PERANG, PERANG, PERANG…

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Di Inggris, kata “war” lebih populer dibanding “seks” atau “Britney”. Paling tidak itu yang dicatat oleh Freeserve: kata perang lebih banyak diklik sejak minggu ini. ABC menurunkan beritanya. Tapi, itu di Inggris, di Indonesia, yang paling banyak masih INUL. 😀

DI MANA LETAK DUNIA DALAM SELEMBAR KORAN?

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Jika saya harus memutuskan, memilih pemerintahan tanpa koran atau koran tanpa pemerintahan, saya tak akan ragu memilih yang kedua.”

Thomas Jefferson, 17 Januari 1787, dalam sebuah surat untuk Kolonel Edward Carrington.

Continue reading “DI MANA LETAK DUNIA DALAM SELEMBAR KORAN?”

MINYAK

Facebook

Twitter

Visit Us
LinkedIn

RSS
Follow by Email

15 Maret 1938. Tanggal ini menjadi penting, karena untuk pertama kalinya para insinyur menemukan ladang minyak di Arab Saudi.

Sebuah penemuan yang berpuluh tahun kemudian akan mengundang petaka. “Minyak,” kata seorang mantan Raja Iran, “adalah petaka bagi dunia Arab.” Kita tahu ucapan yang masyhur dari seorang raja Iran sebelum dimakjulkan itu akan menjadi benar bahwa minyak menjadi alasan yang paling inti sebuah kekuasaan bisa menaklukan nyawa manusia.

Raja itu, Syah Reza Pahlevi, kemudian mendapat tentangan dan disingkirkan karena berupaya menghalangi orang untuk mendapatkan bahan bakar itu. “Cerita tentang minyak,” kata dia kemudian, “adalah kisah yang paling tidak manusiawi yang pernah dikenal manusia.” Minyak itu pula yang membuat ngiler setiap penguasa, dan menerbitkan pelbagai revolusi berdarah yang memakan tumbal nyawa manusia, batas, dan geografi.

Dalam The Shah’s Story, sebuah biografi Pahlevi yang diterbitkan pada 1980-an, raja itu bercerita bahwa minyak melahirkan pelbagai persekongkolan ekonomi dan politik yang melahirkan teror, kudeta, dan revolusi berdarah. Untuk itu, sekali lagi, dengan tegas tapi bernada murung, ia bilang bahwa minyak adalah petaka.

Aneh juga memang, di sebuah wilayah dengan minyak yang melimpah, selalu saja ada kemiskinan sebagai korban. Minyak bukan sumber daya yang langsung berpengaruh pada hajat hidup orang banyak, seperti cabai, misalnya. Minyak perlu pengelolaan yang apik dengan teknologi. Dan teknologi bukan berasal dari wilayah yang disebut Dunia Ketiga. Teknologi berasal dari wilayah kekuasaan yang punya duit. Para insinyur berbondong-bondong bekerja di negeri asing.

Itu pula yang terjadi kini, dan mungkin seterusnya. Saat pertama kali orang menemukan minyak, masyarakat Yunani Kuno melempar minyak-minyak itu untuk membakar kapal-kapal musuh yang merapat ke pantai. Baru pada 1859, di Pennsylvania, Colonel Edwin Drake mengebor sebuah sumur sedalam 69 kaki. Sejak itu pengeboran menjadi salah satu cara untuk mendapatkan minyak bumi.

Tapi semakin tua bumi, semakin beragam kebutuhan orang. Pesatnya jumlah penduduk menjadikan teknologi menjawab pelbagai kebutuhan itu dengan beragam tawaran. Dan teknologi, tentu saja, berimbas pada semakin meningkatnya kebutuhan bahan bakar. Amerika kini sedang butuh minyak.

Diperkirakan konsumsi minyak Amerika akan meningkat 30 persen dalam dua dekade dan menjadi dua kali lipat menjelang 2020. Tapi, Kelompok Pengembangan Kebijakan Energi Nasional AS pada Mei 2001 mengumumkan bahwa produksi minyak dalam negeri akan berkurang 21 persen dalam jangka 20 tahun ke depan. Karena itu, bidikan Amerika jelas: Irak menjadi penghalang pengusaan minyak di Timur Tengah, terutama di lautan Coxswain.

Kendati Amerika menyangkal target serangan itu adalah minyak, tetapi senjata pemusnah massal, toh dugaan itu sudah menjadi rahasia umum. Strategi penaklukan Taliban di Afganistan lalu menggantinya dengan rezim pro adalah langkah yang paling gampang dicium untuk melebarkan strategi lanjutan ke Timur Tengah. Meski, Saddam Husein sendiri mempunyai catatan sejarah yang tak gampang ditolelir dalam ceruk kekuasaannya.

Orang-orang di sekeliling Presiden Bush, adalah para pembisik yang jas dan dasinya berbau solar. Sementara anggaran belanja untuk senjata dan tentara jauh lebih besar dibanding anggaran untuk kebutuhan lain. Maka, tak ada jalan lain selain memanfaatkan anggaran itu untuk memburu “hantu” teroris Usamah Bin Ladin dan menggempur Irak, serta menaklukan dunia untuk mewujudkan impian jadi globo-cop.

Ucapan Pahlevi makin terdengar benar hari-hari ini, menjelang tenggat keputusan Dewan Keamanan PBB merestui bergeraknya 200 ribu tentara Amerika yang sudah bercokol di Turki dan perbatasan Irak lainnya. Lobi yang gencar dengan iming-iming penghapusan utang, pinjaman yang besar, menggoyahkan negara miskin yang punya suara di PBB untuk berpaling mendukung Amerika.

Saya ingin menulis tentang minyak karena ini menyangkut nasib dan trauma jutaan manusia pekan depan, juga karena minyak, ternyata, ditemukan orang di Arab pada 15 Maret.

KETEMU SITOR

Facebook

Twitter

Visit Us
LinkedIn

RSS
Follow by Email

 

Saya ketemu Sitor Situmorang Rabu malam pada acara pembacaan puisi di Galeri Cemara. Ternyata, ia seorang yang kocak. Itu pertemuan fisik kami yang pertama. Saat break acara pembacaan puisi penyair Indonesia-Prancis itu, saya dekati dia. Saya jabat tangannya dan bertanya kabar. Ia hanya manggut-manggut sambil memegang tongkat kayu berukir untuk menyangga tubuhnya saat jalan.

Pertemuan itu tak urung membuat saya gemetar. Saya kelewat ingin memanfaatkan kehadirannya untuk hal-hal yang ingin saya obrolkan, misalnya, soal buku Salju di Paris itu, atau tentang puisi Malam Lebaran yang heboh itu, atau tentang blog ini. Tapi, yang keluar dari mulut saya adalah hal-hal yang tak pernah saya pikirkan. Saya hanya bertanya kegiatan hariannya. “Ya, begini-begini saja,” jawab Sitor.

Saya bilang bahwa saya punya website pribadi yang namanya saljudiparis yang diambil dari judul kumpulan cerpen miliknya. “Saya minta izin, Pak,” kata saya. Dia tertawa. “Silakan,” katanya, “tapi nanti kau dituntut kantor hak cipta. Kau bisa dituntut sampai bangkrut.” Ia terkekeh, saya juga terkekeh. “Saya ini generasi ketinggalan internet,” ia menyambung. Obrolan terputus, karena ada seorang penggemar lain yang mengajaknya bicara.

Malam itu Sitor tampil di penghujung acara dengan membaca dua puisi yang relatif baru. Dengan batik hijau dan rambut yang putih, Sitor tampak tua, tapi masih terlihat segar di usianya yang ke-79. Ia maju ke depan mik. Berbasa-basi menjelaskan judul puisi yang akan dibacanya. Tapi, sial, saat ia membaca Tamasya Batu-batu Karang Lembah, mik mati, suara Sitor tak bergema ke ruangan. Ia pun celingukan.

Seseorang kemudian mengambil mik itu. Sitor tersenyum sambil menyentuh-sentuh gagang mik yang sudah kosong, dan penonton tertawa. Pembawa acara mengganti mik dengan wire yang dicantolkan di kancing baju Sitor. Ia diam saja ketika pembawa acara yang tampil modis itu mengaitkan mik. “Teknologi canggih,” katanya. Kini ia sudah siap membaca puisi.

Tamasya Batu-batu Karang Lembah adalah puisinya yang dibuat pada 2001, tentang kerinduan pada kampung halaman. Di bawah judul puisinya, si “Anak Hilang” itu menulis: untuk Atun di usia 75. Atun adalah panggilannya untuk penyair Ramadhan KH yang juga tampil membacakan dua puisi menggantikan Joko Pinurbo. Saat Sitor memanggil Atun, penyair Priangan si Jelita itu pun melambaikan tangan. Saya kutip utuh dua syair Sitor itu di sini.

Tamasya Batu-batu Karang Lembah

(Upacara)
untuk Atun
di usia 75

ini aku datang lagi ziarah
tertegun menatap dari lereng lembah
melayangkan pandang khayal batu-batu karang
aral-melintang sekujur dasarnya
membentang

tamasya jagadraya (masih wacana)
lukisan citra sang arsitek
Borobudur yang baka
lantunan lagi panen abadi
Yang memadukan hidup dan mati

sambil sadar–aku ke Jakarta akan kembali–
(lagi pula) rindu Paris bisa bangkit lagi
sambil terangkat hanyut irama tarian
puak
saat tubuhku seluruh menghirup serempak

baubauan panen semesta
menuju moksa jagadraya
……

2001

Angin Sepoi di Pagi Tahun Baru
untuk Hans dan Joosye Teeuw

Inilah pemandangan pertama
di pagi hari tahun baru:
Langit biru cerah

(salju belum turun juga)

Di dahan pohon dekat jendela
tua lagi gundul tak berdaun
seperti lazimnya musim dingin

nampak tiga ekor merpati
diam berjemur seperti menyambut
dari luar waktu

Selainnya alam masih terdiam
seperti menanti sesuatu pertanda
dari luar waktu

Seketika
buluh halus merpati
nampak nyaris bergetar

Tertutup angin sepoi
dari alam di luar alam…
Di pantai Scheveningen,
1 Januari 1998

Penonton memberi aplaus yang panjang. Sitor hanya tersenyum sambil duduk kembali di kursinya. Malam itu ia datang ditemani istrinya yang duduk di barisan penonton dengan senyum yang tak pernah lepas. Seorang perempuan Prancis yang setia menemani Sitor di setiap acara seni yang menghadirkan suaminya jadi pembicara.

Acara selesai pada pukul 21.15. Saat bubaran, saya mendekati lagi Sitor. Kali ini saya mengenalkan diri yang tadi sempat lupa menyebut nama. Tak lupa saya minta nomor telepon untuk sewaktu-waktu saya menghubunginya karena urusan kerja. Saya berterima kasih dan menyalaminya, juga menyalami istrinya, dan Ramadhan KH yang berdiri di samping Sitor.

Selain Sitor dan Ramadhan, pembacaan puisi itu juga dihadiri penyair Indonesia lainnya antara lain Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Toety Herati, Eka Budianta, Embun Kenyowati Ekosiwi, dan Dorothea Rosa Herliani. Sedangkan dari Prancis: Christian Doumet, penyair kelahiran 1953 yang juga mengajar Sastra Prancis dan Estetika Musik di Universitas Paris VIII; dan Pascal Riou, penyair kelahiran 1954 yang tinggal di Selatan Prancis dan mengajar sastra dan filsafat.

BLOGPORN

Facebook

Twitter

Visit Us
LinkedIn

RSS
Follow by Email

Seminggu ini, saya agak murung, tapi bisa senyum-senyum. Saya catat hampir 30 pengunjung blog ini dalam sepekan terakhir kebanyakan orang yang nyasar. Dan mereka nyasar untuk hal yang membikin saya murung. Blog saya ternyata diketemukan orang lewat kata-kata : inul, inul daratista, inul telanjang, payudara, ukuran p*&&$, seks, dan sejenisnya.

Kata-kata ini, di komputer kantor saya jelas tak bisa dibuka di situsnya. Kata-kata yang mengandung pornografi semacam teen, adult, k**n%$, m&*^^ (maaf, saya menyensor sendiri tulisan ini), yang konon adalah kata yang paling banyak dicari oleh para peselancar, tak ada tempat di komputer-komputer kerja.

Meski saya bisa senyum-senyum karena ternyata blog saya dibaca orang, meski semula mereka punya niat bejat. Seorang teman meledek bahwa blog saya sudah berubah jadi blog “syuur ah”. Padahal, saya menuliskan Inul karena ia fenomenal, atau menuliskan judul seks karena ingin berbagi pengalaman tentang pengetahuan seks yang masih tabu itu. Atay saya bercerita tentang Cindy yang mengaku rela dibayar dengan traktiran suatu malam. Atau saya tulis Kramat Tunggak, waktu menyaksikan Aa Gym dikerubungi ibu-ibu.

Tapi, saya tak kapok menulis tentang hal ihwal yang berhubungan dengan kebutuhan manusia paling dasar itu. Karena seks, dan pronografi adalah anak kandung lansekap bernama kota, dan ibu kandung internet. Maka, kepada para peselancar, saya ucapkan selamat datang. Maaf, jika tulisan di blog ini ternyata mengecewakan Anda.

UPDATE. Inul sudah masuk Time. Klik di sini