PATEUH BANTAL



Tuan, jika Tuan bertanya dengan apa kita menikmati hidup? Hari-hari ini saya akan menjawab: dengan LEHER.

Maka beruntung Tuhan melengkapi kita dengan sebatang leher, yang menyangga kepala, menghubungkannya dengan badan, dan karena itu kita jadi hidup. Saya sedang membayangkan, seandainya manusia tak punya leher, mungkin dunia akan terasa sempit seperti ketika kita diserang pateuh bantal.

Bayangkan saja, bangun pagi itu jadi tidak menyegarkan, badan jadi panas dingin, “my body is not delicious,” kata seorang teman yang rajin memelesetkan padanan kata dalam bahasa Inggris. Tulang dan otot-otot terasa kaku, leher sakit jika menengok ke kiri atau ke kanan, apalagi ke atas-bawah. Kita akan berpikir mungkin dengan membanting kepala ke kiri dan kanan kaku itu akan hilang. Tapi salah, jangan pernah mencoba, meregangkan otot leher yang kaku karena pateuh bantal.

Jalan terbaik adalah membiarkannya, meski ini menjengkelkan. Mandi dengan air hangat, jangan lupa pakai sabun, soalnya bau, apalagi sehabis ngiler. Dan itu yang tidak saya lakukan. Saya meregangkan otot leher itu, memutar pinggang ke kiri dan kanan, lalu mandi dengan air yang jadi terasa dingin. Meski saya memakai sabun, otot itu makin terasa kaku seiring hari kian malam. Seharian itu, meski pasase ini leher masih bisa nengok, suhu badan menukik drastis dibanding suhu lingkungan.

Puncaknya terjadi pada tengah malam. Tuan tak akan bisa memejamkan mata kendati meletakan leher hati-hati pada bantal. Semahal dan seempuk apapun bantal itu, otot Tuan tak akan menerimanya. Tuan akan membalikan badan ke kiri atau kanan untuk mencari posisi yang pas buat leher. Tapi tidak, apapun posisinya, leher itu tetap terasa sakit. Berbaring pun tidak menolong. Selain badan Tuan bertumpu pada punggung, yang kian lama akan terasa pegel, otot kaki nyaris tak bisa diselonjorkan dengan santai. Akibatnya, kekakuan kian merambat.

Satu-satunya cara adalah bangkit dan duduk. Jelas, ini bukan jurus yang bagus. Dalam hari yang selarut itu, Tuan sudah ngantuk, bukan? Tapi leher tambah sakit. Maka Tuan berbaring lagi. Dalam kehati-hatian menyandarkan kepala itu, otot leher kini jadi tumpuan badan. Akibatnya, leher semakin sakit. Setelah tergelatak di bantal pun, leher semakin tidak nyaman, karena jika salah satu bagian badan bergerak, kontraksinya akan langsung ke leher. Pendeknya: MENJENGKELKAN!!!, ditambah harus begadang semalaman karena otak terus berpikir bagaimana cara terbaik memberi kenyamanan pada otot leher.

Dunia hanya ada di depan mata; sekeliling tak. Betapa sempitnya. Mungkin kita harus menempelkan koyo di leher belakang dan di belikat untuk memberi efek panas. Jika Tuan hidup di kampung, para tetangga akan menyarankan seperti ini: jemur bantal yang semalam kita tiduri sebelum pateuh itu menyerang. Ingat, jemur di tempat yang panas. Setelah bantal itu cukup menyerap panas, tidurilah bantal itu. Letakan otot leher yang kaku persis di bagian bantal yang cukup menyerap panas. Jangan hiraukan terik matahari menyorot wajah Tuan. Itu pengorbanan, jika Tuan ingin pateuh itu berpindah ke bantal. Tuan boleh percaya dan mencoba melakukannya; boleh juga untuk tidak percaya, para tetangga itu tak akan memaksa kehendak Tuan.

Jika panas itu sudah terasa cukup menyerap ke leher, bangunlah. Terlalu lama bisa membuat Tuan dituding sedang menyelami ilmu ngepet oleh orang-orang yang lewat. Tunggu beberapa saat sampai reaksi panas itu menyerap dan meregangkan otot-otot secara alami. Tahan, meski orang sekeliling menyeringai melihat badan Tuan seperti sebuah robot: lucu dan bisa menjerit jika dicubit.

Saya tak punya padanan kata yang pas untuk jenis rasa sakit seperti ini. Dalam bahasa Indonesia, kesakitan ini malah disebut salah tidur, atau salah bantal. Saya tak mau memakai kata ini, karena saya tak mau menyalahkan tidur, juga tak mau menyalahkan bantal. Pateuh bantal kali ini pun bukan disebabkan karena bantal, tapi karena saya tidur di kursi. Bahasa Indonesia tak cukup punya padanan untuk kata pateuh, selain kata serapan dari Bahasa Jawa: keseleo. Seperti yang sering dipesankan Ibu Guru kita waktu kecil: “Kalian harus pateuh sama perintah orang tua.” Loh…

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SIAPA SURUH DATANG KE JAKARTA

Siapa suruh datang ke Jakarta. Kota yang dicaci tapi dicari.

GUBERNUR Jakarta itu berdiri tak kurang dari lima meter di depan saya. Ia sedang berpidato di depan ratusan pedagang saat meresmikan sebuah pasar di Jakarta Selatan. Terutama ia berbicara soal polusi di Jakarta. Dia menyodorkan data, Jakarta dipenuhi 11 juta manusia pada siang hari, padahal manusia yang menetap di ibukota ini hanya 9 juta. Selebihnya datang dari pinggiran: Bogor, Tangerang, Bekasi. “Mereka ini yang menebar polusi di Jakarta, bikin jalan macet, tapi pajak mereka masuk Jawa Barat,” katanya. Nadanya penuh geram.

Maka Sutiyoso, nama gubernur dua periode itu, bertitah agar para pedagang selalu menjaga kebersihan pasar. Kalau tidak bisa, “Yo, wis balik ndeso meneh,” yang disambut tawa pedagang. Dan selama pidato setengah jam itu, dia lebih banyak menyampaikan idiom dalam bahasa Jawa, kecuali ketika ia ngomong “gua” untuk dirinya sendiri, sesekali. Sutiyoso paham pedagang di Jakarta bukan orang asli Betawi. Para pedagang, dan mereka yang menangguk rezeki di ibukota, bukan mereka yang merasa memiliki kota ini. Sebagian besar penduduk Jakarta hanya sebagai flaneur.

Seorang teman, yang juga mendengarkan pidato Sutiyoso, tersenyum. Ia datang jauh dari dusun di Wonosobo, Jawa Tengah. “Jakarta,” katanya menyeringai, “bukan tempat yang bagus untuk hidup.” Saya terkejut. Saya kira ia betah tinggal di Jakarta. Wajahnya legam. Rambutnya gimbal tak kenal sisir. Setiap hari, dengan sepeda motornya, ia keluyuran keliling Jakarta mencari berita. Tak segan ia datang ke Merunda di Jakarta Utara jika ia dengar ada orang mati dibunuh malam tadi. Sorenya ia sudah mewawancarai polisi di Jakarta Barat, atau bertadang ke Balai Kota.

Si teman ini, saya yakin, hapal betul seluk beluk Jakarta: panasnya, macetnya, klakson mobil-mobilnya, pengkolan-pengkolannya, taman-tamannya. Tapi, saya ragu, adakah ia mencintai kota ini. Sepertinya tidak. Ia selalu mengutuknya sebagai kota yang salah lahir, salah bentuk, juga salah urus. Maka, ia hanya menyeringai mendengar titah Sutiyoso itu.

“Jakarta hanya bagus untuk korupsi… juga bunuh diri,” ia berbisik mendekatkan mulutnya yang bau asem asap tembakau. Bunuh diri? Ia menyebut sebuah hasil penelitian. Katanya, umur orang Jakarta makin pendek dari tahun ke tahun karena lingkungan yang buruk. Ia membenarkan omongan Sutiyoso, tapi tak sepenuhnya setuju. Orang tuanya di kampung, katanya di antara semburan asap rokok, kini masih hidup dan bugar di usianya yang ke-80, bahkan masih bisa nyangkul di sawah dengan mulut menggepit kretek.

Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari tulis Jujur Prananto lewat cerpennya di Kompas menjelang lebaran 1999. Jakarta memang menyenangkan saat lebaran: tak ada macet yang jadi hantu bagi para pejalan, tak ada jerit klakson, tak ada deru, tak ada debu. Pada lebaran orang-orang pulang, dengan bus, feri, meski harus tidur di depan loket agar kebagian tiket. Mudik selalu disambut dengan suka cita. Stasiun TV bahkan harus merelakan sebagian acaranya untuk secara khusus meliput arus mudik di terminal, pelabuhan, pintu tol, dan kampung-kampung. Dan mudik telah membuat arti “pulang” berkait erat dengan Jakarta.

Kata pulang, di kota ini, telah tereduksi menjadi dua arti. Pulang dalam arti balik dari tempat kerja ke rumah kontrakan; atau pulang mudik ke kampung. Dua-duanya tak menunjukan kepemilikan kepada Jakarta. Dua-duanya mengasingkan diri dari Jakarta. Kota ini bukan sebuah tujuan akhir yang direncanakan. Jakarta hanya sebagai tempat singgah.

Tapi, Koes Plus menyanyikan Kembali ke Jakarta dengan riang. Jakarta ternyata masih membawa semangat, daya tarik, harapan, meski tetap saja terdengar hanya kesementaraan. Seperti teman saya ini (ia ternyata masih bersemangat ngomong di sana), sejelek apapun ia mengutuk Jakarta, toh ia tetap memulai hari dengan semangat: pagi-pagi berkeliling dengan motornya hingga sore dan baru pulang ke rumah lepas malam. “Ah, itu sih tuntutan,” katanya, membuang ludah, dan mengisap rokoknya, “mau makan apa anak dan istriku…” Ia terus saja menyerocos, hingga ia lupa Sutiyoso sudah menyelesaikan pidatonya. “Wah, opo beritane?….”

CURHAT SOPIR ANGKOT

Curhat sopir angkot: cintamu sebatas HP, HP-ku hilang cintamu melayang.

Ini bukan iklan, hanya sebuah kalimat yang menempel di kaca belakang mikrolet M11 jurusan Kebon Jeruk-Slipi. Ketika membuat tulisan itu, si sopir mungkin sedang putus cinta. Ia ditinggal pacarnya, hanya karena ia tak punya henpon. Si sopir jengkel, lantas mencomooh pacarnya itu, lalu membuat tulisan itu.

Lanjutkan membaca “CURHAT SOPIR ANGKOT”

SEKOLAH YANG MEMBEBASKAN

Sekolah yang membebaskan, dari sebuah film Cina yang mengharukan.

“Jangan ada lagi murid yang meninggalkan sekolah.” Pesan guru Gao Enman sebelum meninggalkan desa Shuiquan, Provinsi Hebei, Cina, itu menancap di benak guru Wei Minzhi. Ia, tentu saja, shocked. Di usianya yang ke-13, Wei merasa dibuang ke Shuiqian yang miskin dan sepi. Shuiquan bukanlah tempat menyandarkan impiannya yang ingin menjadi guru di kota. Tapi, Guru Gao, yang telah menjadi kepala sekolah seumur hidup itu, menghiburnya bahwa itu akan menjadi jembatan Wei bisa diangkat menjadi guru di kota. “Lihatlah aku, Wei,” katanya, “kini sekolah-sekolah di kota memerlukanku.”

Lanjutkan membaca “SEKOLAH YANG MEMBEBASKAN”

DINAR

Masokisme dalam novel debut Dinar Rahayu. Tema dan penceritaannya menjanjikan.

Ough!! Akhir pekan yang membosankan. Dua hari gak ngapa-apain. Tadinya mau nonton F4 (he-he-he), cuma gak kebagian tiket karena udah diborong keluarga presiden Megawati :)). Untung ada Dinar Rahayu. Dia penulis novel asal Bandung. Ini novel perdananya; judulnya Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch. Dari judulnya saja orang sudah tahu, novel ini bercerita tentang masokisme. Waow!

Lanjutkan membaca “DINAR”