KORBAN ATAU QURBAN

I

Mimpi apa yang mampir ke suatu bilik pada suatu malam yang basah, ketika rasa mual itu datang? Mungkin bimbang, mungkin juga sesal. Si calon ibu itu berteriak, meregang dalam kesakitan. Dari tubuhnya keluar tubuh lain, bayi mungil yang mendekam di dalam rahimnya selama sembilan bulan. Ia berkelojot, bersimbah darah, tapi kepada siapa ia minta tolong? Itu bayi haram, bayi pembawa aib, manusia yang tak diinginkan.

Maka dengan susah payah, bayi merah yang belum putus juga ari-arinya itu, ia masukan ke dalam plastik hitam. Dengan mengendap-endap si ibu berjalan ke tepi sungai dan membuang bungkusan itu seperti ketika ia membuang hajatnya di pagi hari. Kelak, seorang pedagang menemukannya di Kali Angke, di antara rongsokan sampah yang bau.

Orang-orang ribut. “Siapa ibu yang bejat ini,” kutuk seorang warga. “Tak berperikemanusiaan!” kutuk yang lain. “Paling-paling hasil hubungan gelap,” polisi menarik kesimpulan. Seolah-olah, bayi yang dibuang hingga jadi mayat kini sudah jadi rumus umum: pasti hasil hubungan di luar nikah. Ceritanya berkisar di ruang itu-itu saja. Dua orang pacaran, bercinta penuh gelora, yang perempuan hamil, takut jadi aib tapi belum berani menggugurkan, melahirkan, dan membuang bayinya. Kisah yang klise. Tapi yang mencengangkan, realitas itu hadir di depan saya; bayi yang sudah kaku itu meringkuk dalam kardus bekas mi untuk dibawa ke rumah sakit.

Bayi yang sudah membengkak-biru pucat itu dikuburkan tanpa nama. Tanpa sejarah yang mencatatnya. Ia kembali tanpa tahu ia dilahirkan. Manusia memang punya sisi bejat yang tak terjangkau oleh daya pikirnya sendiri. Kita hanya bisa terpukau oleh sisi bejat yang muncul mengalahkan akal sehat itu. “Kok, bisa ya?”

Lalu suara riuh itu pun sirna. Polisi dan orang-orang hanya menduga si ibu yang tega mengeksekusi anaknya sendiri, meski, mungkin, mereka ada di sekitar kita. Setiap hari bercengkrama dengan kita, berpapasan dan melempar senyum tanpa rasa bersalah. Rasa bersalah tak akan muncul selama itu tak diketahui orang lain. Koran-koran memuatnya dan menambah daftar kasus penemuan mayat bayi. Lalu sunyi.

II

Mimpi apa yang datang pada suatu malam, dan dua malam berikutnya, pada suatu bilik yang tersenyum? Ibrahim, sang bapak itu, tercenung. Inikah perintah Tuhan? Maka dengan keyakinan penuh ia memanggil Ismail, anak semata wayangnya yang belum juga genap berusia 14. Ia ceritakan mimpi yang paling mengguncang seumur hidupnya yang sampai 100 itu. “Aku diperintahkan untuk menyembelihmu,” kata Ibrahim, bergetar. “Lakukan, Ayah. Kita akan tergolong orang yang sabar,” sebaliknya, Ismail mantap menjawab.

Kedua bapak-anak ini berjalan beriringan menuju Bukit Sofa. Iblis datang menggoda Ibrahim untuk membatalkan niat itu. Tapi iblis gagal, dan lintang pukang menghindari jumrah yang dilempar bapak dan anak ini. Sebetulnya iblis hampir sukses menggoda Ibrahim lewat Siti Hajar yang meraung melihat suaminya menuntun Ismail ke bukit itu. Kini, Ibrahim sudah siap dengan pedang yang berkilat ditimpa cahaya pagi. Di atas sebuah lempengan batu padas, leher Ismail telah siap menjelang maut.

Adegan ini terus mempesona. Kisahnya mengharukan tentang kehanifan seorang hamba, tentang totalitas berkeyakinan. Tentang kerelaan berserah diri. Tentang keiklasan menjalankan perintah. Di sana, apa yang terjadi dengan gejolak pikiran Ibrahim? Tuhan lalu mengganti Ismail dengan seekor domba. Apa yang termaktub dalam surat Ash-Syafa’at ayat 103-107 itu meninggalkan sebuah tanda: syukur yang jadi momen hidup terus menerus.

Syukur itu pula yang datang tiap kali jutaan orang dari pelbagai pelosok datang berduyun ke negeri yang kering, ke kiblat jutaan umat. Mereka menanggalkan apa yang berbau dunia, bertemu dengan pelbagai orang dengan pelbagai tanda. Konon, kata Pak Haji yang baru pulang dari Makkah, berhaji seperti bertandang ke sebuah mini akhirat di dunia.

Dua kisah itu terbentang dalam jarak waktu yang berjauhan. Kisah kedua datang dari kitab suci, ribuan tahun yang lalu. Kisah pertama datang dari abad 21. Dua-duanya menceritakan tentang korban, tentang anak, tentang harapan hidup. Jarak kisah dua jaman ini terlampau jauh. Tapi manusia masih menyimpan pesona. Yang satu menyentuh, bercerita tentang keyakinan dan kesabaran. Yang satu tentang harga diri, menjengkelkan dan menjijikkan.

  •  
    37
    Shares
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PAGI ATAU SENJA

 

 

Pagi atau senja, manakah yang lebih baik? Konon, di Eropa pada abad pertengahan, ketika kota-kota mulai tumbuh, para pekerja merindukan senja. Itulah momen untuk kembali ke keluarga, berkumpul dengan anak-anak, setelah seharian berkutat dengan peluh. Di sebuah wilayah dengan lingkungan industri, senja adalah waktu pulang. Tapi tidak di Jakarta.

Orang-orang menghindari senja. Mereka lebih senang menunggu malam. Meski jam pulang tetap pukul 16 atau 17, para pekerja datang ke rumah ketika hari mendekati larut. Tak ada waktu berkumpul dengan anak-anak. Bukankah setiap anak wajib tidur ketika jam berdentang sembilan kali?

Maka pintu masuk Senayan selalu macet. Di sebuah wilayah yang kesohor di Selatan Jakarta ini, kehidupan justru baru dimulai ketika senja. Ada yang senam, atau joging, sekedar nogkrong, bahkan membuat janji bertemu dengan seseorang. “Saya justru membuat janji bisnis di sini,” kata seorang pebisnis.

Setiap kali ada koleganya yang mengajak bertemu, ia selalu menunjuk Senayan sebagai tempat yang nyaman untuk mendiskusikan bisnis. Tapi, pada awalnya, mungkin juga akhirnya, semua orang yang tumplek itu punya tujuan yang sama: menunggu jalan Jakarta sedikit lengang.

Tapi ada juga yang buru-buru. Memacu kendaraan di atas jalanan Jakarta yang licin dan macet. Atau berdesakan di Metromini yang apek, sembari waswas pencopet mengincar dompet. Mereka mungkin sudah atau kadung berjanji untuk membantu mengerjakan PR si buyung untuk diperiksa esok oleh guru kelas. Para pekerja yang buru-buru ini khawatir si upik menekuk muka karena tak bisa kagum pada bapak yang mampu menjawab semua soal. Hanya saja, pekerja yang buru-buru ini tahu risiko bahwa adrenalinnya akan naik sepanjang jalan menuju rumah, tapi mereka memilih menahannya.

Tapi pagi juga bukan pilihan. Tepat ketika matahari mencapai satu titik, yaitu pukul 7, adegan di setiap perempatan di senja itu kembali berulang. Orang, dengan kantuk yang masih menggelayut di pelupuk, berpacu dengan jam kerja yang tak kenal ampun. Waktu adalah uang, kata sebuah pepatah yang sudah uzur tapi masih dipercaya orang ini. Maka ketika orang berpikir bahwa uang akan hilang, setiap mereka akan melakukan apa pun agar waktu tak terbuang.

Sopir dan kernet tak mau membuang waktunya karena uang dari setiap penumpang akan tersalip dan jadi rezeki kernet dan sopir lain. Mereka akan memacu angkutan dengan ngebut, tanpa menghiraukan dirinya sendiri ditunggu istri dan anaknya di rumah. Atau berdiam diri di tengah lalu lintas yang padat. Para pekerja saling salip agar tak telat mengisi kertas absen.

Kemacetan dan rudinnya lalu lintas selalu saja meninggalkan satu soal: pertumbuhan ekonomi tak dibarengi pertumbuhan birokrasi. Kota dengan lambangnya kelas menengah selalu akan menciptakan gengsi. Kelas menengah adalah mobil, apa pun mereknya. Dan mobil akan meluncur mengisi setiap meter jalan Jakarta, hingga mereka tertahan di setiap perempatan. Birokrasi tak cepat merespons pertumbuhan dan gengsi kelas menengah itu. Lebih parah lagi, birokrasi kita nomor satu di Asia sebagai sarang “perampok”.

KHALIL GIBRAN DI ATAS BUS *

Sekeping rembulan rebah di saku baju
sekeping hati mencari di langit biru

Dua baris puisi Khalil Gibran itu meluncur ringan dari mulut Pace (24) di bus Mayasari Bhakti AC 49 Tanjung Priok-Blok M, Jumat (7/2) sore. Suaranya parau. Pace mengucapkannya tanpa teks. Ia juga mengutip puisi dan kata mutiara para penyair dan filsuf besar lain, juga tanpa teks. Ia misalnya mengutip pepatah lain “dari seorang pintar Jerman”: Hidup adalah lelucon bagi orang yang berpikir, tapi hidup adalah tragedi bagi orang yang terlalu memendam perasaan“.

Pace bukan mahasiswa filsafat atau aktivis suatu organisasi. Ia hanya seorang pengamen. Pendidikannya pun cuma tamat Sekolah Teknik Menengah pada 1997-1998. Tapi ia hapal beberapa lirik syair Khalil Gibran. “Saya suka Khalil Gibran, syairnya bagus,” katanya setelah kami turun di Grogol dan saya bisikan minta wawancara.

Sayang, pemuda kurus, hitam, dan gondrong itu, tidak ingat siapa orang pintar Jerman yang baru saja ia kutip kalimatnya. “Benar, kok, saya pernah membaca kalimat itu. Tapi lupa di buku apa, ya?” katanya. “Artinya jika kita ngoyo menjalani hidup, hidup akan terasa kejam,” kata Pace menjelaskan. Maka, tutur Pace dengan semangat, “Hidup harus diperjuangkan.”

Ia mengaku mengerti betul arti kata mutiara itu. Maka Pace pun mengamen di bus-bus yang menuju dan meninggalkan terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, setelah ia mencoba melamar pekerjaan namun tak ada yang mau menerimanya. Ia sudah kenal komunitas terminal sejak masih sekolah, yaitu pada 1996. Sejak lulus sekolah ia memutuskan meninggalkan rumah orang tuanya di Marunda, mencari sendiri biaya hidup, dan tinggal di rumah kos di daerah Timbangan.

Saat mengamen ia ditemani Budi (24). Keduanya bertemu di terminal setahun lalu dan memutuskan kos dan mengamen bareng. Pace mengaku terus memikirkan bagaimana teknik mengamen agar orang tak bosan. Ia tahu penumpang dari dan ke Tanjung Priok sebagian besar adalah pekerja yang setiap hari, tentu saja, orangnya itu-itu juga. Maka, selain membacakan kutipan tulisan para filsuf, kadang-kadang Pace membawakan monolog, kali lain campuran antara monolog dan lagu, campuran ketiganya sekaligus, atau membawakan puisi dan lagu bergaya penyiar radio bergelombang 49,9 FM..

Tema yang diusung dalam monolog, atau dialog dengan Budi, Pace kerap membawakan tema politik yang sedang hangat di Jakarta. Misalnya, ia menyoroti kebijakan pemerintah yang menaikan harga bahan bakar minyak, tarif telepon, dan listrik yang berujung maraknya demonstrasi mahasiswa. “Keadaan sudah susah, malah ditambah susah,” katanya. Pengetahuan itu mereka dapat dari membaca koran.

Pace juga hapal teks Proklamasi versi penyair Hamid Jabbar yang dibawakan saat pentas di Taman Ismail Marzuki pada 1999. Pace menonton Hamid lalu menghapalkannya. Saat menyinggung kondisi politik, Pace berteriak, “Kami atas nama bangsa Indonesia dengan ini menyatakan proklamasi kedua kali. Mengenai hal-hal yang menyangkut hak asasi manusia serta utang pitung negara yang tak ada habis-habisnya, Insya Allah akan habis atas terselenggaranya pemerintahan secara bersama dan seksama…”

Setiap hari, kata Budi, mereka mengantongi Rp 40-50 ribu. “Tapi tergantung,” timpal Pace, “itu kalau tanggal muda, kalau tanggal tua paling cuma Rp 30 ribu.” Uang itu mereka gunakan untuk bayar kos yang sebulannya Rp 125 ribu, makan, ditabung, beli buku Gibran, dan koran. “Lumayanlah bisa beli sepatu” kata Budi menunjuk sepatu koboy yang dipakainya.

Keduanya sadar, penumpang bus kerap menganggap pengamen sebagai anak jalanan yang beringas. Maka, saat membawakan dialog, Pace berusaha tampil lucu. Misalnya, ia pura-pura salah, atau mengutip kata-kata filsuf dua kali, lalu berkomentar sendiri itu sudah diucapkannya saat ia membuka “pertunjukannya”. Citra buruk itu, kata Budi, karena banyaknya pengamen yang meminta uang dengan memaksa, mencopet, atau menodong. “Di Tanjung Priok tidak ada yang seperti itu. Kalau ada, sudah kami gebukin rame-rame,” katanya.

Karena penumpang bus sebagian besar pekerja, Pace dan Budi sudah berangkat dari rumah pukul 06.00 dan baru pulang di atas jam 21.00. “Kalau jam sewa uangnya suka banyak,” kata Budi. Jam sewa adalah waktu ketika para penumpang berangkat dan pulang dari tempat kerja. Maka, setiap pagi dan sore itu, Pace selalu teriak, “Hidup adalah lelucon bagi orang yang berpikir…” Keduanya pun tersenyum jika hasil mengamen melimpah.

FENOMENA INUL

Fenomena Inul terjadi karena ia memberontak pada tatanan musik dangdut yang menye-menye dan membosankan.

INUL Daratista. Siapa yang tak kenal penyanyi dangdut yang punya “goyang maut” ini? Inul, gadis Pasuruan Jawa Timur itu, kini jadi “bintang” tiba-tiba. Ia tak punya sejarah keartisan yang mencorong sebelumnya. Sejarah ketenaran Inul sama halnya dengan sejarah kepopuleran Las Ketchup yang menyihir dunia dengan goyang Asereje.

Continue reading “FENOMENA INUL”

LAKI-LAKI PENUNGGU MALAM

Laki-laki penunggu malam, kapan kau berbaring, tidur untuk tubuhmu?

Saya selalu ingin mengatakan kalimat itu tiap kali berpapasan dengan laki-laki penunggu malam, yang duduk di sebuah simpang jalan dengan rutinitas yang absurd. Dia duduk di bangku satu kaki yang camping sandarannya. Membuka kancing baju bagian atas lalu mengayunkan robekan kardus bekas untuk mengundang angin. Adakah angin malam yang membuat kau selalu merindu?

Dia muncul tiap kali malam mulai menjelang, yaitu sekitar pukul 21.00. Tiba-tiba saja. Tak pernah diketahui dari mana ia datang. Dekat pos ronda, yang kosong ditinggalkan para penjudi seceng, dia selalu duduk dengan raut yang tak pernah bisa kutebak. Temaram lampu dari sudut pagar rumah di depannya tak mampu menyiram dan mengabarkan sesuatu di balik wajah laki-laki penunggu malam.

Dia selalu menghadap ke Barat. Punggungnya yang ringkih sedikit saja disandarkan pada sisa sandaran kursi yang camping itu. Sementara dua kakinya, yang terbungkus sepatu karet hitam, dibuka agak lebar untuk menahan tubuhnya agar tak goyah. Tangan kanannya, bergantian dengan tangan kiri, mengayunkan sobekan kardus tak henti-henti.

Dia agak gemuk. Rambut yang mulai rontok tapi masih hitam di usia yang kutebak tak lebih dari 40 tahun itu. Hidungnya bulat. Di keningnya, raut-raut ketuaan tak bisa disembunyikan di balik wajah tanpa ekspresi itu. Pipinya agak tembem, sehingga kerut di kedua sisi hidungnya membentuk lipatan simetris hingga ke ujung bibir. Perutnya juga membuncit.

Saya pernah lihat dia berjalan. Kakinya tampak berat melangkah, sehingga ayunan langkahnya membuat tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan. Lalu duduk lagi, mengayunkan sobekan kardus itu lagi. Mengundang angin Jakarta yang langka digerus polusi dan udara yang menipis. Laki-laki penunggu malam, dia tahu batas malam dan pagi, juga ketepatan gerah udara.