WAWANCARA MENGAWETKAN SEJARAH

 

Jurnalisme adalah sejarah yang ditulis hari ini.
~ Amarzan Loebis

DALAM jurnalistik ada lima jenis narasumber yang bisa diwawancarai sebagai sanad informasi sebuah peristiwa: 1) pelaku, 2) mereka yang melihat, 3) dia yang paling tahu, 4) mereka yang berwenang, 5) pakar.

Urutan ini tak boleh tertukar. Jenis-jenis narasumber ini yang akan menentukan nilai sebuah berita. Jika informan sebuah peristiwa hanya “ia yang berwenang”, seperti polisi, apalagi juru bicara polisi, gradasi informasinya tak lebih kuat dibanding jika narasumbernya mereka yang melihat langsung peristiwa itu, apatah lagi mereka yang terlibat. Jika berita mutilasi sumber utamanya seorang kriminolog yang sedang mengajar ketika peristiwa itu terjadi, beritanya pasti tak menyajikan fakta, melainkan analisis-analisis yang belum tentu tepat.
Continue reading “WAWANCARA MENGAWETKAN SEJARAH”

BAGIKAN
0

REPORTASE SEBAGAI MURUAH JURNALISME

REPORTASE adalah tulang punggung jurnalisme. Tulisan di media massa yang enak dibaca biasanya artikel yang lahir dari reportase. Sebaliknya, tulisan yang ruwet biasanya karena ia mengungkai masalah.

Reportase bisa juga menyajikan masalah. Untuk menghidupkannya masalah tersebut “dibumikan” dengan tokoh, sehingga masalah itu menjadi dekat dan hidup di benak pembaca karena masalah jadi memiliki cerita.

Proximity atau kedekatan masalah itulah yang membuat seseorang bersedia meluangkan waktunya membaca apa yang kita tulis. Tanpa proximity artikel akan seperti cerita Lord of The Ring: ia asyik karena bertuturnya kuat menghadirkan dunia antah-berantah yang hanya ada dalam fantasi kita. Artinya, syarat utama tulisan tak ngawang-ngawang seperti itu harus harus bagus cerita dan cara bertuturnya. Selebihnya, urusan Frodo dan Legolas tak bersangkut paut dengan urusan hidup sehari-hari.

Continue reading “REPORTASE SEBAGAI MURUAH JURNALISME”

BAGIKAN
0

TOLERANSI DI GUNUNG KAWI

JIKA berkunjung ke Gunung Kawi, di Jawa Timur, keinginan para demagog agama yang sedang populer lewat demo-demo besar di Jakarta, rasanya sulit diterapkan. Di makam Mbah Djoego dan Mbah Iman Sudjono ini toleransi beragama antar manusia begitu tinggi.

Masjid Iman Sudjono bersebelahan dengan kelenteng dengan lilin-lilin setinggi dua meter. Puji-pujian dalam bahasa Arab di masjid diiringi karawatian. Orang-orang Tionghoa berkalung salib berdoa di makam berisi dua jasad pengikut Pangeran Diponegoro itu.

Atau di masjid dekat makam, mereka yang datang berdoa bersama perempuan-perempuan yang memakai jilbab atau laki-laki berpeci. Juga anak-anak yang dibawa ibu-bapak mereka. Dan kedua jenazah yang terbaring di sana semasa hidup adalah para ulama, kyai yang menyebarkan ajaran Islam hingga ke luar wilayah Mataram di Yogyakarta.

Continue reading “TOLERANSI DI GUNUNG KAWI”

BAGIKAN
0

TERSESAT DI JEPANG

Tersesat di Tokyo dan tersaruk hingga ke gunung Fuji. Selamat oleh transportasi yang efektif.

TERJADI pekan lalu. Setelah 7 jam penerbangan dengan Garuda dari Jakarta…

Di pintu keluar Bandara Haneda pada pukul 7.45, saya melihat laki-laki ini, di antara para penjemput yang membentangkan kertas bertuliskan nama-nama jemputan mereka. Laki-laki ini, sekitar 25 tahun, membawa kertas bertuliskan “Mr. Hidayat”. Dari nama yang tersemat di dada kiri jasnya, saya tahu namanya Matsuoka. Matsuoka-san. Maka saya menghampirinya dan terjadilah dialog ini dalam bahasa Inggris:

Continue reading “TERSESAT DI JEPANG”

BAGIKAN
0