LAKI-LAKI TUA DAN UUD

 

Umurnya 77. Setahun lebih tua dari umur meninggal kakek saya. Punggungnya sudah bungkuk, gigi serinya tinggal satu. Sehingga kalau ngomong terdengar pelo. Tapi kulitnya bersih. Dan ini yang penting: dia bisa mengurai teori ekonomi sambil tertawa.

Saya ketemu dengan dia di balkon ruang rapat Komisi Keuangan DPR. Dia yang menghampiri, dan kami begitu saja ngobrol. Dia mengaku baru menyerahkan sebuah surat seruan ke DPR. Surat yang meminta “DPR dan pemerintah kembali ke ekonomi Undang-Undang Dasar 1945.” Bagi dia, praktik ekonomi sekarang sudah tak beda dengan paham liberalisme dan kapitalisme. Aduh…

Dan, astaga, ia mengutip John Maynard Keynes. Karena Keynes-lah, kata bapak tua ini, kita jadi sengsara. Sebab teori Keynes soal uang, bunga dan tenaga kerja itu yang telah melahirkan kapitalisme dan liberalisme. Pemerintah ogah campur tangan mengurus hidup rakyatnya, malah menyembah-nyembah mencari utang. Orang dibiarkan berusaha mencari penghidupan sendiri. Sehingga sedikit ada orang kaya dan lebih banyak orang miskin karena mereka tak punya uang.

Karena Keynes pula, harga minyak akan disesuaikan dengan harga di pasar. Subsidi akan dicabut. Dengan kata lain, pemerintah ogah menyediakan kebutuhan rakyatnya dengan harga murah. “Ini menyimpang dari UUD 1945,” ia berseru. UUD, menurut dia, sudah menyuruh pemerintah “memanfaatkan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Menurut bapak tua yang mengaku cuma tamat SMA ini, Indonesia jadi terlihat sebagai negeri yang aneh. Dasar negaranya memanjakan rakyat tapi praktiknya malah ingin menjauhi rakyat.

“Wah, bapak pendukung sosialisme, ya?” kata saya.

“Bukan!” ia menoleh ke arah saya. “Saya katakan, ini ekonomi UUD 1945.” Saya diam.

Ia terus saja ngomong, tak memberi kesempatan saya menimpali. Terus dan terus, hingga rapat selesai. Saya berdiri hendak pamit. Ia merogoh saku celananya dan menyodorkan kartu nama. “Siapa tahu perlu.” Saya mengangguk. Tapi, baiknya, namanya tak usah ditulis di sini. Karena di DPR, orang seperti bapak tua ini banyak sekali, entah datang dari mana.

BAGIKAN
0

PINTU-PINTU CAK NUR

Cak Nur meninggal, dan kita kehilangan orang yang tak henti-henti menyerukan, mengusik dan menghidupkan generator dalam diri kita: bahwa manusia tak layak untuk sombong. Manusia tak punya hak merasa paling benar. Karena “benar” sungguh di luar jangkuan kita. Seseorang cemas, “Adakah orang seperti Cak Nur di zaman anak saya kelak?”


Setiap tokoh lahir karena zaman menginginkannya. Mungkin nanti akan lahir orang lain yang punya kapasitas lain untuk kembali mengusik, menyerukan, menghidupkan generator dalam diri kita yang hidup di zaman itu.

Tapi, rasanya Cak Nur telah melintasi zamannya sendiri. Apa yang ia serukan, apa yang ia dorong terus menerus menyangkut sesuatu yang memang tak akan tumpas dalam waktu yang singkat: kesombongan manusia itu. Setiap kali mendengarkan atau membaca Cak Nur, saya selalu merasa iman saya diakui bahwa apa yang saya tempuh bisa jadi mungkin.

Dan kita makin merasakannya. Ada banyak kelompok orang yang memaksakan keyakinannya sendiri kepada orang lain. Makin banyak orang yang cemas orang lain akan tersesat karena tak mengikuti jalan-Nya. Padahal, kata Cak Nur, Dia bisa “ditemui” lewat banyak pintu.

Orang-orang yang mencemaskan Cak Nur itu menganggap bahwa Dia hanya bisa dimasuki lewat satu pintu saja. Pintu yang lain adalah terlarang. Pintu yang lain sungguh tak dianjurkan dimasuki, bila perlu tutup dan segel.

Maka seseorang pantas cemas. Kita pun was-was, suatu kali dipaksa masuk lewat pintu itu. Kita belum akan punya orang yang bisa menerangkan dengan jernih dan sejuk bahwa jika hanya ada satu pintu, Dia sungguh zat yang terbatas. Mungkin kita menunggunya dalam waktu yang lama.

BAGIKAN
0

VERONICA GUERIN

 

Akhirnya bisa juga saya selesaikan menonton Veronica Guerin. Sebelumnya selalu terputus-putus: entah karena tertidur, atau sebab lain yang bikin kehilangan arah cerita sehingga jadi malas melanjutkannya. Rupanya, akhir film ini memang dramatis. Guerin, kita tahu, meninggal ditembak oleh gangster yang risih peredaran obat biusnya ditulis abis oleh Ronny.

Tapi bukan itu akhir ceritanya. Endingnya adalah ditangkapnya gembong mafia narkotika itu dan dihukum 28 tahun. Semua aset hasil penjualan obat biusnya disita oleh biro khusus yang dibentuk parlemen dan pemerintah Irlandia setelah kematian Ronny. Ribuan orang turun ke jalan setelah berita kematian Ronny tersebar di televisi: wartawan gigih itu menggelepar di jok mobilnya oleh enam peluru.

“Aku tak ingin menulis ini,” kata Ronny, “tapi aku harus menuliskannya.” Sebab 300 ribu anak-anak Irlandia jadi korban narkotika setiap tahun. Sebab setiap hari ada ibu yang menangis karena anaknya tewas di jalan tertusuk jarum suntik. Sebab pemerintah tak peduli.

Maka ia mulai menelusuri jejak peredaran itu dimulai dari anak-anak yang jadi pengedar. Ia punya teman, John Taynor, pengedar kecil yang punya rumah bordil dan jual beli mobil. Tapi, Ronny curiga. Tidak cuma itu saja si Taynor dapat duit. Ia punya BMW seri baru, juga peternakan yang luas. Ronny minta disambungkan kontak dengan “jenderal”-nya. Taynor menolak karena itu berarti nyawanya terancam.

“Dalam bisnis, diam adalah baik. Jangan sekalipun kau bertemu wartawan.” Ini ucapan Johnny Gilighan, “sang jenderal” itu. Lewat penelusurannya, Ronny akhirnya tahu jalan mana yang harus ditempuh untuk bisa sampai ke rumah Gilighan: sebuah kapel maha luas dengan 2 juta ekor kuda di dalamnya. Tapi, bukan pengakuan atau cerita tentang peredaran narkotika yang diterima Ronny, tapi sebuah pukulan yang meremukan tulang hidungnya.

Gilighan sudah gerah, Sunday Independent terus menerus menulis tentang narkotika pada halaman depannya setiap pekan. Sudah 12 bulan Ronny menulis itu setiap Minggu. Sebuah stamina yang luar biasa. Di sini, agaknya, jarang ada koran atau majalah yang tekun menulis sesuatu hingga ketemu biangnya.

Dan Ronny tewas di jok mobilnya, 26 Juni 1996. Justru ketika ia sedang merayakan kemenangannya karena dibebaskan pengadilan akibat ngebut di jalanan. Kematiannya menurunkan kejahatan di Irlandia hingga 15 persen. Orang-orang turun ke jalan menyeret bandar-bandar narkoba ke pengadilan.

BAGIKAN
0

FENOMENA INUL

Fenomena Inul terjadi karena ia memberontak pada tatanan musik dangdut yang menye-menye dan membosankan.

INUL Daratista. Siapa yang tak kenal penyanyi dangdut yang punya “goyang maut” ini? Inul, gadis Pasuruan Jawa Timur itu, kini jadi “bintang” tiba-tiba. Ia tak punya sejarah keartisan yang mencorong sebelumnya. Sejarah ketenaran Inul sama halnya dengan sejarah kepopuleran Las Ketchup yang menyihir dunia dengan goyang Asereje.

Continue reading “FENOMENA INUL”

BAGIKAN
0

MARTY

Kenangan pada Marty, yang meninggal karena sebuah musibah, akibat kelalaian pengurus kota.
Marty, namamu menghias kepala berita Kompas Minggu (26/1). Namamu ditulis lengkap, sampai kelebihan “h” di belakang nama depanmu, “Martuah Manullang (26)…” si wartawan mungkin tergesa, mungkin juga kurang data, ketika menulis namamu di pembuka paragraf beritanya. Marty, mungkin kau sedang melihat di sana, ketika aku pegang koran itu dengan bergetar di gerbong tujuh Pakuan pagi-pagi. Berita itu begitu dekat, masih menyentak, meski aku sudah tahu via sms tentang kabar buruk yang menimpamu sehari sebelumnya.

Continue reading “MARTY”

BAGIKAN
0