BENTENG UJUNG PANDANG

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2003/05/23/benteng-ujung-pandang/
RSS
Follow by Email

 

 

 

Di buku saku panduan pariwisata Sulawesi Selatan, benteng Ujung Pandang menempati urutan pertama lokasi wisata yang ditawarkan. Alasannya, tentu, selain lokasi benteng ini relatif dekat dan mudah dijangkau dari pusat kota, juga berdekatan dengan lokasi wisata lainnya semisal Pantai Losari dan pusat belanja Somba Opu.

Begitu sampai di depan benteng, sebuah tugu bertulis Fort Rotterdam menancap di halaman rapi berlapis batu seluas kurang lebih 10 x 10 meter. Gerbang kayu dengan dua daun pintu setinggi 3,5 meter terbuka dijaga seorang satuan pengaman. “Silakan isi buku tamu dan bayar,” katanya. Setelah mencoretkan nama dan membayar uang sukarela, wisatawan bisa dengan leluasa berkeliling benteng yang dirintis oleh Raja Gowa IX Tumaparisi Kallona.

Ada lima belas bangunan berarsitektur Eropa abad pertengahan dalam benteng itu. Bangunan yang berderet di sekeliling benteng digunakan sebagai Museum La Galigo, kantor museum, kantor suaka purbakala, Dewan Kesenian Makassar dan Dewan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia. Sedangkan bangunan yang letaknya di tengah dipakai sebagai aula. Taman merupakan ruang kosong antara aula dengan gedung yang diisi dengan kursi-kursi tembok.

Sebelum Belanda datang, di dalam benteng diisi rumah-rumah bertiang tinggi khas rumah Makassar. Setelah benteng jatuh ke pasukan Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman, benteng berubah nama menjadi Fort Rotterdam. Speelman memakai nama ini untuk mengenang kota kelahirannya: sebuah kora pelabuhan di Rotterdam, Belanda. Benteng pun berubah fungsi menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pertahanan dan tempat tinggal para petinggi Belanda.

Bangunan-bangunan berlantai dua dengan pintu rendah itu di kelilingi tembok setebal dua meter dengan tinggi 5-7 meter. Seluruh bangunan dicat warna krem dengan tiang merah gelap. Ada enam bastion di setiap sudut benteng dengan nama yang berbeda-beda. Bastion Base, di sebelah kanan benteng, merupakan tempat favorit untuk duduk menyaksikan matahari tenggelam ditelan Pantai Losari.

Benteng seluas 21.253 meter persegi ini juga disebut Benteng Pannyua. Nama ini merujuk pada bentuk benteng jika dilihat dari atas. Bangunan-bangunan itu dikelilingi tembok yang bersambung berbentuk elips dan pintu yang menjorok ke luar. Sehingga jika dilihat dari atas, pintu masuk itu seperti kepala penyu menghadap dan siap turun ke laut.

Museum La Galigo menempati bangunan nomor lima dan tiga belas sebagai ruang pameran di dalam benteng. Raja Gowa X Tunipallangga Ulaweng menyelsaikan pembuatan museum ini pada 1545. Di dalamnya kini tersimpan lebih dari 6.000 koleksi benda purbakala seperti batuan, fosil, benda bentukan alam, naskah kuno, mata uang, tanda pangkat. Dari jumlah koleksi itu, koleksi etnografi menempati urutan jumlah terbanyak. Nama La Galigo sendiri diambil dari nama seorang sastrawan, budayawan dan negarawan asal provinsi ini.

Sayang, museum ini libur setiap Sabtu dan Minggu. Alhasil, jika tidak mengetahui sebelumnya, wisatawan bisa kecele karena tidak bisa melihat benda-benda sejarah di museum itu. Seperti dua orang Kediri yang datang ke museum dengan taksi. “Wah, saya jauh-jauh datang dari Kediri, nih,” katanya dengan nada kecewa setelah diberitahu petugas keamanan, museum tutup pada hari Sabtu.

Keduanya hanya bisa melihat-lihat berkeliling bangunan dalam benteng. Atau menyusuri benteng setinggi lima meter yang mengelilingi museum dari bastion satu ke bastion lain. Namun, kata petugas museum Nurdiansyah, ruang pameran di bangunan nomor lima dan tiga belas selalu buka meski kantor museum libur. Karena sedikit pengunjung, kata petugas yang ditemui dua orang Kediri, semua bangunan tutup karena Sabtu.

Kata Jalil Malik, petugas keamanan itu, setiap Sabtu, taman dalam benteng itu dijadikan ajang latihan teater, tari dan kegiatan seni lainnya oleh anak sekolah dan pekerja seni setempat. Ani, misalnya, siswa kelas 3 SMU 2 Makassar mengaku rutin berlatih teater dengan teman-temannya di dalam benteng setiap Sabtu. “Ini termasuk kegiatan ekstrakurikuler juga,” katanya di sela-sela latihan.

Jika di Jakarta ada Taman Ismail Marzuki sebagai tempat kumpul para seniman, di Makassar, benteng Ujung Pandang-lah yang menjadi pusat kongkow anak muda dan seniman. Tidak semua anak muda, memang, yang datang ke dalam benteng untuk berlatih kesenian. Beberapa di antaranya duduk berpasang-pasangan di bangku taman yang tenang. Atau menghabiskan sore melihat senja memerah dengan duduk di atas benteng.

Menurut Kepala Tata Usaha Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bahri Samsu, benteng Ujung Pandang sudah menjadi semacam ruang publik sejak ditetapkan sebagai Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan pada 27 April 1977. Namun, kata Bahri, anak-anak muda itu hanya berlatih saja di dalam benteng. Pementasannya sendiri kini dipusatkan di Gedung Pusat Kesenian di dalam kota.

Benda-benda purbakala di dalam museum, kata Bahri, setiap tahun bertambah. Saat pertama kali diresmikan pada 1 Mei 1970, museum hanya memiliki 50 potong benda purbakala. Benda-benda yang kini sudah mencapai ribuan itu, kata Bahri, diperoleh dari kolektor yang menyumbangkan benda koleksinya untuk museum.

Benda sejarah yang paling banyak memikat pengunjung adalah duplikat mahkota (salokoa) Raja Gowa yang beratnya mencapai 1.867 gram. Mahkota asli itu kini tersimpan di museum daerah Ballalompoa Kabupaten Gowa. Selain itu alat pertanian dan baju tradisional peninggalan tahun 1732 menjadi pusat perhatian setiap pengunjung.

Di salah satu bangunan tercatat sebagai ruang Pangeran Diponegoro menjalani hari-hari akhir saat ditahan Belanda selama 27 tahun hingga wafat pada 1855. Ruang itu, kata Bahri, juga menjadi incaran para wisatawan. “Tapi belum ada penelitian ilmiah yang menyebut ruang mana yang dipakai Pangeran Diponegoro menjalani penahanan,” kata Bahri.

Di ruang yang dipercaya tempat Diponegoro tidur itu sendiri tidak tersimpan apa pun. Sebelum ada kunjungan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Soesilo Sudarman pada 1992 kondisi ruangan itu kotor. Kata Bahri, sebuah perusahaan mensponsori renovasi ruangan itu, hingga kini tampak bersih dan terawat.

Tapi, tidak semua pengunjung bisa menyerap keterangan setiap bangunan berikut sejarah dan isinya. Hanya sedikit informasi yang disajikan dalam benteng ini. Papan informasi di pusat benteng sudah lama tak lagi diperbaharui dengan sedikit menyinggung sejarah dan peranan benteng Ujung Pandang dari masa ke masa. Padahal, keterangan itu penting, tentu saja, untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke benteng yang menjadi pusat sejarah, budaya dan ilmu pengetahuan itu, seperti ditawarkan dalam panduan wisata itu.

SOCRATES MENIKAH

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2003/05/09/socrates-menikah/
RSS
Follow by Email

Menikah membuat engkau menyesal, tapi tak menikah membuat engkau lebih menyesal ~ Socrates

Socrates mungkin benar. Pada usia 50, ia menikah dengan Xanthippe–yang judes, mudah marah, dan dijuluki si kuda tua. Keduanya juga aneh. Socrates mungkin bukan suami ideal. Ia gemuk, pendek, dan hidungnya tak beraturan. Pergi pagi-pagi dari rumah tak membawa hasil. Dan pergi lagi tengah malam jika ada acara yang harus dihadiri.

Hobinya diskusi siang malam dan di mana saja. Ini mungkin karena dia beristri Xanthippe. Suatu saat ia bilang begini, “Kawinlah. Jika kau dapat istri yang baik kau akan bahagia,” katanya, “Kalau dapat istri yang jelek, kau akan jadi ahli filsafat.” Kita tidak tahu apakah karena itu ia makin tajam pemikirannya di akhir hidupnya yang merana. Ia dipaksa minum racun cemara karena mempertahankan ide-idenya.

Tapi, jelas, filsuf yang hidup 469-399 SM ini tak bahagia. Suatu kali, Xanthippe mengusir Socrates karena jengkel mendengar diskusi yang tak berkesudahan. Teman-teman Socrates pun kabur menghindar amuk si kuda tua. Tapi, di luar rumah, mereka mencari kursi dan melanjutkan diskusi yang tertunda.

Xanthippe makin geram. Socrates yang sedang berkerut di halaman disembor air seember. “Kau tahu, Kawan,” kata Socrates dalam kuyup,” setelah guntur pasti akan turun hujan.” Diskusi pun terus berlanjut.

Maka, Socrates menyesal telah menikah. Ia kini tak lagi bisa bebas berkeliaran ke setiap sudut kota menyapa setiap orang dan bertanya tentang arti hidup, penciptaan, dan Tuhan. Tak lagi bebas ke mana-mana tanpa sendal. Xanthippe selalu mengawasi. “Tapi ini resiko,” katanya, “agar hidup tak lebih menyesal.”

EKALAYA

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2003/04/16/ekalaya/
RSS
Follow by Email

Wayang selalu punya contoh bagus untuk setiap gerik hidup. Ada contoh kesembronoan ketika Pandawa menggadaikan kerajaan bahkan menyerahkan Drupadi, istri Yudhistira, ketika kalah dadu dari Kurawa. Ada tamsil kesabaran yang ditunjukan Destrarasta yang buta. Ada intrik, ada kecongkakan, dan perjuangan yang mengharukan dalam kisah heroik Mahabharata maupun cerita cinta Ramayana.

Ketekunan belajar dicontohkan Bambang Ekalaya. Saya kerap mendengar ceritanya dari mulut bapak saat akan berangkat tidur sewaktu kecil. Kisah Ekalaya adalah kisah ketangguhan mengejar cita-cita sekaligus keculasan yang ditunjukan Pandita Durna.

Ekalaya berangkat mencari Durna di Sokalima, sebuah lembah cantik di kawasan utara Hastinapura, sebagai pemuda sudra yang haus ilmu. Ekalaya bercita-cita pandai memanah dan ilmu keprajuritan. Bapaknya, seorang pangrehpraja di sebuah kota kecil menyiapkan Ekalaya sebagai kesatria digdaya.

Saat umurnya menginjak remaja, si bapak mengutarakan keinginannya untuk melepas Ekalaya berguru di padepokan Durna. Maka, pada suatu pagi yang cerah, Ekalaya dilepas dengan tangis dan harapan keluarga, ditemani seorang cantrik pengawal pribadi dengan satu pesan ayah: “Jangan pulang sebelum dapat ilmu”.

Tak mudah mencari Sokalima bagi pemuda udik macam Ekalaya, kendati kemasyhuran Durna hinggap ke pelosok-pelosok negeri sebagai pandita luhung.

Menempuh jalur yang berliku, Ekalaya sampai di lembah teduh itu disambut Aswatama, anak laki-laki Durna dengan nada sinis. Keduanya terlibat pertarungan sengit karena kecongkakan Aswatama yang tak mau melihat orang asing di wilayah Ayahnya. Wiracarita mengisahkan, Aswatawama terjerembab hanya oleh satu tendangan Ekalaya tepat di dadanya. Ekalaya akhirnya di hadapkan pada Durna, yang bengkok tangan kirinya, yang meruncing jenggot putihnya dengan kepala selalu mendongak.

Ekalaya menyampaikan maksudnya. Ia tak menyangka jawaban apa gerangan yang akan diterimanya yang akan keluar dari mulut seorang pandita yang diidam-idamkan dan dibayangkan sebagai pandita luhung itu. “Kau sudra, tak layak berguru di sini,” jawaban Durna meruntuhkan harapan Ekalaya.

Ia keluar padepokan dengan tertunduk dan tak habis pikir. Durna yang diagung-agungkan ayahnya ternyata hanya seorang manusia berpandangan picik, seorang pandita yang silau oleh permata. Tapi, pesan ayahnya sebelum pergi kembali mengiang. Pemuda itu bimbang dan terpekur di tengah hutan. Ia marah, tapi ia juga tak punya kuasa. Haruskah menyalahkan nasib yang tak memberi peluang untuk sebuah cita-cita?

Di tengah hutan itu, Ekalaya akhirnya membuat gubuk. Ia memutuskan belajar memanah sendiri. Ia ciptakan patung yang mirip Durna yang ditancapkan di halaman gubuknya. Seolah-olah patung itu selalu mengawasinya saat ia memegang gondewa mengarahkan anak panah, terasa menghardiknya jika ia bermalas-malas, terasa menagih jika ada waktu terlewat tak diisi pelajaran.

Berhari, minggu, bulan dan tahun, Ekalaya belajar dan berlatih. Ia kini tahu dengan kecepatan dan sudut berapa anak panah harus dilepas dari busur untuk membidik benda terbang, berlari atau diam. Konon, kecepatan dan kelihaian memanahnya hampir menyamai ilmu Arjuna, yang tak lain murid utama Pandita Durna.

Kisah itu berakhir sedih. Ekalaya kemudian dibunuh Kresna yang menyamar sebagai Durna. Generasi Ekalaya mematrikan dendam pada Durna dan justru mengagungkan raja Amarta itu. Ekalaya juga terlibat pertarungan alot dengan Arjuna yang mencoba melirik istrinya, Dewi Anggraeni, dan menggodanya. Di luar itu Arjuna tak ingin tersaingi. “Tak boleh ada matahari kembar di jagat raya ini,” Arjuna bersumpah.

Saya tak tahu kisah selanjutnya, karena konon roh Ekalaya menitis pada jasad seorang pemuda lainnya. Saat cerita belum usai, biasanya, saya sudah tidur.

SOAL DAHAR

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2003/04/14/soal-dahar/
RSS
Follow by Email

Aya panyakit sim kuring anu can bisa dileungitkeun sampe ayeuna, nyaeta sok tara beak dahar. Pasti aya wae anu disesakeun na piring, naha sasiki sangu, sakeureut wortel, atawa sacucuk lauk asin. Pokona si piring teh tara lenang. Satadina mah sok niat yen sesa dahar teh jatahna di ucing anu sok depa nungguan handapeun meja bari ngabubay-geboy buntutna.

Tapi niat eta jadi bahan pikaijideun pun istri, aeh, calon istri maksad teh. Lamun kuring dahar, top teh aya sangu sasiki dina piring, langsung weh jamedud teu leugit saminggu. Kalikeun weh: sim kuring dahar teh lima kali sapoe, kalikeun tujuh, kalikeun deui sabulan, sabaraha lila calon istri teh jamedud?

Jiga kamari. Kuring nganjang ka imahna. Geus tilu bulan can ulin. Jiga biasana, ngendong teh di imah bibina. Ah, si bibi mah apal naon kasenengan urang teh. Euleuh, aya lauk asin jeung sambel. Ah, teu kusi ditawaran kadua kali, langsung weh der nyiduk sangu, plok sambel, gep lalab, gorehel lauk asin. Si ucing oge sampe gumetap nempo sim kuring dahar mani ngahimel kitu. Teu cukup sapiring, wel deui sapiring, lauk asin teh loba keneh. Sampe si mamang eureun, kuring mah masih top deui kana lauk. Eh, can cukup oge, wel deui sangu sapiring. Wah, asa di surga lah, pokokna. Eureuleeeeeee….alhamdulillah. Nuhun, Gusti, sim kuring masih keneh dipasihan nikmat dahar. Moal lah, ngahihilapkeun, bade nyukuran nikmat Anjeun unggal waktu.

Tapi, basa calon istri rek ngabereskeun piring, puncereng teh matana mani ngadilak ka sim kuring anu geus heurin usik kamerkaan bari sosolendean nempo polah si Deol bingung rek ngalamar si Sarah di tipi. “Kebiasaan!” ceunah tipupuncereng. (Punten, calon istri teh teu tiasa Sunda). Kuring rada ngarenjag, tapi tetep diuk da bareurat rek hudang teh. “Abisin dooooooong,” soarana mani ngentab ka unggal juru.

Padahal mah, pas ditilik-tilik nu nyesa teh sirah lauk jeung cucuk wungkul. Aya lah sasiki dua siki sangu nempel dina piring. Jamak atuh, Neng, sakitu mah, wareg yeuh. Tapi lain alesan nu pas eta teh. “Kamu ini….” sok lah teraskeun. Apal lah pasti nu diomongkeun teh kuring, ceunah, abong can pernah hirup sasangsara, dahar tara dibeakeun, teu inget hesena neang rejeki keu dahar, jeung sajabana-jeung sajabana.

Aya ti dituna meureun. Tileuleutik sim kuring, ceuk Umi, teu beuki sayur. Rek sarapan oge kudu direrejeng heula. Umi muncereng bari ngancam moal mere jang jajan. Lamun geus kitu, Umi pasti manggil Nini. Anehna, ku Nini mah sieun sim kuring teh. Najan sasendok kuring dahar sayur oge. Tapi, beurangna sampe sore mogok dahar, komo lamun sayurna eta deui eta deui. (Duh, punten Umi, karasa ayeuna teu resep sayur ti leuleutik teh. Awak teh teu gendut-gendut). Enya, hese neang rejeki jang dahar sorangan oge. Karasa lah, kolot maha tara salah.

Neng, engke lamun urang dibere rejeki anak, moal dipintonkeun tah panyakit teh. Pang didikeun supaya ngahargaan tisuksuk ti dungdungna kolot neang rejeki jang maraban kulawarga. Kajeun, Akang mah narima lamun dipuncerengan unggal dahar. Sugan weh, panyakit teh leungit lamun terus-terusan dipolototan unggal rengse dahar. Mun buka rahasia mah, eta oge kunaon Akang milih si Neng janten calon istri teh. Tapi tong jamedud, ah, ngewa…

DI ATAS KERETA REL LISTRIK

Facebook
LinkedIn
Google+
http://www.catataniseng.com/2003/04/11/di-atas-kereta-rel-listrik/
RSS
Follow by Email

Semua bisa terjadi di atas gerbong kereta rel listrik. Konon di sana rakyat hadir seutuh dan sebenar-benarnya. Ada bau pesing keringat, ada penjambret, penodong, penipu, orang kantoran, orang setengah kantoran, orang berbaju rapi, orang berbaju kucel, dll.

Segala jenis kegiatan rakyat juga ada di atas gerbong kereta Bogor-Jakarta. Suatu sore, saat pulang kerja dan naik dari stasiun Pasar Minggu, saya dipalak seorang pemuda. Kereta lagi penuh-penuhnya. Orang berjubel, menahan napas, dan kaki pegal. Karena terus tergeser oleh penumpang yang naik dan turun, saya terdampar di dekat pintu sambungan gerbong. Saya bersandar sambil mendekap tas, yang isinya cuma sweater, tape perekam, dan beberapa catatan nomor telepon.

Di sebelah, dua anak muda duduk bersila di lantai gerbong sambil ngobrol. Tapi, yang seseorang lagi tampaknya malas meladeni omongan si teman yang satunya, yang setelah dicuri dengar, tak jelas apa tema pokok omongannya. Hingga ke Depok Baru, belum juga ada penumpang duduk yang turun. Saya masih berdiri. Saat kereta mendekat ke stasiun Depok Lama, anak muda yang ogah-ogahan ngobrol berdiri. Dia pamit akan turun dan berjalan menyelendap mendekat ke pintu. Si anak muda satunya juga berdiri dan melambai. “Oke, jek,” katanya.

Dia bertubuh kurus. Pakai kemeja lengan pendek bergaris. Rambutnya ikal agak gondrong. Pipinya agak cekung dengan jerawat kecil dan besar di sana-sini. Celana jins-nya agak melorot. Dia hanya pakai sendal jepit. Celingak-celinguk sebentar, lalu mendoyongkan wajah ke seseorang bapak yang duduk di sebelahnya. Rupanya dia menanyakan jam. Si bapak memalingkan muka usai menunjukkan jam tangannya. Dia, kini tak bisa lagi memejamkan mata karena si anak muda terus bertaya hal-hal yang remeh temeh, hingga akhirnya, saya dengar bisikannya. “Ayo dong, Pak, saya sudah tak punya uang, beri saya seribu saja. Jangan sampai saya pakai kekerasan,” katanya.

Tetangga duduk si bapak yang mendengar rengekan diakhiri ancaman itu saling pandang. Orang-orang mulai gelisah. Ibu-ibu memasang wajah takut. Saya diam saja. Si bapak tak kuat juga. Ia akhirnya merogoh saku dan memberi uang seribu. Si anak muda kini berpaling ke saya. Mula-mula ia basa-basi nanya “Abis pulang kerja, Mas?” Saya diam saja. Saya tahu, saya akan jadi korban palakan berikutnya. Karena pertanyaannya selalu tak dijawab, dia mengeluarkan jurus terakhirnya. “Berapa temen lu di sini? Temen gue ada sepuluh,” ia mengancam. Saya mendelik. “Temen gue ada di setiap pintu,” saya balik menggertak.

Dia terus bertanya saya orang mana, kerja di mana, dan pertanyaan menelisik lainnya. Saya lirik mata setiap orang. Bapak-bapak di samping saya memalingkan muka, yang lainnya merem. Jangkrik! Dia terus mendesak agar saya mengeluarkan duit. Saya lirik kiri-kanan, menghitung orang yang disebut temannya. Tak ada anak muda sebaya yang bergelagat mengincar saya. Saya bersiap jika dia menjambak kerah baju atau memukul. Saya pikir, ini harus dilawan.

Kereta mendekat ke stasiun Bojong Gede. Dia terus merangsek. Saya diam saja. “Puih, tai luh!” Ia mengalah, berjengkat ke dekat pintu, dan loncat ke luar gerbong. Orang-orang kini memandang saya. “Dikasih berapa, Mas,” seorang ibu bertanya. Dia tadi gemetar di bangkunya. Saya hanya mengangguk: lega juga. Orang kini menggerutu, mengumpat kelakuan anak muda tadi.

Di atas gerbong semua hal bisa terjadi. Setiap sore, yaitu setelah jam kerja usai, gerbong selalu penuh sesak. Itu saat yang pas, bagi setiap lelaki untuk menyalurkan hasrat seksnya. Seorang teman (perempuan) pulang dengan muka ditekuk. Ia baru saja “digagahi” di atas gerbong.

Dalam keadaan tak bisa bergerak karena terhimpit penumpang lain, menahan pegal, waspada dari pencopet, dan kesimbangan, ia merasa ada yang bergerak di bokongnya. Tangan kanannya berpegangan pada besi. Tangan kiri mendekap tas. Di depan, seorang bapak pura-pura tidur. Setiap kali kereta berhenti atau mulai berjalan, tubuhnya doyong ke kiri, atau terdorong oleh penumpang di sebelahnya.

Saat turun di Bogor, ia toleh seseorang di belakang. Seseorang bapak berkemeja hijau. Si bapak turun tergesa. Teman saya baru sadar, setelah ia meraba celana belakangnya. Ada cairan lengket di sana yang sudah menyerap ke dalam pori-pori kain. Sesampai di rumah, ia menjerit, besoknya ia bercerita dengan berapi-api, jengkel, dan marah.

Seorang teman lain bercerita, seorang anak muda yang lain tercekat di sudut gerbong. Membuka risletingnya, dan mengeluarkan spermanya di sana. Ia baru saja menyentuh dan menggesek bokong dan dada mahasiswi-mahasiswi yang naik dan turun gerbong dengan tergesa.

Di atas gerbong, semua bisa terjadi. Dalam sebuah cerpen yang judulnya sama dengan tulisan ini, Hamsad Rangkuti merekam kesadisan anak sekolah yang membunuh anak sekolah lain dalam gerbong kereta. Di atas gerbong juga terjadi korupsi. Masinis tersenyum jika mendapat sogok dari penumpang yang tak beli tiket, tentu saja dengan uang yang jauh lebih kecil dibanding harga tiket sebenarnya.