MAYAT HIDUP DAN PENCURI YANG BERHASIL

 

Malapraktik bahasa jurnalistik. Mayat hidup dalam berita dan pencuri selalu bercita-cita ditangkap.

BAGI wartawan, bahasa adalah alat utama menyampaikan cerita dan fakta. Jika mereka tak menguasai peranti ini, cerita dan fakta bisa kabur bahkan meleset, alih-alih menggugah dan mendorong publik terlibat dalam berita yang mereka tulis.

Lanjutkan membaca “MAYAT HIDUP DAN PENCURI YANG BERHASIL”

BAGIKAN
0

KATA-KATA YANG MEMUAI

 

Kata-kata yang memuai terjadi di hampir semua bahasa. Tapi pemuaian makna ini membuat bahasa menjadi susah dipelajari.

SEORANG teman dari Korea Selatan masygul ketika mendengar seorang Indonesia berseru, “Wah, mau hujan,” pada sebuah sore yang mendung. “Wow, bagaimana caranya?” ia pun bertanya. Ia menyangka, temannya yang orang Indonesia itu sedang menginginkan hujan atau berminat pada hujan seperti minatnya mengunyah es krim.

Lanjutkan membaca “KATA-KATA YANG MEMUAI”

BAGIKAN
0

REPORTASE SEBAGAI MURUAH JURNALISME

REPORTASE adalah tulang punggung jurnalisme. Tulisan di media massa yang enak dibaca biasanya artikel yang lahir dari reportase. Sebaliknya, tulisan yang ruwet biasanya karena ia mengungkai masalah.

Reportase bisa juga menyajikan masalah. Untuk menghidupkannya masalah tersebut “dibumikan” dengan tokoh, sehingga masalah itu menjadi dekat dan hidup di benak pembaca karena masalah jadi memiliki cerita.

Proximity atau kedekatan masalah itulah yang membuat seseorang bersedia meluangkan waktunya membaca apa yang kita tulis. Tanpa proximity artikel akan seperti cerita Lord of The Ring: ia asyik karena bertuturnya kuat menghadirkan dunia antah-berantah yang hanya ada dalam fantasi kita. Artinya, syarat utama tulisan tak ngawang-ngawang seperti itu harus harus bagus cerita dan cara bertuturnya. Selebihnya, urusan Frodo dan Legolas tak bersangkut paut dengan urusan hidup sehari-hari.

Lanjutkan membaca “REPORTASE SEBAGAI MURUAH JURNALISME”

BAGIKAN
0

EDITING: KILLING THE DARLING

 

Editing adalah fase terpenting dalam proses menulis. Pintu terakhir sebelum artikel dipublikasikan.

TAK ada penulis kelas satu. Semua penulis adalah kelas dua karena di belakang mereka menyeringai para editor.

Bahkan dalam puisi. Kendati puisi adalah jenis tulisan yang seharusnya mengedepankan ekspresi pertama penulis terhadap percikan pemikiran dan peristiwa, beberapa penyair tetap menyunting sajak mereka setelah selesai ditulis. Dari manuskrip catatan tangan Chairil Anwar kita tahu ia acap mencoret kata dan kalimat lalu menggantinya dengan kata lain sebelum diterbitkan dan kita baca sekarang.

Para penulis adalah editor terbaik bagi tulisan mereka sendiri. Para editor sesungguhnya orang yang tak tahu apa-apa tentang objek tulisan yang dihadapinya. Tetapi ketidaktahuan itu justru penting dalam dunia sunting-menyunting. Ketidaktahuan akan mendorong pertanyaan dan pertanyaan diperlukan oleh para penulis untuk menguji seberapa menarik idenya, seberapa tajam gagasannya dan sudut pandangnya, seberapa kaya ulasan dan kedalamannya.

Lanjutkan membaca “EDITING: KILLING THE DARLING”

BAGIKAN
0

LEAD, PERTARUHAN PENULIS

Lead atau pembuka tulisan tak hanya paragraf pertama. Ia bangunan pengantar sebuah pokok soal dalam sebuah artikel. Jika judul seperti etalase pada sebuah toko, lead adalah pintu masuk ke dalam toko itu. Seorang calon pembeli, yakni para pembaca, akan tertarik membeli sebuah baju karena melihat etalase. Pemilik toko yang baik menyusun etalase untuk menggiring calon pembeli itu masuk ke dalam toko lewat pintu yang tak terkunci.


Lead karena itu harus mudah dibuka, tidak alot, membujuk calon pembeli memasukinya, hingga mereka memilih sebuah baju dan bertransaksi di kasir. Setelah membayar, para pembeli harus dipaksa melihat-lihat barang lagi dan membeli lagi. Begitulah idealnya sebuah tulisan, sebuah toko, yang membujuk dikelilingi terus oleh para pembelinya. Begitu pula fungsi etalase, tujuan akhirnya membuat setiap orang bertransaksi di kasir.

Lanjutkan membaca “LEAD, PERTARUHAN PENULIS”

BAGIKAN
0