DONGENG ENTENG

SAYA tumbuh bersama dongeng. Karya sastra kedua yang saya dengar dan saya serap, setelah dongeng bapak sebelum tidur, adalah dongeng enteng Mang Jaya.

Dongeng memenuhi keseharian saya sejak kecil, sejak sebelum meninggalkan kampung untuk sekolah. Barangkali, tidak hanya saya, bahasa lisan orang Kuningan dan sekitarnya sangat dipengaruhi oleh cerita-cerita Mang Jaya lewat dongeng entengnya. Disebut dongeng enteng karena ceritanya dipungut dari keseharian orang Sunda yang banyak canda.

Dongeng Mang Jaya mengalir melalui gelombang radio AM. Waktu itu tak ada gelombang FM. Radio Mang Jayalah satu-satunya gelombang yang kami dengarkan. Belakangan radio swasta banyak muncul di Cirebon. Ketika saya pulang, gelombang FM juga sudah banyak. Gelombang ini khusus menjaring pendengar anak muda. Tapi, Mang Jaya tetap tak dilupakan. Dengan suara yang sudah tua, ia masih setia menyapa pendengarnya tiap jam 11 siang, 3 sore dan 8 malam dengan cerita yang berbeda-beda. Jika Anda pernah dengar Linggarjati di pelajaran PSPB, kantor radio Mang Jaya berada tak jauh dari rumah yang dipakai perundingan antara pemerintah Indonesia dan Belanda itu.

Satu buah dongeng bisa sampai bersambung hingga lebih dari satu bulan. Setiap episode panjangnya satu jam. Mang Jaya membawakan sendiri teks iklan yang diselipkan di setiap dongengnya. Meski suaranya tua, ia masih bisa membedakan suara perempuan, orang setengah baya, nenek-nenek, anak muda atau juragan yang berwibawa tapi culas. Tiap suara itu menunjukkan bagaimana karakter tokoh-tokoh itu.

Saya masih ingat begitu penasarannya, hingga harus bolos sekolah, karena ingin tahu cerita lanjutan Bandara yang berhasil diperdaya Nini Kalingking yang jahat. Atau saya menyangka bahwa Lodaya ti Pakidulan itu ada, nun jauh di kaki Gunung Ciremai. Cerita Mang Jaya begitu dekat, karena itu kami menyukainya. Di antara ceritanya, biasanya, Mang Jaya selalu menyelipkan petuah-petuah jika kebetulan ada orang jahat yang pikirannya diliput dengki dan hasut. Ia mengingatkan bahwa orang jahat tak akan bisa langgeng dan tenang hidup di dunia.

Karena itu dongeng Mang Jaya sarat dengan pesan, pesan moral tentu saja. Tapi, ia tak melupakan jalinan ceritanya. Tokoh-tokoh saling bersahutan dalam cerita itu. Saya paling suka jika ceritanya tentang jawara yang guguru di hutan lalu turun gunung menumpas kejahatan. Mang Jaya begitu deskriptif menceritakan pertarungan antara penjahat dan tokoh baik. Kami bisa membayangkan bagaimana sebuah pukulan mengena tulang iga lalu tubuh si penjahat ambruk.

Mang Jaya tahu, cerita yang dibawakannya berupa dongeng yang dilisankan. Karena itu kalimat-kalimatnya lebih banyak deskriptif. Ia menunjukkan, tidak hanya menceritakan. Mang Jaya bisa larut dengan cerita yang dibawakannya sendiri. Ia bisa sampai menangis jika tokoh utamanya sedang menderita. Jika suatu kali menangis, Mang Jaya absen selama dua hari. Kami tak mendengarkan program apa pun di radio itu. “Mang Jaya mungkin malu,” kata Umi.

Sebelum saya menyerap pelajaran bahasa Sunda di sekolah, Mang Jaya sudah mengajarkannya. Ia mengajarkan bagaimana omong halus dan kasar. Bagaimana sebuah idiom dan peribahasa dipakai untuk sebuah suasana dan kesempatan. Bahasanya kaya dan membuka peluang bentukan bahasa Sunda baru yang dipungut dari bahasa buhun yang lama tak terpakai lagi.

Waktu nikah saya mengusulkan agar memanggil Mang Jaya saja untuk hiburannya, daripada menyewa grup dangdut yang hanya mengundang keributan antar kampung saja. Suruh saja Mang Jaya mendongeng semalaman. “Orang-orang pasti suka,” kata saya. Tapi, dua-duanya ditolak, bapak lebih suka mengundang seorang ustad untuk memberi petuah pernikahan. Padahal, Mang Jaya, juga pasti bisa memberi petuah-petuah. Tapi, saya menurut, karena saya tahu bapak ingin memberi kesan saat mulung mantu pertama kali.

Karena Mang Jaya, juga dongeng bapak, saya jadi suka cerita. Kadang-kadang kangen mendengarkan suara Mang Jaya muncul jika lama tak pulang kampung. Seperti sekarang….

ANAK-ANAK BUKAN ORANG DEWASA YANG KECIL

 

 

Setiap anak datang dengan membawa satu pesan Tuhan: bahwa manusia masih dipercaya meneruskan hidup.

Itu kata-kata penyair India yang masyhur, Rabindranath Tagore. Penyair ini, begitu mencintai dunia anak-anak, dan menceritakan dengan menggugah di setiap syair dan ceritanya. Bagi Tagore, dunia anak adalah dunia yang tak menyimpan tanda tanya. Dunia yang apa adanya, terbuka, suci.

Tapi, apa yang tersirat dalam dunia setiap anak kini? Barangkali kita sulit merumuskan dunia anak yang hidup di zaman kekhawatiran para orang tua. Dunia anak adalah dunia yang sudah dirumuskan oleh mereka yang bukan anak-anak. Mereka dicetak untuk satu tujuan hidup yang menyenangkan, bukan memilih hidup yang menyenangkan.

Roland Barthes, leksikolog Prancis ini, menyebut bahwa orang dewasa sering kali menganggap anak adalah (se)orang dewasa yang lebih kecil. “Mereka menganggap dunia anak adalah tiruan dunia orang dewasa,” kata Barthes. Pernyataan ini ditulisnya melalui sebuah esai pendek yang memikat berjudul Toys.

Lihatlah, kata Barthes, bagaimana orang-orang dewasa menciptakan mainan yang lebih kecil dari mainan orang dewasa. Mobil-mobilan, traktor, pesawat terbang, dan pelbagai mainan lainnya yang dimainkan pula oleh orang dewasa. Jadi apa bedanya dengan orang dewasa? Kita lupa bahwa anak-anak punya imajinasinya sendiri tentang dunianya.

Barthes mungkin salah, atau mungkin juga benar karena ia memotret mainan-mainan yang dipajang di toko-toko Paris. Dia salah karena sewaktu kecil saya malah sibuk dengan mencipta. Mainan kami adalah mainan yang dibuat sendiri. Mobil dari potongan kayu, atau kulit jeruk Bali, dengan roda bekas sandal yang dicetak bulat. Kali lain membuat orang-orangan dari lempung atau daun singkong. Lebih sering kami membuat wayang golek dari lempung. Kainnya kami jahit sendiri, lengannya kami buat sendiri. Dan wayang golek itu kami mainkan dengan kisah yang kami reka sendiri, misalnya, kami ingin punya lapang bola sendiri.

Kami bebas mengkreasi akan dibuat apa lempung-lempung itu. Meski pun mainan itu juga meniru dari objek yang sudah ada, paling tidak kami berusaha sendiri. Menginginkan mobil dari plastik yang bentuknya persis menyerupai bentuk aslinya, hanya jadi mimpi saja, karena selain mahal juga harus dicari ke kota. Orang-orang tua kami pasti tidak mau sengaja ke kota dengan ongkos mahal hanya beli mainan. Alih-alih dikabulkan, kami pasti kena marah.

Dunia anak adalah dunia yang tak ada tanda tanya, kata Tagore. Maka biarkanlah ia bertanya dan menikmati dunianya.

BDL, 21903