MENJADI WARTAWAN INVESTIGASI

Belajar menjadi wartawan investigasi. Pelajaran dari Australia.

Di Australia, sangat sedikit wartawan yang berminat menekuni liputan investigasi. Soalnya, tanpa bersusah-susah menjadi wartawan jenis ini, penghasilan wartawan di sana sudah jauh lebih dari cukup. Dalam setahun, seorang wartawan digaji 50 ribu dolar Australia, sekitar Rp 400 juta–sepuluh kali lipat gaji wartawan Indonesia.

Continue reading “MENJADI WARTAWAN INVESTIGASI”

BAGIKAN
0

TENTANG HARAPAN

 

Di negeri yang kekuasaannya begitu bebal, harapan dan pesimisme sama naifnya dengan urusan hidup sehari-hari.

Di kantor saya, “berita buruk” kadang kala disortir, kalau bisa diganti dengan “berita baik”, agar ada variasi dan orang tak selalu berkerut kening setiap kali membaca majalah. Misalnya, tentang seseorang yang jadi kaya karena mengolah sampah. Orang-orang yang menumbuhkan harapan dan berbuat sesuatu bagi orang di sekelilingnya. Pejabat yang menolak suap.

Sering kali upaya itu gagal. Berita baik semacam itu sulit sekali ditemukan. Yang tampil akhirnya tetap “berita buruk”: korupsi pejabat A, kolusi petinggi B, kecurangan di sana, kebohongan di sini. Dan berita buruk ditulis, selalu ditulis, agar orang tak mengulangi keburukan itu, agar ada perubahan ke arah yang lebih baik. Opini, editorial, tajuk rencana, juga ditulis untuk menyuarakan sikap dan jalan yang mungkin bisa ditempuh untuk setiap masalah yang muncul.

Sebuah harapan yang terdengar kian aneh.

Di Guatemala, wartawan tak cukup hanya menulis. Mereka berkampanye. Seperti yang dilakukan José Rubén Zamora. Ia pemimpin redaksi El Periodico, yang harfiah berarti Koran. Zamora mampir ke kantor karena diundang sebuah lembaga untuk mengajarkan teknik investigasi bagi wartawan Indonesia. Oleh IPI, Zamora dinobatkan sebagai salah satu dari 50 pahlawan kebebasan pers. Tentu saja karena ia tak henti membongkar skandal di negerinya, dan selalu lolos dari upaya pembunuhan.

Barangkali riwayat hidup semacam itu tak lagi aneh. Di negara-negara berkembang selalu saja terdengar ada wartawan yang gigih membongkar keburukan pemerintahnya. Kita tak kekurangan jenis wartawan seperti dia. Yang membedakan adalah cara Zamora membongkar kebobrokan itu. Sebermula ia menetapkan tentara di negerinya sebagai musuh. Para tentara sering berkolaborasi dengan mafia narkotika mengekspor mariyuana ke Meksiko, ke Amerika. Para tentara juga korup dan sering meneror wartawan di sana.

Kemudian, setelah selesai membongkar satu kasus, Zamora membuat iklan. Ia memajang foto para “tersangka” dari hasil investigasi para wartawannya. Tak hanya di korannya, tapi di media massa seluruh Guatemala. Di sana berita dan fakta saja tidak cukup. Iklan itu tak berhenti sampai ada reaksi. Misalnya, tersangka itu mengundurkan diri dari parlemen, menteri, atau jabatan publik lainnya. Atau rakyat turun ke jalan berdemonstrasi. Satu upaya yang tak ditemukan di Indonesia.

Kita hanya menulis, lalu berharap keadaan berubah. Tiap hari, setiap pekan, kita membaca penyelewengan dan korupsi. Dari bulan ke bulan terus begitu. Nyatanya perubahan tak kunjung datang. Di mana salahnya? Seseorang pernah bertanya kepada petinggi di negeri ini tentang satu kasus. Seseorang teman saya itu malah kena marah kenapa kasus itu ditulis. Jadi, memang naif sekali berharap di sini. Kekuasaan begitu bebal.

Berita korupsi bisa jadi hanya cerita pengantar tidur. Lalu kita lupa karena besok urusan baru menunggu. Berita kolusi mungkin hanya asyik jadi bahan obrolan di waktu senggang atau menunggu kantuk sepulang kantor di kereta malam. Setelah itu hilang.

Kita memang sudah lama terkena paralisis. Sejak urusan kian banyak membelit. Sejak berbagai masalah bertubi-tubi mengimpit. Sejak banyak soal tak selesai-selesai: pembunuh Munir, luapan lumpur… Kita pun angkat bahu setiap ditanya apa harapan besok pagi? Betapa mengerikan…

BAGIKAN
0

DEEP THROAT

Deep Throat akhirnya muncul. Dia sudah 91 tahun sekarang. Ketika mengucapkan titah “ikuti aliran uang itu” di tempat parkir pada Bob Woodward, wartawan Washington Post itu, ia masih 60-an. Throat tak lain Mark Felt, deputi direktur FBI. Dia ada di gedung Watergate ketika sejumlah “maling” merangsek ke sana, malam-malam. Tanpa dia, Nixon akan kembali berkuasa dengan hasil korupsi. Tanpa dia, duet maut dua wartawan The Post–Woodstein: Woodward dan Carl Bernstein–akan berpusing menulis kasus ini di seputar aksi kriminalnya saja. Dan mereka tak akan menulis All President’s Men yang dahsyat itu. Belum tentu ada teori canggih membongkar aksi pencucian uang. “Kami yakin, kakek kami seorang pahlawan Amerika,” kata seorang cucu Felt.

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/linkset/2005/05/31/LI2005053100696.html

http://news.independent.co.uk/world/americas/story.jsp?story=643076

BAGIKAN
0