MENIKAH

menikah membuat kau menyesal, tapi tak menikah membuat engkau lebih menyesal ~ socrates.

Socrates mungkin benar dalam satu hal: ia benci pernikahan yang dilembagakan. Tapi, ia juga salah dalam hal lain: mengira bumi masih kosong untuk manusia. Menyesal, kenapa tidak dari dulu, ini terjemahan seorang kawan. Bisa juga.

“Selamat datang di dunia orang-orang tersesat.” Itu ucapan selamat seorang teman kepada teman yang lain ketika teman yang lain itu akan menikah. Si teman ini sudah punya anak dua. Saya tidak tahu apakah ucapan selamatnya itu tulus. Yang jelas, ia juga setuju pada Socrates.

Minggu kemarin tiga orang teman sekantor dan satu teman kuliah menikah. Minggu ini seorang teman kuliah yang lain menyusulnya. Bulan Syawal mungkin bulan baik untuk menikah, terutama karena setiap hari diguyur hujan. Jakarta yang udaranya sudah digerus polusi saja bisa mencapai 27 derajat suhunya kalau malam [Jakarta sudah dianggap dingin dengan suhu sebesar ini].

Seorang teman kantor yang sudah masuk kerja lagi terlihat kuyu: muka pucat dan ada gelang hitam di bawa matanya. Ia kurang tidur. Katanya, seminggu sebelum menikah dan sesudahnya ia sudah begadang. Saya bilang, istrimu tak rela kau tidur denganya ya? Maksudnya si istri ini memaksa si suami begadang tiap malam. Si teman hanya mesem-mesem saja.

Katanya, orang yang sudah menikah sudah lebih maju selangkah di depan kita. Kita, tentu saja, kategori orang yang masih membujang. Saya tak punya sikap dengan idiom ini. Satu langkah di depan, saya kira, terlalu jauh. Memang, Chairil Anwar saja pernah bilang, “lahir, besar, kawin, dan mati” adalah siklus hidup seseorang. Alangkah sederhananya. Saya yakin, Chairil tidak sedang meledek hidup yang satir. Karena ia pun kawin, punya anak, mati muda, dan masuk IPTI (Ikatan Penyair Takut Istri).

Teman chatingku punya anak, tapi ia tidak kawin. Ia suruh pacarnya menghamilinya, lalu dipaksa meninggalkannya. Saya tidak tahu apakah ia pengagum Socrates. Ia tak pernah menyinggung-singgung soal filsuf yang mati minum racun cemara itu. “Saya ingin punya anak, tapi tak ingin punya suami,” katanya memberi alasan. Untung anaknya laki-laki.

Coba kalau perempuan. Betapa repotnya. Karena sejak ia positif hamil, semua file pacarnya itu dimusnahkan. Semua kontak dilenyapkan. Seolah pacarnya itu tak pernah lahir ke dunia, menyimpan benih manusia di rahimnya. Kelak jika anaknya menanyakan bapaknya, ia akan bilang “Bapakmu sudah meninggal.” Edan! Padahal, dalam Islam, yang wajib jadi wali menikah anak perempuan, ya, bapaknya itu.

Menikah memang merepotkan. Sepanjang yang saya tahu, bapak penghulu akan bertanya siapa yang jadi wali pengantin perempuan. Jika bapaknya, ijab qobul akan lancar. Tapi jika bukan bapaknya, pertanyaan akan berlanjut, kemana bapaknya. Pertanyaan berhenti jika si bapak sudah meninggal. Tapi jika tidak, pertanyaan akan terus dan terus hingga ijab qobul tak kunjung diucapkan. Jika bapaknya tak mau jadi wali harus ada surat kuasa bagi si wali perempuan. Itu pun jika alasannya kuat, misalnya, tinggal jauh karena cerai dengan ibunya. Saya kira, ini pun alasan yang tidak terlalu berat.

Maka itu, kata Zainuddin MZ, cerai adalah perbuatan halal yang dibenci Tuhan. Maka, jangan kawin kalau mau cerai. “Jangan menikah kalau tidak mau menyesal,” kata Socrates kali yang lain.

PANTURA

gema adzan subuh aku lelap tertidur…
gema adzan zuhur aku sibuk bekerja…
gema adzan ashar aku di perjalanan…
Tuhan…
pantaskah surga untukku?…

Ehm, jika Tuan suka bepergian dengan naik bus, Tuan akan akrab dengan lirik ini. Syair yang jadi lagu wajib para pengamen sepanjang jalur Pantai Utara Jawa. Tuan mungkin tak akan percaya atau memalingkan muka betapa kontrasnya para penyanyi syair ini dengan penampilan mereka. Lagu yang religius itu dinyanyikan oleh anak-anak muda dengan tampang kucel dan daki polusi yang menebal di muka, tangan, jari, telinga dan rongga hidung. Tuan akan bertanya, “Apakah mereka tahu syair apa yang sedang mereka nyanyikan?”

Mengekur religiusitas dengan kelakuan seseorang tak penting, Tuan. Coba dengar bagaimana mereka menyanyi. Mula-mula mereka akan menunjukan wajah beringas jika melihat bus Tuan berjalan pelan karena akan menurunkan atau menaikan penumpang. Mereka tak akan banyak, cuma sendiri, dua atau tiga. Kadang-kadang, memang, sampai lima. Mereka akan melompat melalui pintu depan dan belakang bus dengan menenteng gitar atau ukulele. Setelah menemukan tempat yang pas untuk bernyanyi mereka akan mengucapkan salam. “Kami para seniman jalanan Pantura…” begitulah, setelah basa-basi berterima kasih pada sopir, konektur dan penumpang yang telah memberi waktu untuk mengamen. Basa-basi yang khas Indonesia.

Lalu mereka akan menyanyikan lagu wajib itu secara medley dengan lagu-lagu yang mereka klaim sebagai ciptaannya sendiri. Tuan mungkin akan tersenyum mendengar pengakuan itu. Betapa tidak. Tuan, seperti sudah saya singgung tadi, akan mendengar lagu itu hampir dari seluruh pengamen yang naik bus sepanjang jalur Pantura.

Dua lagu sudah cukup. Satu lagu lagi tentang mereka tak dapat kerja karena PHK. Kadang juga lagu politik yang dinyanyikan mahasiswa jika demo: tentang protes harga-harga yang membumbung atau makin sempitnya lapangan kerja. Basa basi lagi. Mereka berterima kasih dan katanya, “Tuan dan Nyonya tak akan jatuh miskin jika hanya menyisihkan uang 500 atau 1000 perak. Iklas bagi Anda, halal bagi kami…” Salah satu dari mereka menyodorkan tangan. Satu lagu sebagai pengiring “ongkos menyanyi” itu masih diperdengarkan. Jang kaget, Tuan. Si peminta uang itu akan sedikit memaksa. Jika tangan Tuan melambai untuk menolak memberi receh, dia akan menunggu. Bahkan tak segan mereka akan menepuk pundak Tuan jika Tuan tertidur atau pura-pura tidur. Mereka meminta uang dengan memelototkan mata. Maka, sejak dari rumah, siapkanlah uang receh. Beri mereka seratus, dijamin mereka tak akan memelototi Tuan.

Agak menjengkelkan memang. Mungkin juga terasa sebagai teror. Karena Tuan akan tahu, sebelum atau sesudah keluar/masuk tol Cikampek, Tuan masih akan bertemu lagi dengan puluhan pengamen lainnya dengan syair dan polah yang sama. Tuan akan merasa aneh, kenapa para penumpang yang begitu banyak menurut saja dipaksa-paksa mengeluarkan uang memberi para pengemen itu. Mereka cuma berdua, sedang penumpang lebih dari 60 orang jika semua bangku terisi semua. Tuan berpikir, para penumpang itu mungkin takut jika mereka melawan penumpang lain tak akan ikut membantunya seperti cerita di koran tentang perampokan yang korbannya ditusuk hingga ususnya terburai. Tuan ngeri membayangkannya.

Di Indonesia,hari-hari ini, ketakpedulian semakin menebal. Apakah Tuan berpikir: ini ulah kapitalisme yang individual? Terlalu jauh Tuan. Kita mungkin sedang paralisis: tak peduli lingkungan, sekalipun jahatnya lingkungan itu. Padahal, aku yakin, para penumpang bus kelas ekonomi itu rata-rata berasal dari desa-desa di Jawa yang rumahnya pasti ditumbuhi pohon bambu, mangga, kelapa dan beternak ayam dan domba. Mereka yang setiap hari pergi ke sawah, dan meninggalkan pekerjaan itu jika mendengar ada tetangga yang ditinggal sanak-saudaranya atau ada yang mendirikan rumah.

“Asal tak menganggu gue, gue akan hormati lo.” Itu jargon kota, Tuan. Ini ulah Kota (dengan “K”) yang membuat orang desa tak peduli bahkan ogah bertegur sapa sekalipun. Kota telah membuat orang jadi asing di rumahnya sendiri. Kapitalisme mungkin punya andil dalam satu hal. Tapi sebagian kita selalu gandrung akan kota: sebuah lansekap tentang kumpulan kebisuan.