MUDIK

MUDIK barangkali sama tuanya dengan umur kota-kota. Karena mudik berarti pulang ke kampung–sebuah tempat, yang kadang-kadang diartikan, selain Jakarta. Bisa juga hanya berarti pulang. Tapi, jika bukan untuk berlebaran, pulang ke kampung jarang disebut mudik. Kata mudik, sepertinya, asosiasi artinya hanya saat lebaran, bukan pada “pulang” itu sendiri.

Kata mudik itu sendiri berasal dari udik, sebuah kata yang merujuk pada wilayah yang bukan kota, tertinggal, terbelakang–yang mendapat tambahan awal meng-. Mengudik kemudian meluluh menjadi mudik, karena bukan saja tak enak dilafalkan, tapi tak pas sebagai bentukan baru.

Mungkin hanya di Indonesia saja, lebaran dirayakan dengan mudik. Saya belum mendengar di belahan negara lain ketika menjelang lebaran atau hari raya ada migrasi manusia dalam jumlah yang gila-gilaan dari suatu tempat ke tempat lain. Di Amerika ada Thanksgiving Day, di mana semua keluarga juga harus kumpul. Tapi, tak pernah terdengar, di California tiket pesawat ludes menjelang hari istimewa itu dan orang rela antri untuk dapat selembar karcis.

Kata Umar Kayam, sosiolog yang sering bisa lucu ini, mudik itu “Suatu ritus yang tidak jelas apakah itu suatu keajaiban fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya (1993).” Mungkin ketiganya sekaligus. Barangkali juga sudah bisa dijadikan satu, ya, fenomena lebaran di Indonesia.

Lebaran bisa membuat semua orang repot. Tapi, itulah bedanya di sini. Meski umur mudik sudah tua, dan selalu berulang setiap tahun, macet dan antri tiket masih tetap saja terjadi. Antisipasi itu jauh panggang dari api.

Tapi orang tak peduli. Pemerintah mau peduli atau tidak, mudik adalah kewajiban. Ketemu keluarga setelah setahun ditinggalkan itu yang utama, juga rada-rada pamer sesuatu dari hasil jerih payah di kota. Pokoknya saat lebaran, para tetangga di kampung harus tahu, bekerja di Jakarta atau di kota memang gampang menghasilkan uang. Itu buktinya; ada mobil, sepeda motor, atau penampilan terlihat lebih baik.

Barangkali di situ jeleknya. Setiap kali arus balik terjadi, jumlah pebalik (kalau mudik disebut pemudik) jauh lebih besar dibanding pemudik. Kota makin penuh oleh orang yang mengadu untung, atau sekedar tergiur dan iri. Bisa jadi mereka sengsara ketika sampai di kota, tak punya ongkos untuk pulang lagi, jadi gelandangan yang mencemaskan. Mungkin dari situ, Koes Ploes bilang “Jakarta memang kejam, hu…hu…hu…”

Setiap mudik, jarang sekali saya menemukan ada anak lulus sekolah dasar ketika ditanya pekerjaannya gembala kerbau atau sapi atau ternak lainnya. Rata-rata bujang-bujang tanggung tetangga itu dengan sedikit bangga bilang telah kerja di Jakarta. Kerjanya macam-macam, dari buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dll. Teman-teman sekolah dulu, sehabis lulus mereka pasti pergi ke ladang.

Dengan menggembala kerbau, si anak dapat satu anak kerbau setiap tahun dari majikannya. Jika lima tahun gembala, si anak sudah punya modal untuk kawin karena ongkos mas kawin cukup jual satu kerbau, sisanya buat beli tanah pertanian. Dengan nyicil satu rumah bilik sudah bisa dibangun pada tahun ke dua. Tapi ke kota, anak-anak muda itu hanya dapat Levi’s palsu dari Tanah Abang. Gaya dan prestise lebih penting dibanding masa depan yang jelas.

Tapi, jangan pusing-pusing dengan kalkulasi ini. Ini bulan baik. Mudik juga sesuatu yang baik. Jadi, selamat mudik, selamat lebaran, maaf lahir dan batin. Maaf jika ada kesalahan-kesalahan selama menulis di blog ini. Konon, kesalahan itu seperti kentut: tidak terlihat tapi terasa, tidak bersuara tapi terdengar, kadang ditahan-tahan tapi juga seringkali sengaja dilakukan. Karena seperti kentut, mudah-mudahan kesalahanitu juga segera cepat hilang.

ULANG TAHUN

Tepat saat lebaran, 25 November nanti, blog ini juga merayakan hari jadinya yang pertama. Mudah-mudahan, seraya mendoakan diri sendiri, yang punya blog terus punya tenaga untuk terus menulis di sini. Posting pertama sebuah petikan novel yang tidak jadi dan kedua seputar pengalaman mudik di Pantura setahun yang lalu.

BAGIKAN
error0

DI SELAT SUNDA

 

Jarak terminal Rajabasa-Bakauheuni serasa jauh sekali. Saya sudah tidur untuk membunuh waktu, tapi ketika terbangun karena jerit-tangis anak-anak, perjalanan masih belum juga sampai Kalianda. Padahal, rasanya, saya sudah tidur agak lama. Saya rasakan, jalan bus itu memang pelan sekali. Si supir tak henti-hentinya menguap. Mungkin ia baru bangun dan mandi, kalau dilihat dari rambutnya yang masih basah dengan bekas-bekas sisiran yang masih rapi. Pagi itu jam menunjuk pukul 9.30 WIB.

Seharusnya, jarak Bakauheuni-Rajabasa itu hanya makan waktu 1 jam. Sepanjang jalan lintas Sumatera yang lurus dan berlubang-lubang itu tak banyak penumpang yang menyetop bus. Tapi, karena bus berjalan pelan, baru pukul 12.30 bus AC itu masuk pelabuhan Bakauheuni.

Saya turun dan langsung menuju loket kapal cepat. Tiketnya Rp 25.000. Mahal juga, kalau dibanding kapal gede biasa yang cuma 2.000 perak kelas ekonomi. Di atas kapal bisa nego lagi dengan uang seribu kalau mau naik ke kelas bisnis yang ada bangkunya. Tapi, kalau dihitung perbandingan kecepatan, agak sepadan juga. Kapal cepat melintas Selat Sunda itu hanya 1 jam. Kapal ferry yang berisi mobil dan bus dua lantai dan penumpang di lantai 3 dan 4 makan waktu 2 jam. Belum ngetem, menunggu penuh dulu.

Saya memilih tempat duduk di dekat lorong jalan. Pilihan ini agar mudah saja kalau tiba-tiba kebelet pipis dan berjalan ke toiliet di belakang ferry Srikandi itu yang di pintunya betuliskan “Toilet, Man”. Lagipula dari sana gampang juga melihat layar televisi yang menyiarkan Patroli. Ini juga termasuk pilihan. Karena di bagian depan yang hanya disekat oleh jalan masuk itu, dua layar tv menayangkan karaoke dangdut Uut Permatasari dengan goyang ngecornya. Saya belum baca koran, mungkin ada berita bagus di Liputan 6 siang atau Seputar Indonesia. Operator memutar gelombangnya ke SCTV, usai siaran Patroli.

Orang-orang mulai berdatangan dan mengisi bangku-bangku di perahu motor yang berisi 100 kursi itu. Kapalpun jadi riuh karena banyak sekali ibu-ibu menggendong anak. Mereka berteriak-teriak menyuruh anak yang paling besar diam, menyuruh duduk saja tanpa harus meloncat-loncat di atas kursi melihat laut. Sementara anak di gendongan juga tak henti meraung-raung karena perubahan suhu dari panas ke dingin. Bapak-bapak sibuk mengatur tas dan oleh-oleh.

Bangku di sebelah saya masih tersisa dua. Bangku di kapal itu tersusun empat-empat tiap baris. Di ujung baris saya dekat jendela, seorang anak muda yang rambutnya dikuncir sibuk mengirim sms. Dia juga tetangga bangku saya di bus Rajabasa itu. Tapi, kami tak saling menyapa karena juga tidak saling sapa sejak di bus.

Belum separo ngetem, datang seorang bapak dengan rambut yang tipis-beruban. Di tangan kanan dan kirinya dua tas bergelantungan. Dia behenti di depan saya sehingga menghalangi pandangan saya ke layar televisi yang sedang menyiarkan berita gelar doa di reruntuhan hotel JW Marriott.

 

“Permisi,” katanya. Saya mendongak, menggeser duduk lebih merapat ke kursi, dan mengangkat tas di pangkuan. Tak lupa saya mengangguk.

“Silakan.”

Dia masih berdiri dan memandang saya. Saya lebih merapatkan kedua paha dan melipatkan betis di kolong kursi. “Silakan, Pak.” Saya mengulang perkenanan itu.

Dia menyeruduk membanting dua tas di tangan kanannya ke kursi di sebelah saya, sementara tas di tangan kiri menghantam kepala saya. Saya melotot, kaget campur marah. Dia berdiri di samping kiri-depan saya.

“Eh, kamu jangan macam-macam, ya..”

Saya tertegun, belum mengerti buat apa dia sebegitu marah.

“Kalau saya bilang permisi, kamu geser duduknya,” dia melotot, napasnya terengah.

Saya menyungging, mencoba tenang.

“Lho, saya kan sudah bilang ‘silakkan'”.

“Iya, kalau ada yang bilang permisi, kamu geser duduknya. Kamu belum tahu saya?”

Saya memalingkan muka ke arah televisi lagi. Saya tak berniat meladeni orang yang tiba-tiba jadi gila. Dari ujung mata, saya lihat semua orang di dek itu melihat ke arah kami. Si bapak tua itu masih juga mengomel sambil membereskan tasnya.

“Jangan coba jadi berandal…kamu kira saya takut…”

Sambil mendengarkan celoteh itu, saya mencoba mencari penyebab kenapa dia marah. Tapi saya tak berhasil. Di mana-mana, yang pertama boleh memilih tempat duduk. Di tiket ferry itu tak tercantum nomor duduk. Jika ada penumpang belakangan, dipersilakan mengisi bangku yang kosong di sebelahnya. Asal tak saling terganggu, oke-oke saja. Di bus-bus di Jakarta juga begitu. Yang jaraknya dekat, memilih duduk di dekat pintu agar gampang turun. Tapi, si bapak ini kok begitu marahnya. Mungkin ia tipe orang yang tertutup dan menyangka semua hal yang tak sesuai keinginannya adalah bahaya, karena itu harus dilawan.

Setadinya saya ingin melihat bagaimana ia dikerubuti calo-calo Merak di terminal yang suka maksa dan tak segan memarahi penumpang jika tak menurut diajak ke busnya. Kalau menimpa si bapak tua ini asyik juga melihatnya, mungkin akan terjadi pertumpahan darah atau paling tidak bertengkar. Lumayan, buat tontonan lucu. Tapi, hari keburu siang, saya memutuskan berjalan cepat ke terminal dan menghindari calo dengan cepat masuk ke dalam bus jurusan Kampung Rambutan.

BAGIKAN
error0

PULANG KAMPUNG KE CINANGNENG

DEEXTER Ferrier tampak heran mendapat penjelasan batang singkong yang baru ditancapkannya bisa menghasilkan berbuluh-buluh singkong jika tiba waktu panen. Di wajah siswa kelas lima sekolah dasar British International School Jakarta ini masih menggantung penasaran meski pemandu sudah menjelaskan siklus hidup ketela itu.

Sekitar 50 anak yang sebagian besar bermata biru, berambut pirang dan tak sungkan bertanya itu tambah riang ketika sampai di pinggir kali Cinangneng. Satu per satu mereka turun ke sungai dengan berpegang pada tambang yang melintang di atas sungai berbatu itu. Mereka pun nyebur ke air sedalam pinggang orang dewasa dan bergumul dengan dua ekor kerbau yang sedang berendam.

Bahkan beberapa di antaranya tak sungkan mencium pipi anak kerbau berusia satu tahun itu, naik ke punggung kerbau induk dan mencipratkan air ke kepalanya. Tampak riang. Anak-anak seperti menemukan main baru yang menyenangkan. Guru mereka, Peter Ferrier, bahkan harus memanggil beberapa kali anak-anak didiknya agar naik ke darat membersihkan diri dan berhenti bermain air. Cekikik, tentu saja, mewarnai aksi memandikan kerbau dan berendam dalam kali yang sedang surut itu.

Anak-anak itu sedang mengikuti rangkaian acara Pulang Kampoeng: paket wisata pedesaan yang diadakan oleh Kampoeng Wisata Cinangneng, Ciampea, Bogor. Dalam paket tur itu, peserta diajak berkeliling Kampung Kondang, melihat sekaligus mempraktekan bagaimana orang kampung bercocok tanam, makan combro (oncomna di jero=oncomnya di dalam), minum air kendi, menjemur padi sampai bagaimana gabah digiling menjadi beras.

Peter Ferrier mengaku sangat senang mengikuti tur itu. “Bagus untuk anak-anak karena bisa mengenal budaya tradisional Indonesia,” kata wakil kepala sekolah asal Australia ini. Setelah mengikuti tur itu, aku Ferrier, ia jadi tahu bagaimana proses padi, makanan pokok orang Indonesia itu, diolah sampai menjadi nasi. “It is the real Indonesia,” katanya dengan mimik kagum.

Usai memandikan kerbau, peserta makan siang di penginapan. Setelah itu pemandu akan mengumpulkan kembali peserta dan membaginya ke dalam beberapa kelompok–jika pesertanya banyak. Satu kelompok belajar main angklung, satu kelompok diajari bagaimana membuat wayang dari daun singkong, kelompok lain menari dan belajar menabuh gamelan sunda. Anak-anak dari pelbagai negara itu antusias menggoyang-goyangkan alat musik dari bambu itu sampai menghasilkan nada lagu Tatar Sunda, Burung Kakatua atau Naik-naik ke Puncak Gunung.

Jika sudah usai, giliran kelompok angklung belajar membuat wayang daun singkong. Permainan yang tak pernah mereka dapatkan. Hingga wayang-wayang bikinan tangan mereka sendiri itu dimasukkan ke dalam tas dan dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Oleh-oleh lainnya bagi peserta yang termasuk dalam paket wisata adalah wayang golek, gendang kecil, obor, lodong dan angklung mini. Jika ingin mendapatkan yang lain atau jumlah lebih, peserta bisa membelinya dari penduduk yang membuat.

Di Kampung Kondang juga dibuat dua buah pondokan yang menyatu dengan rumah penduduk, semacam home stay. “Disediakan untuk peserta yang ingin menginap dan hidup bersama penduduk kampung,” kata pemilik Kampung Wisata Cinangneng Hester Basoeki. Pelbagai oleh-oleh yang bisa dibeli juga disediakan di sebuah rumah yang sekaligus tempat pembuatannya. Para peserta bisa melihat langsung bagaimana cindera mata itu dibuat mula-mula hingga berbentuk barang jadi.

Tak hanya sekolah-sekolah asing di Jakarta yang meminati wisata keliling kampung ini. Menurut Hester Basoeki setiap pekan enam kamar penginapan miliknya selalu penuh. Enam unit pondok itu ditata dengan apik sesuai alam pedesaan. Selain anak-anak sekolah, banyak peserta dari kantor tertentu yang datang ke penginapannya untuk berlibur dalam jumlah banyak.

Tapi pendatang yang menginap tidak selalu ikut paket wisata Pulang Kampung. “Kalau mau paket Pulang Kampung, peserta minimal 20 orang,” katanya. Bagi keluarga yang hanya lima-enam orang hanya bisa menginap di kamar penginapan yang dilengkapi kolam renang. Per malam, tarif satu buah kamar Rp 225 ribu hingga Rp 275 ribu.

Alasan dipakai jumlah minimal, kata Hester, karena dalam tur itu juga melibatkan masyarakat kampung Kondang. Oncom, air kendi, sawah yang ditanami atau dipanen padinya itu milik penduduk asli. Hester membayar penduduk-penduduk itu menyediakan oncom dan kawan-kawannya itu. “Kalau cuma sedikit, selain tidak ramai, juga biaya yang dikeluarkan terlalu besar,” ujarnya.

Untuk paket wisata Pulang Kampung itu sendiri, peserta dikenai biaya Rp 75 ribu per orang. Cukup murah karena tur kampung dilakukan sepanjang hari, dari pagi sampai sore. Paket satu hari ini juga dirancang agar anak-anak itu tidak perlu menginap. Jika yang datang peserta dari sekolah, kata Hester, sebelum tur kampung dimulai, anak-anak sekolah itu dipertemukan dalam satu kelas dengan anak-anak sekolah SD Cihideung Ilir Udik yang letaknya persis di samping rumah penginapan Hester.

Menarik melihat anak-anak bule itu berbaur duduk satu bangku dengan anak-anak sekolah lokal. Mereka bersalaman saling kenal, bertukar cinderamata dan bergantian bernyanyi lagu asal negara masing-masing. Anak-anak dari benua lain itu menjadi tontonan tersendiri bagi penduduk sekitar, sampai pintu dan jendela dipenuhi anak-anak dan ibu yang menonton. “Melihat bule sebetulnya sudah biasa sejak ada kampung wisata, tapi peserta selalu jadi tontonan tersendiri,” kata Hester.

Hester terus memperbarui program paket wisata yang benar-benar bercirikan pedesaan. “Saya tidak ingin menghadirkan tempat wisata seperti pedesaan, tapi betul-betul pedesaan,” katanya. Kini ibu dua anak itu sedang merancang paket wisata ronda keliling kampung pada malam hari. Peserta akan dibawa keliling kampung pada malam hari sambil membawa obor, bercengkrama dengan penduduk kampung dan memakan makanan yang dibuat oleh penduduk kampung yang dilewati.

Bagi penduduk sekitar kehadiran Kampung Wisata yang sudah berdiri sejak sepuluh tahun silam itu menjadi berkah tersendiri. Selain bisa berinteraksi dengan orang kota, mereka juga bisa mendapat pekerjaan dengan menjadi pembuat produk oleh-oleh atau menjadi pemandu.

Hester bercerita, pernah suatu kali ia ingin yang jadi pemandu bercocok tanam dari mahasiswa. Tapi para mahasiswa itu tak mampu memberi contoh dan menjelaskan secara sederhana proses menanam tanaman di kampung itu. “Justru ada orang kampung sini yang paham betul suatu tanaman ditanam hingga jadi bahan makanan,” puji Hester. Alhasil, para penduduk itu yang fasih membuat kagum Ferrier dan kawan-kawan.

BAGIKAN
error0

BENTENG UJUNG PANDANG

 

 

 

Di buku saku panduan pariwisata Sulawesi Selatan, benteng Ujung Pandang menempati urutan pertama lokasi wisata yang ditawarkan. Alasannya, tentu, selain lokasi benteng ini relatif dekat dan mudah dijangkau dari pusat kota, juga berdekatan dengan lokasi wisata lainnya semisal Pantai Losari dan pusat belanja Somba Opu.

Begitu sampai di depan benteng, sebuah tugu bertulis Fort Rotterdam menancap di halaman rapi berlapis batu seluas kurang lebih 10 x 10 meter. Gerbang kayu dengan dua daun pintu setinggi 3,5 meter terbuka dijaga seorang satuan pengaman. “Silakan isi buku tamu dan bayar,” katanya. Setelah mencoretkan nama dan membayar uang sukarela, wisatawan bisa dengan leluasa berkeliling benteng yang dirintis oleh Raja Gowa IX Tumaparisi Kallona.

Ada lima belas bangunan berarsitektur Eropa abad pertengahan dalam benteng itu. Bangunan yang berderet di sekeliling benteng digunakan sebagai Museum La Galigo, kantor museum, kantor suaka purbakala, Dewan Kesenian Makassar dan Dewan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia. Sedangkan bangunan yang letaknya di tengah dipakai sebagai aula. Taman merupakan ruang kosong antara aula dengan gedung yang diisi dengan kursi-kursi tembok.

Sebelum Belanda datang, di dalam benteng diisi rumah-rumah bertiang tinggi khas rumah Makassar. Setelah benteng jatuh ke pasukan Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman, benteng berubah nama menjadi Fort Rotterdam. Speelman memakai nama ini untuk mengenang kota kelahirannya: sebuah kora pelabuhan di Rotterdam, Belanda. Benteng pun berubah fungsi menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pertahanan dan tempat tinggal para petinggi Belanda.

Bangunan-bangunan berlantai dua dengan pintu rendah itu di kelilingi tembok setebal dua meter dengan tinggi 5-7 meter. Seluruh bangunan dicat warna krem dengan tiang merah gelap. Ada enam bastion di setiap sudut benteng dengan nama yang berbeda-beda. Bastion Base, di sebelah kanan benteng, merupakan tempat favorit untuk duduk menyaksikan matahari tenggelam ditelan Pantai Losari.

Benteng seluas 21.253 meter persegi ini juga disebut Benteng Pannyua. Nama ini merujuk pada bentuk benteng jika dilihat dari atas. Bangunan-bangunan itu dikelilingi tembok yang bersambung berbentuk elips dan pintu yang menjorok ke luar. Sehingga jika dilihat dari atas, pintu masuk itu seperti kepala penyu menghadap dan siap turun ke laut.

Museum La Galigo menempati bangunan nomor lima dan tiga belas sebagai ruang pameran di dalam benteng. Raja Gowa X Tunipallangga Ulaweng menyelsaikan pembuatan museum ini pada 1545. Di dalamnya kini tersimpan lebih dari 6.000 koleksi benda purbakala seperti batuan, fosil, benda bentukan alam, naskah kuno, mata uang, tanda pangkat. Dari jumlah koleksi itu, koleksi etnografi menempati urutan jumlah terbanyak. Nama La Galigo sendiri diambil dari nama seorang sastrawan, budayawan dan negarawan asal provinsi ini.

Sayang, museum ini libur setiap Sabtu dan Minggu. Alhasil, jika tidak mengetahui sebelumnya, wisatawan bisa kecele karena tidak bisa melihat benda-benda sejarah di museum itu. Seperti dua orang Kediri yang datang ke museum dengan taksi. “Wah, saya jauh-jauh datang dari Kediri, nih,” katanya dengan nada kecewa setelah diberitahu petugas keamanan, museum tutup pada hari Sabtu.

Keduanya hanya bisa melihat-lihat berkeliling bangunan dalam benteng. Atau menyusuri benteng setinggi lima meter yang mengelilingi museum dari bastion satu ke bastion lain. Namun, kata petugas museum Nurdiansyah, ruang pameran di bangunan nomor lima dan tiga belas selalu buka meski kantor museum libur. Karena sedikit pengunjung, kata petugas yang ditemui dua orang Kediri, semua bangunan tutup karena Sabtu.

Kata Jalil Malik, petugas keamanan itu, setiap Sabtu, taman dalam benteng itu dijadikan ajang latihan teater, tari dan kegiatan seni lainnya oleh anak sekolah dan pekerja seni setempat. Ani, misalnya, siswa kelas 3 SMU 2 Makassar mengaku rutin berlatih teater dengan teman-temannya di dalam benteng setiap Sabtu. “Ini termasuk kegiatan ekstrakurikuler juga,” katanya di sela-sela latihan.

Jika di Jakarta ada Taman Ismail Marzuki sebagai tempat kumpul para seniman, di Makassar, benteng Ujung Pandang-lah yang menjadi pusat kongkow anak muda dan seniman. Tidak semua anak muda, memang, yang datang ke dalam benteng untuk berlatih kesenian. Beberapa di antaranya duduk berpasang-pasangan di bangku taman yang tenang. Atau menghabiskan sore melihat senja memerah dengan duduk di atas benteng.

Menurut Kepala Tata Usaha Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bahri Samsu, benteng Ujung Pandang sudah menjadi semacam ruang publik sejak ditetapkan sebagai Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan pada 27 April 1977. Namun, kata Bahri, anak-anak muda itu hanya berlatih saja di dalam benteng. Pementasannya sendiri kini dipusatkan di Gedung Pusat Kesenian di dalam kota.

Benda-benda purbakala di dalam museum, kata Bahri, setiap tahun bertambah. Saat pertama kali diresmikan pada 1 Mei 1970, museum hanya memiliki 50 potong benda purbakala. Benda-benda yang kini sudah mencapai ribuan itu, kata Bahri, diperoleh dari kolektor yang menyumbangkan benda koleksinya untuk museum.

Benda sejarah yang paling banyak memikat pengunjung adalah duplikat mahkota (salokoa) Raja Gowa yang beratnya mencapai 1.867 gram. Mahkota asli itu kini tersimpan di museum daerah Ballalompoa Kabupaten Gowa. Selain itu alat pertanian dan baju tradisional peninggalan tahun 1732 menjadi pusat perhatian setiap pengunjung.

Di salah satu bangunan tercatat sebagai ruang Pangeran Diponegoro menjalani hari-hari akhir saat ditahan Belanda selama 27 tahun hingga wafat pada 1855. Ruang itu, kata Bahri, juga menjadi incaran para wisatawan. “Tapi belum ada penelitian ilmiah yang menyebut ruang mana yang dipakai Pangeran Diponegoro menjalani penahanan,” kata Bahri.

Di ruang yang dipercaya tempat Diponegoro tidur itu sendiri tidak tersimpan apa pun. Sebelum ada kunjungan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Soesilo Sudarman pada 1992 kondisi ruangan itu kotor. Kata Bahri, sebuah perusahaan mensponsori renovasi ruangan itu, hingga kini tampak bersih dan terawat.

Tapi, tidak semua pengunjung bisa menyerap keterangan setiap bangunan berikut sejarah dan isinya. Hanya sedikit informasi yang disajikan dalam benteng ini. Papan informasi di pusat benteng sudah lama tak lagi diperbaharui dengan sedikit menyinggung sejarah dan peranan benteng Ujung Pandang dari masa ke masa. Padahal, keterangan itu penting, tentu saja, untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke benteng yang menjadi pusat sejarah, budaya dan ilmu pengetahuan itu, seperti ditawarkan dalam panduan wisata itu.

BAGIKAN
error0

KHALIL GIBRAN DI ATAS BUS *

Sekeping rembulan rebah di saku baju
sekeping hati mencari di langit biru

Dua baris puisi Khalil Gibran itu meluncur ringan dari mulut Pace (24) di bus Mayasari Bhakti AC 49 Tanjung Priok-Blok M, Jumat (7/2) sore. Suaranya parau. Pace mengucapkannya tanpa teks. Ia juga mengutip puisi dan kata mutiara para penyair dan filsuf besar lain, juga tanpa teks. Ia misalnya mengutip pepatah lain “dari seorang pintar Jerman”: Hidup adalah lelucon bagi orang yang berpikir, tapi hidup adalah tragedi bagi orang yang terlalu memendam perasaan“.

Pace bukan mahasiswa filsafat atau aktivis suatu organisasi. Ia hanya seorang pengamen. Pendidikannya pun cuma tamat Sekolah Teknik Menengah pada 1997-1998. Tapi ia hapal beberapa lirik syair Khalil Gibran. “Saya suka Khalil Gibran, syairnya bagus,” katanya setelah kami turun di Grogol dan saya bisikan minta wawancara.

Sayang, pemuda kurus, hitam, dan gondrong itu, tidak ingat siapa orang pintar Jerman yang baru saja ia kutip kalimatnya. “Benar, kok, saya pernah membaca kalimat itu. Tapi lupa di buku apa, ya?” katanya. “Artinya jika kita ngoyo menjalani hidup, hidup akan terasa kejam,” kata Pace menjelaskan. Maka, tutur Pace dengan semangat, “Hidup harus diperjuangkan.”

Ia mengaku mengerti betul arti kata mutiara itu. Maka Pace pun mengamen di bus-bus yang menuju dan meninggalkan terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, setelah ia mencoba melamar pekerjaan namun tak ada yang mau menerimanya. Ia sudah kenal komunitas terminal sejak masih sekolah, yaitu pada 1996. Sejak lulus sekolah ia memutuskan meninggalkan rumah orang tuanya di Marunda, mencari sendiri biaya hidup, dan tinggal di rumah kos di daerah Timbangan.

Saat mengamen ia ditemani Budi (24). Keduanya bertemu di terminal setahun lalu dan memutuskan kos dan mengamen bareng. Pace mengaku terus memikirkan bagaimana teknik mengamen agar orang tak bosan. Ia tahu penumpang dari dan ke Tanjung Priok sebagian besar adalah pekerja yang setiap hari, tentu saja, orangnya itu-itu juga. Maka, selain membacakan kutipan tulisan para filsuf, kadang-kadang Pace membawakan monolog, kali lain campuran antara monolog dan lagu, campuran ketiganya sekaligus, atau membawakan puisi dan lagu bergaya penyiar radio bergelombang 49,9 FM..

Tema yang diusung dalam monolog, atau dialog dengan Budi, Pace kerap membawakan tema politik yang sedang hangat di Jakarta. Misalnya, ia menyoroti kebijakan pemerintah yang menaikan harga bahan bakar minyak, tarif telepon, dan listrik yang berujung maraknya demonstrasi mahasiswa. “Keadaan sudah susah, malah ditambah susah,” katanya. Pengetahuan itu mereka dapat dari membaca koran.

Pace juga hapal teks Proklamasi versi penyair Hamid Jabbar yang dibawakan saat pentas di Taman Ismail Marzuki pada 1999. Pace menonton Hamid lalu menghapalkannya. Saat menyinggung kondisi politik, Pace berteriak, “Kami atas nama bangsa Indonesia dengan ini menyatakan proklamasi kedua kali. Mengenai hal-hal yang menyangkut hak asasi manusia serta utang pitung negara yang tak ada habis-habisnya, Insya Allah akan habis atas terselenggaranya pemerintahan secara bersama dan seksama…”

Setiap hari, kata Budi, mereka mengantongi Rp 40-50 ribu. “Tapi tergantung,” timpal Pace, “itu kalau tanggal muda, kalau tanggal tua paling cuma Rp 30 ribu.” Uang itu mereka gunakan untuk bayar kos yang sebulannya Rp 125 ribu, makan, ditabung, beli buku Gibran, dan koran. “Lumayanlah bisa beli sepatu” kata Budi menunjuk sepatu koboy yang dipakainya.

Keduanya sadar, penumpang bus kerap menganggap pengamen sebagai anak jalanan yang beringas. Maka, saat membawakan dialog, Pace berusaha tampil lucu. Misalnya, ia pura-pura salah, atau mengutip kata-kata filsuf dua kali, lalu berkomentar sendiri itu sudah diucapkannya saat ia membuka “pertunjukannya”. Citra buruk itu, kata Budi, karena banyaknya pengamen yang meminta uang dengan memaksa, mencopet, atau menodong. “Di Tanjung Priok tidak ada yang seperti itu. Kalau ada, sudah kami gebukin rame-rame,” katanya.

Karena penumpang bus sebagian besar pekerja, Pace dan Budi sudah berangkat dari rumah pukul 06.00 dan baru pulang di atas jam 21.00. “Kalau jam sewa uangnya suka banyak,” kata Budi. Jam sewa adalah waktu ketika para penumpang berangkat dan pulang dari tempat kerja. Maka, setiap pagi dan sore itu, Pace selalu teriak, “Hidup adalah lelucon bagi orang yang berpikir…” Keduanya pun tersenyum jika hasil mengamen melimpah.

BAGIKAN
error0