PANTURA

gema adzan subuh aku lelap tertidur…
gema adzan zuhur aku sibuk bekerja…
gema adzan ashar aku di perjalanan…
Tuhan…
pantaskah surga untukku?…

Ehm, jika Tuan suka bepergian dengan naik bus, Tuan akan akrab dengan lirik ini. Syair yang jadi lagu wajib para pengamen sepanjang jalur Pantai Utara Jawa. Tuan mungkin tak akan percaya atau memalingkan muka betapa kontrasnya para penyanyi syair ini dengan penampilan mereka. Lagu yang religius itu dinyanyikan oleh anak-anak muda dengan tampang kucel dan daki polusi yang menebal di muka, tangan, jari, telinga dan rongga hidung. Tuan akan bertanya, “Apakah mereka tahu syair apa yang sedang mereka nyanyikan?”

Mengekur religiusitas dengan kelakuan seseorang tak penting, Tuan. Coba dengar bagaimana mereka menyanyi. Mula-mula mereka akan menunjukan wajah beringas jika melihat bus Tuan berjalan pelan karena akan menurunkan atau menaikan penumpang. Mereka tak akan banyak, cuma sendiri, dua atau tiga. Kadang-kadang, memang, sampai lima. Mereka akan melompat melalui pintu depan dan belakang bus dengan menenteng gitar atau ukulele. Setelah menemukan tempat yang pas untuk bernyanyi mereka akan mengucapkan salam. “Kami para seniman jalanan Pantura…” begitulah, setelah basa-basi berterima kasih pada sopir, konektur dan penumpang yang telah memberi waktu untuk mengamen. Basa-basi yang khas Indonesia.

Lalu mereka akan menyanyikan lagu wajib itu secara medley dengan lagu-lagu yang mereka klaim sebagai ciptaannya sendiri. Tuan mungkin akan tersenyum mendengar pengakuan itu. Betapa tidak. Tuan, seperti sudah saya singgung tadi, akan mendengar lagu itu hampir dari seluruh pengamen yang naik bus sepanjang jalur Pantura.

Dua lagu sudah cukup. Satu lagu lagi tentang mereka tak dapat kerja karena PHK. Kadang juga lagu politik yang dinyanyikan mahasiswa jika demo: tentang protes harga-harga yang membumbung atau makin sempitnya lapangan kerja. Basa basi lagi. Mereka berterima kasih dan katanya, “Tuan dan Nyonya tak akan jatuh miskin jika hanya menyisihkan uang 500 atau 1000 perak. Iklas bagi Anda, halal bagi kami…” Salah satu dari mereka menyodorkan tangan. Satu lagu sebagai pengiring “ongkos menyanyi” itu masih diperdengarkan. Jang kaget, Tuan. Si peminta uang itu akan sedikit memaksa. Jika tangan Tuan melambai untuk menolak memberi receh, dia akan menunggu. Bahkan tak segan mereka akan menepuk pundak Tuan jika Tuan tertidur atau pura-pura tidur. Mereka meminta uang dengan memelototkan mata. Maka, sejak dari rumah, siapkanlah uang receh. Beri mereka seratus, dijamin mereka tak akan memelototi Tuan.

Agak menjengkelkan memang. Mungkin juga terasa sebagai teror. Karena Tuan akan tahu, sebelum atau sesudah keluar/masuk tol Cikampek, Tuan masih akan bertemu lagi dengan puluhan pengamen lainnya dengan syair dan polah yang sama. Tuan akan merasa aneh, kenapa para penumpang yang begitu banyak menurut saja dipaksa-paksa mengeluarkan uang memberi para pengemen itu. Mereka cuma berdua, sedang penumpang lebih dari 60 orang jika semua bangku terisi semua. Tuan berpikir, para penumpang itu mungkin takut jika mereka melawan penumpang lain tak akan ikut membantunya seperti cerita di koran tentang perampokan yang korbannya ditusuk hingga ususnya terburai. Tuan ngeri membayangkannya.

Di Indonesia,hari-hari ini, ketakpedulian semakin menebal. Apakah Tuan berpikir: ini ulah kapitalisme yang individual? Terlalu jauh Tuan. Kita mungkin sedang paralisis: tak peduli lingkungan, sekalipun jahatnya lingkungan itu. Padahal, aku yakin, para penumpang bus kelas ekonomi itu rata-rata berasal dari desa-desa di Jawa yang rumahnya pasti ditumbuhi pohon bambu, mangga, kelapa dan beternak ayam dan domba. Mereka yang setiap hari pergi ke sawah, dan meninggalkan pekerjaan itu jika mendengar ada tetangga yang ditinggal sanak-saudaranya atau ada yang mendirikan rumah.

“Asal tak menganggu gue, gue akan hormati lo.” Itu jargon kota, Tuan. Ini ulah Kota (dengan “K”) yang membuat orang desa tak peduli bahkan ogah bertegur sapa sekalipun. Kota telah membuat orang jadi asing di rumahnya sendiri. Kapitalisme mungkin punya andil dalam satu hal. Tapi sebagian kita selalu gandrung akan kota: sebuah lansekap tentang kumpulan kebisuan.

PADA KEMATIAN KAKEK

Saya ditelpon adik yang bungsu: kakek meninggal jam 17.30 tadi. Saya berusaha tenang. Suara adik saya di seberang gemetar ketika menyebut kata ‘meninggal’. Kakek, dia yang telah memberikan saya pelbagai cerita tentang pengalaman hidup. Dia dipanggil sebelum saya bisa meluluskan keinginannya: melihat saya kawin dan melancong ke kota. Seumur hidup dia baru sekali ke Jakarta. Tapi itu pengalaman yang paling ia benci. Dia tak kuat bau bensin dan solar. 12 jam perjalanan Kuningan-Jakarta itu membuat ia sengsara: muntah dan mabuk kendaraan. Maka, ia tak pernah mau diajak untuk menengok anaknya yang kerja di Bogor. Dia perokok yang hebat di usianya yang 75. Tak merokok, katanya, membuat dia ngantuk. Dan ngantuk tak banyak kerja yang bisa diselesaikan.

Maka meski kami, anak dan cucunya, melarang karena khawatir kesehatannya memburuk, ia tak menggubrisnya. Bahkan ia sedikit ngambek jika tak disediakan rokok sehabis bangun tidur. Jika pulang, tak lupa saya belikan rokok kesukaannya: sampoerna mild. Dia sangat suka itu. “Sebelum saya mati, saya kepengen merokok Dji Sam Soe,” katanya suatu ketika. Sebetulnya saya khawatir dan tak rela ia merokok begitu hebat. Tapi, karena kalimatnya itu, saya belikan juga ia Dji Sam Soe. Tapi ia kapok setelah menyedot asap lima kali. “Sangat berat,” katanya. Napasnya langsung tersengal. Maka ia mau merokok Sampoerna Mild saja.

Dia sangat menikmati merokok. Setelah merokok Dji Sam Soe, satu keinginannya yang lain adalah melihat saya kawin. Untuk permintaan yang ini saya tak bisa meluluskannya. Waktu kawin masih lima bulan ke depan. Selamat jalan, kakek. Semoga di sana engkau disediakan Dji Sam Soe atau Sampurna Mild dan sebuah Jeep Willis agar kau bisa jalan-jalan sepuasnya.

PADA KEMATIAN KAKEK (1)

Kematian mengendap-endap. Mungkin ia sudah berdiri di pintu, tapi tak jadi mengetuk. Kulihat ia menyelinap di balik bunga-bunga di teras. Mengendap ke samping rumah. Ia menghindari temaram bohlam yang kupasang di sudut atap.

“Jemputlah, jangan ragu,” dia berbisik dengan erang nafas yang tak bisa diatur lagi. Udara tak lagi terpompa ritmis dari paru-paru yang dirobek hembusan asap tiap detik sepanjang 70 tahun hidupnya. “Jemputlah, aku sudah siap,” suaranya bergema.

Ia mungkin ragu. Aku tak bisa menangkap jelas raut apa gerangan di balik wajah kematian yang tak nampak. “Jemputlah dia. Aku akan meneruskan sisa hidupnya,” aku berbisik. Kuharap ia mendengar, agar kakekku tak menderita dengan keraguannya.

LAKI-LAKI PENUNGGU MALAM

 

Laki-laki penunggu malam, kapan kau berbaring, tidur untuk tubuhmu?

Saya selalu ingin mengatakan kalimat itu tiap kali berpapasan dengan laki-laki penunggu malam, yang duduk di sebuah simpang jalan dengan rutinitas yang absurd. Dia duduk di bangku satu kaki yang camping sandarannya. Membuka kancing baju bagian atas lalu mengayunkan robekan kardus bekas untuk mengundang angin. Adakah angin malam yang membuat kau selalu merindu?

Dia muncul tiap kali malam mulai menjelang, yaitu sekitar pukul 21.00. Tiba-tiba saja. Tak pernah diketahui dari mana ia datang. Dekat pos ronda, yang kosong ditinggalkan para penjudi seceng, dia selalu duduk dengan raut yang tak pernah bisa kutebak. Temaram lampu dari sudut pagar rumah di depannya tak mampu menyiram dan mengabarkan sesuatu di balik wajah laki-laki penunggu malam.

Dia selalu menghadap ke Barat. Punggungnya yang ringkih sedikit saja disandarkan pada sisa sandaran kursi yang camping itu. Sementara dua kakinya, yang terbungkus sepatu karet hitam, dibuka agak lebar untuk menahan tubuhnya agar tak goyah. Tangan kanannya, bergantian dengan tangan kiri, mengayunkan sobekan kardus tak henti-henti.

Dia agak gemuk. Rambut yang mulai rontok tapi masih hitam di usia yang kutebak tak lebih dari 40 tahun itu. Hidungnya bulat. Di keningnya, raut-raut ketuaan tak bisa disembunyikan di balik wajah tanpa ekspresi itu. Pipinya agak tembem, sehingga kerut di kedua sisi hidungnya membentuk lipatan simetris hingga ke ujung bibir. Perutnya juga membuncit.

Saya pernah lihat dia berjalan. Kakinya tampak berat melangkah, sehingga ayunan langkahnya membuat tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan. Lalu duduk lagi, mengayunkan sobekan kardus itu lagi. Mengundang angin Jakarta yang langka digerus polusi dan udara yang menipis. Laki-laki penunggu malam, dia tahu batas malam dan pagi, juga ketepatan gerah udara.

ARUNG*

Aku tak bisa lagi melihat dunia di depanku. Segalanya pekat. Dunia yang terlalu besar. Frekuensi retinaku tak menangkap bayangan apa gerangan yang melintas tiba-tiba. Mungkin Tuhan. Seperti yang dilukiskan guru sekolahku ketika kecil.

Ia mengajarkan bagaimana melihat Tuhan dengan mata terbuka. “Tutupkan telapak tanganmu ke matamu. Kau akan melihat Tuhan di sana,” guru berkata. Tapi aku tak melihat Tuhan. “Tapi kau tak akan tahu Tuhan,” begitulah. Suara itu datang dari masa lalu. Terngiang kembali seperti gema yang datang pelan-pelan. “Tapi kau tak akan tahu Tuhan.”

Tapi itu cinta, guruku. Suara yang selalu datang kembali, bukankah, itu cinta? Kau menuliskan itu dalam buku harianku yang kupelihara baik-baik. Dan baiklah. Dengan salut yang tak pernah habis, aku mengenang bahwa Tuhan mungkin cinta yang selalu datang tiba-tiba. Seperti Drestrasta yang kehilangan biji matanya oleh sebuah takdir yang ia ciptakan sendiri. Tapi maaf, aku sedang keluar sebentar, Tuhan.

Kau mengajarkan, guruku, peliharalah cinta yang datang tiba-tiba. “Tapi aku selalu mendapatkan cinta yang datang tiba-tiba. Tuhankah itu?” Kadang juga salah waktu. Ia tak datang memberi kabar. Ia pulang tanpa pamitan. Memercikan rona-rona keemasan dalam pikiran yang selamanya tak pernah ajeg. Aku menikmatinya sebagai sebuah percintaan yang, aku pikir, tak akan habis-habis.

Kadang juga ia memaksa aku merindu pada setiap subuh, pada setiap gerimis yang turun dengan ritmis. Seperti kematian seorang penyair pada suatu siang. Tahukah kau apa yang terjadi ketika penyair itu meninggal? Tak ada angin. Suara hilang. Kata-kata seperti jeda antara bunyi lonceng gereja, antara paragraf-paragraf yang tak pernah terisi oleh suatu makna sekalipun. Bukankah makna seperti ular yang melingkar dalam setiap huruf? Ketika penyair itu meninggal, puisi bukan lagi sajak yang berjarak. Dan aku mengangeni setiap percintaan yang lengang.

Kini, aku terus mengangeni moment seperti itu. Tapi, seperti Godot, ia tak datang ketika ditunggu. Dan ketika datangpun, aku tahu, itu bukan Godot yang sebenarnya. Karena Godot tak pernah datang, bukan? Beckett yang cerdas sekalipun akan membanting petnya jika tahu Godot itu datang. Aku kangen percintaan yang lengang. Tapi, kapankah ada lagi penyair yang meninggal pada suatu siang?

Percintaan yang sanggup mengabaikan sebuah bentuk. Tidak seperti Machiavelli yang menggilainya. Orgasme yang bertubi-tubi bukan lagi statistik kepuasan birahi yang aku rasakan ketika menjelangnya. Renjana yang tumpah bukan lagi seloka untuk melukiskan betapa aku kelelahan menghantamkan batang zakarku ke dalam labirin vagina yang abadi. Karena orgasmeku adalah metamorfosis setiap tubuh dalam diriku. Aku selalu berubah tiap kali keinginan itu membuncah.

Kau tak bisa merasakan, guru, betapa aku tersiksa sekaligus menikmatinya ketika aku ingin Tuhan. Pelajaranmu berharga, memang, tapi tak sanggup menjawab setiap percintaan yang aku inginkan. Aku sedih mengatakan ini. Kuharap kau tak lupa bahwa sedih adalah tali persembahan baktiku. Aku menghormatimu lebih dari cinta yang dimiliki Rahwana atas tubuh Shinta. Tak ada seorangpun yang sanggup mengulur kain kemben yang melilit tubuh itu. Tak seorang pun.

Kau mungkin salah. Tapi salah juga berharga pada benar yang diyakini manusia. Ketika Pandawa, yang kalah berdadu, mempersembahkan setiap tubuh yang berarti bagi hidup Kurawa, penyamaran adalah sebuah kebenaran yang tak bertampik. Apa jadinya jika Drupadi mengaku bahwa ia istri seorang Arjuna? Rahwana, aku yakin, tak akan semerah itu warna muka aslinya. Dan dunia, yang tak bisa kulihat ini, mungkin tak berwarna seperti kita saksikan kini.

Aku kini bisa menampik setiap dirimu. Bahwa Tuhan yang aku inginkan adalah Tuhan yang bisa menari. Bukan Tuhan yang hanya diam ketika gamelan mengalun dan ronggeng mulai membuka kebayanya. “Aku menampik Tuhanmu.” Tuhanku bukan lagi bayangan yang melintas tiba-tiba, ketika aku tak lagi bisa melihat dunia yang tak berjarak.

Sekali waktu aku pernah merasakan ia datang melalui jendela yang terbuka. Sebuah bayangan yang tak berdefinisi. Menyapaku dengan sambutan dewa-dewa ketika diturunkan ke bumi. Aku terkesiap. Aku hampir saja menyakini bahwa ia telah datang pada saat yang tak terlalu tepat. Bayangkan, tak ada gairah yang muncul tiba-tiba. Tak ada gelora sperma yang melonjak-lonjak. Aku hanya ternganga. Dan berpikir bahwa ini bukan Tuhan yang sebenarnya. Aku benar, ternyata, dia tak datang lagi ketika aku tunggu. Dia tidak seperti gema.

Padahal aku telah menyiapkan sebuah ruang untuk bercinta sepuasnya. Dia tak datang. Sayang. Aku hendak menguji seberapa jauh setiaku menerima gema yang merambat pelan-pelan melalui jendela. Menyelusup lewat pori-pori kusen jendelaku, lewat sel-sel kayu yang bersilangan memanjang. Lantas merayap melalui pori dan urat nadiku. Menegangkan setiap syaraf dalam seluruh pembuluh darahku. Hingga aku orgasme yang tak terkatakan. Tapi, sayang, dia tak datang.

Aku kembali berharap, suatu ketika datang sebuah gema yang mengabarkan dia akan datang. Tapi tak. Dia datang selalu di luar rencana setiap pengharap yang setia. Aku kembali menghadapi dunia yang punya emisifitas lebih sari satu. Fisika tak bisa menjangkau warna yang melebihi setiap angka ketetapan, di luar rumus-rumus yang tak berhingga. Guru, aku mengarung mencari Dia.

*) dari cuplikan kisah yang lebih luas