak-balik melacur selama 15 tahun. Dan mereka berhasil menyimpan rahasia itu hingga terbongkar kini.

“Ibu sudah terbiasa dengan kelakuan ayahmu,” katanya, “ini juga kesalahan ibu, ibu menerimanya sebagai takdir. Bapakmu masih muda, kamu pasti tahu.”

Obrolan terputus. Suara langkah bapak terdengar di halaman. Ibu berlari ke kamar. Aku menyeka sembab. Kesedihan itu hilang berganti amarah yang siap melonjak. Aku tak lagi bisa menahan amarah. Aku ingin menumpahkannya saat itu juga. Bapak masuk tanpa mengetuk. Air mukanya cerah, secerah yang biasa kulihat. Ia menghisap rokok yang hampir habis lalu mematikannya pada asbak.

“Bapak dari mana?” aku langsung menyergah. Aku sudah tak ingat apakah kata-kataku benar tersusun keluar dari mulutku.

“Dari rumah Pak Lurah. Ibumu mana?”

Dunia di sekelilingku jadi merah dan gelap. Tanganku bergetar memegang pisau dapur.

[2004-2005]

*) Dimuat Harian Seputar Indonesia

BAGIKAN
0