POLITISASI MASJID

Politisasi masjid tak hanya terjadi di kota-kota. Ada yang bilang pertumbuhan masjid seiring pertumbuhan korupsi.

Masjid adalah sebuah rendezvous yang dikangeni sekaligus suci. Di kampung-kampung masjid menjadi tempat pertemuan yang lebih sering dibanding balai desa. Jika di balai desa orang bertemu untuk suatu kerja gotong royong, pendeknya ada keperluan yang menyangkut hajat hidup orang desa, masjid menjadi tempat pertemuan apa saja. Saat magrib tiba, orang-orang tua datang ke masjid untuk salat, anak-anak ke masjid untuk mengaji dan sedikit main-main.

Continue reading “POLITISASI MASJID”

  •  
    37
    Shares
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

AA GYM

 

 

KH Abdullah Gymnastiar atau populer disapa Aa Gym makin mempesona. Setidaknya itu terjadi saat ia menghadiri peresmian Islamic Center Kramat Tunggak, Jakarta Utara, Selasa (4/2).

Pesona kyai muda asal Kampung Geger Kalong Bandung itu membuat ribuan massa rela berdesakan agar bisa dekat ke Aa Gym. Ibu-ibu dan anak-anak gadis berteriak histeris dan mengikuti ke mana pun si Aa pergi.

Saat Aa akan berkeliling meninjau kompleks Islamic Center mendampingi Gubernur Jakarta Sutiyoso, ribuan pengagum itu berdesak-desakan untuk mendekat ke tempat Aa, hingga meruntuhkan beberapa anjungan counter produk-produk Islami. Si Aa pun bukannya nyaman meninjau kompleks gedung, ia sibuk meladeni para pengagumnya untuk berjabat tangan. Sesekali Aa melempar senyum dan melambaikan tangan yang disambut remaja-remaja dengan histeria.

Yang repot, tentu saja, sepasukan pengamanan yang berusaha menjaga Aa Gym dari serbuan massa itu. Tapi, dasar Aa, bukannya menghindar, ia malah meladeni jabat dan cium tangan itu. Hingga beberapa kali Aa harus berhenti berjalan karena terkepung ribuan orang itu. Saat Aa keluar kompleks untuk menuju mobilnya, massa yang tadinya duduk di aula sontak berdiri dan ikut merubung Aa. Mereka menguntit hingga Aa masuk ke dalam mobilnya. Walhasil, Sutiyoso pun sepi dirubung warganya dan melenggang menuju mobilnya.

Beberapa ibu-ibu yang tak sempat melihat Aa dari dekat dan menjabat tangannya terlihat menyesal. Seperti tiga orang ibu dari Kebayoran Baru itu. Mereka sampai tak sadar, masuknya Aa ke mobil karena acara telah usai. “Aa Gym nanti balik lagi enggak, Mas,” tanya salah seorang dari mereka. Waktu saya jawab acara telah usai selama-lamanya, tiga ibu itu saling pandang. “Yah, padahal kita-kita mau foto-foto dulu,” kata si ibu yang lain. Mereka pun pulang tanpa membawa pose dengan Aa Gym untuk ditunjukkan ke para tetangga.

TAKSI BLUE(S)

 

Malam belum juga beranjak larut ketika seorang perempuan 25-an melambaikan tangan di depan Apartemen Brawijaya, Jakarta Selatan, untuk menghentikan taksi yang dikemudikan Yusnan (45). Dia seorang muda dengan pakaian laiknya perempuan malam: jins ketat, kaos ketat memperlihatkan udel yang ditindik, rambut dicat pirang dibiarkan tergerai, lipstik coklat tua berpadu selaras dengan kulitnya yang putih. “Ke Hotel Menteng, Bang,” pinta perempuan yang kemudian mengaku bernama Cindy itu.

Dengan semangat yang terpompa, Yusnan memacu kendaraan di jalan Jakarta yang licin dan mulai lengang. Yusnan, yang dasarnya memang ramah ke setiap orang, mulai bertanya ini-itu kepada penumpangnya itu. Yusnan tahu, Cindy sedang terlibat janji dengan seorang teman laki-lakinya. “Mungkin sudah dibooking,” duga Yusnan. Obrolan pun sampai pada berapa tarif Cindy semalam, yang dijawab “Tergantung”. Tergantung pada apakah mereka bercinta dengan sedikit dasar suka sama suka. Cindy malah rela tak dibayar, asal–tentu saja–segala keperluannya untuk berkeliaran malam hari terpenuhi: makan, nonton, beli celana, sepatu, lipstik, dll.

Mereka pun sampai ke Hotel Menteng. Cindy memijit sebuah nomor melalui telepon selularnya. Lama panggilan itu tak berjawab. Cindy mulai gelisah setelah beberapa kali panggilan teleponnya tak menuai jawaban dari seberang. Ia pun minta Yusnan menunggunya hingga didapat kepastian si teman laki-laki itu muncul dan memenuhi janjinya tadi sore. Tapi, hingga beberapa lama teman laki-laki itu tak datang juga. Cindy memutuskan untuk pergi ke Rawasari, Jakarta Timur. “Siapa tahu dia di sana,” begitu pikirnya.

Tapi, di Rawasari pun si teman tak terlihat lempang jidatnya. Cindy memutar haluan ke Kafe Bintang di kawasan Blok M. Ia turun di sana dan bertanya ke bartender yang sudah dikenalnya. Cindy belum bayar taksi dan meminta Yusnan menunggunya. Angka yang tertera di argo taksi sudah menunjuk angka Rp 50 ribu. Yusnan pun terpaksa menunggu.

Cindy keluar kafe dengan muka ditekuk. Si teman, katanya, tak juga ada di sana. Cindy makin terlihat bingung. Ia hanya memijit-mijit nomor yang terus tak berjawab. “Ya, tapi bagaimana ongkos taksinya,” kata Yusnan. Cindy minta agar Yusnan ikut bersabar. Lama ditunggu Cindy mengaku juga. Katanya, dia tak punya uang untuk membayar taksi. Rencananya, jika ketemu si teman itu, Cindy akan minta dibayar ongkos taksi. Yusnan pun hanya menghela nafas. “Tapi, bagaimana dengan ongkos taksi saya?”

Cindy malah menuliskan nomor teleponnya. “Abang telepon nomor saya, nanti kalau sudah punya uang saya bayar,” katanya. Yusnan tak bisa terima. “Bagaimana saya tahu itu nomor mbak, handphonenya saja saya pegang” tukasnya. Cindy menolak. Lama kedunya mencari jalan agar ongkos taksi itu bisa terbayar. Akhirnya, Cindy menawarkan tubuhnya untuk membayar ongkos yang membuat Yusnan terlonjak dari tempat duduknya. “Lama saya berpikir untuk tawaran itu,” katanya.

Pikir Yusnan, Cindy memang molek. Ia sendiri sudah tiga minggu tak pulang ke Pekalongan menjenguk istri dan tiga anaknya. Hasrat menyalurkan kelaki-lakiannya pun timbul. Ia hampir saja menerima tawaran Cindy, ketika suatu pikiran tiba-tiba melintas di benaknya. “Hidup saya di dunia sudah susah. Saya tidak ingin hidup saya kelak tambah susah,” katanya. Yusnan pun memilih pikiran yang kedua: ia menolak tawaran Cindy. “Sudahlah, Mbak. Kalau memang tak punya uang biar saja, mungkin ini rezeki saya,” katanya. Yusnan pun menurunkan Cindy di pintu keluar terminal Blok M.

Sambil memacu taksinya menuju pool Blue Bird sekaligus tempat tinggalnya di Kramat Jati, Yusnan tak habis pikir dengan kelakuan Cindy. Itu pengalaman pertamanya sejak memegang stir taksi tujuh tahun silam. Tapi belakangan ia menemukan banyak perempuan malam serupa yang gagal bertemu dengan laki-laki yang sudah berjanji mengencaninya. Di depan Hotel Sahid, kata Yusnan ketika saya menumpang di taksinya akhir pekan lalu, banyak perempuan malam yang menitipkan kartu nama untuk diberikan kepada penumpang yang kesepian.

Tapi Yusnan membuang kartu-kartu itu. “Ah, itu sih uang lendir istilahnya,” katanya, “rejeki saya bukan dari situ. Iya gak, Bang?” Padahal, kata Yusnan yang selalu menyebutkan frase ‘Iya gak, Bang’ di setiap ujung kalimatnya, jika ia mau setiap perempuan malam itu menjanjikan tips Rp 100 ribu untuk setiap lelaki yang dibawanya. “Bisa saja saya lakukan, banyak penumpang yang suka nanya perempuan yang bisa diajak kencan,” katanya. Yusnan mengaku tak kapok jika kelak ditumpangi pelacur cekak seperti Cindy lagi.

WAJAH

PADA dasarnya setiap orang adalah narsistis. Ini kesimpulan para peneliti di tayangan Discovery Channel. Puluhan tahun para peneliti itu mengamati bentuk wajah seseorang dengan pasangannya. Hasilnya, para responden cenderung memilih pasangan yang wajahnya selaras: ada kemiripan tertentu antara sepasang wajah yang berjodoh. Variasi-variasi wajah (atau tubuh?) yang menghasilkan keunikan itu juga menjadi daya tarik setiap orang.

Majalah Cosmopolitan baru-baru ini membuat polling tentang tubuh yang sempurna. Tubuh yang sempurna itu, begitu hasilnya, ketika seseorang punya wajah seperti Chaterine Zetta-Jones, bokong seperti Jennifer Lopez, betis seperti punya Rene Russo, dan punya dada laiknya Pamela Anderson. Meski jika digabung-gabungkan, manusia yang seperti itu mirip barbie yang gagal dicetak.

Kesimpulan peneliti di tayangan Discovery itu menyebutkan bahwa setiap orang akan menyukai atau cenderung respek pada wajah yang mempunyai keunikan menurut pandangannya, di mana keunikan itu juga terdapat di wajahnya sendiri. Itu pula kenapa lahir pameo bahwa cantik itu relatif. “Yang absolut itu yang tidak cantik,” kata seorang kawan, meski, menurut saya, tidak cantik juga masih relatif. Karena ia sendiri jatuh cinta pada pacarnya karena jempol jari kanan si cewek yang mirip kunyit.

Setiap bayi yang lahir, kata para peneliti, ketika ia mulai tahu dunia luar, yang dikenali pertama-tama adalah wajahnya sendiri, melalui ibu, bapak, adik, kakak, dan anggota keluarga yang lain. Bayangan tentang wajah-wajah itu terekam kuat dalam memori si bayi. Memori itu akan terus menghantuinya sepanjang ia hidup, sampai ketika ia memilih pasangan. Hal-hal lain dari faktor lingkungan akan mempengaruhi pilihan seseorang pada wajah seseorang yang lain. Tapi, ini bukan yang utama. Yang utama, ya itu tadi, bayangan tentang wajahnya sendiri.

Maka, Narcissus menolak cinta Dewi Gema yang amat menggilai ketampanan putra Dewa Sungai ini. Narcissus amat kagum dengan wajahnya sendiri yang terpantul lewat air sungai ketika ia membungkuk hendak minum. Setiap sore, ia kunjungi sungai itu hanya untuk melihat bayangan wajahnya sendiri. Anak Leiriope ini menaburkan bunga yang kelak diberi nama yang sama dengan namanya. Kita tahu, dalam mitologi Yunani yang terkenal itu, Narcissus mati di tepi sungai dengan gejolak kagum pada wajahnya sendiri.

Kita juga kagum pada Tuhan, juga manusia. Dia menciptakan lima miliar manusia yang kini masih nongkrong di muka bumi tanpa satupun kemiripan yang identik. Bahkan untuk dua orang bahkan tujuh orang bayi kembar sekalipun. Saya pernah dengar bahwa setiap kita punya tujuh orang kembaran yang mirip di bumi. Hanya saja setiap kita tidak tahu di mana tujuh “kita” itu. Tapi, kenapa cuma tujuh?

Dan menjadi narsistis bukan monopoli manusia. Burung dan hewan lain juga punya perilaku serupa. Selain meneliti ribuan manusia, para peneliti yang gagal diingat nama universitasnya di Amerika itu, juga meneliti ratusan burung. Di kaki setiap burung dilingkarkan cincin dengan pelbagai warna. Setiap burung punya variasi warna gelang yang berbeda-beda. Hasilnya, burung jantan yang punya gelang hijau cenderung akan kawin dengan burung betina yang juga punya gelang hijau, meski ada juga burung yang punya gelang biru berupaya mendekati burung dengan gelang merah. Tapi, burung gelang biru harus melewati fase menunggu dan perjuangan yang susah sungguh sebelum akhirnya bisa menaklukkan burung gelang merah.

Para peneliti itu tak menghubungkan perilaku narsistik dengan kisah kelahiran Adam dan Hawa yang ada di semua kitab agama-agama. Hawa, kata kitab agama yang kita percayai, diciptakan dari tulang rusuk kiri Adam. Kata Zainuddin MZ, itu pula kenapa perempuan bersifat seperti tulang iga. “Bentuknya bengkok. Kalau dilurusin patah, dibiarin ya terus bengkok,” kata dai yang tak lagi punya sejuta umat dalam ceramahnya suatu pagi lewat radio.

Saya tidak tahu, adakah analisis ini menuai penolakan dari para feminis. Yang jelas, konon, Narcissus mengagumi wajahnya sendiri karena hidung, seperti teman saya itu yang tergila-gila pada perempuannya karena bentuk jempol.

DI PARAPATAN CSW



Saban isuk, kuring sok nantung sababaraha waktu di parapatan CSW (lapur teu bisa ngalacak naon singkatan parapatan ka Blok M ieu. Tapi dilacak di Google CSW teh singkatan tina The Commission on the Status of Women. Jigana pas, soalna di beulah wetan aya gedong kantor ASEAN. Tapi teuing ketang, ngararaba wungkul. Babaturan urang Betawi pas ditanya naon singkatana oge godeg). Lalakon urang ayeuna, saurang tukang roko asong anu geus ngajentul di pinggir jalan beulah kulon samemeh kuring anjog ka parapatan eta.

Awakna jangkung badag. Buuk panjang ditutup sal anu sok dipake ku tukang naek gunung. Kulit hideung, bengeut bosongot. Pokona teu jauh jeung dedeg preman anu bisa dibayangkeun ku barudak di kampung. Tapi, pakeanna rada reseka. Pas jeung mode barudak jaman kiwari. Kameja kotak-kotak, calana jins anu di soek palebah tuur. Nya rada katulungan tah beungeut bosongot teh ku pakeanna.

Kusabab sababaraha isuk Jakarta disiram hujan wae, nya sim kuring oge huhujanan pas nyegat beus ka Tanjung Priok. Nah, si bosongot ieu mah teu paduli hujan sakumaha gedena. Najan baju jibreg, calana baseuh, awak ngagedeg, eh ngajentul wae di pinggir jalan. “Bisi aya rejeki,” ceunah basa babaturan tukang asong sejena ngageuingkeun. “Euh, rejeki mah moal kamana. Ditungguan jeung teu ditungguan sarua wae sakitu-kitu keneh,” babaturanna keukeuh. Manehna mah da nyumput di handapeun spanduk bari ngaweuweuw tiriseun. Dagangan mah cul dihujankeun di hareupeuna. “Gering mah moal cukup ku lima rebu,” ceunah.

Tah, sim kuring mah pas dua tukang asong gutreng parahi ngaledek, nangtung di pinggireun si bosongot. Nya kadenge naon anu dicaritakeun, naon anu diobrolkeun ku maranehna. Jiga isuk kamari. Kuring patepung deui jeung si bosongot. Aeh, aya nu poho. Najan awak badag tampang bosongot, gurak gerik si tukang asong ieu mah lemah lembut pisan. Lamun ngomong lemes, malah asa kabubudakeun, lamun leumpang lenjang. Persis jiga bikang. Banci jalma teh, ceuh hate. Mata mah angger molotot ka beulah wetan, bisi beus ujug-ujug nonghol.

Jiga biasana. Si bosongot geus ngajentul di pinggir jalan. Harita hujan mani badag pisan. Aya ereun ngan ngaririncik wungkul. Langit bodas cirining hujan bakal lila. Di pinggireun si bosongot aya saurang tukang asong sejen. Tapi, beda jeung si bosongot, si tukang ieu mah make payung. Bajuna teu jibreg teuing. Pas kuring nyampeur ka gigir maranehna, kadenge si bosongot keur cacarita.

Satadinamah kuring teu kaganggu ku obrolan dua jalma ieu. Mata tetep molotot ka beulah wetan. Tapi, ieu ceuli ngadenge oge naon nu diomongkeun. Si bosongot keur kukulutus. Manehna kasinggung ku babaturan sa kontrakan anu weleh embung mayar sewa kamer. “Dasar bebel budak teh,” ceuk si bosongot. “Kuring mah empot-empotan neang duit jang mayar kontrakan ari si eta kalah numpang sare jeung dahar wungkul. Saha nu teu ambek atuh,” sambungna.

Babaturana mairan. “Elingkuen atuh, tong ngomong satukangeun wungkul.” Si bosongot cicing. Tapi teu eleh, manehna mairan, ceunah si bebel babaturana boga adat ka kurung ku iga anu teu bisa diobah. Digeuingkeun unggal bulan, angger tara setor duit sewa. “Tapi lamun dahar pang lobana,” ceunah. Kuring teu nangkep, naon deui nu diomongkeun si bosongt jeung babaturana sabab beus kaburu jebul.

Isukna, kuring nyegat beus deui di parapatan CSW. Isuk tadi oge hujan. Si bosongot geus aya deui di pinggir jalan, ngajentul bari huhujanan. Kuring ngadekeutan deui. Mata molotot ka beulah wetan. Si bosongot keur uplek ngobrol. Kuring ngadeukeutan. Euh, nu diomongkeun masih keneh soal si bebel. “Kudu dipeuncti budak teh,” ceunah. Euleuh, mani make peuncit sagala. Ambekna si bosongot geus nyampe bool setan.

Tadi peuting, ceunah, manehna ngingetkeun si bebel deui. Tapi, si bebel kalah malik ngambek. “Maneh teu nyaho urang teu dagang saminggu?” “Yeh, dasar bebel. Maneh teu dagang urusan maneh, nu boga imah geus nagih wae. Hayang diusir maneh? Kuurang teh dibalikeun weh,” si bosongot carita bari leungeuna pepeta. “Ah, maneh mah bisa teh ukur kukulutus, cing buktikeun peuncit kadinya,” babaturana mairan. Kuring teu kuat ngadenge obrolan peuncit deui peuncit deui. Kuring mindah baur jeung panumpang sejen. Cing, hayang nyaho, bener teu si bosongot boga wawanen. Lamun bener kajadian, paling teu aya berita hebat poe isuk.