SIAPA SURUH DATANG KE JAKARTA

Siapa suruh datang ke Jakarta. Kota yang dicaci tapi dicari.

GUBERNUR Jakarta itu berdiri tak kurang dari lima meter di depan saya. Ia sedang berpidato di depan ratusan pedagang saat meresmikan sebuah pasar di Jakarta Selatan. Terutama ia berbicara soal polusi di Jakarta. Dia menyodorkan data, Jakarta dipenuhi 11 juta manusia pada siang hari, padahal manusia yang menetap di ibukota ini hanya 9 juta. Selebihnya datang dari pinggiran: Bogor, Tangerang, Bekasi. “Mereka ini yang menebar polusi di Jakarta, bikin jalan macet, tapi pajak mereka masuk Jawa Barat,” katanya. Nadanya penuh geram.

Maka Sutiyoso, nama gubernur dua periode itu, bertitah agar para pedagang selalu menjaga kebersihan pasar. Kalau tidak bisa, “Yo, wis balik ndeso meneh,” yang disambut tawa pedagang. Dan selama pidato setengah jam itu, dia lebih banyak menyampaikan idiom dalam bahasa Jawa, kecuali ketika ia ngomong “gua” untuk dirinya sendiri, sesekali. Sutiyoso paham pedagang di Jakarta bukan orang asli Betawi. Para pedagang, dan mereka yang menangguk rezeki di ibukota, bukan mereka yang merasa memiliki kota ini. Sebagian besar penduduk Jakarta hanya sebagai flaneur.

Seorang teman, yang juga mendengarkan pidato Sutiyoso, tersenyum. Ia datang jauh dari dusun di Wonosobo, Jawa Tengah. “Jakarta,” katanya menyeringai, “bukan tempat yang bagus untuk hidup.” Saya terkejut. Saya kira ia betah tinggal di Jakarta. Wajahnya legam. Rambutnya gimbal tak kenal sisir. Setiap hari, dengan sepeda motornya, ia keluyuran keliling Jakarta mencari berita. Tak segan ia datang ke Merunda di Jakarta Utara jika ia dengar ada orang mati dibunuh malam tadi. Sorenya ia sudah mewawancarai polisi di Jakarta Barat, atau bertadang ke Balai Kota.

Si teman ini, saya yakin, hapal betul seluk beluk Jakarta: panasnya, macetnya, klakson mobil-mobilnya, pengkolan-pengkolannya, taman-tamannya. Tapi, saya ragu, adakah ia mencintai kota ini. Sepertinya tidak. Ia selalu mengutuknya sebagai kota yang salah lahir, salah bentuk, juga salah urus. Maka, ia hanya menyeringai mendengar titah Sutiyoso itu.

“Jakarta hanya bagus untuk korupsi… juga bunuh diri,” ia berbisik mendekatkan mulutnya yang bau asem asap tembakau. Bunuh diri? Ia menyebut sebuah hasil penelitian. Katanya, umur orang Jakarta makin pendek dari tahun ke tahun karena lingkungan yang buruk. Ia membenarkan omongan Sutiyoso, tapi tak sepenuhnya setuju. Orang tuanya di kampung, katanya di antara semburan asap rokok, kini masih hidup dan bugar di usianya yang ke-80, bahkan masih bisa nyangkul di sawah dengan mulut menggepit kretek.

Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari tulis Jujur Prananto lewat cerpennya di Kompas menjelang lebaran 1999. Jakarta memang menyenangkan saat lebaran: tak ada macet yang jadi hantu bagi para pejalan, tak ada jerit klakson, tak ada deru, tak ada debu. Pada lebaran orang-orang pulang, dengan bus, feri, meski harus tidur di depan loket agar kebagian tiket. Mudik selalu disambut dengan suka cita. Stasiun TV bahkan harus merelakan sebagian acaranya untuk secara khusus meliput arus mudik di terminal, pelabuhan, pintu tol, dan kampung-kampung. Dan mudik telah membuat arti “pulang” berkait erat dengan Jakarta.

Kata pulang, di kota ini, telah tereduksi menjadi dua arti. Pulang dalam arti balik dari tempat kerja ke rumah kontrakan; atau pulang mudik ke kampung. Dua-duanya tak menunjukan kepemilikan kepada Jakarta. Dua-duanya mengasingkan diri dari Jakarta. Kota ini bukan sebuah tujuan akhir yang direncanakan. Jakarta hanya sebagai tempat singgah.

Tapi, Koes Plus menyanyikan Kembali ke Jakarta dengan riang. Jakarta ternyata masih membawa semangat, daya tarik, harapan, meski tetap saja terdengar hanya kesementaraan. Seperti teman saya ini (ia ternyata masih bersemangat ngomong di sana), sejelek apapun ia mengutuk Jakarta, toh ia tetap memulai hari dengan semangat: pagi-pagi berkeliling dengan motornya hingga sore dan baru pulang ke rumah lepas malam. “Ah, itu sih tuntutan,” katanya, membuang ludah, dan mengisap rokoknya, “mau makan apa anak dan istriku…” Ia terus saja menyerocos, hingga ia lupa Sutiyoso sudah menyelesaikan pidatonya. “Wah, opo beritane?….”

  •  
    37
    Shares
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

CURHAT SOPIR ANGKOT

Curhat sopir angkot: cintamu sebatas HP, HP-ku hilang cintamu melayang.

Ini bukan iklan, hanya sebuah kalimat yang menempel di kaca belakang mikrolet M11 jurusan Kebon Jeruk-Slipi. Ketika membuat tulisan itu, si sopir mungkin sedang putus cinta. Ia ditinggal pacarnya, hanya karena ia tak punya henpon. Si sopir jengkel, lantas mencomooh pacarnya itu, lalu membuat tulisan itu.

Continue reading “CURHAT SOPIR ANGKOT”

SEKOLAH YANG MEMBEBASKAN

Sekolah yang membebaskan, dari sebuah film Cina yang mengharukan.

“Jangan ada lagi murid yang meninggalkan sekolah.” Pesan guru Gao Enman sebelum meninggalkan desa Shuiquan, Provinsi Hebei, Cina, itu menancap di benak guru Wei Minzhi. Ia, tentu saja, shocked. Di usianya yang ke-13, Wei merasa dibuang ke Shuiqian yang miskin dan sepi. Shuiquan bukanlah tempat menyandarkan impiannya yang ingin menjadi guru di kota. Tapi, Guru Gao, yang telah menjadi kepala sekolah seumur hidup itu, menghiburnya bahwa itu akan menjadi jembatan Wei bisa diangkat menjadi guru di kota. “Lihatlah aku, Wei,” katanya, “kini sekolah-sekolah di kota memerlukanku.”

Continue reading “SEKOLAH YANG MEMBEBASKAN”

DINAR

Masokisme dalam novel debut Dinar Rahayu. Tema dan penceritaannya menjanjikan.

Ough!! Akhir pekan yang membosankan. Dua hari gak ngapa-apain. Tadinya mau nonton F4 (he-he-he), cuma gak kebagian tiket karena udah diborong keluarga presiden Megawati :)). Untung ada Dinar Rahayu. Dia penulis novel asal Bandung. Ini novel perdananya; judulnya Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch. Dari judulnya saja orang sudah tahu, novel ini bercerita tentang masokisme. Waow!

Continue reading “DINAR”

TEKNIK MENULIS BERITA*

Teknik menulis berita untuk pemula. Semacam jurnalisme dasar.

MENULIS adalah pekerjaan seni. Pelukis terkenal Sudjojono pernah ditanya seseorang, “Bagaimana Anda melukis?” Sudjojono malah balik bertanya, “Apakah saudara punya buku panduan naik sepeda?” Begitulah. Menulis berita pun tak jauh beda dengan pekerjaan melukis.

Namun, karena berita menyajikan fakta-fakta, ada kaidah-kaidah tertentu yang tak boleh ditinggalkan seorang wartawan. Ada begitu banyak buku panduan dan teknik menulis berita yang sudah diterbitkan yang ditulis wartawan senior, meski pokok-pokoknya mengacu pada satu hal. Jika pun makalah ini ditulis, hanya sedikit pokok-pokok yang bisa dijelaskan, karena menulis berita tidak mungkin diuraikan secara sistematis.

Berbeda dengan majalah yang sifat beritanya lebih analisis, berita keras tidak boleh beropini. Sehingga tulisan hanya menyajikan fakta-fakta. Dan waktu juga menjadi perhatian lainnya. Berita majalah berbentuk feature berita sehingga sifanya tidak tergantung waktu. Sedangkan koran yang terbit harian sifat beritanya pun terbatas oleh waktu. Esok harinya, sudah ada berita baru sebagai perkembangan berita sebelumnya. Apalagi media dotcom yang melaporkan perkembangan dari jam ke jam bahkan dari menit ke menit. Di sini hanya akan dibatasi menulis berita keras.

Judul
1. Judul berita sebisa mungkin dibuat dengan kalimat pendek, tapi bisa menggambarkan isi berita secara keseluruhan. Pemberian judul ini menjadi penentu apakah pembaca akan tertarik membaca berita yang ditulis atau tidak.

2. Menggunakan kalimat aktif agar daya dorongnya lebih kuat. Seorang penulis novel terkenal, Stephen King, pernah mencemooh penulis yang menggunakan kalimat aktif. “Kalimat pasif itu aman,” kata King. Mungkin benar, tapi memberi judul berita bukan soal aman atau tidak aman. Judul aktif akan lebih menggugah. Bandingkan misalnya judul “Suami Istri Ditabrak Truk di Jalan Tol” dengan “Truk Tronton Tabrak Suami Istri di Jalan Tol”. Judul kedua, rasanya, lebih hidup dan kuat. Namun pemberian judul aktif tidak baku. Ada judul berita yang lebih kuat dengan kalimat pasif. Biasanya si subyek berita termasuk orang terkenal. Misalnya judul “Syahril Sabirin Divonis 3 Tahun Penjara.”

3. Persoalan judul menjadi menarik seiring munculnya media berita internet. Memberi judul untuk koran yang waktunya sehari tidak akan memancing pembaca jika mengikuti peristiwa yang terjadi, karena peristiwa itu sudah basi dan ditulis habis di media dotcom. Memberi judul untuk koran sebaiknya memikirkan dampak ke depan. Misalnya, judul “Syahril Sabirin Divonis 3 Tahun Penjara.”

Bagi koran yang terbit esok pagi, misalnya, judul ini basi karena media dotcom dan radio (juga) televisi, sudah memberitakannya begitu vonis dijatuhkan. Untuk mengetahui dampak ke depan setelah vonis dijatuhkan, wartawan yang meliput harus kerja lebih keras. Misalnya dengan bertanya ke sumber-sumber dan Syahril sendiri soal dampak dari vonis itu.

Pembaca, tentu saja ingin tahu perkembangan berikutnya pada pagi hari setelah mendengar berita tersebut dari radio, televisi dan membaca internet malam sebelumnya. Namun, soal judul untuk koran dan media dotcom dengan cara seperti ini masih menjadi perdebatan. Karena judul “Syahril Sabirin Divonis…” masih kuat ketika ditulis esok harinya. Ini hanya soal kelengkapan saja. Jika dotcom dan media elektronik hanya membuat breaking news-nya saja, koran–karena mempunyai waktu tenggat lebih lama–bisa melengkapi dampak-dampak tersebut di tulisannya, meski memakai judul yang sama.

Lead
1. Selain judul, lead bisa menjadi penentu seorang pembaca akan melanjutkan bacaannya atau tidak. Sehingga beberapa buku panduan menulis berita menyebut lebih dari 10 lead yang bisa dipakai dalam sebuah berita. Namun, hal yang tak boleh dilupakan dalam menulis lead adalah unsur 5W + 1H (Apa/What, Di mana/Where, Kapan/When, Mengapa/Why, Siapa/Who dan Bagaimana/How) . Pembaca yang sibuk, tentu tidak akan lama-lama membaca berita. Pembaca akan segera tahu apa berita yang ditulis wartawan hanya dengan membaca lead. Tentu saja, jika pembaca masih tertarik dengan berita itu, ia akan melanjutkan bacaannya sampai akhir. Dan tugas wartawan terus memancing pembaca agar membaca berita sampai tuntas.

2. Lead terkait dengan peg atau biasa disebut pelatuk berita. Seorang reporter ketika ditugaskan meliput peristiwa harus sudah tahu “pelatuk” apa yang akan dibuat sebelum menulis berita. Pelatuk berbeda dengan sudut berita. Ada satu contoh. Misalkan seorang reporter ditugaskan meliput banjir yang merendam ratusan rumah dan warga mengungsi. Yang disebut sudut berita adalah peristiwa banjir itu sendiri, sedangkan peg adalah warga yang mengungsi. Mana yang menarik dijadikan lead? Anda bisa memilih sendiri. Membuat lead soal mengungsi mungkin lebih menarik dibanding banjir itu sendiri. Karena ini menyangkut manusia yang secara langsung akan berhubungan dengan pembaca. Berita lebih menyentuh jika mengambil lead ini. Manusia, secara lahiriah, senang menggunjingkan manusia lain.

Badan Berita
1. Penentuan lead ini juga membantu reporter menginventarisasi bahan-bahan berita. Sehingga penulisan berita menjadi terarah dan tidak keluar dari lead. Inilah yang disebut badan berita. Ada hukum lain selain soal unsur pada poin 1 tadi, yakni piramida terbalik. Semakin ke bawah, detail-detail berita semakin tidak penting. Sehingga ini akan membantu editor memotong berita jika space tidak cukup tanpa kehilangan pentingnya berita itu sendiri.

2. Untuk lebih mudahnya, susun berita yang berawal dari lead itu secara kronologis. Sehingga pembaca bisa mengikuti seolah-olah berita itu suatu cerita. Teknik ini juga akan membantu reporter memberikan premis penghubung antar paragraf. Hal ini penting, karena berita yang melompat-lompat, selain mengurangi kejelasan, juga mengurangi kenyamanan membaca.

3. Cek dan ricek bahan yang sudah didapat. Dalam berita, akurasi menjadi hal yang sangat penting. Jangan sungkan untuk menanyakan langsung ke nara sumber soal namanya, umur, pendidikan dan lain-lain. Bila perlu kita tulis di secarik kertas lalu sodorkan ke hadapannya apakah benar seperti yang ditulis atau tidak. Akurasi juga menyangkut fakta-fakta. Kuncinya selalu cek-ricek-triple cek.

Bahasa
1. Bahasa menjadi elemen yang penting dalam berita. Bayangkan bahwa pembaca itu berasal dari beragam strata. Bahasa yang digunakan untuk berita hendaknya bahasa percakapan. Hilangkan kata bersayap, berkabut bahkan klise. Jika narasumber memberikan keterangan dengan kalimat-kalimat klise, seorang reporter yang baik akan menerjemahkan perkataan narasumber itu dengan kalimat-kalimat sederhana. Tentu saja kita tidak mengerti jargon-jargon yang seperti, “Disiplin Mencerminkan Kepribadian Bangsa” yang ditulis besar-besar pada spanduk. Siapa yang peduli bangsa? Berita yang bagus adalah berita yang dekat dengan pembaca.

2. Menulis lead yang bicara. Untuk mengujinya, bacalah lead atau berita tersebut keras-keras. Jika sebelum titik, nafas sudah habis, berarti berita yang dibuat tidak bicara, melelahkan dan tidak enak dibaca. Ada buku panduan yang menyebut satu paragraf dalam sebuah berita paling panjang dua-tiga kalimat yang memuat 20-30 kata. Untuk menyiasatinya cobalah menulis sambil diucapkan.

3. Berita yang bagus adalah berita yang seolah-olah bisa didengar. Prinsipnya sederhana, makin sederhana makin baik. Seringkali reporter terpancing menuliskan berita dengan peristiwa sebelumnya jika berita itu terus berlanjut, sehingga kalimat jadi panjang. Untuk menghindarinya, jangan memulai tulisan dengan anak kalimat atau keterangan. Agar jelas, segera tampilkan nilai beritanya.

4. Menghidari kata sifat. Menulis berita dengan kata sifat cenderung menggurui pembaca. Pakailah kata kerja. Menulis berita adalah menyusun fakta-fakta. Kata “memilukan”, misalnya, tidak lagi menggugah pembaca dibanding menampilkan fakta-fakta dengan kata kerja dan contoh-contoh. Tangis perempuan itu memilukan hati, misalnya. Pembaca tidak tahu seperti apa tangis yang memilukan hati itu. Menuliskan fakta-fakta yang dilakukan si perempuan saat menangis lebih bisa menggambarkan bagaimana perempuan itu menangis. Misalnya, rambutnya acak-acakan, suaranya melengking, mukanya memerah dan lain-lain. “Don’t Tell, But Show!”

5. Menuliskan angka-angka. Pembaca kadang tidak memerlukan detail angka-angka. Kasus korupsi seringkali melibatkan angka desimal. Jumlah Rp 904.775.500, lebih baik ditulis “lebih dari Rp 904 juta atau lebih dari Rp 900 juta”.

Ekstrak
1. Jangan pernah menganggap pembaca sudah tahu berita yang ditulis. Dalam menulis berita seorang reporter harus menganggap pembaca belum tahu peristiwa itu, meski peristiwanya terus berlanjut dan sudah berlangsung lama. Tapi juga jangan menganggap enteng pembaca, sehingga timbul kesan menggurui. Menuliskan ekstrak peristiwa sebelumnya dalam berita dengan perkembangan terbaru menjadi penting.

Panduan ini tidak mutlak untuk menulis berita. Masih banyak hal yang belum dijelaskan dalam makalah ini. Hal paling baik bisa menulis berita yang enak dibaca adalah mencobanya. Jadi, selamat mencoba.

* makalah dalam pelatihan jurnalistik mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 28 Februari 2002.

Referensi:

1. Simbolon, Parakitri T., 1997. Vademekum Wartawan. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia
2. Hadad, Toriq dan Bambang Bujono (Ed)., 1997. Seandainya Saya Wartawan Tempo. Jakarta. Institut Studi Arus Informasi dan Yayasan Alumni Tempo