KHALIL GIBRAN DI ATAS BUS *

Sekeping rembulan rebah di saku baju
sekeping hati mencari di langit biru

Dua baris puisi Khalil Gibran itu meluncur ringan dari mulut Pace (24) di bus Mayasari Bhakti AC 49 Tanjung Priok-Blok M, Jumat (7/2) sore. Suaranya parau. Pace mengucapkannya tanpa teks. Ia juga mengutip puisi dan kata mutiara para penyair dan filsuf besar lain, juga tanpa teks. Ia misalnya mengutip pepatah lain “dari seorang pintar Jerman”: Hidup adalah lelucon bagi orang yang berpikir, tapi hidup adalah tragedi bagi orang yang terlalu memendam perasaan“.

Pace bukan mahasiswa filsafat atau aktivis suatu organisasi. Ia hanya seorang pengamen. Pendidikannya pun cuma tamat Sekolah Teknik Menengah pada 1997-1998. Tapi ia hapal beberapa lirik syair Khalil Gibran. “Saya suka Khalil Gibran, syairnya bagus,” katanya setelah kami turun di Grogol dan saya bisikan minta wawancara.

Sayang, pemuda kurus, hitam, dan gondrong itu, tidak ingat siapa orang pintar Jerman yang baru saja ia kutip kalimatnya. “Benar, kok, saya pernah membaca kalimat itu. Tapi lupa di buku apa, ya?” katanya. “Artinya jika kita ngoyo menjalani hidup, hidup akan terasa kejam,” kata Pace menjelaskan. Maka, tutur Pace dengan semangat, “Hidup harus diperjuangkan.”

Ia mengaku mengerti betul arti kata mutiara itu. Maka Pace pun mengamen di bus-bus yang menuju dan meninggalkan terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, setelah ia mencoba melamar pekerjaan namun tak ada yang mau menerimanya. Ia sudah kenal komunitas terminal sejak masih sekolah, yaitu pada 1996. Sejak lulus sekolah ia memutuskan meninggalkan rumah orang tuanya di Marunda, mencari sendiri biaya hidup, dan tinggal di rumah kos di daerah Timbangan.

Saat mengamen ia ditemani Budi (24). Keduanya bertemu di terminal setahun lalu dan memutuskan kos dan mengamen bareng. Pace mengaku terus memikirkan bagaimana teknik mengamen agar orang tak bosan. Ia tahu penumpang dari dan ke Tanjung Priok sebagian besar adalah pekerja yang setiap hari, tentu saja, orangnya itu-itu juga. Maka, selain membacakan kutipan tulisan para filsuf, kadang-kadang Pace membawakan monolog, kali lain campuran antara monolog dan lagu, campuran ketiganya sekaligus, atau membawakan puisi dan lagu bergaya penyiar radio bergelombang 49,9 FM..

Tema yang diusung dalam monolog, atau dialog dengan Budi, Pace kerap membawakan tema politik yang sedang hangat di Jakarta. Misalnya, ia menyoroti kebijakan pemerintah yang menaikan harga bahan bakar minyak, tarif telepon, dan listrik yang berujung maraknya demonstrasi mahasiswa. “Keadaan sudah susah, malah ditambah susah,” katanya. Pengetahuan itu mereka dapat dari membaca koran.

Pace juga hapal teks Proklamasi versi penyair Hamid Jabbar yang dibawakan saat pentas di Taman Ismail Marzuki pada 1999. Pace menonton Hamid lalu menghapalkannya. Saat menyinggung kondisi politik, Pace berteriak, “Kami atas nama bangsa Indonesia dengan ini menyatakan proklamasi kedua kali. Mengenai hal-hal yang menyangkut hak asasi manusia serta utang pitung negara yang tak ada habis-habisnya, Insya Allah akan habis atas terselenggaranya pemerintahan secara bersama dan seksama…”

Setiap hari, kata Budi, mereka mengantongi Rp 40-50 ribu. “Tapi tergantung,” timpal Pace, “itu kalau tanggal muda, kalau tanggal tua paling cuma Rp 30 ribu.” Uang itu mereka gunakan untuk bayar kos yang sebulannya Rp 125 ribu, makan, ditabung, beli buku Gibran, dan koran. “Lumayanlah bisa beli sepatu” kata Budi menunjuk sepatu koboy yang dipakainya.

Keduanya sadar, penumpang bus kerap menganggap pengamen sebagai anak jalanan yang beringas. Maka, saat membawakan dialog, Pace berusaha tampil lucu. Misalnya, ia pura-pura salah, atau mengutip kata-kata filsuf dua kali, lalu berkomentar sendiri itu sudah diucapkannya saat ia membuka “pertunjukannya”. Citra buruk itu, kata Budi, karena banyaknya pengamen yang meminta uang dengan memaksa, mencopet, atau menodong. “Di Tanjung Priok tidak ada yang seperti itu. Kalau ada, sudah kami gebukin rame-rame,” katanya.

Karena penumpang bus sebagian besar pekerja, Pace dan Budi sudah berangkat dari rumah pukul 06.00 dan baru pulang di atas jam 21.00. “Kalau jam sewa uangnya suka banyak,” kata Budi. Jam sewa adalah waktu ketika para penumpang berangkat dan pulang dari tempat kerja. Maka, setiap pagi dan sore itu, Pace selalu teriak, “Hidup adalah lelucon bagi orang yang berpikir…” Keduanya pun tersenyum jika hasil mengamen melimpah.

  •  
    37
    Shares
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

FENOMENA INUL

Fenomena Inul terjadi karena ia memberontak pada tatanan musik dangdut yang menye-menye dan membosankan.

INUL Daratista. Siapa yang tak kenal penyanyi dangdut yang punya “goyang maut” ini? Inul, gadis Pasuruan Jawa Timur itu, kini jadi “bintang” tiba-tiba. Ia tak punya sejarah keartisan yang mencorong sebelumnya. Sejarah ketenaran Inul sama halnya dengan sejarah kepopuleran Las Ketchup yang menyihir dunia dengan goyang Asereje.

Continue reading “FENOMENA INUL”

LAKI-LAKI PENUNGGU MALAM

Laki-laki penunggu malam, kapan kau berbaring, tidur untuk tubuhmu?

Saya selalu ingin mengatakan kalimat itu tiap kali berpapasan dengan laki-laki penunggu malam, yang duduk di sebuah simpang jalan dengan rutinitas yang absurd. Dia duduk di bangku satu kaki yang camping sandarannya. Membuka kancing baju bagian atas lalu mengayunkan robekan kardus bekas untuk mengundang angin. Adakah angin malam yang membuat kau selalu merindu?

Dia muncul tiap kali malam mulai menjelang, yaitu sekitar pukul 21.00. Tiba-tiba saja. Tak pernah diketahui dari mana ia datang. Dekat pos ronda, yang kosong ditinggalkan para penjudi seceng, dia selalu duduk dengan raut yang tak pernah bisa kutebak. Temaram lampu dari sudut pagar rumah di depannya tak mampu menyiram dan mengabarkan sesuatu di balik wajah laki-laki penunggu malam.

Dia selalu menghadap ke Barat. Punggungnya yang ringkih sedikit saja disandarkan pada sisa sandaran kursi yang camping itu. Sementara dua kakinya, yang terbungkus sepatu karet hitam, dibuka agak lebar untuk menahan tubuhnya agar tak goyah. Tangan kanannya, bergantian dengan tangan kiri, mengayunkan sobekan kardus tak henti-henti.

Dia agak gemuk. Rambut yang mulai rontok tapi masih hitam di usia yang kutebak tak lebih dari 40 tahun itu. Hidungnya bulat. Di keningnya, raut-raut ketuaan tak bisa disembunyikan di balik wajah tanpa ekspresi itu. Pipinya agak tembem, sehingga kerut di kedua sisi hidungnya membentuk lipatan simetris hingga ke ujung bibir. Perutnya juga membuncit.

Saya pernah lihat dia berjalan. Kakinya tampak berat melangkah, sehingga ayunan langkahnya membuat tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan. Lalu duduk lagi, mengayunkan sobekan kardus itu lagi. Mengundang angin Jakarta yang langka digerus polusi dan udara yang menipis. Laki-laki penunggu malam, dia tahu batas malam dan pagi, juga ketepatan gerah udara.

MARTY

Kenangan pada Marty, yang meninggal karena sebuah musibah, akibat kelalaian pengurus kota.
Marty, namamu menghias kepala berita Kompas Minggu (26/1). Namamu ditulis lengkap, sampai kelebihan “h” di belakang nama depanmu, “Martuah Manullang (26)…” si wartawan mungkin tergesa, mungkin juga kurang data, ketika menulis namamu di pembuka paragraf beritanya. Marty, mungkin kau sedang melihat di sana, ketika aku pegang koran itu dengan bergetar di gerbong tujuh Pakuan pagi-pagi. Berita itu begitu dekat, masih menyentak, meski aku sudah tahu via sms tentang kabar buruk yang menimpamu sehari sebelumnya.

Continue reading “MARTY”

PATEUH BANTAL



Tuan, jika Tuan bertanya dengan apa kita menikmati hidup? Hari-hari ini saya akan menjawab: dengan LEHER.

Maka beruntung Tuhan melengkapi kita dengan sebatang leher, yang menyangga kepala, menghubungkannya dengan badan, dan karena itu kita jadi hidup. Saya sedang membayangkan, seandainya manusia tak punya leher, mungkin dunia akan terasa sempit seperti ketika kita diserang pateuh bantal.

Bayangkan saja, bangun pagi itu jadi tidak menyegarkan, badan jadi panas dingin, “my body is not delicious,” kata seorang teman yang rajin memelesetkan padanan kata dalam bahasa Inggris. Tulang dan otot-otot terasa kaku, leher sakit jika menengok ke kiri atau ke kanan, apalagi ke atas-bawah. Kita akan berpikir mungkin dengan membanting kepala ke kiri dan kanan kaku itu akan hilang. Tapi salah, jangan pernah mencoba, meregangkan otot leher yang kaku karena pateuh bantal.

Jalan terbaik adalah membiarkannya, meski ini menjengkelkan. Mandi dengan air hangat, jangan lupa pakai sabun, soalnya bau, apalagi sehabis ngiler. Dan itu yang tidak saya lakukan. Saya meregangkan otot leher itu, memutar pinggang ke kiri dan kanan, lalu mandi dengan air yang jadi terasa dingin. Meski saya memakai sabun, otot itu makin terasa kaku seiring hari kian malam. Seharian itu, meski pasase ini leher masih bisa nengok, suhu badan menukik drastis dibanding suhu lingkungan.

Puncaknya terjadi pada tengah malam. Tuan tak akan bisa memejamkan mata kendati meletakan leher hati-hati pada bantal. Semahal dan seempuk apapun bantal itu, otot Tuan tak akan menerimanya. Tuan akan membalikan badan ke kiri atau kanan untuk mencari posisi yang pas buat leher. Tapi tidak, apapun posisinya, leher itu tetap terasa sakit. Berbaring pun tidak menolong. Selain badan Tuan bertumpu pada punggung, yang kian lama akan terasa pegel, otot kaki nyaris tak bisa diselonjorkan dengan santai. Akibatnya, kekakuan kian merambat.

Satu-satunya cara adalah bangkit dan duduk. Jelas, ini bukan jurus yang bagus. Dalam hari yang selarut itu, Tuan sudah ngantuk, bukan? Tapi leher tambah sakit. Maka Tuan berbaring lagi. Dalam kehati-hatian menyandarkan kepala itu, otot leher kini jadi tumpuan badan. Akibatnya, leher semakin sakit. Setelah tergelatak di bantal pun, leher semakin tidak nyaman, karena jika salah satu bagian badan bergerak, kontraksinya akan langsung ke leher. Pendeknya: MENJENGKELKAN!!!, ditambah harus begadang semalaman karena otak terus berpikir bagaimana cara terbaik memberi kenyamanan pada otot leher.

Dunia hanya ada di depan mata; sekeliling tak. Betapa sempitnya. Mungkin kita harus menempelkan koyo di leher belakang dan di belikat untuk memberi efek panas. Jika Tuan hidup di kampung, para tetangga akan menyarankan seperti ini: jemur bantal yang semalam kita tiduri sebelum pateuh itu menyerang. Ingat, jemur di tempat yang panas. Setelah bantal itu cukup menyerap panas, tidurilah bantal itu. Letakan otot leher yang kaku persis di bagian bantal yang cukup menyerap panas. Jangan hiraukan terik matahari menyorot wajah Tuan. Itu pengorbanan, jika Tuan ingin pateuh itu berpindah ke bantal. Tuan boleh percaya dan mencoba melakukannya; boleh juga untuk tidak percaya, para tetangga itu tak akan memaksa kehendak Tuan.

Jika panas itu sudah terasa cukup menyerap ke leher, bangunlah. Terlalu lama bisa membuat Tuan dituding sedang menyelami ilmu ngepet oleh orang-orang yang lewat. Tunggu beberapa saat sampai reaksi panas itu menyerap dan meregangkan otot-otot secara alami. Tahan, meski orang sekeliling menyeringai melihat badan Tuan seperti sebuah robot: lucu dan bisa menjerit jika dicubit.

Saya tak punya padanan kata yang pas untuk jenis rasa sakit seperti ini. Dalam bahasa Indonesia, kesakitan ini malah disebut salah tidur, atau salah bantal. Saya tak mau memakai kata ini, karena saya tak mau menyalahkan tidur, juga tak mau menyalahkan bantal. Pateuh bantal kali ini pun bukan disebabkan karena bantal, tapi karena saya tidur di kursi. Bahasa Indonesia tak cukup punya padanan untuk kata pateuh, selain kata serapan dari Bahasa Jawa: keseleo. Seperti yang sering dipesankan Ibu Guru kita waktu kecil: “Kalian harus pateuh sama perintah orang tua.” Loh…