PAK TEDJO SOEMARTO

Saudara-saudara,
kita berjumpa lagi dalam acara Forum Negara Pancasila,
bersama saya, Tedjo Soemarto Sarjana Hukum

Setiap Minggu pagi, yaitu pukul 06.00, suara Pak Tedjo yang khas (cengkok Jawa yang kental) menyapa semua orang di seluruh Indonesia.

Bagi anak-anak muda yang kini berumur di atas 20 tahun mungkin akrab dengan acara yang direlay dari RRI dan disiarkan seluruh radio swasta yang ada di Indonesia itu. Pak Tedjo telah menjadi guru penataran P4 yang sukses dan paling banyak didengar orang. Siapapun yang menyetel radio pada jam itu, pasti akan mendengar penjelasan Pak Tedjo tentang 36 butir-butir kesaktian Pancasila, menyeluruh, tak terbantah, tunggal.

Memang, ada banyak surat yang mengalir ke redaksi, tapi itu hanya bertanya bagaimana menerapkan butir sekian sila ke berapa dari Pancasila. Orang-orang tersihir dengan pembawaan Pak Tedjo yang khas. Sebagian besar orang ingin menerapkan butir-butir Pancasila yang sakti itu dalam kehidupan sehari-hari. Saya pun, sejak SD hingga SMP, hapal seluruh butir itu karena takut tak lulus jadi anggota pramuka.

Meski ada juga surat yang nyeleneh; seperti surat seorang bapak dari Solo. Saya masih ingat surat si bapak itu hingga kini, karena beda dari surat lain, juga lucu. Ia bertanya, “Benarkah orang yang saya temui di pasar Klewer dan mengaku bernama Tedjo Sumarto itu adalah bapak?” Rupanya ia telah lama mengagumi Pak Tedjo. Karena, lanjut suratnya, jika benar itu Pak Tedjo yang suaranya ia dengar tiap Minggu pagi, “Saya tak perlu jauh-jauh ke Jakarta untuk bertemu bapak.”

Sayang, Pak Tedjo, seingat saya, tak menjawab dengan simpatik. Kira-kira ia menjawab seperti ini: “Oh, maaf, orang itu bukan saya, karena dalam beberapa waktu terakhir ini, saya tidak pernah ke Pasar Klewer dan berkenalan dengan seseorang.” Saya ikut kecewa, meski saya bukan pengagum Pak Tedjo. Saya berharap Pak Tedjo membenarkan orang itu dirinya, dan bilang senang telah berkenalan dengan bapak dari Solo itu.

Saya kadang tak suka bapak keras-keras menyetel suara Pak Tedjo. Acara Pak Tedjo telah memotong cerita anak-anak yang dibawakan seorang penyiar di radio swasta di kabupaten. Saya paling suka mendengarkan cerita itu. Dalam keadaan kantuk yang menggelayut, saya setel acara itu di kasur. Sambil merem melek, saya menyimak cerita tentang anak yang mogok sekolah dengan alasan sakit. Si Ibu, karena khwatir, lalu memanggilkan mantri kesehatan. Pak Mantri yang berkacamata gagang tebal itu mengeluarkan jarum suntik dari tas kotaknya yang besar. Belum lagi Pak Mantri memasukkan cairan obat ke jarum, si anak tiba-tiba bangun dan lari ke kamar mandi. Sejak itu, ia tak lagi mogok sekolah.

Saya suka cerita-cerita itu karena lucu. Tapi Pak Tedjo suka tiba-tiba memotongnya. Bapak mengambil radio di dekat kepala saya lalu menaruhnya di atas lemari di ruang tamu. Suaranya menyebar ke sudut-sudut ruangan. Sambil membaca majalah langganannya, bapak meminta saya mendengarkan radio itu karena, “Itu berguna bagi pelajaran PMP-mu.”

Pak Tedjo memang memikat. Ia mengajarkan betapa benarnya, dan cocoknya, Pancasila untuk orang Indonesia. Pak Tedjo mewakili prototipe kekuasaan Orde Baru yang ingin membuat lupa orang pada ide komunis yang diusung PKI. Pada 1990-an itu, apa yang disebut pembangunan masih gencar dikampanyekan lewat kelompencapir, dari desa ke desa, dll.

Kini, ketika televisi swasta berlomba memikat pemirsa, dan radio swasta tak juga dilupakan orang, saya tak lagi mendengar suara Pak Tedjo. Saya cari di internet, Pak Tedjo memberikan sebuah wawancara tentang sumpah setia kepada Pancasila di situs Aliansi. Pak Tedjo seolah raib seiring tumbangnya Orde Baru.

Saya kangen Pak Tadjo terutama karena suaranya yang khas, menyapa semua orang pagi-pagi usai siaran berita, dan kesan bangga ketika menyebutkan gelar di belakang namanya. Pak Tedjo dengan ceramah-ceramahnya tentang Pancasila, harus saya akui, membuat pikiran saya agak kacau ketika disuruh memutuskan masuk fakultas hukum, sastra, atau teknik saat akan kuliah; meski bukan itu semua yang akhirnya saya pilih selepas SMA…

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SEKS

 

Pengetahuan saya tentang seks diawali ketika mulai bisa membaca. Suatu waktu, pada hari libur sekolah, saya senang mengobrak-abrik lemari buku. Saya suka buku-buku terutama dan pertama karena jenis-jenis tulisannya. Saya kagum bagaimana huruf bisa berbeda-beda padahal mereka tetap menghasilkan irama baca yang sama.

Saya belum tahu jenis huruf waktu itu. Bukankah kata “anjing” yang ditulis dengan huruf mesin tik akan sama dengan “anjing” yang ditulis dengan huruf arial, atau times new roman? Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan.

Di antara tumpukan buku-buku itu, saya menemukan majalah Femina. Mungkin umi yang membelinya, mungkin juga bapak karena tahu di sana ada resep masakan, tentu saja untuk diperlihatkan ke umi. Gambar-gambar mode pakaian tahun 1980-an tak menyita perhatian saya. Di bagian tengah terselip sebuah novelet. Saya antusias, karena saya tahu itu sebuah cerita yang utuh.

Menemukan cerita-cerita, bagi saya, adalah cara untuk menemukan dunia lain selain dongeng tentang monyet yang konyol, atau kancil yang cerdas, buaya yang totol, yang selalu punya variasi kisah setiap kali bapak memperdengarkannya sebelum tidur. Cerita bapak selalu memukau. Saya pernah tanya, dari mana bapak tahu semua cerita itu? “Dari membaca”. Maka, waktu itu, saya ingin cepat-cepat bisa membaca, agar tak lagi menunggu malam jika ingin tahu nasib monyet setelah diboongin si kancil.

Saya mulai membaca novelet yang tak berhasil diingat penulisnya itu. Saya suka ceritanya karena ia berkisah tentang dapur, rumah, dan ruang tamu. Tokoh sentralnya Mas Dion, yang jadi judul novelet ini. Ia baru saja nikah. Maka di rumah yang kecil itu hidup sepasang manusia yang sedang bulan madu. Saya tidak ingat bagaimana akhir kisah yang tak begitu ceria itu. Yang saya ingat adalah adegan istri Mas Dion ketika sedang masak suatu siang.

Si istri tidak kerja. Ia hanya menunggu Mas Dion di rumah. Ia suka masak, dan menyiapkannya setiap pagi, siang, dan menjelang malam. Saat masak itulah Mas Dion datang. Si istri menyambutnya. Mas Dion senang punya istri yang bisa masak. Ia pun ikut nimbrung menyiapkan bumbu, dll. Saat menggoreng bawang, Mas Dion melihat tengkuk si istri terbuka karena rambutnya digulung ke atas. Mas Dion memeluk dan mencium tengkuk si istri itu dari belakang.

Si penulis tak menceritakan apa yang terjadi setelah itu. Yang saya ingat adalah bawang yang digoreng si istri hangus. Berbulan kemudian, istri Mas Dion hamil. Saya pun tak ingat apakah saya menyelesaikan novelet itu atau tidak. Cerita tentang goreng bawang terlalu membekas di kepala saya hingga hari ini. Saya tak berani bertanya ke umi, apa hubungan antara goreng bawang yang hangus dengan kehamilan. Saya menyimpannya hingga hari ini. Itu jadi rahasia yang paling diingat dan paling mengesankan.

Diingat karena saya begitu ketakutan setelah itu, hingga saya lupa membereskan buku, dan mendapat marah umi setelah pulang main. Mengesankan karena saya jadi menduga-duga sendiri bahwa bawang goreng bisa bikin hamil. Kini saya tahu, bukan bawang goreng yang hangus itu yang membikin si istri Mas Dion hamil. Ciuman dan pelukan itulah yang mula-mula menyebabkan seorang manusia akan lahir, juga–yang terutama–adegan yang disensor sendiri oleh penulisnya setelah Mas Dion mencium tengkuk si istri. Saya tidak tahu, bagaimana pengetahuan seks saya seandainya si penulis tak menyensor sendiri tulisannya.

Karena setelah itu, ketika menginjak SMP, saya pun ikut-ikutan membaca Enny Arrow yang disusupkan seorang teman ke kelas dan dibaca ramai-ramai dengan malu-malu. Lalu saya kenal cerita silat Wiro Sableng, yang kadang-kadang juga terselip adegan seks yang lucu. Lalu saya membaca carita pondok (cerita pendek) tentang seorang ronggeng yang bercinta dengan pemilik rombongan setiap selesai manggung dalam majalah bahasa Sunda langganan bapak. Pengetahuan seks saya pun terus meningkat, tanpa terelakan, hingga pelajaran Biologi tentang reproduksi yang selalu disambut meriah. Tapi, saya tidak tahu bagaimana pengetahuan seks adik-adik saya karena, sepengetahuan saya, mereka tak suka membaca buku dan majalah di rumah.

Kini saya ngeri melihat bagaimana anak-anak menyerap pengetahuan tentang seks. Ada yang memperkosa setelah melihat film biru. Ada yang mencabuli adiknya sendiri sewaktu tidur. Bahkan, redaksi curhat Kompas menerima sebuah surat dari seorang anak SMU kelas satu yang mengidap raja singa karena sejak SMP hidup serumah dengan seorang istri simpanan. Dia bingung, juga malu, ketika akan memeriksakan diri ke dokter, sampai harus menulis surat itu agar dapat tambahan kepercayaan diri saat akan melangkah ke klinik.

Setiap orang tua selalu gamang bagaimana cara mengenalkan seks pada anak-anak. Mereka kadang lupa, setiap anak selalu punya bayangan sendiri tentang dunia sekelilingnya, yang didengar, yang dilihat, dan dirasakan. Maka buku-buku tentang cara mengenalkan seks pada anak laku keras. Para orang tua menyimak dan mempraktekannya, tapi selalu saja ada kabar anak yang memperkosa anak yang lain. Pengetahuan seks, yang buruk ataupun yang baik, akan jadi rahasia dalam benak setiap anak: bagaimana mereka menerimanya, dan bagaimana lingkungan membuat kondisi tentang pengetahuan itu.

Setiap anak selalu punya rahasia masa kecil. Kini apa rahasiamu sewaktu kecil?

KORBAN ATAU QURBAN

I

Mimpi apa yang mampir ke suatu bilik pada suatu malam yang basah, ketika rasa mual itu datang? Mungkin bimbang, mungkin juga sesal. Si calon ibu itu berteriak, meregang dalam kesakitan. Dari tubuhnya keluar tubuh lain, bayi mungil yang mendekam di dalam rahimnya selama sembilan bulan. Ia berkelojot, bersimbah darah, tapi kepada siapa ia minta tolong? Itu bayi haram, bayi pembawa aib, manusia yang tak diinginkan.

Maka dengan susah payah, bayi merah yang belum putus juga ari-arinya itu, ia masukan ke dalam plastik hitam. Dengan mengendap-endap si ibu berjalan ke tepi sungai dan membuang bungkusan itu seperti ketika ia membuang hajatnya di pagi hari. Kelak, seorang pedagang menemukannya di Kali Angke, di antara rongsokan sampah yang bau.

Orang-orang ribut. “Siapa ibu yang bejat ini,” kutuk seorang warga. “Tak berperikemanusiaan!” kutuk yang lain. “Paling-paling hasil hubungan gelap,” polisi menarik kesimpulan. Seolah-olah, bayi yang dibuang hingga jadi mayat kini sudah jadi rumus umum: pasti hasil hubungan di luar nikah. Ceritanya berkisar di ruang itu-itu saja. Dua orang pacaran, bercinta penuh gelora, yang perempuan hamil, takut jadi aib tapi belum berani menggugurkan, melahirkan, dan membuang bayinya. Kisah yang klise. Tapi yang mencengangkan, realitas itu hadir di depan saya; bayi yang sudah kaku itu meringkuk dalam kardus bekas mi untuk dibawa ke rumah sakit.

Bayi yang sudah membengkak-biru pucat itu dikuburkan tanpa nama. Tanpa sejarah yang mencatatnya. Ia kembali tanpa tahu ia dilahirkan. Manusia memang punya sisi bejat yang tak terjangkau oleh daya pikirnya sendiri. Kita hanya bisa terpukau oleh sisi bejat yang muncul mengalahkan akal sehat itu. “Kok, bisa ya?”

Lalu suara riuh itu pun sirna. Polisi dan orang-orang hanya menduga si ibu yang tega mengeksekusi anaknya sendiri, meski, mungkin, mereka ada di sekitar kita. Setiap hari bercengkrama dengan kita, berpapasan dan melempar senyum tanpa rasa bersalah. Rasa bersalah tak akan muncul selama itu tak diketahui orang lain. Koran-koran memuatnya dan menambah daftar kasus penemuan mayat bayi. Lalu sunyi.

II

Mimpi apa yang datang pada suatu malam, dan dua malam berikutnya, pada suatu bilik yang tersenyum? Ibrahim, sang bapak itu, tercenung. Inikah perintah Tuhan? Maka dengan keyakinan penuh ia memanggil Ismail, anak semata wayangnya yang belum juga genap berusia 14. Ia ceritakan mimpi yang paling mengguncang seumur hidupnya yang sampai 100 itu. “Aku diperintahkan untuk menyembelihmu,” kata Ibrahim, bergetar. “Lakukan, Ayah. Kita akan tergolong orang yang sabar,” sebaliknya, Ismail mantap menjawab.

Kedua bapak-anak ini berjalan beriringan menuju Bukit Sofa. Iblis datang menggoda Ibrahim untuk membatalkan niat itu. Tapi iblis gagal, dan lintang pukang menghindari jumrah yang dilempar bapak dan anak ini. Sebetulnya iblis hampir sukses menggoda Ibrahim lewat Siti Hajar yang meraung melihat suaminya menuntun Ismail ke bukit itu. Kini, Ibrahim sudah siap dengan pedang yang berkilat ditimpa cahaya pagi. Di atas sebuah lempengan batu padas, leher Ismail telah siap menjelang maut.

Adegan ini terus mempesona. Kisahnya mengharukan tentang kehanifan seorang hamba, tentang totalitas berkeyakinan. Tentang kerelaan berserah diri. Tentang keiklasan menjalankan perintah. Di sana, apa yang terjadi dengan gejolak pikiran Ibrahim? Tuhan lalu mengganti Ismail dengan seekor domba. Apa yang termaktub dalam surat Ash-Syafa’at ayat 103-107 itu meninggalkan sebuah tanda: syukur yang jadi momen hidup terus menerus.

Syukur itu pula yang datang tiap kali jutaan orang dari pelbagai pelosok datang berduyun ke negeri yang kering, ke kiblat jutaan umat. Mereka menanggalkan apa yang berbau dunia, bertemu dengan pelbagai orang dengan pelbagai tanda. Konon, kata Pak Haji yang baru pulang dari Makkah, berhaji seperti bertandang ke sebuah mini akhirat di dunia.

Dua kisah itu terbentang dalam jarak waktu yang berjauhan. Kisah kedua datang dari kitab suci, ribuan tahun yang lalu. Kisah pertama datang dari abad 21. Dua-duanya menceritakan tentang korban, tentang anak, tentang harapan hidup. Jarak kisah dua jaman ini terlampau jauh. Tapi manusia masih menyimpan pesona. Yang satu menyentuh, bercerita tentang keyakinan dan kesabaran. Yang satu tentang harga diri, menjengkelkan dan menjijikkan.

PAGI ATAU SENJA

 

 

Pagi atau senja, manakah yang lebih baik? Konon, di Eropa pada abad pertengahan, ketika kota-kota mulai tumbuh, para pekerja merindukan senja. Itulah momen untuk kembali ke keluarga, berkumpul dengan anak-anak, setelah seharian berkutat dengan peluh. Di sebuah wilayah dengan lingkungan industri, senja adalah waktu pulang. Tapi tidak di Jakarta.

Orang-orang menghindari senja. Mereka lebih senang menunggu malam. Meski jam pulang tetap pukul 16 atau 17, para pekerja datang ke rumah ketika hari mendekati larut. Tak ada waktu berkumpul dengan anak-anak. Bukankah setiap anak wajib tidur ketika jam berdentang sembilan kali?

Maka pintu masuk Senayan selalu macet. Di sebuah wilayah yang kesohor di Selatan Jakarta ini, kehidupan justru baru dimulai ketika senja. Ada yang senam, atau joging, sekedar nogkrong, bahkan membuat janji bertemu dengan seseorang. “Saya justru membuat janji bisnis di sini,” kata seorang pebisnis.

Setiap kali ada koleganya yang mengajak bertemu, ia selalu menunjuk Senayan sebagai tempat yang nyaman untuk mendiskusikan bisnis. Tapi, pada awalnya, mungkin juga akhirnya, semua orang yang tumplek itu punya tujuan yang sama: menunggu jalan Jakarta sedikit lengang.

Tapi ada juga yang buru-buru. Memacu kendaraan di atas jalanan Jakarta yang licin dan macet. Atau berdesakan di Metromini yang apek, sembari waswas pencopet mengincar dompet. Mereka mungkin sudah atau kadung berjanji untuk membantu mengerjakan PR si buyung untuk diperiksa esok oleh guru kelas. Para pekerja yang buru-buru ini khawatir si upik menekuk muka karena tak bisa kagum pada bapak yang mampu menjawab semua soal. Hanya saja, pekerja yang buru-buru ini tahu risiko bahwa adrenalinnya akan naik sepanjang jalan menuju rumah, tapi mereka memilih menahannya.

Tapi pagi juga bukan pilihan. Tepat ketika matahari mencapai satu titik, yaitu pukul 7, adegan di setiap perempatan di senja itu kembali berulang. Orang, dengan kantuk yang masih menggelayut di pelupuk, berpacu dengan jam kerja yang tak kenal ampun. Waktu adalah uang, kata sebuah pepatah yang sudah uzur tapi masih dipercaya orang ini. Maka ketika orang berpikir bahwa uang akan hilang, setiap mereka akan melakukan apa pun agar waktu tak terbuang.

Sopir dan kernet tak mau membuang waktunya karena uang dari setiap penumpang akan tersalip dan jadi rezeki kernet dan sopir lain. Mereka akan memacu angkutan dengan ngebut, tanpa menghiraukan dirinya sendiri ditunggu istri dan anaknya di rumah. Atau berdiam diri di tengah lalu lintas yang padat. Para pekerja saling salip agar tak telat mengisi kertas absen.

Kemacetan dan rudinnya lalu lintas selalu saja meninggalkan satu soal: pertumbuhan ekonomi tak dibarengi pertumbuhan birokrasi. Kota dengan lambangnya kelas menengah selalu akan menciptakan gengsi. Kelas menengah adalah mobil, apa pun mereknya. Dan mobil akan meluncur mengisi setiap meter jalan Jakarta, hingga mereka tertahan di setiap perempatan. Birokrasi tak cepat merespons pertumbuhan dan gengsi kelas menengah itu. Lebih parah lagi, birokrasi kita nomor satu di Asia sebagai sarang “perampok”.