CERITA DARI TIMUR

 

MENULIS pengalaman personal acap gagal karena satu hal: abai pada detail. Kekuatan Tristes Tropiques yang ditulis Claude Lévi-Strauss, antropolog Prancis tentang “jalan-jalannya” ke hutan Amazon di Brasil pada 1955, adalah reportase pada detail yang dipadukan dengan kesan, analisis, dan menyandarkannya pada keluasan literatur.

Continue reading “CERITA DARI TIMUR”

BAGIKAN
0

CATATAN MUDIK (2)

KAMPUNG-kampung selalu mengejutkan setiap mudik Lebaran. Jalan-jalan makin sibuk dengan sepeda motor dan mobil, berkode polisi B atau D atau F. Tak ada yang naik sepeda atau jalan kaki. Anak-anak muda dengan rambut dicat dan model spike serta telinga ditindik mengebut di jalanan kecil yang kini beraspal.

Pada hari kedua Idul Fitri tahun ini para tetangga saling berkunjung dengan keluhan yang sama: tak ada gas sehingga tak ada bahan bakar untuk memasak. Gas-gas melon 3 kilogram sudah habis isinya untuk menanak ketupat dan obor juga sayur cabe hijau sehari sebelum Lebaran. Sementara warung-warung kehabisan stok gas karena pemasoknya di pasar kecamatan masih tutup.

Seorang tetangga menertawakan keluhan akan kebutuhan pokok itu. Katanya, ketika masih memakai hawu mereka tak mengeluh tak ada gas. Ketika butuh untuk memasak mereka tinggal ke hutan mencari kayu bakar. Kini hawu sudah ditinggalkan karena orang-orang kampung mengikuti program pemerintah beralih memakai gas yang konon ramah lingkungan. Dan program itu punya konsekuensi tak sedikit.

Continue reading “CATATAN MUDIK (2)”

BAGIKAN
0

TOLERANSI DI GUNUNG KAWI

JIKA berkunjung ke Gunung Kawi, di Jawa Timur, keinginan para demagog agama yang sedang populer lewat demo-demo besar di Jakarta, rasanya sulit diterapkan. Di makam Mbah Djoego dan Mbah Iman Sudjono ini toleransi beragama antar manusia begitu tinggi.

Masjid Iman Sudjono bersebelahan dengan kelenteng dengan lilin-lilin setinggi dua meter. Puji-pujian dalam bahasa Arab di masjid diiringi karawatian. Orang-orang Tionghoa berkalung salib berdoa di makam berisi dua jasad pengikut Pangeran Diponegoro itu.

Atau di masjid dekat makam, mereka yang datang berdoa bersama perempuan-perempuan yang memakai jilbab atau laki-laki berpeci. Juga anak-anak yang dibawa ibu-bapak mereka. Dan kedua jenazah yang terbaring di sana semasa hidup adalah para ulama, kyai yang menyebarkan ajaran Islam hingga ke luar wilayah Mataram di Yogyakarta.

Continue reading “TOLERANSI DI GUNUNG KAWI”

BAGIKAN
0

TERSESAT DI JEPANG

Tersesat di Tokyo dan tersaruk hingga ke gunung Fuji. Selamat oleh transportasi yang efektif.

TERJADI pekan lalu. Setelah 7 jam penerbangan dengan Garuda dari Jakarta…

Di pintu keluar Bandara Haneda pada pukul 7.45, saya melihat laki-laki ini, di antara para penjemput yang membentangkan kertas bertuliskan nama-nama jemputan mereka. Laki-laki ini, sekitar 25 tahun, membawa kertas bertuliskan “Mr. Hidayat”. Dari nama yang tersemat di dada kiri jasnya, saya tahu namanya Matsuoka. Matsuoka-san. Maka saya menghampirinya dan terjadilah dialog ini dalam bahasa Inggris:

Continue reading “TERSESAT DI JEPANG”

BAGIKAN
0