EKALAYA

Wayang selalu punya contoh bagus untuk setiap gerik hidup. Ada contoh kesembronoan ketika Pandawa menggadaikan kerajaan bahkan menyerahkan Drupadi, istri Yudhistira, ketika kalah dadu dari Kurawa. Ada tamsil kesabaran yang ditunjukan Destrarasta yang buta. Ada intrik, ada kecongkakan, dan perjuangan yang mengharukan dalam kisah heroik Mahabharata maupun cerita cinta Ramayana.

Ketekunan belajar dicontohkan Bambang Ekalaya. Saya kerap mendengar ceritanya dari mulut bapak saat akan berangkat tidur sewaktu kecil. Kisah Ekalaya adalah kisah ketangguhan mengejar cita-cita sekaligus keculasan yang ditunjukan Pandita Durna.

Ekalaya berangkat mencari Durna di Sokalima, sebuah lembah cantik di kawasan utara Hastinapura, sebagai pemuda sudra yang haus ilmu. Ekalaya bercita-cita pandai memanah dan ilmu keprajuritan. Bapaknya, seorang pangrehpraja di sebuah kota kecil menyiapkan Ekalaya sebagai kesatria digdaya.

Saat umurnya menginjak remaja, si bapak mengutarakan keinginannya untuk melepas Ekalaya berguru di padepokan Durna. Maka, pada suatu pagi yang cerah, Ekalaya dilepas dengan tangis dan harapan keluarga, ditemani seorang cantrik pengawal pribadi dengan satu pesan ayah: “Jangan pulang sebelum dapat ilmu”.

Tak mudah mencari Sokalima bagi pemuda udik macam Ekalaya, kendati kemasyhuran Durna hinggap ke pelosok-pelosok negeri sebagai pandita luhung.

Menempuh jalur yang berliku, Ekalaya sampai di lembah teduh itu disambut Aswatama, anak laki-laki Durna dengan nada sinis. Keduanya terlibat pertarungan sengit karena kecongkakan Aswatama yang tak mau melihat orang asing di wilayah Ayahnya. Wiracarita mengisahkan, Aswatawama terjerembab hanya oleh satu tendangan Ekalaya tepat di dadanya. Ekalaya akhirnya di hadapkan pada Durna, yang bengkok tangan kirinya, yang meruncing jenggot putihnya dengan kepala selalu mendongak.

Ekalaya menyampaikan maksudnya. Ia tak menyangka jawaban apa gerangan yang akan diterimanya yang akan keluar dari mulut seorang pandita yang diidam-idamkan dan dibayangkan sebagai pandita luhung itu. “Kau sudra, tak layak berguru di sini,” jawaban Durna meruntuhkan harapan Ekalaya.

Ia keluar padepokan dengan tertunduk dan tak habis pikir. Durna yang diagung-agungkan ayahnya ternyata hanya seorang manusia berpandangan picik, seorang pandita yang silau oleh permata. Tapi, pesan ayahnya sebelum pergi kembali mengiang. Pemuda itu bimbang dan terpekur di tengah hutan. Ia marah, tapi ia juga tak punya kuasa. Haruskah menyalahkan nasib yang tak memberi peluang untuk sebuah cita-cita?

Di tengah hutan itu, Ekalaya akhirnya membuat gubuk. Ia memutuskan belajar memanah sendiri. Ia ciptakan patung yang mirip Durna yang ditancapkan di halaman gubuknya. Seolah-olah patung itu selalu mengawasinya saat ia memegang gondewa mengarahkan anak panah, terasa menghardiknya jika ia bermalas-malas, terasa menagih jika ada waktu terlewat tak diisi pelajaran.

Berhari, minggu, bulan dan tahun, Ekalaya belajar dan berlatih. Ia kini tahu dengan kecepatan dan sudut berapa anak panah harus dilepas dari busur untuk membidik benda terbang, berlari atau diam. Konon, kecepatan dan kelihaian memanahnya hampir menyamai ilmu Arjuna, yang tak lain murid utama Pandita Durna.

Kisah itu berakhir sedih. Ekalaya kemudian dibunuh Kresna yang menyamar sebagai Durna. Generasi Ekalaya mematrikan dendam pada Durna dan justru mengagungkan raja Amarta itu. Ekalaya juga terlibat pertarungan alot dengan Arjuna yang mencoba melirik istrinya, Dewi Anggraeni, dan menggodanya. Di luar itu Arjuna tak ingin tersaingi. “Tak boleh ada matahari kembar di jagat raya ini,” Arjuna bersumpah.

Saya tak tahu kisah selanjutnya, karena konon roh Ekalaya menitis pada jasad seorang pemuda lainnya. Saat cerita belum usai, biasanya, saya sudah tidur.

  •  
    37
    Shares
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SOAL DAHAR

Aya panyakit sim kuring anu can bisa dileungitkeun sampe ayeuna, nyaeta sok tara beak dahar. Pasti aya wae anu disesakeun na piring, naha sasiki sangu, sakeureut wortel, atawa sacucuk lauk asin. Pokona si piring teh tara lenang. Satadina mah sok niat yen sesa dahar teh jatahna di ucing anu sok depa nungguan handapeun meja bari ngabubay-geboy buntutna.

Tapi niat eta jadi bahan pikaijideun pun istri, aeh, calon istri maksad teh. Lamun kuring dahar, top teh aya sangu sasiki dina piring, langsung weh jamedud teu leugit saminggu. Kalikeun weh: sim kuring dahar teh lima kali sapoe, kalikeun tujuh, kalikeun deui sabulan, sabaraha lila calon istri teh jamedud?

Jiga kamari. Kuring nganjang ka imahna. Geus tilu bulan can ulin. Jiga biasana, ngendong teh di imah bibina. Ah, si bibi mah apal naon kasenengan urang teh. Euleuh, aya lauk asin jeung sambel. Ah, teu kusi ditawaran kadua kali, langsung weh der nyiduk sangu, plok sambel, gep lalab, gorehel lauk asin. Si ucing oge sampe gumetap nempo sim kuring dahar mani ngahimel kitu. Teu cukup sapiring, wel deui sapiring, lauk asin teh loba keneh. Sampe si mamang eureun, kuring mah masih top deui kana lauk. Eh, can cukup oge, wel deui sangu sapiring. Wah, asa di surga lah, pokokna. Eureuleeeeeee….alhamdulillah. Nuhun, Gusti, sim kuring masih keneh dipasihan nikmat dahar. Moal lah, ngahihilapkeun, bade nyukuran nikmat Anjeun unggal waktu.

Tapi, basa calon istri rek ngabereskeun piring, puncereng teh matana mani ngadilak ka sim kuring anu geus heurin usik kamerkaan bari sosolendean nempo polah si Deol bingung rek ngalamar si Sarah di tipi. “Kebiasaan!” ceunah tipupuncereng. (Punten, calon istri teh teu tiasa Sunda). Kuring rada ngarenjag, tapi tetep diuk da bareurat rek hudang teh. “Abisin dooooooong,” soarana mani ngentab ka unggal juru.

Padahal mah, pas ditilik-tilik nu nyesa teh sirah lauk jeung cucuk wungkul. Aya lah sasiki dua siki sangu nempel dina piring. Jamak atuh, Neng, sakitu mah, wareg yeuh. Tapi lain alesan nu pas eta teh. “Kamu ini….” sok lah teraskeun. Apal lah pasti nu diomongkeun teh kuring, ceunah, abong can pernah hirup sasangsara, dahar tara dibeakeun, teu inget hesena neang rejeki keu dahar, jeung sajabana-jeung sajabana.

Aya ti dituna meureun. Tileuleutik sim kuring, ceuk Umi, teu beuki sayur. Rek sarapan oge kudu direrejeng heula. Umi muncereng bari ngancam moal mere jang jajan. Lamun geus kitu, Umi pasti manggil Nini. Anehna, ku Nini mah sieun sim kuring teh. Najan sasendok kuring dahar sayur oge. Tapi, beurangna sampe sore mogok dahar, komo lamun sayurna eta deui eta deui. (Duh, punten Umi, karasa ayeuna teu resep sayur ti leuleutik teh. Awak teh teu gendut-gendut). Enya, hese neang rejeki jang dahar sorangan oge. Karasa lah, kolot maha tara salah.

Neng, engke lamun urang dibere rejeki anak, moal dipintonkeun tah panyakit teh. Pang didikeun supaya ngahargaan tisuksuk ti dungdungna kolot neang rejeki jang maraban kulawarga. Kajeun, Akang mah narima lamun dipuncerengan unggal dahar. Sugan weh, panyakit teh leungit lamun terus-terusan dipolototan unggal rengse dahar. Mun buka rahasia mah, eta oge kunaon Akang milih si Neng janten calon istri teh. Tapi tong jamedud, ah, ngewa…

DI ATAS KERETA REL LISTRIK

Semua bisa terjadi di atas gerbong kereta rel listrik. Konon di sana rakyat hadir seutuh dan sebenar-benarnya. Ada bau pesing keringat, ada penjambret, penodong, penipu, orang kantoran, orang setengah kantoran, orang berbaju rapi, orang berbaju kucel, dll.

Segala jenis kegiatan rakyat juga ada di atas gerbong kereta Bogor-Jakarta. Suatu sore, saat pulang kerja dan naik dari stasiun Pasar Minggu, saya dipalak seorang pemuda. Kereta lagi penuh-penuhnya. Orang berjubel, menahan napas, dan kaki pegal. Karena terus tergeser oleh penumpang yang naik dan turun, saya terdampar di dekat pintu sambungan gerbong. Saya bersandar sambil mendekap tas, yang isinya cuma sweater, tape perekam, dan beberapa catatan nomor telepon.

Di sebelah, dua anak muda duduk bersila di lantai gerbong sambil ngobrol. Tapi, yang seseorang lagi tampaknya malas meladeni omongan si teman yang satunya, yang setelah dicuri dengar, tak jelas apa tema pokok omongannya. Hingga ke Depok Baru, belum juga ada penumpang duduk yang turun. Saya masih berdiri. Saat kereta mendekat ke stasiun Depok Lama, anak muda yang ogah-ogahan ngobrol berdiri. Dia pamit akan turun dan berjalan menyelendap mendekat ke pintu. Si anak muda satunya juga berdiri dan melambai. “Oke, jek,” katanya.

Dia bertubuh kurus. Pakai kemeja lengan pendek bergaris. Rambutnya ikal agak gondrong. Pipinya agak cekung dengan jerawat kecil dan besar di sana-sini. Celana jins-nya agak melorot. Dia hanya pakai sendal jepit. Celingak-celinguk sebentar, lalu mendoyongkan wajah ke seseorang bapak yang duduk di sebelahnya. Rupanya dia menanyakan jam. Si bapak memalingkan muka usai menunjukkan jam tangannya. Dia, kini tak bisa lagi memejamkan mata karena si anak muda terus bertaya hal-hal yang remeh temeh, hingga akhirnya, saya dengar bisikannya. “Ayo dong, Pak, saya sudah tak punya uang, beri saya seribu saja. Jangan sampai saya pakai kekerasan,” katanya.

Tetangga duduk si bapak yang mendengar rengekan diakhiri ancaman itu saling pandang. Orang-orang mulai gelisah. Ibu-ibu memasang wajah takut. Saya diam saja. Si bapak tak kuat juga. Ia akhirnya merogoh saku dan memberi uang seribu. Si anak muda kini berpaling ke saya. Mula-mula ia basa-basi nanya “Abis pulang kerja, Mas?” Saya diam saja. Saya tahu, saya akan jadi korban palakan berikutnya. Karena pertanyaannya selalu tak dijawab, dia mengeluarkan jurus terakhirnya. “Berapa temen lu di sini? Temen gue ada sepuluh,” ia mengancam. Saya mendelik. “Temen gue ada di setiap pintu,” saya balik menggertak.

Dia terus bertanya saya orang mana, kerja di mana, dan pertanyaan menelisik lainnya. Saya lirik mata setiap orang. Bapak-bapak di samping saya memalingkan muka, yang lainnya merem. Jangkrik! Dia terus mendesak agar saya mengeluarkan duit. Saya lirik kiri-kanan, menghitung orang yang disebut temannya. Tak ada anak muda sebaya yang bergelagat mengincar saya. Saya bersiap jika dia menjambak kerah baju atau memukul. Saya pikir, ini harus dilawan.

Kereta mendekat ke stasiun Bojong Gede. Dia terus merangsek. Saya diam saja. “Puih, tai luh!” Ia mengalah, berjengkat ke dekat pintu, dan loncat ke luar gerbong. Orang-orang kini memandang saya. “Dikasih berapa, Mas,” seorang ibu bertanya. Dia tadi gemetar di bangkunya. Saya hanya mengangguk: lega juga. Orang kini menggerutu, mengumpat kelakuan anak muda tadi.

Di atas gerbong semua hal bisa terjadi. Setiap sore, yaitu setelah jam kerja usai, gerbong selalu penuh sesak. Itu saat yang pas, bagi setiap lelaki untuk menyalurkan hasrat seksnya. Seorang teman (perempuan) pulang dengan muka ditekuk. Ia baru saja “digagahi” di atas gerbong.

Dalam keadaan tak bisa bergerak karena terhimpit penumpang lain, menahan pegal, waspada dari pencopet, dan kesimbangan, ia merasa ada yang bergerak di bokongnya. Tangan kanannya berpegangan pada besi. Tangan kiri mendekap tas. Di depan, seorang bapak pura-pura tidur. Setiap kali kereta berhenti atau mulai berjalan, tubuhnya doyong ke kiri, atau terdorong oleh penumpang di sebelahnya.

Saat turun di Bogor, ia toleh seseorang di belakang. Seseorang bapak berkemeja hijau. Si bapak turun tergesa. Teman saya baru sadar, setelah ia meraba celana belakangnya. Ada cairan lengket di sana yang sudah menyerap ke dalam pori-pori kain. Sesampai di rumah, ia menjerit, besoknya ia bercerita dengan berapi-api, jengkel, dan marah.

Seorang teman lain bercerita, seorang anak muda yang lain tercekat di sudut gerbong. Membuka risletingnya, dan mengeluarkan spermanya di sana. Ia baru saja menyentuh dan menggesek bokong dan dada mahasiswi-mahasiswi yang naik dan turun gerbong dengan tergesa.

Di atas gerbong, semua bisa terjadi. Dalam sebuah cerpen yang judulnya sama dengan tulisan ini, Hamsad Rangkuti merekam kesadisan anak sekolah yang membunuh anak sekolah lain dalam gerbong kereta. Di atas gerbong juga terjadi korupsi. Masinis tersenyum jika mendapat sogok dari penumpang yang tak beli tiket, tentu saja dengan uang yang jauh lebih kecil dibanding harga tiket sebenarnya.

PATUNG DAN PORNOGRAFI

DI Mampang, Jakarta Selatan, sebuah baliho iklan dicoret-coret seseorang. Di situ wajah Sophia Latjuba yang sedang berselonjor memamerkan kulit lembut karena dibasuh sabun Lux diberi topeng, hingga yang tersisa hanya kedua matanya. Badannya juga. Alhasil, Sophia Latjuba di sana tak lagi memakai baju tipis. Ia kini seperti seorang perempuan Iran yang dipotret lalu dipajang di pinggir jalan. Tak cukup di situ, baliho juga dicoreti dengan kata “porno” besar-besar.

Tapi itu dulu. Orang iklan kemudian ramai-ramai membahas vandalisme itu. Pelakunya, seingat saya, tak tertangkap. Ada yang mengecam, ada juga yang setuju dan menggunakan momen itu untuk terus menolak porno-pornoan. Kini, baliho itu sudah diganti dengan gambar Sophia yang bersih, yang coklat kulitnya, yang bibirnya basah sedikit terbuka. Tapi, pesan coret-coret itu jelas: Sophia, dengan wajah dan pakaiannya di baliho itu, dianggap vulgar, karena itu porno. Tapi kenapa patung-patung di Jakarta tak dicoreti atau dipasang rumbai-rumbai?

Di Jakarta, patung-patungnya tak diberi pakaian yang layak. Patung obor di bundaran 69, Jalan Sudirman, tak memakai celana. Selangkangannya hanya ditutup sehelai kain yang melorot dan berkibar ditiup angin. Meski ia gagah, dengan otot yang menggumpal di sana-sini, berteriak memangku obor, patung itu tak beradab.

Atau di Lapangan Banteng. Patung pembebasan itu juga tak jelas jenis pakaiannya. Sama halnya dengan patung setengah-monyet-setengah-manusia yang sedang berlari di Pancoran.

Patung Tani di Jalan Ridwan Rais juga hanya pakai celana pendek dengan cangkul di pundak. Masih mending, Bu Tani memakai kebaya lengkap dengan selendangnya. Di kampung saya, Pak Tani selalu berpakaian pangsi hitam-hitam yang longgar. Bu Tani juga memakai baju lengan panjang yang robek di sana sini dengan topi lebar. Kebaya justru dipakai kalau kondangan. Karena itu badawang yang dipasang di tengah sawah untuk mengusir burung yang memakan padi selalu diberi pakaian hitam dan topi lebar. Seseorang di saung akan menarik tali untuk menggerakkan orang-orangan Pak Tani itu.

Patung yang berpakaian layak mungkin cuma patung Jenderal Sudirman di markas zeni di Bogor. Pak Dirman, dengan wajah kuyu menahan TBC, berdiri gagah memakai blangkon dan jas hujan yang menjuntai. Celananya juga pantalon dengan sepatu pantofel yang necis.

O ya, satu lagi patung Pak Pos di depan Gedung Pos di belakang katedral dekat lapangan Banteng. Pak Pos berseragam lengkap dengan topi khasnya; juga sepeda kumbang dan kantong surat di belakang sepeda. Patung itu memegang surat dengan tatapan seorang pegawai yang setia dan bersedia berkorban menerjang halangan apa pun asal surat sampai ke tempat tujuan.

Tugu kujang di Bogor juga agak aneh. Setiap kali lewat tugu itu sehabis nonton film atau keluyuran malam-malam, seorang teman selalu menunjuk ke arah kujang sambil nyengir. Kujang itu disorot lampu dari bawah, sehingga yang tampak adalah gagang kujang yang disepuh warna emas. Sedangkan bilahnya yang lancip dan melengkung dirungkup malam langit Bogor. Yang aneh di sana adalah bentuk tonjolan gagangnya: persis bentuk penis yang sedang ereksi.

Tapi, mungkin mesti dibedakan, patung pahlawan dan patung yang bercerita tentang semangat. Patung pahlawan–atau setidaknya patung yang dibuat untuk mengenang seseorang yang pernah hidup–dibuat dengan pakaian sesuai dengan cara seseorang itu berpakaian sewaktu hidup. Lain dengan patung yang tak mempersonifikasikan seseorang. Kebanyakan patung-patung itu tak diberi pakaian yang layak.

Mungkin perlu juga ada kontes pakaian patung terbaik di Jakarta, bahkan seluruh Indonesia.

AKSI SEJUTA UMAT

 

Kemarin dua juta orang berkumpul di bundaran Hotel Indonesia. Jumlahnya memang disebut beragam: ada yang menyebut satu juta, dua juta, bahkan cuma 200 ribu. Tapi tak penting. Di layar televisi, kameramen yang mengambil gambar dari atas gedung menunjukkan jumlah orang itu memang tak sedikit. Tiga ruas Jalan Thamrin macet total. Kumpul-kumpul menentang invasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak itu pun dinamai Aksi Sejuta Umat.

Solidaritas, begitu latar aksi itu disebut. Tokoh nasional berganti-ganti memberi orasi. Ada Amien Rais, Nurcholish Madjid, Julius Kardinal Darmaatmadja, dan pemimpin aksi sendiri: Hidayat Nur Wahid. Massa sudah muncul dari gang-gang sejak subuh-subuh. Mereka datang dari pelbagai agama, suku, ras. Di belakang seorang reporter televisi berbaris deretan mahasiswa berjilbab putih-longgar yang bersambung dengan suster dengan tudung kepala dan pakaian khasnya. Orang bersatu mengutuk serangan yang sudah memakan waktu lebih dari seminggu itu.

Empati, begitu para peserta demo membuka niat mereka turun ke jalan. Ada rasa haru yang timbul dari niat-niat seperti itu. Pengakuan sebagai manusia–tanpa identitas apa pun yang ditonjolkan–yang mendorong jutaan orang itu konvoi memenuhi jalan. Ini aksi terbesar sepanjang demo-demo mengutuk serangan sepihak Amerika itu, juga demo-demo selain tentang Amerika-Irak sebelumnya.

Tapi, tunggu dulu. Solidaritaskah itu? Mungkin iya. Namun, agak ganjil ketika yang bertindak sepihak atas nama kekerasan itu Amerika, sebuah negara adidaya yang mengundang geleng kepala dunia ketiga dalam setiap kebijakannya. Karena itu Amerika dikutuk, dibenci, tapi juga dibutuhkan. Maka terbitlah solidaritas untuk rakyat Irak–meski tidak untuk Saddam Hussein– dan ramai-ramai menentang niatan Amerika. Pokoknya Amerika, dalam satu soal ini, punya kesalahan tak berampun hingga ke langit ke tujuh.

Aksi ini memang hebat. Tak sehebat, misalnya, ketika setiap kantor berita dan media memberitakan ribuan anak-anak jadi korban di Aceh, Papua, Ambon, Poso, atau Kalimantan. Tak ada musuh bersama yang harus dihadang dalam judul kekerasan yang terjadi di pelbagai daerah Indonesia sendiri itu, yang menerbitkan trauma bagi setiap korban yang tak gampang disembuhkan. Padahal, kekerasan yang terjadi di sini begitu dekat, meski ruwet; begitu nyata, meski tak terjangkau; begitu sadis hingga tak sampai tergubris.

Manusia sering kali tak seimbang. Tak adil. Tapi, itu juga kodrat yang diberikan Tuhan. Maka ia menciptakan sorga hanya buat orang-orang yang bisa berbuat adil.

Setiap kita tak setuju dengan cara kekerasan untuk menyelesaikan soal. Tapi, keadilan untuk berpihak pun perlu agar soal itu tak jadi ruwet atau dilupakan. Untuk itu Milan Kundera, dalam novelnya The Book of Laughter and Forgetting, mengingatkan manusia akan bahaya lupa. “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa,” itu kalimat Kundera yang lebih dulu terkenal di sini dibanding novelnya.

Dalam bagian awal novel itu, Kundera menulis peristiwa-peristiwa berlalu dan lindap oleh peristiwa lainnya. “Pembantaian berdarah di Bangladesh dapat cepat menutupi kenangan akan invasi Rusia atas Cekoslowakia. Pembunuhan Allende mengurangi rintihan Bangladesh. Perang di padang pasir Sinai melupakan Ceko, dan seterusnya dan seterusnya hingga pada akhirnya setiap orang membiarkan segala sesuatunya terlupakan”. Begitulah, orang sering tak adil karena lupa atau melupakan. Karena itu lupa juga bisa membunuh solidaritas.