ISLAM, KITA

Eko yang baik, saya ingin kembali berbincang tentang Islam, sebuah agama yang dengan kompleksitasnya memaksa saya untuk selalu ingin memikirkannya. Saya selalu ragu tentang pemahaman saya tentangnya. Kadang pikiran itu terlalu besar dan saya miris jika terus meladeninya. Saya sedikit-banyak baca buku tentang agama saya itu. Mula-mula hanya untuk meladeni apa yang kau omongkan saja. Saya pikir sepertinya menarik apa yang kau omongkan itu. Tapi, kemudian, saya jatuh cinta di dalamnya.

Apa yang kita baca sama sekali berbeda; mungkin karena ini disebabkan oleh minat kita yang berbeda pula. Kau terpesona oleh kejayaan Islam tempo dulu. Sementara saya terpesona oleh perbincangan tentang keimanan. Karena itu, Eko, saya menyukai film Keeping the Faith (2000) yang bertutur tentang dilema seorang pastur (Edward Norton) dengan kesetiaan pada iman dan godaan tubuh perempuan. Sementara kau ngotot pada satu Islam, pada politi Islam.

Sesekali mungkin kau harus tonton film ini. Dalam film itu, Eko, si pastur punya teman yang Rabi Yahudi (Ben Stiller). Keduanya sudah berteman sejak kecil. Menginjak dewasa keduanya harus menentukan jalan masing-masing, meski mereka punya satu kesamaan: ingin mengabdikan hidup pada agama. Begitulah, yang satu jadi Rabi, yang lainnya jadi pastur.

Si Rabi sangat disukai umatnya karena membawa revolusi kebaktian yang meriah. Umat seolah menemukan agama yang dianutnya begitu menyenangkan. Diceritakan, misalnya, si Rabi itu memimpin misa dengan koor ala opera atau kadang-kadang seperti pentas jazz. Tapi si Rabi tak punya pantangan terhadap tubuh perempuan. Maka ketika banyak umat perempuan muda yang mengaguminya dan mengajak kencan, si Rabi oke-oke saja diajak makan malam di kafe, di mana di sana ia juga bertemu dengan banyak umatnya.

Suatu kali mereka mendapat kabar, seorang teman sewaktu kecil mereka mengajak bertemu. Si teman ini (Jenna Elfman) perempuan New York yang modis, blonde, langsing, karir bagus sehingga tak pusing memikirkan sewa apartemen. Keduanya jatuh cinta pada teman lama itu. Tapi, kau tahu, Eko, siapa yang akan memenangkan persaingan mendapat cinta sang primadona itu.

Maka, dalam sebuah pasase si rabbi bercinta dengan gairah yang memuncak sebagai seorang kawan yang saling memendam perasaan sejak lama. Si pastur tentu hanya bisa gigit jari menyaksikan teman-teman kecilnya terlibat asmara.

Saya suka film ini, Eko, karena di sana apa yang jelek dan apa yang bagus menurut norma agama menjadi tak jelas batas-batasnya. Kita ini juga manusia, yang bukan sufi pula.

Atau ketika saya menonton Vertical Limit (2000). Di Everest yang ganas tiga pendaki terjebak dalam badai salju. Pertolongan dikirim. Salah seorang tim SAR bernama Kareem Nazir (Alexander Siddig) ikut dalam tim itu. Dia kebetulan berjalan bersama seorang Amerika, yang Kristen, yang tak pernah ke gereja, nakal, sembrono, tapi lucu. Suatu kali si Kareem harus salat. Si Amerika bertanya, “Hei, apa Tuhan masih minta diingati ketika keadaan genting seperti ini?” Kareem tidak menjawab. “Kau percaya Surga, Kareem? Aku tidak. Aku lebih percaya neraka itu ada.” Kareem harus menyelesaikan salat hingga salam. Selesai itu ia berbalik. “Kenapa kau merisaukan keadaan surga dan neraka. Kewajiban hidup adalah berbuat baik.”

Dialog yang khas Amerika memang. Tapi saya terkesan. Seperti kesan saya ketika membaca Bahkan Malaikat pun Bertanya. Penulisnya, Jeffrey Lang, seorang profesor Matematika di Universitas San Fransisco, Amerika Serikat. Sebagai mualaf ia begitu apik meracik perjalanan hidupnya menemukan Islam. Ia bercerita, misalnya, betapa ia sangat terpesona mendengar seseorang membaca Quran. Tapi ia sempat bimbang, karena Islam yang dicarinya ternyata bukan agama untuk perempuan.

Di Arab, begitu ia menulis, ketika azan berkumandang polisi patroli menghardik setiap lelaki yang masih berkeliaran di swalayan atau di jalan-jalan. Tapi ketika para suami itu salat, istri-istri mereka menunggu di mobil atau di beranda masjid. Dia berpikir, mungkin itu Islam dalam wajahnya yang dikendalikan negara. Ketika negara turut campur dalam urusan keimanan seseorang, hal-hal yang seharusnya wajib bagi setiap manusia justru terabaikan. Atau, ia berpikiran pesimis, Islam, katanya, sebuah agama yang ditunjukan untuk kaum lelaki.

Hal-hal seperti ini, Eko, yang hinggap di kepala saya. Saya dididik dalam lingkungan agama yang netral, yang masih mistis, yang bimbang antara NU dan Muhammadiyah, tapi sangat takut ada penterasi Kristen. Maka saya diwajibkan bisa baca Quran tapi tak ketat menjalankan kewajiban. Tuhan bagi kami adalah tempat pertahanan terakhir, tapi tak diajak berpikir bahwa manusia masih bisa memikirkan dan mendebatkan-Nya. Hingga saya masih berusaha nyolong waktu ngaji saya dengan nonton Donald Bebek di TVRI.

Begitulah, Eko. Ketika Islam dipolitisasi, ia menjadi semacam pertaruhan, atas nama, dan tunggangan. Tapi, saya tak mau naif. Ada begitu banyak cara orang meraih kekuasaan. Kau pasti tahu, bagaimana gejolak politik Islam pasca khulafaurrasyiddin. Ada begitu banyak intrik dan tak tik untuk merebut warisan nabi itu. Kau bilang dan sering menyerukan agar umat Islam bersatu dalam kekhalifahan. Tapi, apakah itu mungkin? Tidakah itu hanya ilusi? Tidakah itu, di jaman kini, hanya akan melahirkan keseragaman? Dan seragam (kau tahu?) hanya akan melahirkan jawaban tunggal. Saya kira, Tuhan kita tak senang dengan jawaban tunggal. Buat apa dia bikin otak di kepala kita, kalau dia tak ingin kita bertanya.

Eko, sampaikan salam saya untuk teman-teman.

UPDATE
Seseorang mengaku gatal jemarinya lalu menanggapi tulisan ini di sini.

  •  
    37
    Shares
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ORANG ASING ITU NAIK SEPEDA

SIANG tadi saya liputan ke Bappenas karena ada acara penandatanganan kerjasama pengembangan ekonomi lokal. Tak ada yang istimewa dengan liputan harian yang isinya hanya foto-foto dan pembubuhan tanda tangan itu. Juga, tak ada yang aneh dengan siapa pelaku penandatangan itu karena mereka cuma pejabat Bappenas dan tiga lembaga multilaretal lain semacam United Nations Development Programm.

Yang luar biasa, dalam pandangan saya, adalah ketika seorang pejabat UNDP keluar kantor Bappenas usai acara. Dia seorang perempuan setengah baya. Memakai kacamata dan baju biru berbahan jeans terusan serta dua tas di tangan kanan dan kirinya. Rambutnya sebahu. Tentu saja ia bule. Kulitnya totol-totol tapi tak lagi merah karena sudah terpanggang udara tropis yang hangat. Mungkin ia sudah lama tinggal di sini. Saya menebak dia orang Prancis.

Saya yang duduk mengobrol dengan wartawan lain di tangga gedung mengangguk ketika ia keluar gedung. Beberapa satpam dan ajudan pejabat teras Bappenas juga mengangguk memberi hormat. Ia berjalan menuju parkiran. Saya pikir ia akan berhenti di deretan mobil mewah di sebelah kanan gedung. Tapi tidak. Ia terus berjalan hingga sampai di dekat pos penjagaan. Di sana tersandar sebuah sepeda tua berwarna coklat. Dan ia berhenti di sana lalu menuntun sepeda itu ke Jalan Taman Suropati.

Satpam yang tadi mengangguk saling pandang dengan satpam lain, kemudian pecah tawa di antara mereka.

Saya lihat, si bule itu mengayuh sepedanya di jalan itu. Ia ikut berhenti bersama dengan kendaraan lain, bus, dan motor saat lampu menyala merah di perempatan itu. Lampu menyala hijau dan ia mengayuh ke arah Jalan Teuku Umar. Mungkin ia akan menuju kantornya melewati jalur tembus ke Jalan Thamrin.

Saya tak mengenali merek sepeda yang dikayuhnya itu. Tapi bentuknya persis sepeda yang saya beli dari hasil salam tempel saat disunat 20 tahun silam. Sepeda yang saya punya itu merk Benz. Dulu harganya cuma Rp 60 ribu, kalau tak salah ingat, karena sisanya saya belikan dua ekor kambing betina.

Setiap yang melihat si bule itu, mungkin juga tersenyum. Dalam udara Jakarta yang digerus polusi itu, dia mengayuh sepedanya. Sesampai di kantornya mungkin kulit mukanya jadi kaku dan tebal, juga penuh daki. Karena itu apa yang dilakukannya menjadi aneh. Saya tidak tahu apakah ia sengaja mengayuh sepeda atau terpaksa atau terbiasa di negara asalnya.

Tapi mungkin ia sengaja dan terbiasa. Seorang pejabat UNDP pasti, minimal, dikasih mobil dari kantor jika tak punya kendaraan pribadi. Atau si bule itu mungkin sedang memberi pelajaran bagi kita. Ia ingin menunjukkan mengayuh sepeda pun bisa sampai di tujuan. Praktis, dan yang utama : tak menimbulkan polusi. Ia juga mengejek kegemaran orang Indonesia yang gemar membeli mobil meski tahu jalanan Jakarta selalu macet.

Di sini, orang bule itu menjadi aneh kelihatannya. Aneh, karena apa yang dilakukannya tak lazim meski itu contoh positif. Sepeda selalu identik dengan ketakpunyaan. Dan Mercy selalu mengundang decak kagum yang melihatnya. Sehingga, mobil, bukan saja kegunaannya itu yang penting, tapi sejauh mana prestise menjadi ukuran. Meski aneh juga, para penjahat di jalanan itu selalu mengincar mobil mewah karena pasti berduit. Tapi, mobil seharga ratusan juta hingga miliaran selalu saja berseliweran berdesakan di jalanan utama. Uh, seandainya kita mencontoh orang bule itu…

JIKA EKOR MENGIBASKAN ANJING

Propaganda dan pengendalian pikiran tidak hanya berlangsung di negeri otoriter. Tapi juga mungkin terjadi di negeri demokratis, seperti Amerika misalnya, atau Indonesia di era reformasi.

Farid Gaban | Pena Indonesia News Service

Novel-novel George Orwell sering menjadi rujukan penting ketika orang melukiskan negeri otoriter seperti Uni Soviet di masa lalu. Tapi, jika Anda berpikir kediktatoran hanya bisa terjadi di negeri komunis, renungkanlah kembali. Hal serupa bisa berlangsung di negeri demokratis seperti Amerika, atau di Indonesia setelah reformasi.

Novel Orwell berjudul “1984” menggambarkan betapa berkuasanya “Big Brother” yang, melalui mesin partai dan teknologi, mendiktekan apa yang baik dan harus dilakukan oleh rakyat. Novel “Animal Farm” memperkenalkan konsep standar ganda: “semua binatang sama derajatnya tapi binatang tertentu memiliki hak-hak istimewa”.

Jika “1984” menonjolkan bentuk kekuasaan telanjang (senjata, teknologi dan pemaksaan), “Animal Farm” menunjukkan betapa kediktatoran serta kecenderungan elitis justru bisa jauh lebih efektif diwujudkan melalui bahasa. Para pemimpin menyihir rakyat untuk mendukungnya agar tetap berkuasa melalui logika yang dipelintir, fakta yang disembunyikan serta slogan-slogan seperti “nasionalisme” dan “patriotisme” yang didefinisikan secara subyektif.

Lewat bahasa, manipulasi dan pengendalian pikiran bisa terjadi di negeri-negeri demokratis. Invasi Amerika ke Irak belum lama ini memperlihatkan secara jelas kecenderungan semacam itu. Dan jika kita tidak waspada, operasi militer Indonesia di Aceh juga bisa menjadi contoh buruk betapa rakyat yang tidak kritis bisa dikerahkan untuk mendukung perang yang tidak perlu.

Dua bulan setelah bom-bom pertama jatuh di Baghdad, pemerintah Amerika dan Inggris tetap tak bisa menemukan timbunan senjata pemusnah massal yang dulu disebut-sebut sebagai dalih utama serangan ke Irak. Fakta ini mengkonfirmasi kecurigaan kelompok anti-perang: Gedung Putih sengaja berbohong, memanipulasi opini publiknya, dan mempromosikan perang berdasarkan dalih fiktif hanya demi kepentingan segelintir elit bisnis dan politisi Washington.

Meski kecurigaan seperti itu telah marak sebelum invasi, opini publik mayoritas Amerika cenderung mendukung presidennya. Dan lebih mencengangkan, bahkan setelah invasi, setelah berbagai bukti kebohongan terungkap, mayoritas publik tetap setia di belakang George W. Bush.

Sebuah jajak pendapat yang diselenggarakan Program on International Policy Attitudes (PIPA) belum lama ini menunjukkan banyak publik Amerika (34% responden) tak tahu bahwa senjata pemusnah massal sebenarnya tidak pernah ditemukan di Irak. Persepsi keliru yang lebih mengherankan: 20% responden percaya bahwa Irak benar-benar menggunakan senjata biologi dan kimia dalam perang tempo hari.

Bagaimana “persepsi bodoh” semacam ini bisa terjadi di Amerika? Jika demokrasi berarti pemerintahan dari rakyat untuk rakyat dan merupakan sarana untuk melindungi publik dari kebohongan pemerintahnya, kenapa itu tidak terjadi?

Jangan salahkan demokrasi. Setidaknya itulah yang dikatakan kolumnis Robert Kuttner di Harian The Boston Globe (4 Februari 2003). Menurut Kuttner, George Bush diuntungkan oleh melapuknya demokrasi Amerika.

Selama tiga dasawarsa terakhir, menurut Kuttner, instrumen-instrumen demokrasi Amerika terus tergerus erosi: jumlah pemilih yang ikut aktif dalam pemilu terus menyusut (di bawah 50%) dan keterlibatan uang dalam proses pemilihan yang kian besar.

Masih ada faktor lain, yakni makin sedikit rakyat kebanyakan Amerika berpartisipasi dalam organisasi-organisasi politik maupun non-politik yang memperdebatkan isu-isu secara demokratis. Bahkan mahasiswa dan sukarelawan LSM yang kritis justru menjauhi politik. Hasilnya: “civil society” di Amerika, kata Kuttner, makin mengerucut dikuasai kelompok-kelompok kepentingan (perusahaan pelobi) yang bermarkas di Washington, DC.

Melapuknya instrumen demokrasi, menurut Kuttner, dibarengi dengan dominasi kalangan elit terhadap pers–lembaga yang sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Koran, dan terutama televisi, menjadi medium ampuh pengendalian pikiran lewat bahasa demi keuntungan segelintir orang.

Dengan perkecualian sedikit koran dan majalah, media massa Amerika tak bisa diabaikan perannya dalam mendukung invasi ke Irak, dan karenanya dalam menyebarluaskan kebohongan Gedung Putih. Bahkan di kalangan responden dari Partai Republik yang mengaku setia mengikuti berita-berita internasional, misalnya, jajak pendapat PIPA tadi menunjukkan sekitar 55% responden keliru mengatakan bahwa pemerintahnya benar-benar menemukan senjata pemusnah massal di Irak.

Melalui media massa lah segelintir elit bisa memanipulasi pikiran banyak orang. Koran dan majalah tidak kebal terhadap kemungkinan dipakai sarana propaganda bohong. Tapi, televisi dan radio, karena sifatnya yang instan, massal dan kurang renungan, jauh lebih rentan lagi sebagai alat propaganda, disadari atau tidak.

Nontonlah film “Wag The Dog” (1996) yang disutradarai Barry Levinson dan kita akan tahu betapa mudah melecut sentimen patriotisme untuk mendukung perang, tak peduli betapa meragukan motifnya. Menakut-nakuti publik tentang ancaman fiktif dari luar memungkinkan segelintir penguasa mengalihkan perhatian rakyat terhadap soal-soal yang lebih mendasar: korupsi, skandal, serta ketidakmampuan memerintah.

Kolumnis Paul Krugman mengingatkan kembali film itu ketika menulis “Waggy Dog Stories” di Harian The New York Times akhir Mei lalu. Krugman menuduh Presiden Bush memanfaatkan perang Irak untuk mengalihkan perhatian rakyat dari melelehnya ekonomi Amerika dan skandal bisnis para kroninya, serta menangguk untung politik dalam pemilihan presiden mendatang.

“Wag The Dog” bukan metode baru dalam politik Amerika. Dua hari setelah seorang teroris bunuh diri membantai 241 marinir Amerika di Beirut pada 1983, Presiden Ronald Reagan memerintahan penyerbuan ke negeri pulau kecil bernama Grenada hanya untuk menutupi kebijakan Timur Tengahnya yang berkahir dalam bencana.

Invasi Presiden George Bush (senior) pada 1989 ke Panama dicurigai sebagai cara mudah untuk membuang diktator Manuel Noriega sekaligus cara untuk menutupi fakta bahwa di suatu masa dulu Noriega pernah menjadi aset penting CIA.

Pada 1998 Presiden Bill Clinton mengirimkan pembom ke Afghanistan serta ke Sudan untuk membasmi teroris Al Qaidah. Orang tahu Usamah bin Ladin tidak tewas kala itu (bahkan tidak jelas pula nasibnya setelah serbuan ke Afghanistan 2001) dan “pabrik senjata kimia” di Khartoum terbukti pabrik obat belaka, yang produksinya benar-benar dibutuhkan rakyat miskin Sudan.

Clinton memakai serangan itu untuk mengalihkan perhatian publik dari skandal Monica Lewinsky yang tengah memuncak.

“Kenapa anjing mengibaskan ekornya?” tanya Conrad Brean, tokoh dalam film “Wag The Dog” itu. “Karena si anjing lebih pintar dari ekornya. Jika ekornya lebih pintar, ekornya lah yang akan mengibas-kibaskan si anjing.”

Dalam dunia Brean, ekor lah yang lebih pintar dan rakyat–para pembaca serta pemirsa–adalah anjing yang mudah dikibas-kibaskan.

Dikutip dari Koran Tempo edisi 15 Juni 2003

HUTANKU, HUTANKU

Ilmu ekonomi, kata orang, adalah ilmu yang murung. Ini bukan saja karena ilmu ini selalu bertemu dengan sederet rumus-rumus dan angka-angka yang rumit. Tapi, karena ilmu yang satu ini selalu menyimpan sebuah tetapan yang disembunyikan. Kemiskinan adalah variabel tersembunyi dan disembunyikan dalam setiap rumus ekonomi pembangunan. Maka itu, tidak heran jika semakin moncreng pembangunan, semakin banyak pula orang miskin.

Dengan dalih itu pula, tentu saja untuk menggenjot devisa, 15 perusahaan tambang diizinkan kembali beroperasi di hutan lindung. Celakanya, ini sudah disetujui DPR dan akan disahkan dalam undang-undang. Jangan-jangan kita, kelak, tak hanya akan mengimpor beras, tapi juga oksigen.

Bayangkan saja, setiap hari, ketika Anda baca tulisan ini, hutan kita hilang seluas 1.445 kali lapangan sepak bola. Pernah lihat lapangan sepak bola? Kalikan saja dengan angka itu. Maka, dalam setahun hutan seluas provinsi Jawa Barat hilang dari muka bumi.

Tidak ada yang aneh, sebetulnya, dengan angka-angka ini. Ketika pada 2000 saya berkunjung ke Muara Wahau, ujung utara Kalimantan Timur, dan menginap dua bulan di sana untuk keperluan penelitian, saya melihat dari dekat betapa hutan itu lenyap perlahan-lahan. Sejauh mata memandang, hanya ilalang dan rumput gajah yang tumbuh sisa kebakaran 1997.

Di pedalaman itu pula mesin-mesin berat menggerus pohon-pohon dan memadatkan tanah. Para pekerja, dengan otot yang mengkilap, merangsek maju semakin dalam, menerjang kecuraman yang melewati batas semestinya. Ketika saya tanya kenapa itu dilakukan juga, mereka hanya nyegir dan menjawab “apa boleh buat” sambil lalu. Saya ditertawakan sebagai orang yang kutu buku, terlalu setia pada rumus dan peraturan.

Gunung dibelah untuk membuka jalan guna menggenapkan target produksi. Saya tak melihat perusahaan tambang di sana beroperasi waktu itu. Tapi, dengan ketentuan ini kelak, saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi dengan pohon-pohon dan kijang di sana. Saya sudah membuktikan, hutan Kalimantan tak seseram yang dibayangkan dan seganas cerita orang-orang. Ia tak lagi sehimpun pohon-pohon berdiameter besar yang angker.

Mengorbankan lingkungan semacam ini jelas bukan rumus yang disembunyikan. Lingkungan sudah sangat jelas bagaimana manfaatnya. Pemerintah atau DPR mungkin tak mempertimbangkan ketika mereka berdebat merumuskan beleid itu, ada banyak oksigen yang dihembus-hirupkan. Tapi, mungkin juga iya. Karena di gedung yang terhormat itu angin bukan datang dari sepoi pepohonan, tapi dari hembusan pendingin yang diputar menyamai suhu di Praha.

Ada 30 juta hektare hutan lindung kita yang tersisa yang memasok udara bagi kita, bagi dunia, kini. 12 juta hektare dari jumlah itu akan disurvei kedalamannya dan berharap menemukan galian tambang di sana. Ini memang akan menambah pendapatan negara. Padahal, nilai ekonomi dari hutan yang tetap tegak akan jauh lebih besar dan jauh lebih panjang. Kerugian ekonomi Jakarta saja belum tergantikan akibat terjangan banjir tahun lalu.

Ilmu ekonomi memang murung, semurung orang-orang yang mempraktekannya, juga kita yang ketiban akibatnya.

MENYANYIKAN PUISI

Saya pernah punya kasetnya, dan hingga kini masih terkenang. Saya setuju Garin Nugroho, jika stres saya dengarkan kaset itu. Lagu-lagunya mengalun, hingga saya bisa tidur dengan cepat. Itu kaset–yang kini entah di mana–berisi lagu-lagu Ari Malibu, Nana, dan Reda. Ketiganya menyanyikan beberapa puisi penyair kita: ada Emha Ainun Nadjib, Toto Sudarto Bachtiar, Agus Sarjono, Sapardi Djoko Damono, dll. Di sampul kasetnya yang berwarna hitam, Sapardi menuliskan kata pengantar untuk lagu yang disebut musikalisasi puisi itu.

Malam kemarin saya tak hanya mendengarkan lagu-lagu mereka kembali. Saya melihat ketiganya menyanyikan di panggung, di Warung Apresiasi, Bulungan. Ari yang memetik gitar, sesekali menyanyi, mengikuti tinggi rendah suara Reda dan Nana. Malam itu meraka tampil dalam Musikaliasi Puisi Sapardi Djoko Damono.

Di sana Sapardi juga membacakan puisinya, berselang-seling dengan pekerja teater Ags. Arya Dipayana. Kemudian ada Garin Nugroho yang didaulat membaca puisi Aku Ingin, yang terkenal itu, karena ia memasukan puisi ini dalam filmnyaCinta Dalam Sepotong Roti. Sapardi dan Ags. membacakan puisi yang ada di buku Hujan Bulan Juni. Pertama kali ia membaca Sepasang Sepatu Tua, puisi yang paling saya suka.

Saya suka puisi itu karena bercerita tentang “sepasang sepatu tua yang tergolek di dapur, yang jatuh cinta pada sepasang kaki”. Sapardi menghadirkan dialog antar sepatu kiri dan kanan. Ia selalu begitu. Ketika menulis cerpen Rumah, ia juga menghadirkan percakapan antar rumah tentang penghuninya satu dengan lain di sebuah komplek. Tapi saya tidak suka bagian akhir puisi itu. Sapardi tak masuk menekuni apa yang diinginkan sepasang sepatu itu, ia justru menyerahkannya.

Sapardi mengawalinya dengan sedikit pidato. “Saya tidak tahu apakah saya selebritis atau korban,” katanya yang disambut gerr penonton yang memadat tempat sempit itu. Sapardi mungkin mengejek dirinya sendiri, mungkin juga orang lain. Kini, kita tahu, selebritis dan korban tak bisa dibedakan, mungkin juga dua hal yang sama hakikatnya.

Biasanya saya tak terlalu berharap pada puisi, selain dibaca sendiri dalam hati. Biasanya puisi yang digubah dalam bentuk lain, misalnya dibaca di panggung, seringkali kehilangan daya pukaunya, meski itu dibacakan oleh penyairnya sendiri. Tapi, lagu-lagu Ari masih menyimpan suasana puisi-puisi itu.

Tapi, mungkin karena puisi yang dinyanyikan berasal dari puisi yang ditulis Sapardi: sederhana, hingga ke pilihan kata-katanya; sesederhana keinginannya mencintai seseorang. Atau ketiga bekas mahasiswa Sapardi di UI itu tahu bahwa memberikan musik pada puisi Sapardi tak usah neko-neko. Saya kutipkan puisi Aku Ingin di sini:

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dipanggung itu, Ari hanya memetik gitar dan mengepaskan tinggi rendah nada dengan cord yang ada di gitar saja. Ia tak berpretensi musiknya ingin terdengar hebat. Justru karena itu bunyi gitarnya jadi melodius, mengalun pas membawa suasana setiap kata puisi Sapardi. Yang sederhana memang selalu menyimpan daya pukaunya sendiri. Musik live-nya sama bagusnya dengan lagu yang direkam di kaset.

Di antara lagu-lagu itu saya suka Sore Matahariku Masih Ada, lagu pembuka pertunjukan malam itu. Ada refrain dan suara lengking Nana dan suara Reda yang meladeni dengan nada satu oktaf lebih rendah. Saya lupa apakah lagu ini ada di kaset itu. Aduh, seandainya kaset itu tidak hilang. Tapi, kabarnya mereka akan menyimpannya dalam cakram compact disk.

PS : Saya bisa nonton acara itu berkat kebaikan ibu ini. Sayang kami tidak sempat ketemu bermuka-muka, padahal sebelumnya sudah kontak-kontak lewat e-mail. Kami, ternyata, sama saling menebak yang manakah wajah masing-masing kami.