KISAH PENGARANG KARTIWA

KARTIWA menghela napas. Ia belum juga berhasil menuliskan sebaris kalimat di layar komputernya yang telah mencorong berjam-jam menunggu tarian jarinya di keyboard. Layar itu seolah siap menampung ledakan-ledakan ide dari kepalanya. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini tak ada ide yang mampir yang akan tersusun menjadi cerita dan siap dikirimkan ke koran bertiras besar. Jarinya macet, pikirannya beku. Layar komputer di depannya jadi begitu menusuk menyilaukan matanya.
Padahal, sebelum-sebelumnya, setiap kali ia menghidupkan komputer, setiap kali layar komputer membentang, idenya langsung tumpah tak terbendung. Cerita-cerita berhamburan lewat jari-jarinya yang tak bisa dihentikan oleh rengekan anak-anaknya, jeritan istrinya, atau raungan televisi di ruang tengah. Ia akan tenggelam dalam kisah yang dibuatnya, masuk ke dalam tokoh-tokoh yang diciptakannya. Dalam 7-8 halaman, cerita tentang hidup, kegetiran, kesenangan, putus cinta, dan segala tragedi hidup manusia lainnya akan terangkum dalam cerita-ceritanya. Lalu koran bertiras besar akan memuatnya dan dibaca oleh jutaan penggemarnya di seluruh penjuru negeri.
Kartiwa dielu-elukan sebagai manusia seribu-satu-ide. Manusia yang tak pernah kering oleh cerita yang mengharukan, menggugah, dan membangkitkan semangat bagi para pembacanya. Setiap minggu ia menerima ratusan surat dari para penggemarnya yang meminta dibuatkan sebuah cerita dengan tema tertentu atau surat yang hanya menyemangati agar ia terus menulis dan terus melahirkan cerita yang evokatif dan melahirkan empati. Ada juga surat dari para penggemar yang menginginkan kisah hidupnya—sejak lahir, tumbuh besar di kampung, kawin, hingga menjelma jadi seorang pencerita yang lihai—diabadikan dalam cerita-cerita lalu dikumpulkan menjadi sebuah otobiografi. Mereka siap membayar berapapun yang diinginkan Kartiwa. Para penggemar itu penasaran kisah hidup seperti apakah yang memicu Kartiwa bisa menjadi seorang penulis jempolan seperti sekarang. Siapa tahu cara didikan orang tua Kartiwa sewaktu kecil bisa ditiru dan ditularkan untuk mendidik anak-anak di dunia.
Tapi Kartiwa bukan penulis pesanan. Ia menulis karena ingin menulis. Ia membuat cerita karena dunia telah kehilangan pengisah, pendongeng, dan tukang-tukang cerita yang telah mati oleh sejarah. Ia menjadi penulis karena sebuah panggilan: dunia memang membutuhkan dan menakdirkannya menjadi seorang pengisah sejati.
Ia sendiri telah memproklamirkan hidupnya sebagai penulis. Ia bisa menghidupi seorang istri, lima anak, satu pembantu, membeli sebuah rumah serta mobil yang mentereng. Tak perlu berkeringat, duit-duit itu bermunculan sendiri dan masuk ke rekeningnya. Pelbagai pernghargaan menulis telah ia raih dan jutaan rupiah hadiah telah ia terima.
Cerita-ceritanya telah dibukukan dan ia mendapat royalti yang besar dari cerita-cerita yang telah ia tulis itu. Penerbit dalam dan luar negeri selalu berebut menerbitkan cerita-ceritanya. Ia tinggal mengangguk atau mengiyakan saja, berbagai penghargaan, duit, tropi, dan puluhan hadiah akan menyusul. Belum lagi jika ada produser sinetron atau film yang akan mengubah cerita-cerita itu menjadi skenario dan disinetronkan di televisi, atau difilmkan dan diikutsertakan dalam berbagai festival di luar negeri. Duit akan kembali masuk ke dalam kantong dan rekening banknya. Tabungannya telah cukup untuk menampung hidup tujuh turunan. Kartiwa telah jadi orang terkenal berkat cerita-ceritanya.
Ia kerap diundang sebagai pembicara di seminar-seminar tentang kepenulisan. Presiden bahkan telah mengundang makan malam di istana dan menawarkan beasiswa untuk memperdalam ilmu soal kepenulisan. Tapi ia menolaknya. Guru-guru besar di universitas itu kalah kemampuan dibanding dirinya. Segala teori menulis itu bukankah ia sendiri yang menelurkan dan dikutip oleh para guru besar saat mengajar mahasiswa-mahasiswanya?
Tapi segala kemewahan itu berhenti malam ini. Idenya macet. Kepalanya pening. Belum satupun cerita ia tulis. Jari-jarinya tak lagi lincah menari-nari di atas tuts-tuts komputernya.
Ia kembali menghela nafas. Cerita-cerita seolah telah tamat. Tak ada lagi yang bisa ia tulis. Seluruh tema telah ia tulis sebelumnya. Semua tragedi telah ia rangkai dalam berbagai cerita dengan berbagai variasi. Semua kesengsaraan, perjuangan hidup, dan sebagainya telah ia jalin dalam cerita-cerita yang menyentuh dan mengharukan.
Nafasnya memberat. Komputer di depannya seolah menghakimi karena dibuat lama menunggu. Berkali-kali ia harus memencet enter untuk menghentikan screen saver yang tiba-tiba menari-nari di layar komputernya. Idenya betul-betul macet.
Judul pun belum ia tuliskan, boro-boro kalimat pertama yang memukau, lalu paragraf-paragraf yang mempesona. Huruf pertama untuk judul pun belum ia ketikkan. Ia telah mencoba membuat judul dengan memulai kalimat pertama. Tapi kalimat itu terasa jelek betul. Ia mengapusnya kembali. Lalu menulis kalimat yang lain lagi. Tetap sama jeleknya. Kalimat yang kabur dan tak jelas ujung pangkalnya. Mau kemana kalimat yang tak jelas ini bersambungan dan berakhir tersusun dalam sebuah cerita. Ia menghapusnya lagi. Jam di dinding ruang kerja itu berdentam lebih keras. Sudah jam 02.30 belum juga ia berhasil memperoleh kalimat yang pas.
Tadi ia hampir mendapat ide. Tentang perjuangan seorang ibu mendapatkan anaknya kembali setelah 30 tahun salah perwalian. Tapi ini cerita klise. Terlalu banyak cerita-cerita semacam ini. Lalu ia menemukan ide tentang seseorang yang kehilangan hatinya, sehingga tak lagi punya perasaan. Tapi orang semacam ini telah ditulis koran-koran dan majalah serta diulas dalam risalah dan editorial oleh para redaktur satu atau dua tahun yang telah lewat. Koran-koran, waktu itu, memuatnya sebagai kepala berita berhari-hari. Orang yang kehilangan hatinya telah diwawancari oleh hampir seluruh media massa. Televisi-televisi bahkan memasang iklan dan pengumuman yang berisi ajakan kepada pemirsa agar ikut mencari hati yang hilang itu. Barang siapa yang menemukan hati berwarna merah jambu yang sudah tak bulat lagi itu akan diberi hadiah puluhan juta rupiah. Istri Kartiwa mungkin telah menggunting potongan koran itu dan disimpannya dalam map kliping. Hanya saja Kartiwa malas memeriksa tumpukan kliping di rak bukunya karena keyakinan istrinya telah menggunting dan mengumpulkannya. Ia mengurungkan lagi cerita semacam itu.
Lalu ia ingin menulis cerita yang absrud yaitu tentang manusia berkepala garuda. Manusia, tokoh utama itu, bisa terbang dan menjadi pemangsa yang menakutkan bagi penduduk sebuah kota. Ia ingin menulis akhir dunia dengan kemuculan manusia-garuda itu. Tapi, ah, ini juga klise. Ia tak mengetahui bagaimana akhir dunia ini. Meskipun cerita ini bagus, futuristik, menurut pikirannya, tapi akan jadi khayalan belaka. Kartiwa ingin menulis tentang keseharian saja, tentang bunga, sice yang gelap, atau lapangan sepak bola dan sawah-sawah serta gunung. Cerita semacam ini, menurutnya, akan lebih menguggah daripada cerita yang belum jelas dan hanya buah khayalan yang menduga-duga saja. Heh, bagaimana kalau manusia itu tanpa kepala? Ya, selama ini manusia hidup dengan kepalanya, bagaimana kalau tokoh yang ia ciptakan hidup tanpa kepala? Hmm, menarik juga. Kartiwa hampir melonjak karena mendapat ide yang brilian.
Kartiwa bersiap, jarinya sudah di atas papan keyboard, ketika sebuah pikiran lain melintas. Ia merasa pernah mendengar atau membaca tentang cerita manusia tanpa kepala tapi benar-benar hidup dan menakuti semua orang. Kepalanya kembali pening. Bagaimana bisa ia terjebak dalam cerita yang penuh tiruan. Ia hampir saja terjerembab ke dalam jurang plagiarianisme. Apa jadinya jika pikirannya tak cepat ingat pada cerita yang pikirannya belum berhasil meraba sumber ceritanya tapi sungguh-sungguh pernah ia baca atau tonton[1]. Para kritikus akan dengan cepat mengulas ceritanya itu di kolom resensi dan dengan kejam akan mengecapnya sebagai seorang plagiator! Huh, buru-buru ia hapus paragraf yang telah ia buat. Cerita tentang manusia tanpa kepala ia lupakan.
Matanya memberat. Kantuknya hampir tumpah. Adagium cognito ergo sum sudah tak berlaku. Descartes sudah mati. Seperti dirinya. Ah, kenapa tak menulis soal kebuntuan ini saja? Toh ini juga sebuah cerita. Lalu ia mengetik dan mendapat satu paragraf. Kalimat pertamanya berbunyi. “Aku bisa menulis tanpa ide.” Tapi dihapusnya. Bukankah ide menulis tanpa ide sendiri itu sebuah ide. Kalimat yang akan jadi bahan tertawaan para kritikus saja. Ia menghapusnya. Lalu menggantinya dengan kalimat. “Tanpa ide seorang penulis telah mati”. Ya, ya, kalimat bersayap yang bagus. Mati tak harus mati jasadnya. Mati bisa juga idenya. Tapi, ah, bukankah kalimat itu sendiri sudah menjadi sebuah ide? Hmm, benar, itu juga sebuah ide. Kalimat yang konyol. Ia menghapusnya lagi. Itu juga kalimat klise. Semua orang sudah tahu seorang penulis hidup dari ide-idenya, karena itu seorang penulis akan mati karir kepenulisannya jika sudah tak punya ide atau mengasah kemampuan menciptakan ide-idenya.
Aduh, menulis apa lagi ini? Semuanya sudah ada. Koran-koran telah menulisnya. Apalagi yang harus dikisahkan jika kisah-kisah itu sudah jadi berita dan menjadi headline di koran-koran. Ia percaya, halaman-halaman cerita di koran bisa menampilkan alternatif bagi seribu satu kisah yang telah ditulis oleh para wartawan dengan tokoh yang cepat terlupakan. Tapi kisah yang mungkin dan tak mungkin, yang absurd dan semula dianggap tak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata telah ditulis para wartawan. Hari ini saja halaman-halaman koran telah terisi oleh bermacam cerita dari seluruh penjuru dunia. Ada anak yang kawin dengan ibunya karena mereka telah lupa bahwa mereka sepasang anak dan ibu. Seseorang yang lain menginginkan jadi hantu karena sering melihat enaknya jadi hantu dalam tayangan misteri televisi lalu ia menjadi hantu-hantuan dan menakut-nakuti para pejalan yang lewat di perempatan kampungnya, perampokan yang lucu, dan sebagainya.
Apalagi? Lahanku telah habis. Huh!
Kartiwa mendelik. Napasnya begitu berat. Hh. Belum juga satu kalimat. Padahal radaktur koran bertiras besar sudah memesan satu cerita pendeknya untuk dipajang dalam edisi spesial memperingati ulang tahun koran bertiras besar itu yang ke-30. Besok harus sudah selesai dan dirkirm ke meja redaksi. Jika sampai besok ia belum juga bisa membuat satu buah cerita maka, ia cemas, redaktur koran itu akan memutuskan kontrak pemuatan cerita bersambungnya yang tinggal diteken saja. Atau jika cerita yang dibikinnya untuk edisi spesial itu mengecewakan pemilik koran itu maka, ia khawatir, koran langganannya tak akan lagi mau memuat cerita bersambung, novela, atau cerita pendek yang ia kirimkan. Meski masih banyak koran atau majalah lain yang masih memerlukan, tapi Kartiwa tidak rela jika satu saja media massa memutuskan kontrak cerita dengannya. Kartiwa memiliki sifat kehilangan yang amat besar. Ketika ia kehilangan duit seratus ribu rupiah, ia murung berhari-hari memikirkan duit itu karena uang yang akan dikirimkan ke rekeningnya tak lagi genap lima puluh juta. Untuk kehilangan itu, Kartiwa menuliskannya jadi sebuah cerita dan mendapat banyak tanggapan. Ada seorang penggemar yang mengirim surat bahwa ia siap mengganti uang seratus ribu itu agar Kartiwa tak lagi murung sepanjang hari.
Sebuah koran mewawancarainya tentang kehilangan duit yang cuma seratus ribu dan menghasilkan sebuah cerita yang mendapat banyak tanggapan itu. Wartawan koran itu ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi agar para penggemar Kartiwa tenang dan—terutama—kenapa ide kehilangan duit bisa menjadi sebuah cerita yang mengundang banyak minat. Kartiwa—seperti biasanya—akan menjawab dengan tenang, dengan kalimat yang panjang, yang perlu ditanyakan berulang kali oleh wartawan sebelum wartawan itu mengerti apa yang dimaksudkan pengarang hebat itu. Menurut Kartiwa, bagi seorang pengarang seperti dirinya, minat pada sifat kehilangan itu mutlak harus dimiliki. Bukannya kikir, kata Kartiwa, tetapi sifat itulah yang gampang melahirkan perasaan iba dan memupuk kehalusan jiwa yang amat dibutuhkan oleh pengarang seperti dirinya. Wartawan itu puas dan pulang dengan sebuah wawancara ekslusif yang ia yakin akan diburu oleh para pembacanya. Ia juga yakin akan mendapat pujian dari redakturnya selain pujian dari asosiasi wartawan atas kegigihannya mendapatkan wawancara dengan Kartiwa, si pengarang seribu satu ide.
Tapi julukan “pengarang seribu satu ide” kini tinggal julukan saja. Karena kini Kartiwa masih duduk termangu di depan komputer yang sudah jengkel karena terlalu lama didiamkan dan hanya dipelototi saja oleh sepasang mata Kartiwa yang sudah merah dan perih. Kartiwa bangkit karena air dalam cangkirnya sudah habis. Gelas kopi juga sudah dingin karena selain tak disentuh lagi juga karena terkibas pendingin yang nyantol di tembok meja kerjanya. Ia berjalan menuju kulkas di ruang tengah dekat televisi yang tinggal memamerkan jutaan semut karena ditinggal tidur oleh anak-anak Kartiwa.
Pikirannya masih menerawang mencari-cari ide yang bersembunyi atau tersembunyi. Kartiwa masih tak habis pikir kenapa otaknya jadi buntu begini. Ia juga tak menemukan alasan kenapa idenya jadi macet. Tak ada hal, selama itu datang dari dalam dirinya maupun lingkungannya, yang membikinnya harus kehilangan ide. Jika ide-ide itu hilang karena memang tak perlu lagi ada cerita yang patut dikisahkan, Kartiwa akan mafhum. Tapi ia belum berani mengambil kesimpulan seperti itu. Ia masih curiga dirinya sendirilah yang menyebabkan ide-ide itu tak mengalir keluar melalui jari-jarinya. Kartiwa meneguk dua gelas air dingin yang menyegarkan tenggorokannya yang jadi kering karena dihajar oleh berbatang-batang asap rokok. Ia berjalan dan kembali lagi ke depan komputer. Ia harus berpacu dengan waktu untuk membuat satu buah cerita sebelum ayam berkokok.
Kini setelah ia memikirkan kenapa ide jadi macet, pikirannya malah tak dihinggapi bahan cerita sama sekali. Pikirannya malah menerka-nerka dan mencari jawab atas pertanyaan kenapa ide jadi macet begini. Jika ingat ia harus menyelesaikan cerita, Kartiwa terkesiap dan pikirannya kembali mencari cerita yang bagus untuk dikisahkan jadi sebuah cerita pendek atau panjang. Tapi setiap kali pikirannya mereka-reka sebuah kisah, pikiran itu pula yang menolak dan lebih senang menerka kenapa ide-idenya macet. Ia hampir menemukan jawabannya ketika pikirannya kembali ingat ia harus menyelesaikan sebuah cerita.
Kartiwa bertekad, daripada pikirannya berperang antara membikin cerita atau menerka kenapa idenya macet, ia akan memulai cerita dengan menuliskan kalimat pertama, sebuah kisah tanpa judul lebih dulu. Ia berpikir siapa tahu ide itu datang setelah kalimat pertama dibikin meski ia tidak tahu cerita apa yang akan dibuatnya. Ia lupa cara seperti ini sudah ia coba berkali-kali sebelumnya. Ia lupa maka ia bersiap mencari kata-kata yang menakjubkan. Sikap duduknya seperti sikap seorang tentara yang sedang belajar di dalam kelas sebelum berlatih fisik ke lapangan. Rokoknya mengepul di sela jari yang dengan cepat berpindah ke sela bibir dan sebaliknya. Sudah lima menit ia duduk tegap seperti itu tapi belum satu pun kata yang hinggap di kepalanya. Kata-kata berhamburan dalam kepalanya tapi pikirannya itu pula tak cukup bersetuju suatu kata yang mampir itu untuk dituliskan di layar komputernya.
Kartiwa kembali menghela napas. Sudah habis satu batang rokok belum juga ada kalimat yang ia tulis. Boro-boro cerita, bahkan kata pun tak sudi mampir melalui jari-jarinya. Udara jadi gerah. Pendingin tak cukup mengademkan isi kepalanya yang memberontak. Pikirannya kini menghakimi, tidak lagi menerka-nerka, kenapa tak ada ide mampir di kepalanya. Ia jadi jengkel.
Dihisapnya rokoknya dalam-dalam sebelum menuliskan satu kalimat ini: AKU TAK BISA MENULIS LAGI. TANDA SERU. TITIK. Ayam berkokok dua kali.

Bandar Lampung, 2004

[1] Cerita manusia tanpa kepala ada dalam film Sleepy Hollow. Kartiwa pernah nonton film ini bersama keluarganya, tapi ia lupa kapan dan dimananya karena saat menonton pikirannya tidak konsentrasi sehingga selama berada di depan komputer malam ini ia tak berhasil mengingat judul film tersebut. Yang menyangkut di kepalanya hanya tokoh utama film itu yang berkuda tanpa kepala.

*) Dimuat Lampung Post

BAGIKAN
0

KISAH PEMIJAT BUTA

PEMIJAT buta selalu lewat di depan rumah saya, setiap pukul delapan kurang lima menit. Selalu saja tepat waktu. Kami sudah tahu dia datang sejak masuk jalan komplek perumahan. Tongkat besinya yang ia ketuk-ketukan untuk menuntun arah jalannya menjadi penanda pemijat buta telah tiba.

Perkenalan saya dengannya terjadi pada suatu malam ketika badan ini pegal-pegal sehabis jalan-jalan ke kebun teh di Puncak. Kantor saya punya acara tahunan yang digelar di luar kota. Saya yang tak pernah jalan jauh harus menanggung akibatnya dengan merasakan remuk di seluruh sendi. Ditambah lagi tujuh jam terguncang dalam perjalanan Jakarta-Bandar Lampung. Sudah dua tahun ini saya tergabung dalam klab PJKA alias “Pulang Jumat Kembali Ahad”. Setiap Jumat saya pulang dari Jakarta menengok istri yang kerja di Tanjung Karang dan kembali ke Jakarta lagi pada ahad malam.

Atas saran istri, saya setuju memanggil pemijat buta itu.

Saat dipijat itu, saya tahu umurnya baru 26 tapi dengan raut yang saya pikir sudah 40. Ia bahkan belum menikah. “Mungkin saya tidak akan menikah, Pak,” katanya. Suaranya keras tapi dengan intonasi merendah. Ada nada putus asa. “Belum ketemu jodoh saja,” kata saya. Menghibur. Ia tersenyum.

Ia mulai memijat kaki saya. Pijatannya keras hingga saya meringis dan meronta. Baru kali itu saya dipijat. Dan dia tahu kalau saya tidak pernah dipijat. Urat-urat Bapak masih kaku, katanya. Aku mengiyakan sambil menahan kesakitan.

Pijatannya detail. Setiap sendi ia raba, setiap otot dia pijat, pelan-pelan dengan tekanan tertentu sehingga urat-urat yang tadinya keras kini mengendur. Ia berpindah dari kaki kiri ke kanan dan memijat dengan detail dan tempat yang sama. Memijat, katanya, harus dimulai dari kaki kiri karena dari sana darah terpompa menuju jantung. Saya tidak tahu benarkah pendapatnya itu.

Ia mengaku baru enam bulan jadi pemijat. Saya terkejut, ternyata ia tidak buta sejak lahir. Ia baru kehilangan biji matanya pada usia 20.

“Saya sudah tahu rupa gadis cantik, Pak,” katanya, terkekeh. Saya tertegun. Betapa tersiksanya dia, dunia yang terang berubah jadi gelap. Jika buta sejak lahir mungkin tak seberat itu penderitaannya. Tapi karena itulah dia jadi terlatih melihat dengan telinga, meraba dengan rasa. Nalurinya bekerja untuk menangkap dunia di sekelilingnya.

Dan inilah ceritanya, sepanjang memijat itu. Barangkali sejenis perkenalan untuk menggaet pelanggan bagi orang pertama seperti saya. Dari caranya bicara ia memang orang yang menyenangkan.

***

DIA selalu datang tepat waktu. Jam delapan kurang lima. Kalau saya belum sampai jam segitu, katanya, berarti saya tak keliling. Gampang sekali. Ia memang sudah jadi weker yang lebih tepat dibanding jam dinding di rumah-rumah kami. Ia selalu tepat tanpa punya jam di rumahnya. Dia juga tahu ketukan besi siapa di kejauhan sana. Ada beberapa pemijat di komplek sini. Dan setiap pemijat punya ketukan besi sendiri-sendiri, meski, menurut pendengaran saya, suaranya sama saja. Tapi ia menunjukkan bahwa ketukan besinya teratur dengan pola 1-2-1. Sementara pemijat lain 2-1-2 atau 2-2-1 dan kombinasi dari tiga ketukan itu.

Semalam, kalau ada pasien–ini istilahnya bagi orang yang ia pijat–ia bisa memijat dua orang hingga tengah malam. Rata-rata satu orang dipijat dalam waktu satu-dua jam. Tergantung bentuk badannya, katanya. Kalau bapak yang sedang ini tangan saya masih cukup memegangnya. Tapi kalau yang gempal, saya suka capai sendiri sementara pasien saya belum puas juga. Ada pasien saya di ujung jalan sini yang belum bisa saya taklukan. Tentu saja yang ia maksud adalah Pak Maksum. Ia memang bertubuh gempal. Gendut dan liat. Pak Maksum rupanya menjadi langganan pemijat buta ini. Tapi dia hanya mau dipijat kepala dan pundak saja.

Ia tak pernah menyebut tarif. Tapi orang-orang seperti sepakat memberinya dua puluh ribu perak sekali pijat. Saya kira itu setimpal dengan keringat yang dikeluarkannya, juga modal membeli sebotol hand body lotion yang habis untuk lima tubuh. Ia pernah bangga karena ada orang dari Jakarta yang ia pijat dan memberinya uang lima puluh ribu. Karena setelah itu ia tak memijat dua malam.

Dulu saya tidak buta, katanya. Saya tumbuh normal seperti anak-anak yang lain. Bapak pasti tahu apa pekerjaan anak-anak kampung di seberang sana. Yang katanya suka mencuri jambu air punya orang kompleks sini. Terus terang saja, Pak, saya salah satu pencurinya. Mohon maaf–

“Ah, nggak apa-apa. Namanya juga anak kecil.”

Begitulah, Pak. Saya senang jadi anak kecil. Sebab anak kecil bisa bebas berlari dan mencuri. Bagi kami mencuri adalah keharusan karena kami tak pernah mengenal uang jajan. Bapak saya hanya buruh angkut di pasar. Sementara ibu saya jualan daun. Kami punya sepetak tanah yang ditanami pisang. Ibu saya menjual daun-daun itu, kadang juga pisangnya. Saya heran juga, orang-orang kaya sebegitu malasnya, hingga agar punya daun saja untuk bungkus harus beli. Tapi itu menguntungkan orang seperti kami. Karena daun tak kami beli, tapi bisa kami jual. Saya juga pasti jadi buruh angkut kalau sudah besar. Maka bapak menyuruh saya membeli kambing selepas khitan. Kata bapak, pasar bukan tempat bagus untuk hidup. Maksudnya hidup yang wajar. Banyak uang memang dari sana bisa dikeruk tapi jiwamu akan rusak. Maka uang salam tempel itu saya belikan kambing dua ekor. Betina semua. Agar cepat berkembang biak, kata bapak.

Saya hanya sekolah sampai SD. Guru di kampung itu sebenarnya menyarankan agar saya bisa sekolah ke SMP, tapi bapak melarang karena tak punya duit. Akhirnya saya hanya mengurus kambing yang sudah terasa hasilnya. Setiap setengah tahun satu induk beranak empat atau tiga. Itu berarti pada tahun ke tiga saya sudah bisa menjual satu kembing dengan harga seratus ribu. Kalikan saja harga itu dengan enam-tujuh kambing. Kecil memang jika dihitung dari setahun penjualan. Tapi sembari mengurus kambing itu saya juga jadi buruh angkut di pasar. Bapak akhirnya tak melarang lagi karena saya tak punya pekerjaan lain dengan satu pesan “jangan pernah ikut campur urusan orang”. Lagi pula saya sudah besar. Otot saya sudah kuat memanggul beban.

Di pasar itulah saya mulai mengenal kehidupan pasar yang dulu diminta bapak untuk dihindari. Benar kata bapak. Pasar itu kehidupan yang keras. Ada preman, pelacur, penjudi, pemabuk. Para penjual yang baik-baik itu, harus mengikuti pada mereka yang menyebut diri penguasa pasar. Ada banyak penguasa di sana. Punya kapling sendiri-sendiri. Tak jarang juga mereka jadi kuat karena menyetor juga pada aparat keamanan. Operasi hanya sesekali saja dilakukan. Dan itupun sudah kompromi sepertinya. Karena para pentolan preman tak kunjung juga ditangkap dan dipenjara

Di pasar itu saya kenal Brewok. Preman kapling selatan. Di pasar itu ada lima penguasa, timur, barat, tengah, selatan dan utara. Tak ada yang tahu nama asli dan asal Brewok. Katanya, dia orang Medan, kalau bukan Palembang. Dua daerah itu biasanya yang mengirim orang yang sok jago di pasar-pasar Jawa dan Sumatera. Brewok mengenalku. Dia baik meski dia suka meminta uang dengan paksa jika sedang mabuk dan butuh rokok.

Dia suka minta dipijat. Saya yang remaja ini menurut saja, karena tak punya pilihan selain mengikuti apapun keinginannya. Orang-orang bahkan sudah menganggap saya sebagai muridnya si Brewok. Agak jeri juga sebenarnya. Sebab, dengan menjadi muridnya, berarti saya sudah menabung musuh kelak kemudian hari. Para penguasa pasar dan terminal sini pasti akan mengincar saya untuk berhadapan dan duel memperebutkan daerah kekuasaan.

Tapi peristiwa itu datang lebih cepat. Codet, penguasa timur–orang Madura yang ada bekas luka samurai di pipi kanannya, konon luka itu ia dapat usai berduel dengan jago pasar di Surabaya tapi ia kalah–mendatangi kami pada suatu malam. Ia tak terima daerahnya sedikit-demi-sedikit digerogoti Brewok. Ia menuntut perhitungan karena sudah banyak pedagang yang tadinya berada di bawah kekuasaannya kini sudah menyetor uang bulanan ke Brewok. Codet marah besar dan memukuli para penjual di pasar timur itu.

Brewok beralasan bukan kehendaknya jika para pedagang itu menyetor uang keamanan kepada dirinya. Para pedagang itu sendiri yang iklas membayarnya. Mereka merasa lebih aman jika berada dalam kekuasaanku, kata Brewok. Codet makin naik pitam dengan omongan Brewok seperti itu. Dua-duanya punya alasan yang sama kuat. Saya hanya menyaksikan mereka bertengkar dalam keremangan. Para penjual yang tidur di pasar dan pengemis yang mendengar pertengkaran itu terbangun tapi tak ada yang peduli. Karena ini pertengkaran yang ke sekian kali. Orang pasar paham betul, Codet dan Brewok adalah musuh bebuyutan. Mereka tak pernah akur baik soal daerah kekuasaan maupun soal kekuatan dan kesaktian. Dua-duanya selalu ingin pamer, dua-duanya selalu ingin dianggap hebat.

Akhirnya, yang dikhawatirkan itu terjadi. Mereka duel di pasar. Mula-mula tangan kosong. Dua-duanya sama kuat. Dua-duanya tahan dengan pukulan dan tendangan yang beruntun. Setengah jam perkelahian saya mulai mendengar suara aduh dan ringis dari keduanya.

Brewok akhirnya roboh lebih dulu. Untuk beberapa saat ia menelungkup di tanah pasar yang becek dan bau. Sementara Codet yang masih agak bertenaga saya lihat duduk di sampingnya. Tapi tak lama. Ia bangkit lagi lalu menghampiri tubuh Brewok yang masih telungkup.

Codet menjambak rambut dan kerah jaket Brewok yang lunglai. Satu pukulan menghantam lagi wajah Brewok hingga ia terjengkang. Saya kasihan juga melihatnya. Dalam keremangan itu saya bisa melihat darah yang muncrat dari tulang hidung yang remuk setiap kali sebuah pukulan atau tendangan sepatu Codet menghantam wajah Brewok. Muncrat berkali-kali hingga ia terkapar bersimbah darah dan peluh dan tanah becek pasar.

Codet seperti kesetanan. Ia terus menghajar tubuh yang sekarat itu. Saya terkesiap. Tiba-tiba, dalam huyung dan limbung, Codet mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Lalu ia mengangkat benda yang baru dicabutnya itu. Saya semakin bergetar karena cahaya bulan mengabarkan benda apa yang dipegang Codet itu. Cahaya bulan memberi kilatan pada bilah belati yang dipegang Codet. Teracung seperti moncong kematian yang siap menerkam. Ujungnya yang runcing dan tajam seolah siap menghantarkan nyawa Brewok ke akhirat.

Lalu keadaan sunyi.

***

“BAPAK pasti masih ingat pembunuhan yang menghebohkan dulu.”

“O ya ya.” Saya terjaga. Sudah dua jam saya dipijat rupanya. Hampir selesai. Saya hampir tertidur dan tenggelam dalam cerita dan ritmisnya pijatan pemijat buta ini.

“Sudah mendingan?” tanyanya.

“Lumayan,” kata saya sambil menggerak-gerakan leher yang pegal dan nyeri.

Ia menyuruh saya duduk karena kini bagian kepala yang akan dipijat. Ia minta maaf sebelum memegang kepala saya dan mulai menjambak-jambak rambut dan menekan-nekankan jari-jarinya ke kulit kepala saya. Enak meskipun sakit karena jambakannya.

Beberapa kali saya sendawa. Katanya, mungkin saya juga masuk angin. Tapi anginnya sudah saya keluarkan, ia menambahkan.

Dia perlu sekali lagi memijat-mijat seluruh badan saya yang telanjang sebelum menuntaskannya dengan menarik-narik jemari tangan hingga berbunyi krek-krek.

Prosesi selesai. Ia duduk di kursi dengan keringat yang masih mengucur. Dia mengelap keringat di wajah dengan ujung kausnya. Ia memilih air dingin yang disediakan istri saya di meja. Dua gelas air dingin tandas diteguknya. Dia begitu muda dengan raut yang tua karena cambang yang dikerok tak rapi. Kelopak matanya yang kopong mengedip-kedip setiap ada suara yang ia dengar baik di pintu maupun gesekan telapak kaki saya dengan ubin saat keluar masuk ruang tamu dan ruang dalam.

“Masih mau keliling?” tanya saya sambil memutar-mutar pinggang yang masih ngilu.

“Ah, saya pulang saja, Pak. Sudah malam. Masih sakit-sakit, Pak?” Dia seperti tahu.

“Iya, nih, masih ngilu.”

“Ditidurkan saja, Pak. Mandi air hangat dulu sebelum tidur. Besok pasti akan segar,” katanya.

Saya hanya mengangguk sambil terus memutar-mutar setiap sendi yang seperti mau copot. “Eh, ceritamu belum selesai tadi. Bagaimana nasib si Codet itu?”

“Ya, begitulah, Pak.”

“Begitu bagaimana? Ah, kamu belum selesai ceritanya tadi.”

“Bapak pasti tahu kejadian yang menggegerkan di pasar delapan tahun lalu.”

“Wah, saya bukan orang asli sini. Istri saya mungkin tahu karena sejak kecil ia hidup di sini”.

“Ada preman yang mati dengan cara mutilasi,” istri saya menyahut dari ruang dalam. Rupanya ia mendengar obrolan kami.

“Ya, itu Codet yang saya ceritakan itu.”

“Maksudnya yang mati itu si Codet?” Pemijat itu mengganguk. “Lho, si Brewok lalu kemana?”

“Dia pingsan rupanya. Ia kabur keesokan harinya. Sebelum orang-orang datang dan pasar mulai ramai.”

“Si Codet dibunuh siapa?”

“Siapa lagi, tidak ada orang lain selain kami bertiga.”

Aku terperanjat. “Jadi kamu yang membunuhnya?”

“Begitulah, Pak. Saya dihukum lima tahun, karena hanya dituduh membantu Brewok membunuh Codet. Anak buah si Codet datang memberi perhitungan dan mencongkel mata saya. Masih untung saya tidak mati.”

Suaranya datar. Ia meneguk air dinginnya lagi hingga tandas. Uang yang saya taruh di dekat gelas sudah ia ambil dan dimasukkan ke dalam sakunya. Saya masih tercengang dengan pengakuannya. Hingga waktu ia pamit dan berdiri, saya hampir tak mendengarnya. Ia mengulang pamitnya dan menuju pintu yang terbuka. Di sana tongkat besinya ia sandarkan sewaktu masuk tadi. Aku menuntunnya hingga gerbang.

“Besok-besok kalau pegal-pegal lagi, jangan sungkan panggil saya, Pak. Panggil saja Brewok pasti saya datang.”

Saya masih tercengang dan kian tercengang.

Bandarlampung, 2004

*) Dimuat Lampung Post, 16 Juli 2004
**) Gambar dari Pixabay.com

BAGIKAN
0

SESEORANG DI KURSI DEPAN

SESEORANG di kursi depan sebuah bus yang melaju di Jalan Sudirman. Seseorang naik dari halte Ratu Plaza. Tak ada yang mencurigakan pada seseorang hingga bus tiba di halte Komdak. Penampilannya, saat naik, tak membetot mata untuk memandangnya lama-lama. Seseorang duduk begitu saja di kursi depan, dua baris diagonal di depanku. Hanya itu saja, tak lebih, sungguh, hanya itu saja.

Seseorang menarik perhatianku ketika bus masuk terowongan jembatan Semanggi. Rambut seseorang serasa kukenal. Pekat dan kriwil-kriwil tak kenal sisir. Seseorang memakai kemeja tentara dengan bordir beraneka gambar. Lambang Nazi segala di pangkal lengan kanan. Jins seseorang juga kumal. Mendekap ransel Alpina kumal dan robak-robek di jahit-jahitannya. Gaya seseorang mengingatkanku pada Jonggi, seseorang lain di masa lalu, aktivis partai yang teriak paling depan saat demo sebelum rusuh. Tapi Jonggi sudah “insyaf”. Dia sudah pulang kampung. Dia hampir bersumpah tak akan singgah ke Jakarta lagi jika tak kucegah. “Siapa tahu kau jadi caleg,” begitu kuingatkan.

Seseorang memang bukan Jonggi. Badan seseorang terlalu tegap untuk orang seperti Jonggi yang merokok tak henti-henti tanpa olahraga. Jonggi tak setinggi itu jika duduk. Lagipula untuk apa dia ke Jakarta musim kampanye begini. Dia sudah benci partai kini. Tapi siapa tahu dia berubah pikiran lagi dan bergabung dengan salah satu partai di kampungnya. Aku meyakinkan diri, Jonggi tak akan mau ke Jakarta. Seseorang bukan Jonggiku.

Sikap duduk seseorang mengingatkanku pada seseorang yang lain, juga dari masa lalu. Ada sikap Coki pada duduk tegap yang angkuh seperti itu. Membusung dada dan selalu menganggap remeh pada orang lain. Orang lain dianggapnya cupet meski aku tahu dia juga sering berpikir sempit terutama jika sedang jatuh cinta. Ia kerap tak bisa membedakan mana pujian mana cacian jika ada perempuan yang berhasil membuatnya kepayang, dan tentu saja, menolak cintanya.

Tapi ia bukan Coki yang bapaknya menurunkan gen rambut keriting lidi alias lurus atawa jocong. Coki di Jakarta dan kini sudah perlente jadi pekerja sebuah bank yang mulai pulih. Ia kini wangi dan mainannya ke kafe kalau tak nongkrong di mal mencuci mata untuk melihat belahan dada dan bokong abg. Coki jadi seorang metronis dengan gaji yang lebih dari cukup. Sudah tentu seseorang di kursi depan sebuah bus yang melaju di Sudirman bukan Cokiku.

Ingatanku melayang pada Gimbal, seseorang lain yang bernama asli Muhamad Zaki. Bentuk rambut seseorang mirip benar terlihat dari belakang ketika terakhir kami bertemu. Kudengar Gimbal pulang ke Aceh dan entah jadi apa. Kami tak ketemu kontak lagi. Ia juga tak tersambung internet, mungkin dia sendiri tak menyukai peranti itu. Gimbal ke Jakarta? Mungkin juga. Untuk apa? Ini yang perlu kutanyakan. Bus makin padat dan tersendat karena iring-iringan rombongan simpatisan partai. Ah, bagaimana membayangkan sebuah pertemuan dengan kangen yang mendadak?

Aih, tiga pengamen Batak naik pula berdesak-desakan. Seseorang satu menenteng gitar dan langsung menyanyikan Sajojo. Tiga suara berbeda, bergetar di setiap ujung nada, bertimpang tindih jadi harmonisasi yang enak didengar. Tiga lagu medley: semuanya berbahasa Batak. Sampai selesai mengumpulkan receh dari tiap penumpang. Mataku kini menubruk kepala seseorang di kursi depan lagi. Harus kulihat wajahnya agar penasaranku lenyap.

Dua orang penumpang berdiri hendak turun di halte Mid Plaza. Aku menggeser lutut. Seseorang di kursi depan berdiri juga, he. Aku juga ikut berdiri. Penumpang di belakang bilang permisi mau turun juga. Aku menggeser lagi. Pintu sudah terbuka, seseorang di kursi depan turun, aku mendesak tiga penumpang yang berjalan lelet. Sekilas kulihat wajah seseorang di kursi depan. Heh, dia Marko! Aku bersegera loncat dari bus yang terus melaju pelan. Marko, Marko, kapan kau tiba di Jakarta dan untuk apa?

Aku berdiri di trotoar di luar halte. Marko, seseorang berambut gimbal, telah lenyap.

: nama-nama disamarkan

BAGIKAN
0

DALAM BUS (NO WAY)

Ada banyak cerita dalam bus kota di Jakarta. Salah satunya cerita soal pengamen, di bus 44 jurusan Ciledug-Senen.

Dia seorang yang gemuk dengan rambut lurus berminyak. Pipinya tembem menghasilkan lipatan simetris di samping bibirnya yang memanjang ke dekat hidung yang bulat. Rautnya lucu. Dia naik dari halte Benhil menenteng gitar kopong yang sudah luruh catnya. Karena gemuk, ia kesulitan menerobos jubelan penumpang di lorong kursi. Bus 44 tak pernah kosong antara jam 7-10 pagi atau 3-5 sore. Tapi, dengan sopan ia minta permisi kendati orang yang dilewatinya bermuka masam karena mepet ke kursi dan mendesak penumpang lain yang duduk. Ia berhasil sampai ke tengah.

Dia mulai beruluk salam yang sudah biasa dipakai para pengamen sebelum memulai bernyanyi, dengan terima kasih pada sopir dan kenek, juga “mudah-mudahan kehadiran saya tidak mengganggu.” Orang-orang cuek. Yang lain pura-pura tidur atau tidur betulan. Dua remaja cewek di samping saya tetap ngobrol dengan cekikik.

Salamnya agak panjang. Mungkin sekitar 3 menit dan bolak-balik mengakhiri kalimat yang itu-itu juga dengan iringan bunyi senar yang rada sember. “Ini lagu ciptaan saya,” katanya, “mudah-mudahan di antara penumpang ini ada seorang produser yang mau mengorbitkan saya.” Orang-orang cuek. Bapak-bapak di sebelah saya mengulum senyum. Siapa sudi produser naik bus yang pengap.

Lagu ciptaannya itu memang tak familiar di kuping. Sebuah lagu tentang cinta yang ditolak. Nadanya setengah dangdut, setengah pop. Suaranya agak melengking saat masuk di kunci C. Tapi dia cuek. Setengah lagu rada sukses dia nyanyikan dan tibalah waktu reffrain. Aduh, mak, suara itu tiba-tiba jadi melengking mengimbangi reff di kunci D. Nafasnya tercekat. Ia tak kuat mencapai nada tertinggi itu. Bunyi gitarnya berhenti. “Wah, suara saya mogok,” katanya, “maaf…maaf…biasanya tidak begini kalau saya menyanyi. Mungkin lagunya tidak cocok. Saya ganti saja dengan yang lain. Ini masih lagu saya juga. Pak produser, coba dengar lagu saya yang ini.”

Bapak yang tersenyum tadi melirik saya. Remaja yang mengobrol jadi diam. Orang-orang mulai memperhatikan pengamen lucu ini.

Intro sudah digeber, bolak-balik dari C ke G. Lewat dua ketukan, ia belum bernyanyi juga. Tiga ketukan. Empat. Wah, ini orang niat nyanyi, gak, sih. Ketukan kelima matanya masih merem. Ketukan keenam saya lihat ia siap-siap mengambil suara. Ketuk ke tujuh suaranya melengking. Wah, terlalu tinggi untuk kord G. Suaranya terus meninggi saat masuk syair lagu berikutnya. Huuuuh, gitar ke mana, nyanyi ke mana. “Waduh, maaf sekali lagi, saya lupa kunci gitarnya,” katanya. Yeah. Bapak di sebelah saya tertawa.

“Kalau begitu tidak usah nyanyi lagu saya saja, mari kita nyanyi Garuda Pancasila saja,” katanya, “bapak-ibu ikut nyanyi, ya, siapa tahu suara saya tidak sampai lagi.” Dengan cuek ia mulai menggembreng gitarnya. Brang-breng-brang-breng dengan ketukan agak cepat. Beberapa penumpang turun dan mendesak si pengamen itu. “Ayo, silahkan, silahkan, yang mau turun. Tosari…Tosari…ada yang Tosari?” Yeee, bukannya nyanyi malah jadi kenek. Tapi bunyi gitarnya tak berhenti.

Sampai di HI Garuda Pancasila belum dinyanyikan juga. Ia berhenti menggembreng gitar. “Bapak-ibu ini tidak ada yang tahu lagu Pancasila, ya?” katanya. “Jadi saya gak jadi nyanyi, saya juga tidak hapal.” Asem. Orang-orang menggerutu. Tapi ada juga yang tersenyum. Lucu juga memang. Bapak tadi merogoh koceknya, mengeluarkan receh dua ratus perak. Rupanya si pengamen itu menghentikan atraksinya, tanpa satupun lagu ia nyanyikan. “Ngomong dari tadi haus juga, berilah saya dengan iklas seribu atau dua ribu buat beli air.” Kurang ajar. Dia maju ke depan, menyodorkan plastik bekas bungkus permen. Ada yang memberi sambil cuek, ada juga yang melambaikan tangan.

Ia mendesak penumpang yang menghalangi jalannya. Mengangguk dan berterima kasih bagi yang mencemplungkan receh ke dalam plastiknya. “Semoga amal bapak-ibu dlipatgandakan dan jadi berkah buat saya,” ia terus nyerocos. Ibu-ibu di kursi depan agak riuh. Ia tiba di depan saya yang sudah siap-siap mau menyemplungkan receh juga. Alamak, risleting celananya jebol. Duh, tak pakai celana dalam pula. Dia tetap cuek.

BAGIKAN
0

LAKI-LAKI PENUNGGU MALAM

Laki-laki penunggu malam, kapan kau berbaring, tidur untuk tubuhmu?

Saya selalu ingin mengatakan kalimat itu tiap kali berpapasan dengan laki-laki penunggu malam, yang duduk di sebuah simpang jalan dengan rutinitas yang absurd. Dia duduk di bangku satu kaki yang camping sandarannya. Membuka kancing baju bagian atas lalu mengayunkan robekan kardus bekas untuk mengundang angin. Adakah angin malam yang membuat kau selalu merindu?

Dia muncul tiap kali malam mulai menjelang, yaitu sekitar pukul 21.00. Tiba-tiba saja. Tak pernah diketahui dari mana ia datang. Dekat pos ronda, yang kosong ditinggalkan para penjudi seceng, dia selalu duduk dengan raut yang tak pernah bisa kutebak. Temaram lampu dari sudut pagar rumah di depannya tak mampu menyiram dan mengabarkan sesuatu di balik wajah laki-laki penunggu malam.

Dia selalu menghadap ke Barat. Punggungnya yang ringkih sedikit saja disandarkan pada sisa sandaran kursi yang camping itu. Sementara dua kakinya, yang terbungkus sepatu karet hitam, dibuka agak lebar untuk menahan tubuhnya agar tak goyah. Tangan kanannya, bergantian dengan tangan kiri, mengayunkan sobekan kardus tak henti-henti.

Dia agak gemuk. Rambut yang mulai rontok tapi masih hitam di usia yang kutebak tak lebih dari 40 tahun itu. Hidungnya bulat. Di keningnya, raut-raut ketuaan tak bisa disembunyikan di balik wajah tanpa ekspresi itu. Pipinya agak tembem, sehingga kerut di kedua sisi hidungnya membentuk lipatan simetris hingga ke ujung bibir. Perutnya juga membuncit.

Saya pernah lihat dia berjalan. Kakinya tampak berat melangkah, sehingga ayunan langkahnya membuat tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan. Lalu duduk lagi, mengayunkan sobekan kardus itu lagi. Mengundang angin Jakarta yang langka digerus polusi dan udara yang menipis. Laki-laki penunggu malam, dia tahu batas malam dan pagi, juga ketepatan gerah udara.

BAGIKAN
0