DI MANA LETAK DUNIA DALAM SELEMBAR KORAN?

Jika saya harus memutuskan, memilih pemerintahan tanpa koran atau koran tanpa pemerintahan, saya tak akan ragu memilih yang kedua.”

Thomas Jefferson, 17 Januari 1787, dalam sebuah surat untuk Kolonel Edward Carrington.

Menulis tentang diri sendiri kerap kali membosankan. Tapi, saat ini, saya kepingin benar membicarakan diri sendiri.

Setiap wartawan tahu, dunia tak selebar selembar koran. Ada banyak hal yang belum terungkap dan diungkap oleh kerja jurnalisme. Ada banyak hal, lebih banyak lagi malah, yang luput dari mata dan telinga juru warta. Lalu di mana letaknya dunia, dalam selembar koran?

Seorang teman yang berpindah profesi jadi birokrat setuju dengan saya. Sewaktu ia masih bekerja dengan bisnis kata-kata, ia merasa ada banyak hal yang bisa ia temukan saat menulis suatu berita. Dunia tiba-tiba saja menjadi terbuka, setelah terkukung dalam apek ruang-ruang kuliah. Tapi, dunia itu kembali menutup.

Ia mengangguk bahwa ada banyak hal yang belum ditulis wartawan yang kini ia ketahui dalam departemen tempatnya bekerja. Ia merasa hal-hal yang diketahuinya itu juga harus diketahui orang banyak. Tapi, ia bingung dengan cara apa ia memberitahu wartawan. Tiba-tiba saja, dunia jadi benang kusut.

Koran hanya menulis sesuatu yang muncul di permukaan, katanya. Koran hanya memberitakan apa yang ingin ditulis para wartawannya. Kadang-kadang juga koran-koran menulis apa yang tak ingin diketahui orang. Tapi, menulis banyak hal juga membikin hal ihwal menjadi tidak fokus.

Kerja wartawan sama halnya dengan kerja lain yang menuntut berpikir: kerja mencari kebenaran. Goenawan Mohamad kerap mengingatkan setiap wartawan tentang itu. “Kebenaran ada di mana-mana,” saya kutip dari orang kedua, “termasuk di tempat-tempat yang tidak kita suka.” Karena itu kerja wartawan kerap menelusup ke tempat-tempat yang mereka benci, menakutkan, mengerikan. Karena mereka tahu, informasi adalah hak setiap orang.

Karena misinya mencari kebenaran, kerapkali media berbuat salah, meski narasumber juga belum tentu benar. Seperti orang sedang belajar naik sepeda, berbuat salah adalah pintu utama menemukan kebenaran. Menuliskan fakta dengan akurat adalah pertaruhan setiap kerja jurnaslime. Karena akurasi itulah yang akan diuji untuk menemukan kebenaran-kebenaran itu. Pembaca, tentu saja, bukan sekumpulan orang goblok yang hanya menelan begitu saja informasi yang ia terima. Ia akan menguji dengan sendirinya informasi fakta-fakta yang disampaikan para wartawan itu..

Bad news is good news, konon begitu rumus kerja wartawan. Tapi, saya kira, itu hanya satu sisi saja. Berita yang buruk tidak hanya ingin menonjolkan sensasi. Karena berita buruk diharapkan bisa mengingatkan orang agar, misalnya saja, tak mengulangi perbuatan yang menyebabkan berita jadi buruk itu. Berita korupsi, contohnya, adalah berita untuk mengingatkan agar orang berhati-hati mengelola uang yang bukan haknya.

Menjadi wartawan kadang harus punya penjelasan lebih ekstra. Orang kerap menyangka pekerjaan wartawan bisa cepat mendatangkan uang. Ini adalah buah dari ulah wartawan yang menulis berita karena diberi uang oleh narasumber. Dan si sumber juga yang menganggap budaya setelah diwawancarai harus menyediakan amplop. Mereka berharap, si wartawan mau menulis yang baik-baiknya saja, sehingga harus menyogok dengan sejumlah uang. Korupsi, di negeri ini, memang sudah merasuk ke segenap aspek. Saya tidak tahu, apakah narasumber yang seperti ini pernah mendengar Thomas Jefferson.

Jefferson tahu bahwa rakyat harus dilibatkan untuk memutuskan apa yang diinginkannya. Dan pemerintah mendengar lalu menyusun kebijakan yang direstui orang banyak. Pers adalah salah satu jembatan paling efektif untuk kerja itu. Pasar ide-ide itulah kemudian disebut orang sebagai demokrasi.

  •  
    37
    Shares
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MINYAK

15 Maret 1938. Tanggal ini menjadi penting, karena untuk pertama kalinya para insinyur menemukan ladang minyak di Arab Saudi.

Sebuah penemuan yang berpuluh tahun kemudian akan mengundang petaka. “Minyak,” kata seorang mantan Raja Iran, “adalah petaka bagi dunia Arab.” Kita tahu ucapan yang masyhur dari seorang raja Iran sebelum dimakjulkan itu akan menjadi benar bahwa minyak menjadi alasan yang paling inti sebuah kekuasaan bisa menaklukan nyawa manusia.

Raja itu, Syah Reza Pahlevi, kemudian mendapat tentangan dan disingkirkan karena berupaya menghalangi orang untuk mendapatkan bahan bakar itu. “Cerita tentang minyak,” kata dia kemudian, “adalah kisah yang paling tidak manusiawi yang pernah dikenal manusia.” Minyak itu pula yang membuat ngiler setiap penguasa, dan menerbitkan pelbagai revolusi berdarah yang memakan tumbal nyawa manusia, batas, dan geografi.

Dalam The Shah’s Story, sebuah biografi Pahlevi yang diterbitkan pada 1980-an, raja itu bercerita bahwa minyak melahirkan pelbagai persekongkolan ekonomi dan politik yang melahirkan teror, kudeta, dan revolusi berdarah. Untuk itu, sekali lagi, dengan tegas tapi bernada murung, ia bilang bahwa minyak adalah petaka.

Aneh juga memang, di sebuah wilayah dengan minyak yang melimpah, selalu saja ada kemiskinan sebagai korban. Minyak bukan sumber daya yang langsung berpengaruh pada hajat hidup orang banyak, seperti cabai, misalnya. Minyak perlu pengelolaan yang apik dengan teknologi. Dan teknologi bukan berasal dari wilayah yang disebut Dunia Ketiga. Teknologi berasal dari wilayah kekuasaan yang punya duit. Para insinyur berbondong-bondong bekerja di negeri asing.

Itu pula yang terjadi kini, dan mungkin seterusnya. Saat pertama kali orang menemukan minyak, masyarakat Yunani Kuno melempar minyak-minyak itu untuk membakar kapal-kapal musuh yang merapat ke pantai. Baru pada 1859, di Pennsylvania, Colonel Edwin Drake mengebor sebuah sumur sedalam 69 kaki. Sejak itu pengeboran menjadi salah satu cara untuk mendapatkan minyak bumi.

Tapi semakin tua bumi, semakin beragam kebutuhan orang. Pesatnya jumlah penduduk menjadikan teknologi menjawab pelbagai kebutuhan itu dengan beragam tawaran. Dan teknologi, tentu saja, berimbas pada semakin meningkatnya kebutuhan bahan bakar. Amerika kini sedang butuh minyak.

Diperkirakan konsumsi minyak Amerika akan meningkat 30 persen dalam dua dekade dan menjadi dua kali lipat menjelang 2020. Tapi, Kelompok Pengembangan Kebijakan Energi Nasional AS pada Mei 2001 mengumumkan bahwa produksi minyak dalam negeri akan berkurang 21 persen dalam jangka 20 tahun ke depan. Karena itu, bidikan Amerika jelas: Irak menjadi penghalang pengusaan minyak di Timur Tengah, terutama di lautan Coxswain.

Kendati Amerika menyangkal target serangan itu adalah minyak, tetapi senjata pemusnah massal, toh dugaan itu sudah menjadi rahasia umum. Strategi penaklukan Taliban di Afganistan lalu menggantinya dengan rezim pro adalah langkah yang paling gampang dicium untuk melebarkan strategi lanjutan ke Timur Tengah. Meski, Saddam Husein sendiri mempunyai catatan sejarah yang tak gampang ditolelir dalam ceruk kekuasaannya.

Orang-orang di sekeliling Presiden Bush, adalah para pembisik yang jas dan dasinya berbau solar. Sementara anggaran belanja untuk senjata dan tentara jauh lebih besar dibanding anggaran untuk kebutuhan lain. Maka, tak ada jalan lain selain memanfaatkan anggaran itu untuk memburu “hantu” teroris Usamah Bin Ladin dan menggempur Irak, serta menaklukan dunia untuk mewujudkan impian jadi globo-cop.

Ucapan Pahlevi makin terdengar benar hari-hari ini, menjelang tenggat keputusan Dewan Keamanan PBB merestui bergeraknya 200 ribu tentara Amerika yang sudah bercokol di Turki dan perbatasan Irak lainnya. Lobi yang gencar dengan iming-iming penghapusan utang, pinjaman yang besar, menggoyahkan negara miskin yang punya suara di PBB untuk berpaling mendukung Amerika.

Saya ingin menulis tentang minyak karena ini menyangkut nasib dan trauma jutaan manusia pekan depan, juga karena minyak, ternyata, ditemukan orang di Arab pada 15 Maret.

KETEMU SITOR

 

Saya ketemu Sitor Situmorang Rabu malam pada acara pembacaan puisi di Galeri Cemara. Ternyata, ia seorang yang kocak. Itu pertemuan fisik kami yang pertama. Saat break acara pembacaan puisi penyair Indonesia-Prancis itu, saya dekati dia. Saya jabat tangannya dan bertanya kabar. Ia hanya manggut-manggut sambil memegang tongkat kayu berukir untuk menyangga tubuhnya saat jalan.

Pertemuan itu tak urung membuat saya gemetar. Saya kelewat ingin memanfaatkan kehadirannya untuk hal-hal yang ingin saya obrolkan, misalnya, soal buku Salju di Paris itu, atau tentang puisi Malam Lebaran yang heboh itu, atau tentang blog ini. Tapi, yang keluar dari mulut saya adalah hal-hal yang tak pernah saya pikirkan. Saya hanya bertanya kegiatan hariannya. “Ya, begini-begini saja,” jawab Sitor.

Saya bilang bahwa saya punya website pribadi yang namanya saljudiparis yang diambil dari judul kumpulan cerpen miliknya. “Saya minta izin, Pak,” kata saya. Dia tertawa. “Silakan,” katanya, “tapi nanti kau dituntut kantor hak cipta. Kau bisa dituntut sampai bangkrut.” Ia terkekeh, saya juga terkekeh. “Saya ini generasi ketinggalan internet,” ia menyambung. Obrolan terputus, karena ada seorang penggemar lain yang mengajaknya bicara.

Malam itu Sitor tampil di penghujung acara dengan membaca dua puisi yang relatif baru. Dengan batik hijau dan rambut yang putih, Sitor tampak tua, tapi masih terlihat segar di usianya yang ke-79. Ia maju ke depan mik. Berbasa-basi menjelaskan judul puisi yang akan dibacanya. Tapi, sial, saat ia membaca Tamasya Batu-batu Karang Lembah, mik mati, suara Sitor tak bergema ke ruangan. Ia pun celingukan.

Seseorang kemudian mengambil mik itu. Sitor tersenyum sambil menyentuh-sentuh gagang mik yang sudah kosong, dan penonton tertawa. Pembawa acara mengganti mik dengan wire yang dicantolkan di kancing baju Sitor. Ia diam saja ketika pembawa acara yang tampil modis itu mengaitkan mik. “Teknologi canggih,” katanya. Kini ia sudah siap membaca puisi.

Tamasya Batu-batu Karang Lembah adalah puisinya yang dibuat pada 2001, tentang kerinduan pada kampung halaman. Di bawah judul puisinya, si “Anak Hilang” itu menulis: untuk Atun di usia 75. Atun adalah panggilannya untuk penyair Ramadhan KH yang juga tampil membacakan dua puisi menggantikan Joko Pinurbo. Saat Sitor memanggil Atun, penyair Priangan si Jelita itu pun melambaikan tangan. Saya kutip utuh dua syair Sitor itu di sini.

Tamasya Batu-batu Karang Lembah

(Upacara)
untuk Atun
di usia 75

ini aku datang lagi ziarah
tertegun menatap dari lereng lembah
melayangkan pandang khayal batu-batu karang
aral-melintang sekujur dasarnya
membentang

tamasya jagadraya (masih wacana)
lukisan citra sang arsitek
Borobudur yang baka
lantunan lagi panen abadi
Yang memadukan hidup dan mati

sambil sadar–aku ke Jakarta akan kembali–
(lagi pula) rindu Paris bisa bangkit lagi
sambil terangkat hanyut irama tarian
puak
saat tubuhku seluruh menghirup serempak

baubauan panen semesta
menuju moksa jagadraya
……

2001

Angin Sepoi di Pagi Tahun Baru
untuk Hans dan Joosye Teeuw

Inilah pemandangan pertama
di pagi hari tahun baru:
Langit biru cerah

(salju belum turun juga)

Di dahan pohon dekat jendela
tua lagi gundul tak berdaun
seperti lazimnya musim dingin

nampak tiga ekor merpati
diam berjemur seperti menyambut
dari luar waktu

Selainnya alam masih terdiam
seperti menanti sesuatu pertanda
dari luar waktu

Seketika
buluh halus merpati
nampak nyaris bergetar

Tertutup angin sepoi
dari alam di luar alam…
Di pantai Scheveningen,
1 Januari 1998

Penonton memberi aplaus yang panjang. Sitor hanya tersenyum sambil duduk kembali di kursinya. Malam itu ia datang ditemani istrinya yang duduk di barisan penonton dengan senyum yang tak pernah lepas. Seorang perempuan Prancis yang setia menemani Sitor di setiap acara seni yang menghadirkan suaminya jadi pembicara.

Acara selesai pada pukul 21.15. Saat bubaran, saya mendekati lagi Sitor. Kali ini saya mengenalkan diri yang tadi sempat lupa menyebut nama. Tak lupa saya minta nomor telepon untuk sewaktu-waktu saya menghubunginya karena urusan kerja. Saya berterima kasih dan menyalaminya, juga menyalami istrinya, dan Ramadhan KH yang berdiri di samping Sitor.

Selain Sitor dan Ramadhan, pembacaan puisi itu juga dihadiri penyair Indonesia lainnya antara lain Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Toety Herati, Eka Budianta, Embun Kenyowati Ekosiwi, dan Dorothea Rosa Herliani. Sedangkan dari Prancis: Christian Doumet, penyair kelahiran 1953 yang juga mengajar Sastra Prancis dan Estetika Musik di Universitas Paris VIII; dan Pascal Riou, penyair kelahiran 1954 yang tinggal di Selatan Prancis dan mengajar sastra dan filsafat.

BLOGPORN

Seminggu ini, saya agak murung, tapi bisa senyum-senyum. Saya catat hampir 30 pengunjung blog ini dalam sepekan terakhir kebanyakan orang yang nyasar. Dan mereka nyasar untuk hal yang membikin saya murung. Blog saya ternyata diketemukan orang lewat kata-kata : inul, inul daratista, inul telanjang, payudara, ukuran p*&&$, seks, dan sejenisnya.

Kata-kata ini, di komputer kantor saya jelas tak bisa dibuka di situsnya. Kata-kata yang mengandung pornografi semacam teen, adult, k**n%$, m&*^^ (maaf, saya menyensor sendiri tulisan ini), yang konon adalah kata yang paling banyak dicari oleh para peselancar, tak ada tempat di komputer-komputer kerja.

Meski saya bisa senyum-senyum karena ternyata blog saya dibaca orang, meski semula mereka punya niat bejat. Seorang teman meledek bahwa blog saya sudah berubah jadi blog “syuur ah”. Padahal, saya menuliskan Inul karena ia fenomenal, atau menuliskan judul seks karena ingin berbagi pengalaman tentang pengetahuan seks yang masih tabu itu. Atay saya bercerita tentang Cindy yang mengaku rela dibayar dengan traktiran suatu malam. Atau saya tulis Kramat Tunggak, waktu menyaksikan Aa Gym dikerubungi ibu-ibu.

Tapi, saya tak kapok menulis tentang hal ihwal yang berhubungan dengan kebutuhan manusia paling dasar itu. Karena seks, dan pronografi adalah anak kandung lansekap bernama kota, dan ibu kandung internet. Maka, kepada para peselancar, saya ucapkan selamat datang. Maaf, jika tulisan di blog ini ternyata mengecewakan Anda.

UPDATE. Inul sudah masuk Time. Klik di sini

BLOGONOMICS

Farid Gaban, Wartawan Tempo

Banyak hal yang berlangsung dan kita lakukan di internet tak lebih dari cermin kehidupan nyata. E-mail adalah jasa pos yang lebih cepat. Koran online adalah yang kita baca di layar komputer sambil menyeruput kopi di pagi hari. Bahkan pencuri kartu kredit di internet hanya sedikit lebih canggih dari copet di Terminal Blok-M.

Tapi, blogging mungkin adalah satu-satunya kegiatan internet yang khas, yang sulit kita temukan padanannya di luar komputer dan modem.

Diperkenalkan sejak 1997, blog atau weblog adalah spesies baru yang tumbuh cepat di alam maya. Istilah ini merujuk pada situs-situs pribadi yang dibangun di internet, sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, mengungkapkan unek-unek dan gagasan serta berinteraksi dalam komunitas-komunitas khusus. Memadukan komputer-plus-modem serta kebiasaan lama menulis buku harian, penampilan sebuah blog diperbaharui secara rutin, ditampilkan secara kronologis dan siap diakses serta dikomentari siapa saja, kapan saja.

Sampai akhir tahun ini diperkirakan ada sekitar satu juta blog di seantero internet. Dan jumlahnya terus tumbuh secara eksponensial–termasuk di Indonesia.

Popularitas blog tumbuh tak hanya karena hadirnya teknologi yang memudahkan setiap orang untuk menulis dan menayangkannya seketika di internet, tapi juga karena sifatnya yang revolusioner. Blogging memadukan sekaligus kebiasaan menulis kolom di koran untuk memaparkan gagasan dan memperdebatkannya seperti dalam acara bincang radio yang bersifat interaktif serta tanpa pandang bulu.

Tak heran jika seorang penulis mengatakan blogging sebagai model baru dalam jurnalisme, komunikasi dan pembelajaran yang interaktif lagi demokratis. Setiap orang bisa menjadi jurnalis sekaligus pembaca, sementara gagasan dievaluasi berdasarkan merit dan bukan siapa yang mengatakan. Setiap orang praktis kini bisa menjadi wartawan, penulis, penerbit dan sekaligus distributor berita.

Tapi, keindahan blog tidak hanya terletak pada keragaman ekspresi dan gagasan pemiliknya. Kekuatan lain terletak pada kemampuannya membangun komunitas. Para pemilik blog umumnya tergabung dalam kerumunan sesuai minat dan orientasi. Satu blogger biasanya akan membuat link kepada blog milik orang lain, membentuk sebuah jaring-jaring gagasan dan pengetahuan yang kaya. Orang-orang dengan minat dan perhatian yang sama–dari pengumpul keramik antik hingga pakar bioteknologi–bisa membentuk komunitas kecil, menulis, mengumpulkan bahan di internet dan memperdebatkannya.

Mungkin karena itulah kini tengah terjadi ledakan hebat dalam jumlah blog di internet. Dan karena itu pula, blogging tengah bergeser dari kegiatan amatir menjadi lebih profesional, dengan uang sebagai iming-imingnya. Belakangan ini beberapa pakar mulai bicara tentang blogonomics–nilai ekonomi yang dibangkitkan oleh medium baru ini.

Makin bagus sebuah blog, artinya makin bermutu dan beragam isinya, makin mungkin dia menjadi terkenal melalui jalur pemasaran yang di dunia nyata kita kenal sebagai penularan dari-mulut-ke-mulut. Dan dengan begitu, seorang blogger yang populer ibarat duduk di puncak rantai multi-level-marketing yang menguntungkan.

Tak hanya itu. Kemampuan blogging membangun komunitas juga memiliki makna ekonomi lain: mendefinisikan pasar yang segmented dan terarah–kata-kata kunci yang penting dalam iklan. Sekarang ini sudah muncul beberapa jasa seperti blog-ads, atau pemasangan iklan khusus di lingkungan blogger.

Kemampuan membentuk komunitas juga penting untuk membangun “brand loyalty”. Beberapa perusahaan besar kini mulai pula memanfaatkan blogging. Macromedia, perusahaan software pembuat Flash dan ShockWave, belum lama ini meluncurkan blog khusus untuk berinteraksi dengan pengguna. Tak hanya itu membantu pengguna memanfaatkan produk tapi juga menampung kritik mereka terhadap produknya–sebuah upaya umpan-balik untuk menyempurnakannya.

Masih terlalu dini untuk menilai seberapa besar ceruk blogonomics. Namun, cepat atau lambat medium baru ini tengah pula dilirik kalangan wiraswastawan di internet.

Sumber : Koran Tempo Minggu, 15 Desember 2002 rubrik E-Culture